Part 11 She's Still Mine

1707 Kata
Raga dan Kim pergi ke kampus bersama. Sebenernya hari ini Raga nggak ada jadwal kuliah. Tapi karena dia harus mengantarkan Kim, sekalian aja dia menunggu cewek itu sampai selesai. BRAK! Terlalu asyik bercanda membuat Kim sampai menabrak seseorang. Dia kaget saat tau siapa yang ditabraknya. "Hai sayang, apa kabar?" Marco hendak mendaratkan ciuman ke pipi Kim tapi Raga langsung menarik Kim menjauh dari Marco. "Wohooo.. Raga. She is still mine, kalo Lo lupa," Marco mengingatkan. "Benar kan, Kim?" Marco mengintimidasi Kim dengan tatapannya. Kim nggak menjawab. Dia berlindung di balik tubuh Raga. Kim mulai merasa ketakutan dengan Marco. "Sayang, aku harus ingatkan kamu kalau kita masih berpacaran. Dan kamu sama dia tersisa 25 hari lagi. Ingat?" Marco mencoba meraih Kim. Raga dengan cepat menangkap tangan Marco dan menghempaskannya ke udara. "25 hari Marco. Dan selama itu Lo nggak punya hak atas dia," Raga menatap tajam ke arah Marco. "Jangan sentuh dia," lanjutnya penuh penekanan. Marco tertawa. Tapi lalu tawanya lenyap berganti dengan seringaian mengerikan. "Gue jauh lebih punya hak buat nyentuh dia. Gue harus ingetin lo buat tau batasan, Raga." Raga tersenyum penuh ejekan. "Batasan yang seperti apa? Gue yakin Lo bahkan tau kalo gue udah tidur sama Kim. Berkali-kali." Bisa Raga lihat Marco terpancing oleh emosi. "Dan Lo mau bilang Lo lebih punya hak atas dia? Apa Lo pernah nyentuh dia lebih dari gue pernah nyentuh dia?" Kim mencengkram lengan Raga agar segera berhenti. Dia begitu takut ada keributan di sana. Di tempat ramai seperti ini Marco nggak akan takut untuk menghabisi Raga. "Setelah 25 hari, Lo bakal liat seperti apa gue nyentuh dia," Marco menajamkan kata-katanya. "Berani Lo nyentuh dia, gue pastiin Lo nggak akan bisa berjalan buat lari dari maut." Raga menggertakkan rahangnya. "See you next time baby," Marco mengedipkan matanya pada Kim. Dia berjalan tapi lalu mundur kembali. "Aku harus ingetin kamu satu hal. Hubungan kita, jangan lupain itu." Lalu pergi dengan senyuman lebar di wajahnya. Kim gemetar. Dia nggak sadar mencengkram lengan Raga terlalu kuat. "Ada aku, jangan takut..." Bisik Raga sambil memeluk Kim. "Dia nggak akan bisa nyentuh kamu. Sekalipun dia mau." Kim mengangguk. Dia harus membiasakan diri dengan semua kengerian ini karena sudah terlanjur masuk ke dalamnya. Mengenal Marco membuat Kim harus berurusan dengan hal-hal menakutkan. "Aku anter kamu ke kelas," Raga menggandeng Kim. Di sepanjang koridor kampus, mereka jadi pusat perhatian banyak mahasiswa. Kim dan Raga sama-sama dikenal sebagai the most wanted di sana. Dengan Kim yang seorang model dan sering berganti pasangan. Dan Raga yang nggak pernah menggubris cewek manapun yang mendekatinya. Mereka seakan semakin tenar saja sekarang. "Aku masuk dulu," pamit Kim. Raga mengangguk. "Aku tunggu kamu di sini. Jadi jangan takut. Kuliah aja yang fokus," bisik Raga. Kim mengangguk. Dia masuk ke kelas dengan mengabaikan tatapan dari semua mahasiswa di sana. Selama ini, Kim nggak pernah terlihat terlalu dekat dengan pacar-pacarnya. Baru Raga satu-satunya yang mengantarkan Kim sampai di depan pintu kelas. Bahkan di saat semua orang tau Kim masih bersama Marco. Hubungan segitiga rumit itu cukup menarik perhatian banyak orang. "Ragaaaaaaaaa," seorang cewek memeluk leher Raga dari belakang. Dia Syabila, cewek yang pantang menyerah untuk mendapatkan Raga. Berbagai cara dia lakukan. Mulai dari diam, bicara, sampai berteriak. Halus sampai kasar. Tapi Raga tetap dingin padanya. Raga sengaja berhenti lama di depan pintu kelas Kim dengan Syabila yang menggelayutinya itu. Menguji Kim, sejauh apa cewek itu tetap datar di saat dirinya dekat dengan cewek lain. Dan... Kim is Kim. Dia melihat tapi nggak