Part 4 Mine

1556 Kata
When I say you're mine, then you're mine. *** Raga membawa Kim ke atap Villa yang tersembunyi dari penglihatan semua orang. Orang-orang nggak akan menyangka bahwa di Villa tersebut ada kolam renang private di bagian paling atasnya. Bahkan, suasana di sana lebih indah dari puncak itu sendiri. Kim takjub melihat pemandangan di depan matanya itu. Hal yang nggak biasa dilihatnya ada di puncak. Dia pernah datang ke tempat ini, menginap di Villa sahabatnya dan menikmati pemandangan seadanya. Tanpa terpikir sama sekali bahwa apa yang ada di atap Villa Raga ini jauh lebih mengesankan. Kolam renang berbentuk lengkungan dikelilingi lampu berwarna warni di dalam air hingga membuat warna air dari kolam tersebut ikut berwarna warni ketika di malam hari. Pemandangan yang langsung mengarah pada indahnya puncak. "Nyokap gue yang nge-design Villa ini," beritahu Raga. Menjawab dari semua pertanyaan terkesan yang terpancar dari wajah Kim. "Nyokap Lo arsitek?" "Bukan." Raga menggeleng. "Nggak harus menjadi arsitek buat bisa menciptakan seni." Raga duduk di tepi kolam renang, menjulurkan kakinya ke dalam air hingga sebatas lutut. Membiarkan celana pendeknya basah oleh gemericik air yang naik ke tempatnya duduk. Kim mengikuti hal yang sama seperti Raga. Terlalu pendek memakai celana membuat Kim nyaris terlihat seperti hanya memakai kemeja panjang yang menutupi celana dalamnya. Raga akui, sulit membuat matanya nggak mengamati indahnya paha mulus cewek itu. Tapi hanya sebentar, Raga sudah kembali mengalihkan tatapannya pada pemandangan alam. "Sejak kapan sih Lo bermusuhan sama Marco?" Tanya Kim. Nggak ada obrolan lain. Mereka terlalu sunyi dengan kecuekan masing-masing. "Entahlah. Mungkin saat dia membakar hidup-hidup temen gue setahun yang lalu." Kim tercengang. Dia berharap itu hanya candaan mengerikan Raga tentang Marco. "Tapi gue juga pernah ngabisin tangan kanan dia buat ngebales itu. Bagi gue itu impas. Tapi ternyata Marco tetep nggak terima dan mulai melakukan hal itu berkali-kali." "Lo... Nggak serius kan?" Tanya Kim dengan raut cemas. Raga tersenyum, sedikit terkekeh. "Lo nggak kenal dunia ini Kim. Gue bisa tunjukin ke Lo gimana mengerikannya dunia gue, kalo Lo mau." Kim bergidik. "Gue masih mau jantung gue sehat," ujar Kim setengah bercanda. Raga terkekeh. Dia mengusap puncak kepala Kim, mengacak-acaknya dengan gemas. "Tenang aja. Gue bakal pastiin Lo aman." Kim bertambah nggak ngerti dengan perlakuan dari Raga itu. Dia menatap Raga lekat-lekat. Menelusuri jejak wajah cowok itu. Dilihat lebih lama, Raga memang menarik. "Jangan ngeliatin gue. Nanti Lo suka lagi," canda Raga. "Kalo gue jadi suka beneran gimana?" Tantang Kim. Raga membalas tatapan itu dengan sama menantangnya. "Putusin Marco," suruhnya. Kim memutuskan kontak mata lebih dulu. "Gue nggak punya alasan untuk ngelakuin itu." Raga mengangkat dagu Kim. "Apa gue nggak cukup jadi alasan untuk itu?" Kim tertawa kecil. "Gue bahkan nggak kenal Lo lebih banyak dari Marco. Mana gue tau siapa yang lebih baik," Kim mengangkat bahu, mencebik. "I see..." Raga mengangguk. "Lo udah nantangin gue. Kasih gue waktu 30 hari buat bikin Lo mutusin Marco." "Kalo Lo kalah?" Raga mendekatkan bibirnya ke telinga Kim, "when I say you're mine, then you're mine." Lalu menjauhkan wajahnya, "gue pasti menang." Kim terkekeh dengan kepedean Raga. Dia sendiri nggak ngerti bagaimana dirinya bisa nyaman secepat ini dengan seorang cowok. Padahal Kim bukanlah tipe yang mudah membuka diri. Lihat aja awalnya, Raga begitu kesulitan dengan sikap datar dan cuek Kim. Tapi pada akhirnya Raga berhasil membuat Kim hangat. "Berenang yuk!" Ajak Raga. Menantang Kim untuk nyebur ke dalam air yang dinginnya bisa membekukan seluruh tubuh. Kim nggak menanggapi dengan kata-kata, melainkan langsung nyebur ke air dengan santainya. Mata Raga terbelalak lebar. Dia hanya bercanda tadi. "Kim, naik! Lo bisa sakit!" Teriak Raga. "Gue becanda kali tadi," beritahunya. "Ayo," Raga mengulurkan tangan untuk menyambut Kim naik. Kim menerima uluran tangan itu. Tapi bukannya naik, dia malah menarik Raga hingga cowok itu ikut masuk ke dalam air. Kim tertawa keras melihat ekspresi kedinginan Raga. "Cemen. Masa cowok kayak Lo nggak kuat dingin," ejek Kim. Raga menghembuskan nafas dari mulutnya. Dia bertarung keras melawan rasa dingin, jangan sampai harga dirinya jatuh di hadapan cewek itu sekarang. "Ngajak main-main ya." Kim menjulurkan lidahnya. Raga mencoba menggapainya, dia menghindar. Mereka berkejaran di dalam air dengan tawa menghiasi malam. Merasa nggak kuat dengan udara yang kelewat dingin, di tengah kejar-kejaran singkat itu Kim langsung naik ke atas dengan cepat tanpa bisa ditahan oleh Raga. Nggak terima, Raga pun ikut naik ke atas mengejar Kim. Mereka masuk ke kamar. Berlarian mengelilingi sofa. Hingga akhirnya Kim kalah dan berada dalam pelukan erat Raga di pinggangnya. Kim tertawa, meminta ampun sekalian. Dia nggak kuat dengan gelitikan. "Hmpphh ampun... Udah Raga udah..." Mintanya sambil menggeliat. Raga melepaskan gelitikannya. Masih dengan tangan yang melingkari pinggang Kim, mereka saling berbagi tatap. Senyum keduanya terukir bersamaan dengan derap jantung yang berlomba. "Gue nggak pernah muji cewek seumur hidup gue. Lo cantik, Kim," bisik Raga. Dia nggak mau pujiannya itu dianggap hanyalah sebagai cara laki-laki menggombal. Raga serius dan jujur mengatakannya. Kim gugup saat wajah Raga mendekati wajahnya. Sesaat, bibir mereka menempel dalam diam. Saling merasai. Saling menyesuaikan. "Non Kim ini Bibik bawakan selimut..." Bik Idah terkejut saat masuk melihat Raga dan Kim sedang berciuman. Raga dan Kim langsung menjauhkan diri. Merasa sangat nggak enak pada Bik Idah. Apalagi kondisi mereka yang sedang basah-basahan seperti sekarang. Membuat kesan abis ngapa-ngapain terlihat jelas di kamar itu. "Maaf.. maaf.. Bibik nggak tau kalo Den Raga juga ada di sini," kata Bijak Idah dengan gerakan menunduk. "Nggak Papa, Bik. Makasih ya," Raga lebih dulu menguasai diri. Dia mendekati Bik Idah dan mengambil selimut yang akan diberikan pada Kim tersebut. "Permisi Den," pamit Bik Idah. Pergi dan langsung menutup pintu rapat. Suasana tiba-tiba saja canggung. Kim sampe nggak berani menatap Raga terang-terangan. Terutama saat Raga meletakkan selimut ke atas kasur, dia begitu bingung harus ngapain atau sekedar ngomong apa. Yang dilakukannya hanya menggaruk kepala padahal nggak gatal sama sekali. Melihat Kim menggigiti bibir bawahnya membuat Raga kalap. Dia tiba-tiba saja mendorong Kim dan menjatuhkan cewek itu ke atas kasur. Menindih tubuh Kim dengan posessif. Raga nggak perduli seandainya nanti Marco akan mendatanginya dengan pedang panjang untuk menebas lehernya. Dia nggak perduli seandainya setelah ini akan ada pertumpahan darah karena ulahnya. Raga nggak bisa menghentikan keinginannya untuk menyentuh Kim. Sesuatu yang mendorongnya dari dalam itu terasa begitu kuat. Raga melumat bibir Kim dengan penuh nafsu. Dia nggak butuh izin untuk itu karena Kim langsung membalas ciumannya. Mereka berciuman dengan sama bernafsunya. Saling melumat. Saling menggigit. Menyatukan lidah hingga saling menghisap satu dengan yang lain. Setelah dirasa cukup lama berciuman dan kadar oksigen mereka telah habis. Raga menurunkan ciumannya ke leher Kim. Menekannya begitu dalam. Menghisapnya dengan kuat. Hingga leher Kim kini penuh dengan bercak merah. Kim mendesah. Sekujur tubuhnya menegang. Bahkan berdenyut di sana sini. Ada desiran aneh yang menjalari tubuhnya, terasa hangat dan pengap. Ciuman Raga kembali ke bibir Kim yang sudah siap menerima pagutannya kembali. Di sela-sela ciuman panas itu, tangan Raga sudah berhasil melepaskan kancing kemeja Kim. Sesaat Raga mengangkat wajahnya, menatap Kim dengan sangat intens. Dia meminta izin untuk melakukan lebih melalui tatapannya. Dan sepertinya, dari jenis tatapan yang sama Kim mengizinkannya. Membuat Raga langsung membuka bajunya dan membungkuk kembali menciumi setiap jengkal tubuh Kim. *** Mentari pagi masuk melalui celah jendela dan pintu yang terbuka. Udara dingin membuat Kim memeluk Raga lebih erat. Tubuhnya bergetar kedinginan karena kini mereka hanya menggunakan selimut tipis sebagai penutup tubuh polos mereka. "Good morning," sapa Raga dengan suara serak khas bangun tidur. Kim mengangkat kepalanya mendongak. Dia tersenyum pada Raga. "Morning..." Jawabnya. Raga mencium puncak kepala Kim. Dia memeluk cewek itu lebih erat. "Apa aku punya hak buat bilang kamu milik aku sekarang?" Bisiknya. Kim nggak menjawab, dia hanya memeluk Raga semakin erat. Ada rasa nyeri di bawah sana yang masih terasa. Sesuatu yang baru saja dia lepaskan untuk seorang Raga. Apa Raga masih harus bertanya? Bahkan saat mereka sudah mengganti panggilan menjadi Aku-Kamu. Kim mungkin cewek yang mudah berganti pasangan. Marco bukanlah satu-satunya yang pernah memiliki jabatan sebagai pacarnya. Tapi Kim nggak pernah membiarkan cowok-cowok itu menyentuh tubuhnya seperti dia mengizinkan Raga menyentuhnya. Aneh memang, mengingat pertemuannya dengan Raga yang hanya hitungan hari. Raga sempat berhenti saat merasakan sesuatu yang sempit dan mulai mengoyak kewanitaan Kim. Dia cukup kaget mendapati kenyataan bahwa Kim masih Virgin. Raga ingin berhenti, tapi Kim yang memintanya melanjutkan. Kenyataan itu membuat Raga harus meng-claim Kim sebagai miliknya. Tanpa harus menunggu 30 hari lagi, tapi saat itu juga. "Putusin Marco," bisik Raga. "Raga..." Kim mendesah. Nggak semudah itu memutuskan Marco tanpa alasan. Kim nggak mau menjadi cewek yang terlalu jahat. Marco bahkan memperlakukannya dengan sangat baik. Belum ada satu kejahatan pun yang cowok itu berikan pada Kim. "Oke... Aku bakal tunggu. Tapi kamu bisa janji satu hal ke aku?" "Apa?" "Jangan biarin dia nyentuh kamu. Bisa?" Kim mendongak. "Aku harus gimana nolak dia kalau dia menuntut haknya sebagai pacar aku?" "Kim..." Erang Raga. Membayangkannya saja dia sudah ingin marah. Apalagi jika Raga benar harus membagi Kim untuk Marco. Kim tertawa. Dia baru saja mempermainkan Raga. "Apa aku habisin dia aja biar jadinya cepet?" "Raga..." Giliran Kim yang mengerang. Raga tertawa sambil memeluk Kim lebih erat ke tubuhnya. "Kamu itu cuma milik aku. Aku nggak akan biarin ada orang lain menyentuhnya." "Kamu posessif ya," sindir Kim. "Aku nggak suka berbagi," ralat Raga. Kim melepaskan pelukan, dia merangkak naik ke tubuh Raga. Membenamkan kepalanya ke lekukan leher Raga dan menggigitnya di sana. "Apa aku harus ngebuat kamu diem sekarang?" Tanya Kim kemudian. Raga tertawa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN