Chapter 1 - Persahabatan

1658 Kata
Sinar matahari menembus kaca jendela kamar gadis cantik yang membuat ia terusik. Perlahan ia membuka matanya, menguceknya sebentar, lalu ia kembali tertidur. Tetapi, tunggu... "Jam berapa ini?!" ujar Nadien terlonjak kaget. Ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan mengambil ponsel yang ia letakkan diatas nakas. "Huh, untung aja masih setengah 6," ujar Nadien menghela napas lega. Lalu, ia segera mengambil handuk dan membuka pintu kamarnya untuk menuju ke toilet. Cklekk... "Aaaaakkkhhhh, siluman?!" teriak Nadien terkejut karena ada seseorang yang sudah berada di hadapannya. "Ssttt, apaan sih pagi-pagi udah teriak?" ujar Ardan menutup mulut Nadien yang membuat gadis itu melotot. "Ardan, ngapain sih pagi-pagi udah disini? Ngagetin tau!" omel Nadien, lalu ia menutup wajahnya menggunakan handuk karena malu pada Ardan. Bagaimana Nadien tak malu. Ia baru bangun tidur, belum mandi, pasti penampilannya acak-acakan, bahkan mungkin ia ileran atau belekan. Nadien tak mau Ardan melihat itu, bisa turun reputasinya di depan Ardan yang notabenya adalah pacar Nadien. "Kenapa ditutup wajahnya sayang?" tanya Ardan lembut. Nadien semakin malu, mukanya memerah. Padahal Ardan sudah sering memanggilnya seperti itu tetapi entah mengapa Nadien selalu malu dan jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya. "Aku belum mandi, Ardan!" ujar Nadien yang masih berusaha menutupi wajahnya. Ardan mengulurkan tangannya, mencoba menyingkirkan handuk yang menutupi wajah cantik Nadien. Bagi Ardan, bagaimanapun penampilan Nadien, pasti selalu terlihat sempurna di matanya. "Kenapa sih? Kamu itu selalu cantik di mataku. Nggak usah sok malu gitu deh, bukan kamu banget," ujar Ardan. "Gombal!! Udah ah, aku mandi dulu, wlekkk!!!" ujar Nadien menggoda Ardan sambil menjulurkan lidahnya. Ardan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah Nadien yang seperti anak kecil ketika di hadapannya. Ardan menuruni tangga, dan menuju ke ruang tamu untuk menunggu Nadien selesai bersiap-siap. Inilah kegiatan Ardan sehari-hari sekarang, mengantar jemput Nadien ketika sekolah. Mungkin bagi orang-orang itu hanya sepele, tapi bagi Ardan itu adalah sebuah kewajiban. Ardan harus memastikan bahwa gadisnya selalu aman dan selamat. "Ardan sudah sarapan?" tanya Tiara, Bunda Nadien. Karena sering ke rumah Nadien, Tiara jadi hafal dengan Ardan. Apalagi Nadien sudah bercerita bahwa mereka menjalin hubungan. Bagi Tiara itu wajar di usia SMA seperti mereka. Jadi, ia tak masalah dengan itu. Tiara juga sudah mengenal Ardan lumayan lama, jadi ia tak akan risau jika Nadien bersama Ardan. "Sudah kok, Tante," jawab Ardan sopan sambil tersenyum. "Om Zian udah berangkat kerja, Tan?" tanya Ardan karena tak melihat Ayah Nadien di rumah. "Ayahnya Nadien ada dinas di luar kota. Tadi malam baru aja berangkat," ujar Tiara menjelaskan. Sementara Ardan hanya menganggukkan kepala tanda sudah paham. "Maaf ya, Ardan. Kebiasaan emang Nadien kalau jam segini pasti baru bangun. Jadinya, kamu harus nungguin dia terus," ujar Tiara merasa tak enak dengan tingkah laku anaknya itu. Ardan tersenyum. "Nggak papa, Tante. Ardan nggak pernah keberatan kok," ujarnya. Sekitar 15 menit kemudian, Nadien keluar dari kamarnya dan menemui Ardan dengan seragam yang sudah lengkap. "Makan dulu, Nad," seru Tiara dari arah dapur. "Makan di sekolah aja, Bun. Kasian Ardan udah nunggu lama," ujar Nadien. "Bunda udah masakin ayam rica kesukaan kamu nih," ujar Tiara yang membuat Nadien meneguk ludahnya. Nadien memang suka sekali dengan makanan itu, apalagi buatan Bundanya. Seperti masakan ala restaurant bintang lima. Pokoknya enak sekali bagi Nadien. "Udah makan dulu sana. Masih ada waktu kok," ujar Ardan yang melirik jam tangan yang melingkar di tangannya. "Kamu makan juga ya," ujar Nadien. "Aku udah makan di rumah, Nad," "Kalau kamu nggak makan disini, aku