Raga dan Kim berpisah di depan sebuah Mall. Sebenernya Raga sangat ingin mengantarkan Kim pulang, tapi Kim takut jikalau Marco atau antek-anteknya melihat mereka. Maka, Mall adalah pilihan paling pas untuk menjadi tempat perhentian terakhir mereka.
"Hubungin aku kalo udah sampe rumah," ujar Raga. Dia terlihat nggak rela membiarkan Kim harus pulang dengan naik Taxi.
"Jangan hubungin aku sampe aku yang hubungin kamu duluan," Kim memperingatkan.
Raga mendesah. Tapi akhirnya dia mengangguk. "Jangan macem-macem," lagi, Raga menunjukkan ketidak relaannya. Dia mengusap pipi Kim dengan ibu jarinya, menyalurkan rasa sayang yang teramat dalam.
"Pulangnya hati-hati," Kim mencium pipi kanan Raga. Saat dia menarik wajahnya menjauh, Raga malah menahan tengkuknya.
"Kalo pacaran ciumannya bukan di pipi. Tapi di sini," Raga mendekati bibir Kim. Menciumnya dengan lumatan lembut. Dia memasukkan lidahnya saat cewek itu membuka mulut. Untuk beberapa saat mereka terus berciuman.
TIN!
Suara klakson membuat Raga dan Kim langsung menjauhkan diri. Sepertinya mobil Raga terlalu lama parkir di depan Mall. Membuat beberapa mobil lain kesulitan untuk menurunkan penumpang di area itu.
"Aku turun ya," kata Kim sambil membuka pintu mobil.
"I love you," ucap Raga.
"I love you too." Lalu Kim benar-benar keluar. Beruntung cewek itu menemukan sebuah Taxi yang baru saja menurunkan penumpang.
Raga pun menjalankan mobilnya mengikuti diam-diam Taxi yang dinaiki Kim. Dia harus memastikan cewek itu pulang ke rumah dengan selamat.
***
Kim baru aja turun dari Taxi dan masuk ke rumahnya lalu mendapati Marco telah duduk di sofa ruang tamu. Kim tersentak dengan cara Marco menatapnya. Cowok itu sepertinya memang sengaja menunggunya di sana untuk sebuah alasan yang Kim tau banget itu apa.
"Dari mana aja?" Tanya Marco langsung. Dia menatap tajam ke arah Kim.
"Da-dari puncak," jawab Kim jujur.
"Ngapain?"
"Pemotretan. Biasalah..." Kali ini Kim jelas harus berbohong. Dia duduk di sofa seberang Marco.
"Kenapa nggak ngabarin aku, Beib? Kan aku bisa anter kamu. Temenin kamu malah. Hape kamu kenapa nggak aktif?" Marco melembut. Dia selalu senang jika Kim aktif dalam dunia modelingnya. Bagi Marco, memiliki pacar terkenal itu bisa membuat reputasinya semakin meningkat.
"Dadakan. Lagian aku nggak suka ditemenin pas lagi shoot."
"Hape kamu kenapa nggak aktif?"
"Aku nggak bawa charger. Nggak sempet juga. Sibuk," jawab Kim sekenanya.
"Kamu sejak kapan di sini?" Tanya Kim.
"Baru nyampe." Marco mendekati Kim. Dia duduk menempel di sebelah Kim. Secara refleks Kim terlihat menjauh. Marco mendekat lagi. "Aku nungguin kamu dari kemaren," kata Marco setengah berbisik.
Kim nggak tau harus gimana sekarang. Marco mengibaskan rambut panjangnya ke samping. Dia tau cowok itu mau apa sekarang.
Mata Marco meneliti bercak-bercak merah yang ada di leher Kim. "Leher kamu kenapa?" Tanyanya curiga. Marco bukan tidak pernah bermain wanita, malah dia ini biangnya. Jadi dia tau persis bekas apa yang ada di leher Kim itu. Kiss Mark, ya itu Kiss Mark.
Kim tersentak. Dia melupakan yang satu itu. Dengan cepat dia segera menutupi lehernya dengan rambut kembali. "Gigitan nyamuk. Aku shoot di luar. Banyak nyamuk," alasan yang sungguh nggak masuk akal.
"Kenapa nggak pakek lotion nyamuk? Jadi merah semua gitu," entah Marco ini akting atau memang dia percaya. Dia nggak emosi sama sekali. Bahkan membiarkannya begitu saja.
Kim bisa merasakan tangan Marco merayapi pahanya. Nafas cowok itu juga makin membelai pipinya.
Satu detik.
Kim menjauh. Dia berdiri sambil menenteng tas kecilnya dan mundur dari Marco. "Aku capek banget. Boleh aku istirahat?"
Marco dengan ekspresi tenangnya mengangguk. Dia membiarkan Kim berlari kecil menuju ke atas. Lalu terdengar suara pintu dibuka, ditutup dan dikunci. Marco langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"..."
"Cari tau pergi kemana Kim semalam dan sama siapa," kata Marco pada si penelpon.
"..."
"Cari info sedetil mungkin. Apa yang dilakukan Kim. Dan bersama siapa."
"..."
"Jangan. Bawa ke sini. Gue yang akan habisin langsung dengan tangan gue."
Lalu telepon ditutup. Marco segera keluar dari rumah Kim. Dia masuk ke mobilnya dan segera pergi meninggalkan rumah itu. Ada hal yang jauh lebih penting sekarang. Kim boleh berbohong, Marco akan diam demi mempertahankan cewek itu. Tapi jika alasan Kim berbohong karena pria lain, maka Marco akan membunuh pria itu.
***
Tau Marco sudah pergi, Kim baru bisa bernafas lega. Dia mengeluarkan ponselnya dan berbaring di atas ranjang. Hal pertama yang dilakukannya adalah menelpon Raga.
"Kamu di mana?" Tanya Kim begitu suara Raga menyapanya.
"Baru nyampe rumah. Kamu lagi apa?"
"Di kamar. Tadi ada Marco di sini. Untung kamu nggak anterin aku pulang."
"Ngapain dia?"
"Nyariin aku."
"Terus?"
"Ga, dia ngeliat leher aku," beritahu Kim.
"Terus?"
"Ya aku bohong. Aku bilang bekas gigitan nyamuk. Dia percaya. Aneh nggak sih?"
Raga terdiam sesaat. Lalu dia menjawab pertanyaan Kim. "Nggak usah dipikirin. Yang penting dia percaya dan nggak apa-apain kamu."
"Iya."
"Sekarang dia dimana?"
"Pulang."
"Bagus."
"Kok bagus?"
"Karena kalo dia masih di sana, aku bakal seret dia keluar."
"Raga ih!"
"Hahaha."
"Kamu ke kampus hari ini?"
"Bentar."
Kim mendengar suara gemericik air. Apa cowok itu pipis? Lalu suara seperti orang sedang menenggak air. Ohhh Ternyata dia minum.
"Ke kampus siang. Ada kuliah satu pelajaran doang. Kamu?"
"Aku juga."
"Mau aku jemput?"
Kim memutar bola matanya. "Jangan aneh-aneh."
Raga tertawa. "Masih sakit nggak?" Tanyanya kemudian.
"Nggak. Terkahir kita ngelakuin udah nggak sakit." Nggak ada yang perlu dipermalukan. Kim dan Raga sudah sama-sama dewasa.
Terakhir mereka melakukan itu adalah tadi pagi, sebelum pulang dari puncak. Setelah selesai mandi dan berkemas. Tiba-tiba saja mereka berdua terbakar gairah dan kembali melakukannya.
"Aku ketagihan, Kim," ujar Raga kembali.
Kim tertawa. Pipinya merona sebenernya. Jadi ini yang ngebuat kenapa ML itu begitu nikmat? Wajar orang bilang kalau sudah merasakan sekali maka sulit untuk berhenti. Kenyataannya memang seperti itu.
"Kamu pernah selain sama aku?" Tanya Kim.
Raga nggak langsung menjawab. Membuat Kim harus menunggu dengan was-was. Kim berharap dia yang pertama, tapi sepertinya sangat nggak mungkin karena cara Raga terlihat begitu berpengalaman.
"Cuma sama kamu," jawab Raga akhirnya.
"Bohong," meski senang mendengarnya. Kim tetap nggak bisa percaya. Nggak masalah jika memang Raga pernah, toh dia bukan tipikal cewek yang berpikiran sempit. Raga itu cowok, dengan kesempurnaan fisik yang dimiliki cowok itu, nggak mungkin banget ada cewek yang menolak untuk sekedar one night stand.
"Mau aku bersumpah?" Tanya Raga.
Kim nggak menjawab. Dia nggak merasa yakin harus menyuruh Raga melakukannya atau tidak.
"Demi Tuhan cuma sama kamu. Kalo aku bohong, Tuhan boleh ambil nyawa aku dengan cara paling mengerikan di dunia ini."
"Raga ih!!" Kim langsung menghardik. Dia bergidik mendengar hal itu. "Mulut kamu tuh ya."
Raga sedikit tertawa. "Buat ngeyakinin kamu."
Kim memonyongkan bibirnya. Dia mengulum senyum dan untungnya Raga nggak bisa melihat itu. "Udah berapa kali pacaran?"
"Nggak pernah."
"Kali ini pasti bohong."
"Mau aku sumpah lagi?"
"Nggak usah!"
Raga tertawa kembali. Lalu dia berkata, "selama ini aku nggak ngerasa pacaran itu penting. Bukan hal yang aku butuhin juga."
Kim mendengarkan.
"Nggak tau kenapa pas ketemu kamu semua pemikiran itu berubah." Lalu, "aku kayak terobsesi buat ngerasain rasanya deket sama cewek sejutek kamu. Inget gimana susahnya aku ngedeketin kamu? Pakek acara licik dengan curi dompet dan hape kamu..."
Kim tertawa keras.
"Dan masih dengan juteknya kamu mengabaikan aku. Cara kamu menatap aku itu yang bikin aku penasaran. Nggak pernah ada cewek sejenis kamu seumur hidup aku. Mungkin alasan itu yang ngebuat aku bertekad buat naklukin kamu."
"Dan kamu berhasil," kata Kim sejujur mungkin.
"Aku pikir setelah dapetin hati kamu, mungkin aku bakal bosen. Seperti kata Aldi, cowok itu nggak akan penasaran lagi kalo udah dapetin semuanya. Tapi ternyata Aldi salah, aku malah lebih pengen milikin kamu setelah aku nyentuh kamu. Malah sekarang, aku bertekad nggak akan lepasin kamu."
Kim tersenyum sendiri seperti orang gila. Pemikiran Aldi itu juga sempat ada pada dirinya. Cowok memang akan mengejar cewek yang telah membuatnya penasaran. Tapi setelah cewek itu takluk, terlebih saat cowok itu berhasil menyentuh cewek itu, pasti tuh cowok bakal bosen dan ninggalin cewek itu. Itu yang dinamakan hukum alam.
"I love you Kim. Aku janji nggak akan pernah ninggalin kamu."
"Iya."
"Kok cuma iya? Aku udah ngomong panjang lebar dan kamu cuma bilang iya?"
Kim tertawa. "Terus maunya apa?"
"Jangan sampe aku ke sana dan ngebuat kamu capek hari ini ya," ancem Raga.
Kim tergelak kembali oleh tawa. Mereka telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol di telepon. Karena untuk saat ini memang cuma ini yang bisa dilakukan.
***
Seperti biasa, Raga nongkrong bersama Aldi dan Dika di Markas Drunks. Aldi membawa pacarnya, Zeta. Untungnya meski manja, Zeta ini mudah bergaul. Dia akrab dengan Raga dan juga Dika. Malahan, Zeta sudah dianggap adik buat kedua cowok itu.
"Ga, kemana aja lo kemaren?" Tanya Aldi dengan mata terpicing.
"Nggak kemana-mana," jawab Raga santai. Dia menenggak segelas one shot bikinan Dika, terasa manis di lidah namun berakhir pahit di kerongkongan.
"Ini apa?" Aldi mengarahkan layar ponsel yang menampilkan sebuah foto.
Raga meliriknya sekilas, tapi lalu matanya melebar. "b*****t! Dapet dari mana Lo?!" Aldi sontak terkekeh.
"Mana coba liat," Zeta langsung merampas hape Aldi. Dika ikut mencuri pandang untuk melihat.
"Anjing Lo sama Kim?!" Teriak Dika. Aldi langsung menyumpal mulut Dika dengan telapak tangannya, "jangan kenceng-kenceng b**o!" Desis Aldi.
Dika mengangkat tangan, mengerti. Barulah Aldi melepaskan bekapannya. "Lo sama Kim?" Ulang Dika dengan suara lebih pelan, bahkan nyaris berbisik.
"Kimberly anak fakultas hukum?" Zeta ikut terperangah.
Raga mengangguk samar. Dia nggak perlu menceritakan apapun secara detil. Dilihat dari foto yang didapat Aldi, sahabatnya itu pasti sudah tau sangat banyak.
"Marco?" Tanya Dika, dengan lebih pelan.
"Dia main api, Dik," sindir Aldi. "Mau mati dia."
"Gila. Seriusan ini?" Dika masih juga nggak percaya.
Aldi merampas hape Raga. Dia membuka aplikasi foto dan langsung melihat semua isinya. Deretan foto Raga bersama Kim ada di sana. Aldi menunjukkannya pada Dika dan Zeta.
Dika meraup wajahnya. Mengacak frustasi rambutnya. Dari deretan foto itu saja sudah menggambarkan bagaimana hubungan Raga dan Kim sebenernya.
Raga merampas hape tersebut dan memasukkannya ke dalam saku baju. "Nggak usah ikut campur kalo kalian nggak mau terlibat," ujarnya.
"Dan kita harus diem aja ngeliat Lo dibantai Marco gitu?" Sebelah alis Aldi terangkat. Dika mengangguk setuju.
"Kalian segitu yakinnya dia bakal bisa ngabisin gue?" Tanya Raga dengan seksama.
"Man, ini nggak main-main. Marco bakalan murka kalo tau Lo main belakang kayak gini."
"Gue nggak takut."
Dika mendesah. Dia dan Aldi saling bertatapan. Selama ini mereka berdua memang sering menyuruh Raga mencari pacar. Mengatai Raga homo dan sebagainya. Tapi nggak dengan Kim juga, seenggaknya jangan di saat Kim masih berstatus pacarnya Marco. Marco itu berbahaya, dia bisa memakai cara paling licik untuk menghabisi Raga nanti.
"Kim tuh," Zeta menunjuk dengan dagunya.
Baik Raga, Aldi ataupun Dika sama-sama memperhatikan kedatangan Kim yang berada dalam gandengan tangan Marco. Sepertinya Marco bakal selalu ngajakin Kim ke Markas untuk dipamerkan ke semua orang.
"Gila, sexy banget," ujar Zeta. Dia menatap tubuhnya sendiri yang nggak ada apa-apanya bila dibandingkan Kim.
Sejenak Aldi dan Dika melupakan tentang bahaya saat melihat Kim. Mereka terpana. Bagaimana mungkin ada manusia di muka bumi ini yang menyerupai Kim. Begitu cantik. Begitu indah.
"Anjing, beruntung banget Lo Ga udah tidur sama dia," seloroh Dika tanpa sadar.
Mata Raga terus memperhatikan Kim. Cewek itu sepertinya nggak mau menatapnya. Terlebih Marco terlihat begitu posessif.
"Sebenernya hubungan kalian tuh apa sih?" Tanya Zeta penasaran.
"Backstreet Beib," Aldi Yang menjawab.
"Raga rela aja gitu Kim digandeng sama Marco?" Zeta memancing.
Raga bisa aja menerjang Marco. Tapi resiko yang lebih besar akan menimpa Kim nantinya. Akan sangat nggak aman buat Kim bila Marco mengetahui hubungan mereka.
"Sexy parah." Dika masih saja berfokus pada bentuk tubuh Kim dan cara cewek itu berpakaian.

"Zet, boleh pinjem jaket Lo?" Tanya Raga pada jaket kulit pink Zeta yang tersampir di sandaran kursi.
"Buat apa?" Tanya Zeta.
Raga nggak menjawab tapi langsung mengambil jaket itu. Dia membawanya dan berjalan mendekat pada Kim yang sedang duduk sendirian bermain ponsel.
Dari kejauhan, Aldi, Dika dan Zeta menahan nafas menyaksikan bagaimana Raga meletakkan jaket itu ke pangkuan Kim namun mata cowok itu tetap menatap lurus ke depan. Nggak mengundang kecurigaan siapapun.
"Gila nekat banget dia," ujar Dika dengan mata melebar.
"Dia bosen hidup kayaknya," sahut Aldi.
"Manis," lain lagi dengan Zeta. Baginya perlakuan Raga itu sangatlah sweet.
***
Kim menatap bingung pada jaket yang dibuang Raga ke pangkuannya. Belum sempat mengerti atas insiden itu, tiba-tiba ponsel Kim memunculkan notifikasi pesan dari nomor tak dikenal.
Pakek jaketnya.
Lain kali coba untuk pakek baju yang lebih waras.
Kim mengulum senyum. Dia langsung menghapus pesan yang dia tau dikirimkan oleh Raga itu. Tanpa menunggu lama, Kim pun memakainya.
Ting.
Aku tunggu kamu di deket toilet.
***