terganggu sama sekali. Malah caranya melihat Raga bersama Syabila terkesan biasa aja. Seakan Raga itu sedang bermesraan dengan seorang cowok saja. Raga sangat ingin melihat Kim cemburu. Cemburu itu tanda cinta bukan? Apa Kim emang sedewasa itu sampai untuk sedikit marah saja nggak ada? "Ragaaaaaaaaa," rengek Syabila lagi. Raga melepaskan tangan Syabila dari lehernya. "Gue butuh bantuan Lo." *** Setelah 3 jam, kuliah Kim akhirnya kelar. Dia menyusul Raga ke kantin karena cowok itu sudah sangat kelaparan menunggunya. Kim tersenyum mendapati panggilan Zeta. Ada Aldi dan Dika juga di sana. By the way ini pertama kalinya loh Kim makan bersama teman-teman. Sejauh ini memang dia nggak punya temen dekat, kebanyakan dari cewek di kampus memusuhinya dengan menganggap dirinya sok kecantikan sampe-sampe cowok di kampus berebut perhatiannya. Kim duduk di sebelah Zeta. Soalnya Raga sudah duduk bersama cewek lain, cewek yang tadi menggelayutinya waktu di depan kelas Kim. "Laper banget," ujar Kim sambil membaca menu. "Bang," dia memanggil salah satu pegawai Kantin. Bang Taryo namanya, mendekat pada Kim dengan senyum ramahnya. "Mau pesen seperti biasa, Mbak Kim?" Zeta melirik Raga. Dia mengulum senyum karena sepertinya rencana Raga akan gagal total. "Iya Bang." "Ditunggu ya Mbak," Mas Taryo langsung berjalan menuju counter dapur. Laki-laki itu mengenal Kim karena selalu dia yang melayani Kim saat makan. "Tadi matkul apa Kim?" Tanya Zeta. "Victimologi," jawab Kim. "Pusing," lanjutnya lagi. "Kenapa ambil hukum, Kim? Biasanya model itu jurusannya lebih ke yang ringan." "Ragaaaaaaaaa," Syabila nampak merengek manja. Kim menoleh ke arah Raga dan Syabila. Tapi sekilas. Tanpa ekspresi apapun. Tetap tenang. Dan menoleh kembali ke Zeta. "Suka aja, Zet. Aku jadi tau banyak tentang yang boleh dan nggak, hehehe." Zeta berusaha menahan senyum. Dia bisa melihat lagi wajah kesal Raga karena Kim sama sekali nggak terpengaruh dengan keberadaan Syabila di sana. Sepertinya Raga benar, Kim ini perlu dididik lebih punya rasa. "Ehmmm," deham Dika dengan sengaja. Dia sama seperti Zeta, menahan tawa lepas dari mulutnya. "Kalian ada kuliah lagi sehabis ini?" Tanya Kim. Zeta menggeleng. Aldi dan Dika juga menggeleng. Kalo Raga sih emang nggak ada kelas, jadi nggak perlu ditanyain. "Nonton yuk!" Ajak Kim. "Eh ayok ayok. Gila mau banget gue," Zeta terlalu bersemangat hingga tangannya nggak sengaja menyenggol gelas dan menumpahkannya ke outer Kim. "Astaga Kim maaf. Jadi basah..." Zeta meraih tisu dan langsung mengelap bagian outer Kim yang basah. "Udah nggak papa," Kim sama sekali nggak marah. Dia malah dengan santainya membuka outer itu hingga menyisakan tengtop hitam ketat melekat di tubuhnya. Aldi dan Dika cowok pertama yang langsung terperangah dengan pemandangan indah di depan mata mereka. "Anjiiirrrr, sempurna banget," bisik Aldi ke Dika. "Gila gue tegang," balas Dika berbisik. Raga menggeleng dengan wajah tak percaya. Selain perlu dididik soal rasa, sepertinya Kim juga harus dilatih untuk tau malu. Mengumbar tubuh seperti itu di depan banyak orang, Kim memang luar biasa. Raga melepas jaketnya. Lalu melemparnya ke tubuh Kim. "Pakek," suruhnya dengan tatapan tajam. "Atau harus aku pakekin?" Kim nggak mengatakan apa-apa. Dia memakai jaket itu untuk melindungi tubuhnya dari tatapan nakal para cowok hidung belang. Untungnya jaket Raga ini berbahan kaus. Agak ketat sehingga nggak terlihat konyol di tubuhnya. Dika dan Aldi mendesah sangar pada Raga. Raga memang pelit. Sedikit berbagi Kim aja dia nggak mau. Padahal tadi itu lagi indah-indahnya banget. Sementara Zeta tertawa ngakak melihat ekspresi dua bocah gelap mata di depannya itu. Kim makan setelah pesanannya datang. Dia melahapnya dengan santai. Sesekali dia menatap Raga yang masih bermesraan dengan Syabila. Tapi Kim nggak marah. Dia malah melemparkan senyum santai pada Raga. "Raga lapeeerrr," rengek Syabila lagi. "Makan," suruh Raga datar. "Makan kamu aja boleh?" Belum sempat Raga mencerna kata-kata itu Syabila malah meraup wajahnya dan menyambar bibir Raga dengan lumatan liar. Zeta, Aldi dan Dika melotot melihat itu. Syabila terlalu nekat dan cari mati. Dan kalian mau tau gimana reaksi Kim? Semua cewek akan melemparnya ke lautan karena Kim sama sekali nggak cemburu atau terlihat marah. Dia masih santai dan menganggap hal itu biasa. Kim malah melanjutkan makannya, menatap Raga sesekali dan lebih banyak ngobrol dengan Zeta. "Hai Kim," seorang cowok menyapa Kim. "Eh, hai Ron," Kim menerima cipika cipiki cowok yang dipanggilnya Ron itu. Cipika cipiki dengan mendaratkan bibir Ron ke pipi Kim itu dianggap Kim biasa tapi tidak dengan Raga. Zeta melirik Raga. Memperhatikan wajah cowok itu. Raga ingin memancing Kim cemburu, nyatanya justru cowok itu yang terbakar. Begini nih kalau pacaran dengan cewek super model yang pergaulannya sudah sangat high class. "Ntar malem Dateng kan?" Tanya Ron. Kim nampak memikirkannya. "Gue belum tau, Ron. Tapi kita liat ntar gue usahain," jawab Kim. "Beneran loh ya," Ron menagih janji Kim. Cewek itu mengangguk. Sekali lagi, Raga harus menyaksikan Kim di-cipika-cipiki oleh Ron. Raga mendorong Syabila menjauh. "Pergi," suruhnya setengah berbisik. "Tapi, Ga.." Syabila masih ingin bersama Raga, sekalipun itu hanya akting. "Over," bisik Raga penuh penekanan. Dengan mata tajamnya dia membuat Syabila nggak berkutik dan langsung pergi dari situ. Kim merasai perubahan Raga itu. Dia menoleh ke Zeta tapi cewek itu malah nyengir seperti kuda. Dan Dika sama Aldi tertawa nggak jelas. Lagi dan lagi... Kim nggak pernah bisa ngerti dengan perubahan mood Raga. "Kamu anggep aku ini apa sih, Kim?" Tanya Raga. Dia nggak bisa menahan dirinya lebih lama. Selain marah karena Kim nggak terpengaruh dengan adanya Syabila, dia juga merasa terganggu dengan adanya Ron tadi. Dan Kim masih terlihat santai seolah nggak terjadi apa-apa. "Maksud kamu?" Kim nggak ngerti. Dia menatap Raga penuh tanya. Zeta, Aldi dan Dika mulai waspada. Mereka saling pandang dan berpura-pura nggak mendengarkan kedua orang itu. "Hati kamu tuh sedingin apa sih sampe kamu biasa aja ngeliat aku sama Syabila tadi?" Kim diam dengan pandangan tajam menatap Raga. "Terus cowok tadi. Apa kamu nggak mikir cara kalian menyapa itu terlalu berlebihan?" Raga kembali mengungkapkan uneg-unegnya. Kim tetap diam dan mendengarkan. Dia nggak suka berdebat, untuk itu dia membiarkan Raga menyelesaikannya lebih dulu. "Seenggaknya kamu punya hati, Kim! Aku jadi ragu sebenernya kamu cinta atau nggak sih sama aku." Suara Raga mulai meninggi. "Apa kamu emang udah terbiasa memperlakukan cowok kayak gini. Sampe kamu anggep aku ini juga biasa?" Kim menjauhkan piringnya. Dia udah nggak selera menghabiskan makanan yang masih tersisa sedikit itu. Dia berdiri, melepas jaket Raga dan meletakkannya ke atas meja. "Aku nggak ngerti kamu ngomong apa," katanya sambil menyandang tas di bahu. "Gitu aja terus! Bertingkah secuek yang kamu mau!!" Raga terpancing emosi. Aldi dan Dika langsung mencegah cowok itu bertindak lebih jauh. Zeta juga ikut melerai dengan memegang bahu Kim agar kembali duduk. "Ternyata, apa yang kita lakuin akhir-akhir ini nggak cukup ngebuat kamu percaya kalo aku cinta sama kamu. Aku udah kasih segalanya kalo kamu emang perlu diingetin." Kim menggeser bahunya hingga tangan Zeta terlepas. Kim melangkah keluar dari area kantin. Menerobos mata-mata penasaran atas pertengkarannya dengan Raga tadi. "Kenapa jadi out control gini sih, Ga?" Sergah Dika. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN