Setelah menunggu selama 30 menit menghilangnya mobil yang dikendarai oleh Raga dan Marco. Dua sedan hitam tanpa plat polisi dan berbentuk sama itu akhirnya tiba. Satu mobil lebih dulu unggul, hanya beda beberapa detik untuk mobil satunya menyusul dengan kekalahan. Tidak ada yang tau siapa yang berada di dalam mobil paling depan. Baik yang menang ataupun yang kalah, mereka belum mau turun dan menunjukkan jati diri. Semua tegang, ingin segera melihat hasil dari pertandingan kali ini.
"Menurut Lo siapa yang menang?" Tanya Aldi lagi. Dia begitu penasaran dan terus mencoba mencari tau siapa yang ada di dalam mobil paling depan. Kaca film super gelap menghalangi setiap mata mengetahuinya.
"Anjing kenapa mereka nggak turun," gerutu Dika. Wajahnya sudah sangat gusar. Andai Raga tau dia yang paling ingin bunuh diri saat ini saking cemasnya.
Kim ikut berdiri, cemas. Dia dan Zeta saling berpegangan tangan. Cukup lama mereka semua dibuat penasaran dan mobil paling depan masih meraung-raung merayakan kemenangan.
Sampai akhirnya pintu terbuka, sepasang kaki turun dan....
"Ragaaaaaaaaa!" Aldi dan Dika langsung menghancurkan Raga yang turun dengan sunggingan senyum penuh kemenangan.
Sorak gembira dari kelompok Raga langsung terdengar heboh. Kekecewaan juga tampak dari para kelompok WRC dan netral. Mereka nggak bisa menyaksikan pimpinan WRC tersebut memutilasi Raga karena cowok itu telah kalah.
Marco akhirnya turun. Wajahnya sudah sangat masam. Dia mengepal tinju di kedua sisi tubuhnya saat melihat Raga merayakan kemenangan dengan adu tos bersama semua kelompoknya.
"Selamat Raga," Bang Oscar menyalami Raga dengan sangat bangga. Sejak awal dia sudah yakin Raga pasti menang. Walau sepanjang pertandingan dia nggak bisa pungkiri bagaimana cemasnya dia kalau sampai Raga kalah dan harus menyaksikan tubuh cowok itu dipotong-potong oleh Marco.
"Gue nggak akan kecewain lo, Bang," kata Raga ke Bang Oscar.
"Gue percaya," Bang Oscar menepuk pundak Raga. Lalu dia menghampiri Marco dan menyalami cowok itu. "Masih ada hari esok. Lo harus terima kekalahan hari ini," katanya menyemangati.
Marco nggak menanggapi. Kalah membuatnya malu sekaligus makin membenci Raga. Dia sudah berusaha sangat keras tadi. Tapi ternyata kemampuan Raga memang selalu di atas dirinya.
Kim mendekati Marco. Dia dibutuhkan untuk menenangkan cowok itu dari kemarahan. Walau sebenernya Kim ingin protes kenapa dirinya dijadikan bahan taruhan. Tapi mungkin nggak sekarang. Nggak dalam kondisi Marco meradang seperti itu.
Raga mendekati Marco dan Kim. Dia tersenyum miring ke arah Marco yang menatapnya dengan tajam. "Kim is mine," ujarnya dengan seringaian mengejek.
Kim menegang. Terlebih saat tangan Raga menggenggam tangannya. Menyeretnya berada di samping cowok itu. Di depan mata Marco yang mengerikan.
"Only for one month, Beib. After that you will be mine again," bisik Marco pada Kim. Entah itu upaya peringatan atau ancaman untuk Kim maupun Raga. Tapi dilihat dari cara Marco, sepertinya dia tau sesuatu tentang mereka berdua.
Marco meninggalkan tempat itu bersamaan dengan sorakan mengejek dari kelompok Raga. Dia masuk ke mobilnya dan langsung pergi dari situ diikuti oleh para kelompoknya.
Raga tersenyum pada Kim. Dia menyelipkan rambut ke belakang telinga Kim. "You are mine," ujarnya dengan sebelah alis terangkat.
"Selamat ya Raga," Zeta begitu senang. Dia berkedip pada Raga dan Kim atas kemenangan mereka berdua itu.
Nyatanya, ini belum selesai. Justru baru akan dimulai. Raga tau persis jenis tatapan seperti apa yang dilayangkan oleh Aldi dan Dika saat ini.
Ada sesuatu... Pasti ada sesuatu.
"Ayo pulang," ajak Raga ke Kim.
Kim mengangguk. Dia sendiri merasa kurang tenang. Nggak selamanya tangan Raga menggenggamnya seperti sekarang.
***
Di mobil, Kim menahan Raga untuk segera pulang. Dia masih ingin membicarakan banyak hal kepada cowok itu.
"Aku takut," ujarnya sungguh-sungguh.
Raga masih bisa tersenyum, seenggaknya untuk Kim. Agar cewek itu sedikit tenang. "Ada aku. Kamu aman..." Sahut Raga.
"Gimana kalo dia..."
"Nggak akan Kim. Selama aku hidup, dia nggak akan berbuat macem-macem sama kamu."
Kim menghela nafas. Dia ingin percaya, tapi rasa takut begitu besar menguasai pikirannya.
Raga mengulurkan tangan membelai pipi Kim. Dia mencium bibir cewek itu singkat, menyalurkan kekuatan. "Jangan raguin aku. Aku pasti lindungi kamu," ujarnya lagi.
"Gimana kalo dia celakain kamu?"
"Aku nggak selemah itu," Raga terkekeh. "Kalo dia emang mampu. Udah dari lama dia ngebunuh aku. Tapi kamu lihat, aku masih di sini sekarang. Sangat sehat," Raga menyentil hidung Kim.
Kim mengenyahkan semua kegelisahan di pikirannya. Dia mengalungkan tangannya ke leher Raga. "So... Apa yang bakal kita lakuin 30 hari ke depan?"
Raga tak sungkan membalas tatapan nakal Kim itu. Dia mendekatkan wajahnya, "apapun yang bisa ngebuat aku nyentuh ini," ujarnya sambil memainkan bibir Kim dengan jarinya.
Kim tertawa kecil. Dia menunduk lalu mengangkat wajahnya kembali. "Apa satu bulan aja cukup?"
"Kontrak kita akan disambung setelah satu bulan pertama ini berakhir. Kontrak seumur hidup," bisik Raga.
Kim tersenyum penuh arti. "Aku bakal inget itu sebagai janji kamu. Jangan pernah ingkar." Kim mengarahkan jari kelingkingnya ke hadapan Raga.
Raga menautkan jari kelingkingnya juga. Mereka terlah membuat janji. Selama 30 hari ke depan, mereka akan menikmati hubungan yang terikat kontrak dengan Marco ini.
"Kita mau langsung pulang?" Tanya Raga.
Kim menggeleng. "Nginep yuk!" Ajaknya secara tiba-tiba.
Raga terkekeh tak percaya. Ceweknya ini sangatlah ajaib. Ngajak nginep sesantai itu. "Mau dimana?"
"Hmmm... Dimana aja asalkan ada privasi."
Ya ya ya... Satu hal itu tentu harus selalu Raga ingat. Kim adalah seorang model. Dia pasti menjadi sorotan dari para pencari berita. Kalau mereka tidak hati-hati, bisa jadi foto mereka berdua akan menjadi cover depan sebuah majalah besok.
"Puncak aja gimana?"
"Malem-malem gini?"
"Aku jago nyetir," Raga langsung menjalankan mobilnya dengan yakin.
****
Akhirnya, pukul 6 pagi Raga dan Kim sampai di puncak dengan selamat. Mereka kembali ke Villa keluarga Raga dan langsung disambut hangat oleh Bik Idah.
"Aduh, Bibik belum sempet beresin kamar Nona. Biar Bibik beresin sekarang," Bik Inah sudah bersiap mengambil sapu.
"Bik," cegah Raga. Bik Idah berhenti dan berbalik. "Kim bakal tidur di kamar Raga," beritahu Raga. Dia melirik Kim yang hanya mengulum senyum karena lucu melihat ekspresi Bik Idah.
Senyum jahil langsung tercetak di wajah Bik Idah. Beliau mengerti maksud dari Raga. Dan sebagai seorang pembantu, dia jelas nggak akan mencegah. "Bibik ada di dapur kalau Den Raga dan Nona Kim butuh sesuatu."
Raga mengangguk. Dia langsung menggandeng Kim masuk ke kamarnya yang setiap hari selalu bersih karena Bik Udah rajin membersihkannya.
Kamar Raga terlihat jauh lebih megah dan berfasilitas lengkap ketimbang kamar yang ditempati Kim kemarin. Ranjang besar. Sound system yang dilengkapi home teather. Sofa tersendiri untuk sekedar bersantai bila ingin mengobrol. Kamar mandi super besar lengkap dengan walk in closed, stand shower dan bathub.
Raga memeluk Kim begitu pintu telah dikunci. Dia mencium aroma manis dari parfume yang Kim pakai. Perpaduan Vanilla dan rempah-rempah. Terasa begitu nyaman di hidung. "Aku suka wangi kamu," bisiknya. Wangi yang tetap ada meski sudah semalaman mereka di perjalanan.
Kim tersenyum. Dia mengantuk sebenernya. Dan tau persis Raga pun merasakan hal yang sama. Perjalanan panjang yang mereka lalui membuat mereka harus menahan diri dari rasa kantuk. Berbagai hal telah mereka lakukan untuk melawan itu. Termasuk s*x in the car.
"Bobok yuk," ajak Raga. Dirasakannya Kim mengangguk. Raga mengangkat tubuh Kim dalam gendongan ala bridal style, Kim sempat terjerit kaget oleh ulahnya itu.
Pelan-pelan Raga meletakkan Kim ke atas kasur. Lalu dia berbaring di sebelah cewek itu dan memeluknya. Tak perlu waktu lama mereka sudah sama-sama terlelap.
***
Kim lebih dulu bangun setelah matahari berada tepat di atas kepala. Dia membantu Bik Udah menyiapkan makan siang. Meski jarang berada di dapur, tapi Kim ternyata pinter masak. Malah, dia lebih banyak beraksi ketimbang Bik Idah.
"Non Kim ini selain cantik, ternyata juga pinter masak," puji Bik Idah.
"Hehehe. Bakat dari lahir Bik," canda Kim. "Dulu waktu kecil sering ikut Mama masak. Jadi kebiasaan, terus selalu nyobain. Sejak ada kerjaan aja jadi jarang masak dan lebih banyak delivery. Nggak sempet," cerita Kim.
"Non Kim suka muncul di TV?"
"Bukan di TV, Bik. Tapi majalah," ralat Kim.
"Ohhh berarti Bibik harus sering-sering beli majalah biar bisa lihat Non Kim."
"Hahaha harus."
Selama masak, Kim dan Bik Udah menghabiskan banyak waktu dengan ngobrol. Terkadang Bik Idah kepo dengan kerjaan dan kuliah Kim. Terkadang juga Kim yang banyak nanya tentang keluarga Bik Idah. Mereka terlihat akrab dan kompak.
Saat sedang serius menggoreng udang tepung, tiba-tiba ada tangan yang terulur memeluk Kim dari belakang. Padahal di sana masih ada Bik Idah dan Raga emang nggak tau malu.
"Kenapa nggak bangunin aku?" Bisik Raga.
"Niatnya baru mau bangunin kalo ini udah selesai," jawab Kim.
"Bibik ngejelekin aku ya ke Kim?" Canda Raga.
"Ehhh nggak dong, Den. Malah Bibik baik-baikin," sahut Bik Idah.
"Kata Bik Idah kamu itu manja sejak kecil. Anak Mami," cela Kim.
Bik Idah tertawa. Benar dia bilang begitu tadi. "Non Kim penasaran sama Den Raga waktu kecil. Jadi Bibik ceritain aja."
"Itu kan dulu waktu kecil. Sekarang udah nggak kan Bik?"
"Iya. Sekarang mah udah mandiri. Pinter. Nggak butuh Bibik lagi."
"Bibik selalu di hati," canda Raga. Membuat Bik Idah dan Kim tertawa.
Raga masih setia memeluk Kim. Dia bahkan mengendus-endus leher Kim yang terbuka karena cewek itu mengikat rambutnya ke atas.
"Raga..." Desis Kim merasa geli. Nafas Raga yang bermain-main di lehernya mengganggu konsentrasinya memasak.
Melihat kemesraan Raga dan Kim, Bik Idah merasa begitu bahagia. Selama mengenal Raga, sejak lahir hingga sebesar ini, cowok itu nggak pernah menyayangi wanita lain selain Mamanya. Bahkan, Raga terlalu menutup diri padahal cewek-cewek pada ngantri. Sampe-sampe Mamanya Raga suka curhat kalo lagi Dateng ke sana. Katanya takut Raga itu homo, nggak doyan cewek. Hahaha.
Acara masak memasak yang digangguin Raga akhirnya selesai juga. Berbagai menu telah disajikan. Mulai dari yang ringan hingga ke berat. Bik Idah juga sempat menemani makan, tapi karena Bik Idah makannya cepet, jadi langsung meninggalkan tempat dan memilih untuk beres-beres rumah.
"Ga, sebenernya besok aku ada pemotretan deket sini," beritahu Kim.
"Dadakan?"
"Nggak juga sih. Makanya pas kamu ajak kesini aku langsung mau aja. Jadi Deket," Kim nyengir.
"Aku boleh ikut?"
"Boleh lah. Tapi jangan bosen ya. Soalnya kalo pemotretan suka lama."
"Paling kalo bosen aku ngegodain model lain yang lagi free."
"Silahkan aja," Kim angkat bahu cuek. Nggak merasa terpancing cemburu sama sekali.
"Nanti beneran aku godain mereka baru kamu nangis," ledek Raga.
"Nggak akan ya. Selama kamu nyaman sama mereka ya silahkan," lagi, Kim menjawab dengan gaya santainya.
"Nggak cemburu?"
Kim menatap Raga sebentar, lalu menggeleng yakin.
"Meski aku deket cewek lain?"
"Aku nggak cemburuan," kata Kim sambil berdiri membereskan piring kotornya.
Raga menatap punggung Kim yang sedang mencuci piring kotornya. Dia sedikit terganggu saat Kim bilang dia nggak cemburuan. Rasanya aneh kalau ada cewek yang santai aja melihat pacarnya dekat dengan cewek lain. Apa iya Kim begitu?
"Kalo udah selesai langsung dicuci. Jangan manja," ujar Kim setelah selesai dengan piringnya. Dia meninggalkan Raga masuk ke kamar.
Raga selesai dengan makannya. Menuruti perintah Kim dengan mencuci piring kotornya. Lalu dia masuk ke kamar. Dilihatnya Kim sedang duduk bersandar di ranjang sambil bermain ponsel. Raga pun langsung mendekat, dia berbaring di pangkuan cewek itu.
Kim terlalu fokus pada ponselnya. Dia sampe nggak sadar kalo sejak tadi Raga menatapnya.
Sesekali Raga mencuri pandang pada aktivitas Kim di ponsel cewek itu. Kim mendapat banyak chat dari para cowok antah berantah di line. Kim memang hanya membacanya, tapi cukup mengganggu Raga sebenernya.
Raga nggak mau jadi cowok egois. Dia membiarkan Kim sampai puas dengan ponsel itu. Memandangi Kim seakan nggak ada bosennya. Cewek itu terlalu cantik. Jika ada yang bilang nggak ada yang sempurna di dunia ini, maka Raga akan menyangkalnya. Baginya Kim sangat sempurna. Wajah cantik dan tubuh menggoda, kurang apa lagi?
***