juga nggak mau deh," ujar Nadien berpura-pura ngambek. Ardan menghela napasnya pelan, lalu ia menaruh koran yang tadinya ia baca dan segera berdiri mendekati gadis itu. "Ya udah, aku temenin kamu makan," ujar Ardan yang membuat Nadien mengembangkan senyumannya. "Beneran?" tanya Nadien antusias. "Iya. Dasar manja!" gumam Ardan. "Aku denger loh, Dan!" Ardan mengacak rambut Nadien gemas. "Ya udah ayo makan," ajaknya. Dengan terpaksa, Ardan harus makan lagi, makan yang kedua kalinya demi gadisnya itu. Ia hanya tak mau gadisnya jatuh sakit jika melewatkan sarapan. Meskipun ia makan sedikit, setidaknya Nadien mau sarapan pagi ini. ***** Ardan dan Nadien menyusuri koridor sekolah. Di kelas 11 ini mereka berbeda kelas. Ardan berada di kelas XI MIPA 4, sedangkan Nadien berada di XI MIPA 2. Kelas mereka memang tak berjauhan, tetapi karena dulu kelas 10 sudah satu kelas, rasanya sangat berbeda. Nadien masih satu kelas dengan Zahra, Reihan dan juga Rania. Sementara Raga, Fikri dan Tasya berada di kelas yang sama dengan Ardan, yaitu XI MIPA 4. Meskipun kelas mereka berpisah, tetapi tak membuat persahabatan mereka renggang. Bahkan, setiap jam istirahat pun mereka masih makan bersama di kantin. "Aku masuk duluan ya," ujar Nadien pada Ardan saat mereka telah berada di depan kelas XI MIPA 2. "Iya. Belajar yang rajin, jangan mikirin aku terus," goda Ardan. "Apaan sih," kesal Nadien. Ardan terkekeh geli, "Nanti istirahat aku samperin kamu," ujarnya. Nadien mengangguk pelan, lalu ia melambaikan tangannya pada Ardan dan segera masuk ke kelas. "Hadeh, makin lengket aja tuh," sindir Rania saat Nadien baru saja duduk di sebelah Zahra. "Ya iyalah. Lo mah enak, Ran, masih satu kelas sama Reihan. Lah kita? Udah kagak," sahut Zahra. "Setuju deh sama Zahra!" ujar Nadien. "Gak usah iri!" ujar Rania terkekeh. "Eh, mau nonton latihan basket nggak nanti?" tanya Zahra pada Nadien dan Rania. "Ada latihan?" tanya Nadien bingung. "Lo nggak di kasih tau Ardan?" tanya Zahra. Nadien menggeleng. "Wah parah tuh si Ardan. Kok kagak bilang sih. Reihan aja bilang ke gue kalo nanti ada latihan, mendadak sih tapi emang," sahut Rania. "Iya kata Raga emang mendadak sih. Dia di tantang tanding basket sama anak SMA sebelah katanya," ujar Zahra. "SMA sebelah? Tumben banget," ujar Nadien. Zahra mengangkat kedua bahunya, "Nggak tau juga deh." "Ya udah mau nonton nggak nih?" tanya Rania. "Kalau gue ya pasti nonton. Lo pada tau sendiri Raga gimana," jawab Zahra. "Cihh, iya tau gue. Manja banget emang tuh si Raga. Kalau nggak di tonton aja udah ngomel-ngomel," ujar Rania terkekeh. "Heleh, jangan lupa lo pernah naksir Raga," sindir Nadien. "Nggak usah dibahas juga keles!" ujar Rania tak terima. Sedangkan Zahra hanya menggelengkan kepalanya jika sudah melihat Nadien dan Rania beradu mulut. ***** Ardan baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di sebelah Raga. Ya, Ardan masih setia berada di bangku sebelah Raga sampai saat ini. "Dan, nanti latihan basket," ujar Raga memberikan informasi tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Hari apaan ini? Lo ngigo? Masih selasa woi! Kita latihan kan tiap rabu," ujar Ardan. "SMA Bima Sakti nantang sekolah kita, Dan," sahut Fikri yang duduk tepat di belakang Ardan. Ardan menoleh, "Bima Sakti?" tanyanya. "Dia nggak terima karena dia kemarin kalah tournament. Katanya, dia mau buktiin kalau dia sebenernya bisa ngalahin kita," jelas Raga. "Lo terima gitu aja, Ga? Nggak bilang sama Pak Dani dulu?" tanya Ardan. "Kayanya nggak perlu, Dan. Lagian ini bukan pertandingan formal kok. Pokoknya kita tetep main yang terbaik aja," ujar Raga. "Ada-ada aja sih," dumel Ardan. "Siapa kapten basket Bima Sakti sekarang?" tanyanya. "Revan." "Oh, yang badannya gede itu?" Raga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. ***** Bel istirahat berbunyi, seperti janji Ardan, ia akan menghampiri Nadien terlebih dahulu di kelasnya. Begitupula dengan Raga yang akan menghampiri Zahra disana. "Hallo guys!!! Pada kangen gue gak?" seru Tasya saat ia masuk ke kelas XI MIPA 2 tanpa tampang berdosanya karena telah meramaikan kelas itu. Semua mata tertuju pada Tasya dan menatapnya aneh. "Berisik tau gak?!" omel Nadien. "Tau nih. Lo bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak?!" sahut Zahra. "Gak bisa kayaknya," ujar Rania menjawab pertanyaan Zahra. "Minta maaf sana karena udah teriak di kelas gue. Lihat tuh, pada keganggu karena kedatangan lo!" ujar Rania pada Tasya sambil melirik ke seluruh teman-teman di kelasnya. Tasya nyengir, "Sorry guys! Gue nggak bermaksud. Tadi keceplosan," ujarnya. "Ayo ke kantin," ajak Ardan yang baru saja masuk bersama Ardan dan Fikri. "Kamu udah sampai disini aja, beb," ujar Fikri pada Tasya. "OMG!!! BISA GAK SIH NGGAK USAH PANGGIL BEB? GUE JIJIK DENGERNYA SUMPAH!" protes Rania. "Sewot aja sih, Ran! Kaya lo nggak pernah gitu sama Reihan," balas Tasya. "Emang nggak pernah!" ujar Rania. "Rei, kayanya pacar lo ngode deh," ujar Fikri menggoda. "Kode apa?" tanya Reihan tak paham. "Ya minta dipanggil 'beb' juga," Fikri tertawa. "Sumpah gak lucu!" ujar Rania kesal. "Sumpah gue gak ngelucu!" balas Fikri tak mau kalah. "Udah, Ran. Fikri lo ladenin," ujar Reihan, lalu ia melingkarkan tangan kanannya di bahu Rania. "Udah ayo ke kantin. Laper gue," ujar Raga. ***** "Ra, lo pernah ke kampus Bang Radit nggak?" tanya Nadien. Mereka telah menyelesaikan makannya. Kini saatnya berbincang satu sama lain. Berbagi cerita yang terjadi di kehidupan atau di kelas mereka. Karena kini mereka tak bisa terus bersama. Hanya saat istirahat atau pulang saja mereka bisa menghabiskan waktu bersama. "Pernah," jawab Zahra. "ITB bagus gak, Ra?" tanya Nadien antusias. Radit memang meneruskan pendidikannya di ITB, tepatnya di jurusan Teknik Mesin. Cita-cita Radit memang ingin berkuliah di ITB, menimba ilmu di Kota Kembang itu. "Bagus, Nad. Adem banget lagi suasananya," ujar Zahra. "Kenapa? Kamu pengen kuliah disana?" sahut Ardan. Nadien mengangguk antusias. "Pengen pake banget," ujarnya. "Jauh-jauhan dong sama Ardan nanti," ujar Tasya. "Iya juga. Kan Ardan mau ke UI ambil kedokteran," sahut Reihan membenarkan. "Ya emang kenapa kalo jauh-jauhan?" tanya Ardan. "Berat kali, Dan! LDR itu susah. Harus kuat jalaninnya," ujar Raga. "Justru itu suatu tantangan dong buat gue, gimana caranya biar bisa tetep bertahan meskipun LDR. Lagian, gue juga nggak mau ngehalangi mimpi Nadien yang mau kuliah di Bandung," ujar Ardan. "Tapi emang berat sih, Dan. Bang Radit aja putus nyambung mulu sama Kak Kay. Nggak tau deh sekarang masih pacaran apa kagak," sahut Zahra. "Emang iya, Ra? Gue kira Bang Radit langgeng terus sama Kak Kay," ujar Nadien terkejut. "Iya. Kalau nyambung pun, mereka sering berantem. Kak Kay sendiri yang cerita sama gue. Kalau Bang Radit mah boro-boro cerita, chat gue aja seminggu sekali," ujar Zahra. "Mereka terhambat komunikasi. Bang Radit yang ambil jurusan teknik tuh banyak banget tugasnya, tapi kadang sebagai cewek, Kak Kay juga mau komunikasi juga kan? Pastinya kangen," lanjutnya. "Sesulit itu ya?" gumam Nadien. Zahra mengangguk, "Kak Kay sama Bang Radit itu jauh jaraknya, Nad. Kak Kay kan ada di Jogja, lah Bang Radit di Bandung. Beda provinsi. Ketemu juga berapa kali dalam setahun," "Tapi kalau lo udah yakin satu sama lain dan kasih kepercayaan sama pasangan juga pasti bisa kok. Nggak sedikit juga yang masih langgeng bahkan bisa sampai nikah," ujar Rania. Fikri melempari kacang yang sedang ia jadikan camilan ke arah Rania. "Masih kecil udah nikah aja lo pikirannya!" "Lo apa sih, Fik? Sewot banget kayanya sama gue?!" kesal Rania. "Udah ah. Ribut mulu lo berdua! Awas jodoh!" timpal Raga yang mendapat pelototan Fikri, Tasya, Reihan dan juga Rania. Raga cekikikan, "Santai bro!" *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN