Ting!
Aku tunggu kamu di deket toilet.
Kim menatap was-was ke Marco yang tengah fokus berbicara dengan para kelompoknya. Kim mendekati cowok itu.
"Kenapa sayang?" Tanya Marco.
"Aku mau ke toilet."
"Mau aku temenin?"
"Nggak usah, aku bisa sendiri." Kim langsung pergi begitu Marco mengangguk. Sekali lagi, Kim memastikan kalo Marco nggak curiga. Sepertinya Marco memang nggak curiga, cowok itu kembali melanjutkan obrolan serius dengan para kelompoknya.
Kim menyusuri lorong gelap di mana toilet berada. Dia nyaris terpekik saat sebuah tangan menariknya masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
"Raga..." Desis Kim terlonjak. Kim itu anti toilet umum, tapi untunglah di sana bersih. Nggak ada klosed, sepertinya bilik itu memang dikhususkan hanya untuk mandi.
"Kenapa nyuekin aku?" Tanya Raga.
"Terus aku harus manggil kamu di depan Marco gitu?"
Raga terkekeh. "Cantik banget malem ini. Tapi aku nggak suka. Kamu terlalu mengeskpos badan kamu."
"Ini biasa aja," Kim meneliti kembali pakaiannya yang sudah tertutup jaket meski nggak dikancingkan.
"Terlalu terbuka, Kim," tegur Raga.
Lalu keduanya saling menatap. Raga mendekatkan wajahnya. Dia nggak tahan untuk nggak menyentuh bibir merah Kim itu. Awalnya berupa lumatan ringan, hingga berubah menjadi ciuman penuh nafsu.
Kim melingkarkan lengannya ke leher Raga, memberikan izin pada Raga memperdalam ciuman mereka.
Tangan Raga bergerak masuk ke dalam baju Kim. Terus naik hingga menyentuh sesuatu yang kenyal tanpa tertutup bra sama sekali. Raga tersentak, dia melepas ciuman dan menatap Kim nggak percaya. "Kamu nggak pakek?" Tanyanya kaget.
Kim menggigit bibirnya sambil menggeleng.
"s**t. Otak kamu kemana sih?!" Maki Raga. Gimana bisa Kim nggak memakai Bra di tempat umum. Pantas saja dari balik baju transparan itu Sedikit d**a bagian bawah Kim terlihat tadi.
"Baju ini kan emang harusnya nggak pakek. Jelek lah kalo pakek," jawab Kim tanpa ada beban sama sekali.
Raga menggeleng frustasi. Ingin rasanya dia mencekik cewek itu sekarang. Dengan penuh hentakan dia menaikkan resleting jaket milik Zeta itu hingga ke atas. "Awas kalo kamu lepas," ancamnya.
Kim mengulum senyum. Dia mengangguk samar sambil memandang geli ke arah Raga. Terutama saat Raga membuka pintu bilik dan mengeluarkan kepala lebih dulu untuk memastikan keadaan.
"Kamu keluar duluan," suruh Raga.
Kim mengangguk. Dia baru aja mau keluar tapi tangannya ditarik lagi oleh Raga dan bilik itu dikunci kembali.
"Tanggung," gumam Raga. Dia mendorong tubuh Kim ke tembok dan langsung menghimpitnya. Dihadiahinya Kim dengan ciuman-ciuman panas hingga ke lehernya.
Kim sekuat tenaga menahan desahannya agar tak keluar dari mulutnya itu. Dia merapatkan mulutnya saat bibir Raga menyusuri lekuk lehernya.
***
"Kamu lama banget Beib dari toiletnya," ujar Marco begitu Kim kembali ke tempat semula mereka duduk.
Tak lama, terlihat Raga berjalan melewati mereka berdua. Mata Marco langsung menajam, menatap Raga dengan sangar seperti biasanya. Tapi Raga cuek aja dan terus berjalan mendekati para sahabatnya.
"Tadi rame, jadi antri," bohong Kim. Padahal keadaan di toilet tadi cukup sepi hingga dirinya dan Raga... Ah, mengingat itu membuat sekujur tubuh Kim merinding.
"Kamu mau minum?" Tanya Marco.
"Boleh," Kim mengangguk. Dia memang sangat kehausan. Energinya cukup terpakai bersama Raga tadi.
"Tunggu di sini," Marco langsung berjalan menuju counter penjual minuman.
Diam-diam Kim berbagi tatap dengan Raga. Sekali-sekali mereka saling curi pandang. Tak jarang mereka juga sama-sama tersenyum dengan makna yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Aldi, Dika dan Zeta memperhatikan tingkah kedua orang itu. Mereka saling pandang dan menggoda Raga dengan dehaman-dehaman panjang.
"Abis ngapain Lo berdua tadi?" Tanya Aldi setengah curiga.
Raga hanya menanggapi pertanyaan itu dengan sebuah sunggingan senyum miring. Mereka semua sudah dewasa, harusnya pertanyaan seperti itu nggak perlu lagi ditanyakan karena pasti jawabannya sudah tau.
"Ga, Lo serius nggak sih sama Kim? Sampe pertaruhkan nyawa kayak gini," kali ini Dika serius. Aldi dan Zeta ikut mengangguk.
"Apa gue pernah main-main sama cewek?" Ungkap Raga.
Lagi, ketiga orang di hadapan Raga ini terlihat cemas. Permainan yang sedang dimainkan oleh Raga ini nggak bisa dibilang biasa. Taruhannya bukan hanya anggota tubuh, melainkan nyawa.
"Kalian tenang aja. Untuk itu gue minta jangan libatkan diri kalian dalam urusan ini."
"Nggak bisa gitu, Ga. Walau gimanapun kita ini temen," Aldi nggak terima untuk keputusan Raga itu. "Kalo Lo emang nekat ambil jalan yang kayak gini. Ya udah kita bakal suport Lo dari belakang. Kalo terjadi apa-apa kita juga siap turun tangan."
Dika mengangguk. Dia nggak takut sama sekali dengan resikonya. Persahabatan tetap di atas segalanya. "Lagian, Ga. Bisa mandangin Kim tiap hari kalo lagi sama Lo kan lumayan juga buat cuci mata."
Pluk.
Sebuah bantal sofa melayang ke wajah Dika. Raga yang melemparnya. "Mulai sekarang Lo harus biasain untuk nggak mandangin Kim. Apalagi dengan pikiran kotor Lo itu."
Dika langsung cengar cengir. "Ceileh Ga. Posessive banget Lo jadi cowok. Bagi dikit Napa..."
"Bagi pala lo!" Raga mendengus. "Gue mau kalian bantu gue jagain Kim. Gue khawatir Marco merencanakan sesuatu. Mustahil rasanya dia nggak tau apa-apa."
Mengingat Aldi aja tau tentang kepergian Raga dan Kim ke puncak kemaren.
"Lo tenang aja. Gue bakalan kerahin antek-antek gue buat jagain Kim diem-diem. Dia aman..." Aldi menepuk pundak Raga.
***
Zeta berdiri. Dia berjalan mendekati meja Kim. Membuat Marco menatap tak suka ke arahnya.
"Hai Kim," sapa Zeta sok akrab.
Kim tersenyum, "hai," sapanya balik.
"Gue Zeta. Kita satu kampus Lo. Beda fakultas tapi."
Kim tersenyum.
Zeta mengacuhkan Marco yang menatap curiga ke arahnya. Tapi cowok itu nggak akan bisa melakukan apapun. Markas memiliki peraturan yang melarang siapapun berbuat kasar pada perempuan. Bang Oscar akan langsung bertindak bila itu terjadi, apapun alasannya.
"Kayaknya cuma kita berdua deh cewek di sini. Gimana kalo gabung sama gue?" Ajak Zeta.
"Lo mending pergi," suruh Marco. Terlihat sekali cowok itu menahan sabar.
"Heh, cewek Lo juga nggak nyaman kali ada di lingkungan sini. Dia butuh bergaul dengan orang-orang normal kayak gue," sergah Zeta tanpa terlihat takut.
Zeta nggak perduli terhadap Marco. Dia nekat duduk di samping Kim dan bertingkah seakan keduanya sudah sangat akrab.
Lama kelamaan, Kim dan Zeta semakin akrab. Keduanya terlibat obrolan serius tentang dunia fashion dan barang-barang branded. Zeta sepertinya cocok dengan Kim.
Melihat itu, Marco merasa bosan. Dia terlihat mengintimidasi Zeta dengan tatapannya agar cewek itu merasa nggak nyaman dan pergi. Nyatanya Marco salah, Zeta nggak semudah itu bisa dikalahkan. Cewek itu malah semakin menjadi mengakrabi Kim.
"Marco... Raga... Sini Lo berdua!" Panggil Oscar.
"Bentar ya sayang," Marco langsung patuh dan mendekati Bang Oscar.
Raga juga terlihat berdiri dan mendekati Bang Oscar juga. Kalo pemilik Markas Drunks sudah memanggil mereka berdua, artinya ada sesuatu yang akan terjadi malam ini.
"Gue lagi bosen. Kalian mau nyenengin gue?" Tanya Bang Oscar. "Gue mau lihat kalian balap."
Raga dan Marco saling melempar pandangan tajam. Mereka tidak perlu kesiapan untuk melakukan perintah Bang Oscar itu. Malah kalau perlu, mereka siap menghunuskan pedang saat ini juga.
"Gue mau kalian pakek mobil gue. Biar adil," ujar Bang Marco lagi. "Sekalian gue mau lihat mobil gue yang mana yang paling jago."
"Siap Bang," kata Marco lebih dulu, bagaikan penjilat.
"Gimana Raga?" Tanya Bang Oscar.
"Nggak perlu ditanya Bang," Raga berkata dengan yakin. Dia tersenyum sinis ke arah Marco yang melemparkan tatapan seperti ingin membunuh.
Marco mendekati Kim. Di depan semua orang, termasuk Raga, dia mencium puncak kepala Kim. "Doain ya sayang," ucapnya dengan manis.
Kim hanya mengangguk. Ciuman itu nggak berarti apapun untuknya. Sekaligus nggak akan mempengaruhi Raga. Cowok itu malah terlihat tersenyum sambil menunduk, mentertawakan Marco yang hanya bisa menyentuhnya sebatas itu.
"Tapi Bang, gue mau taruhannya beda dengan yang kemaren," usul Raga.
Langkah kaki Marco yang baru akan berjalan menuju mobil Bang Oscar langsung terhenti.
"Apa mau Lo?" Tanya Bang Oscar.
"Kalo gue kalah, gue rela semua jari kaki dan tangan gue dipotong oleh Marco."
Semua bergidik ngeri mendengarnya. Sunggingan senyum puas langsung tercipta di bibir Marco.
Kim menegang. Dia refleks menatap Raga nggak suka. Ingin rasanya dia berteriak menghentikan Raga melakukan hal gila semacam itu.
Aldi dan Dika juga sama kagetnya, mereka sampe menepuk pundak Raga agar menarik kembali ucapan cowok itu.
Bang Oscar suka dengan cara Raga. Cowok itu memang selalu percaya diri. "Jadi kalo Lo memang, apa yang lo mau dari Marco?"
Raga menatap Marco dengan penuh seringaian. "Kalo gue menang, gue mau Kim jadi milik gue."
Marco tersentak. Begitu pun semua orang. Apa yang diminta Raga ini adalah hal yang nggak pernah cowok itu inginkan selama mereka mengenal Raga. Raga nggak pernah meminta perempuan sebagai taruhan.
"Lo tertarik sama cewek gue?" Marco langsung menguasai diri dan mengejek Raga. "Hahahaha. Jadi selama ini Lo tertarik sama cewek gue?" Marco bukan tertawa, dia hanya menunjukkan emosinya dengan cara itu.
"Kenapa Lo takut kalah?" Tanya Raga lebih mengejek lagi.
"Gue nggak pernah takut," mata Marco langsung berapi-api. Suhu tubuhnya meningkat bersamaan dengan deru nafasnya yang kian cepat.
"Kalo gitu masalahnya apa sekarang? Kalo Lo yakin Lo nggak bakal kalah, Lo terima aja permintaan gue."
"Anjing!!" Marco berniat menyerang Raga.
"Hentikan!" Bang Oscar merentangkan tangannya melarang pertikaian itu. "Gue di sini buat minta kalian balap. Bukan saling membunuh. Kalian mengerti?!" Marahnya.
Marco menahan emosinya. Begitu pun Raga. Mereka masih menghormati Oscar sebagai pimpinan.
"Gue nggak masalah kalian mau apa sebagai taruhan dari permainan kalian. Kalaupun kalian harus saling membunuh, gue nggak masalah! Tapi..." Bang Oscar menatap Raga dan Marco dengan intens. "Ada aturan mainnya. Nggak gini..."
Raga dan marco mengangguk.
"Gue hargai permintaan Raga. Dia punya hak meminta itu karena itu juga adalah bagian dari permainan kita di sini. Tapi Marco juga berhak nolak kalau memang dia nggak mau memberikan hadiah itu."
Marco merasa terhina. Dia merasa Bang Oscar seakan meremehkan kemampuannya dengan menganggapnya takut kalah sehingga nggak berani memberikan Kim sebagai taruhan.
"Gue terima Bang!" Kata Marco kemudian. "Kim bakal jadi taruhannya kali ini! Tapi hanya 30 hari, nggak lebih!"
Kim tersentak. Untuk pertama kalinya dia mengenal Marco sebagai laki-laki b******n. Bagaimana bisa seorang cowok mempertaruhkan ceweknya sendiri dalam sebuah lomba. Terlebih untuk diberikan pada seorang musuh.
Raga menyunggingkan senyum. Tujuannya dari meminta Kim sebagai barang taruhan telah tersampaikan. Dia ingin Kim sadar kalau Marco bisa melakukan apa saja untuk harga diri cowok itu, termasuk menyerahkan Kim sebagai jaminannya.
"Tapi gue mau sesuatu yang lebih kalo menang Bang," lanjut Marco lagi.
"Sebutkan!" Suruh Bang Oscar.
"Gue mau bukan jari tangan dan kaki Raga yang dipotong. Tapi benar-benar kaki dan tangannya sampai habis!!"
Sorak nggak terima langsung disuarakan oleh kelompok Raga. Ini namanya perang. Marco secara tak langsung ingin membuat Raga kehilangan segalanya.
"Lo terima Raga?" Tanya Bang Oscar tanpa terpengaruh dengan protes semua orang.
"Deal," kata Raga masih sambil tersenyum. Dia sama sekali nggak gentar dengan keinginan Marco itu.
Sorak Sorai kembali membahana. Balapan kali ini sepertinya akan sangat panas dan mendebarkan. Baik Marco maupun Raga hanya akan bisa mengandalkan kemampuan masing-masing. Mobil kebanggaan mereka berdua nggak akan dipakai kali ini.
BRUMMMMM
BRUMMMMMMMM
Suara knalpot membuat suasana semakin tegang. Ada yang pro dan ada yang kontra. Kebanyakan dari mereka berharap Raga kalah. Karena jauh lebih menarik melihat Marco memutilasi Raga ketimbang Raga merebut pacar Marco.
Kapan lagi? Boss besar ICC dikuliti oleh musuh terbesarnya.
"Dik, menang nggak menurut Lo?" Tanya Aldi cemas.
"Gue yakin Raga nggak akan seoptimis ini kalo dia nggak punya persiapan lebih. Raga pasti menang," sahut Dika.
"Raga pasti menang, Kim," kata Zeta setengah berbisik.
Kim tersenyum kaku. Dia nggak begitu suka dengan semua kengerian ini. Bagaimana kalo Raga kalah? Dia nggak akan sanggup melihat cowok itu berdarah-darah di tangan Marco.
"Rileks..." Zeta kembali menyemangati Kim. "Gue tau hubungan kalian. Gue dukung kok," bisiknya.
Kim lagi-lagi hanya bisa tersenyum.
"Raga sayang banget sama Lo. Itu sebabnya dia ngelakuin ini. Walau hanya 30 hari, dia pasti akan tempuh jalan apapun. Dan setelah 30 hari itu selesai, gue percaya dia bakal cari cara lain buat dapetin Lo lagi. Tanpa jeda..."
Kim merasa sedikit lega mendengarnya. "Makasih Zeta," ujarnya.
"Bantu dia," bisik Zeta. Dengan doa tentunya.
"Pasti."
Pertandingan pun dimulai. Raga dan Marco terlihat saling mengeluarkan usaha maksimal. Awalnya Marco unggul, lalu disusul Raga. Lalu Marco berada di posisi depan kembali, lalu berhasil di salip Raga. Begitu terus menerus hingga membuat tegang semua penonton.
Apakah kali ini Raga akan menang?
Atau... Marco yang beruntung.
***