Kesasar

1380 Kata
Di tengah kebingungan, Rumi datang. Selalu saja pakaian itu yang dia kenakan. Dres warna putih selutut. Belum sempat aku menyapanya kenapa dia menyusul ke hutan, anak itu tangannya menunjuk arah. Aku pun mengikuti arahan telunjuknya. Aneh. Jalan yang tadinya tidak kelihatan di mataku, kini mulai terlihat. Padahal sudah berulang-ulang kali aku mengedarkan pandangan tapi jalan akses menuju ke desa tersebut tidak tampak. Lalu aku melihat ke arah jalan yang hendak aku lalui. Astaugfirulloh ternyata jurang. Apakah kepala pusing bisa berpengaruh dengan pandangan? Sehingga jurang yang sedalam itu nampak seperti jalan. Untung saja aku urung melangkahkan kaki. Dan untung saja Rumi segera menyusulku, menunjukkan arah untukku. Rumi! Di mana anak itu? Lagi-lagi aku berhalusinasi bertemu dengannya. Sepertinya ini bukanlah suatu kebetulan, tapi anak itu pasti ada sesuatu. Yang jelas saat ini kehadiran Rumi telah menyelamatkan aku dari tersesat. Bukan saja tersesat, bila tadi aku melanjutkan perjalanan ke jalan yang dalam pandanganku belum aku lalui itu, mungkin saja saat ini aku sudah menjadi mayat, jatuh ke jurang. Menjadi santapan binatang buas. Dengan perasaan lega, aku menyusuri jalan yang ditunjukkan Rumi. Yaitu jalan yang benar-benar menuju ke desa. Berulang kali aku tidak habis pikir kenapa jalan ini tadi sama sekali tidak kelihatan? Apakah rumor tentang jin penunggu hutan itu nyata? Menurut kabar yang beredar mereka sering mengganggu penduduk desa dengan menutupi matanya dengan tubuh raksasanya agar tidak bisa pulang. Sungguh baru kali ini aku mengalaminya. Kembali lagi aku bersyukur, untung ada Rumi. Meski dia hadir hanya berupa halusinasi. Sesampai di rumah anak-anak ternyata sudah pulang sekolah. Mereka menyambut kedatanganku dan membawa bakulku masuk ke dalam. Aku segera mencuci tangan dan kaki, lalu membersihkan diri kemudian melaksanakan kwajiban sebagai seorang muslim selama sepuluh menit. Setelah salat duhur, aku bergabung dengan Rahma dan Murni di ruang depan. Aku katakan ruang depan karena tidak ada ruang tamu, ruang makan, atau pun ruang keluarga. Semua kegiatan di lakukan di ruang depan. Di ruang depan itu ada televisi 14 inci yang nangkring di pojokan. Televisi itu di belikan oleh almarhum bapaknya Rahma saat gajian pertama kali menjadi penjaga sekolah di Sekolah Dasar di desa kami. Meski pun bekas, televisi tersebut tergolong awet. Sudah bertahun-tahun ditinggalkan oleh orang yang membelinya belum pernah diservis sekali pun. Hanya televisi itulah satu-satunya hiburan kami. Kalau biasanya anak-anak seusia Rahma dan Murni memiliki Hp untuk hiburan. Lain halnya dengan mereka berdua. Hp hanya di pakai untuk kepentingan yang mendesak saja. Setiap hari minimal dua kali mereka sempatkan untuk datang ke balai desa agar bisa menikmati wifi gratis agar bisa membukanya barang kali ada pesan yang penting dari guru dan teman-temannya. Kemudian kedua anak itu menggunakan hp tersebut hanya untuk sekedar berbalas pesan atau hanya mencari informasi yang penting saja. Rahma dan Murni hanya memiliki satu hp, aku belikan tiga tahun yang lalu saat sekolah mewajibkan siswanya agar memiliki barang mewah tersebut. Mewah. Tentu saja bila menurut ukuranku. Untuk membelinya aku harus merelakan ayam kampung sekandang yang seharusnya bisa aku gunakan untuk membeli gabah dua kwintal akhirnya harus ditukarkan dengan barang tersebut. Kuambil kendi yang berada di meja lalu meminumnya sampai puas. Minum dari kendi di badan terasa adem dan kembali segar. Kejadian di hutan aku simpan sendiri dalam hati. Tidak mungkin aku menceritakan kejadian tersebut kepada anak-anakku. Mereka pasti akan merasa cemas. Setelah rasa capekku sedikit berkurang, segera aku bersiap untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Memotong-motong rempuyang adalah kegiatanku di rumah. Sementara anak-anak aku biarkan mereka untuk menikmati aktivitasnya sendiri. Belajar sambil nonton televisi. Sekali-kali aku mereka membantu menjemurkan rempuyang yang selesai kupotong ke luar rumah. Kemudian mereka bergantian menjaganya agar tidak di orak-arik ayam tetangga. Rumi datang mendekat. Gadis kecilku itu duduk di sampingku. Kali ini aku bisa pastikan bahwa apa yang aku lihat bukanlah halusinasi. “Rum ....” Rumi mendongakkan kepalanya. Lalu dia menunjukkan tangannya ke arahku. Tangan yang awalnya terlihat mulus itu tiba-tiba perlahan berubah. Kulitnya retak-retak, kemudian mengelupas dan mengeluarkan darah. “Rumiii!” Aku berteriak histeris. Pisau yang aku pegang sempat mengiris ujung jariku. Tak sanggup rasanya melihat perubahan tubuh rumi yang seperti itu. Bagaimana seluruh kulitnya mengelupas sehingga kelihatan dagingnya yang penuh dengan darah. Sementara itu Rahma dan Murni berlarian ke dalam rumah. Kedua anak itu menghampiriku untuk memastikan apa yang terjadi. “Ruumiii! Tidakkk!” Kembali lagi aku berteriak histeris. Tidak aku pedulikan tangan yang berlumuran darah, padahal sosok Rumi sudah tidak ada di sampingku. Rahma dan Murni memelukku, mereka menjelaskan kalau tidak akan terjadi apa-apa dengan Rumi. Tapi insting keibuanku tidak seperti itu. Kalau tidak terjadi apa-apa sama Rumi, anak itu tidak akan selalu menampakkan dirinya dengan keadaan yang menyedihkan. Rahma mencoba melepaskan pisau dari tanganku perlahan-lahan. Kemudian dia mengambil kain untuk membelenggu lukaku. “Katanya kalian mau mencari informasi tentang Rumi?” tanyaku kepada Rahma. “Tadi saya sudah tanya-tanya sama Ika yang ibunya pernah satu tempat kerja sama Bu Dhe, Ika cuma memberikan kami kontak ibunya katanya supaya aku bisa bertanya sendiri saja soalnya dia bingung apa yang hendak dia tanyakan,” ucap Rahma. “Terus ... kamu sudah menghubungi ibunya Ika?” tanyaku lagi tidak sabar mendengar penjelasan Rahma. “Belum, Mak. Nanti sore rencananya kita mau ke Balai Desa numpang wifi.” Mendengar penuturan Rahma, aku beranjak ke kamar. Mengambil dompet kecil dari bawah kasur yang sudah usang. Kemudian mengeluarkan dua lembar uang dua puluh ribuan dari dompet sambil berjalan kembali ke arah Rahma dan Murni. “Belilah kuota!” titahku kepada Rahma. Anak perempuanku itu pun segera beranjak untuk pergi ke konter yang jaraknya tiga ratus meter dari depan rumah. Aku meneruskan mengiris rempuyang yang baru berkurang seperempatnya. Rasa perih di tangan tidak aku pedulikan. Kutatap jam dinding yang hampir menunjukkan pukul dua siang. ‘Lama sekali anak itu membeli kuota,’ gumanku. Belum terdengar suara Rahma pulang, yang aku dengar hanya suara Murni yang kelihatannya sedang sibuk mengusir ayam-ayam tetangga di depan rumah. Mungkin saat ditinggalkan tadi, ayam tetangga langsung berdatangan. Tidak lama berselang Rahma datang sambil mengembalikan uang sisa pembelian kuota. Rahma duduk di kursi kecil dekat televisi. Dengan serius dia memejet kontak yang ada di layar hpnya. Karena penasaran aku pun menghentikan aktivitas mengiris rempuyangku sementara dan menghampiri anak gadisku tersebut. “Assalamualaikum,” ucap Rahma memberi salam pada orang yang berada di seberang telepon. Aku langsung mendekat dan menyuruh Rahma agar mengaktifkan tombol loundspeaker agar aku bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. “Maaf, Bu. Ini Rahma teman Ika ponakan Bu Dhe Santi. Maaf kalau sedang mengganggu kesibukan Ibu. Saya mau tanya apakah Ibu mendengar kabar tengang Bu Dhe Santi?” tanya Rahma dengan hati-hati. “Owh, Nak Rahma. Tidak apa-apa, Nak. Gimana kabarnya Nak Rahma dan keluarga?” “Alhamdulillah sehat semua, Bu!” “Alhamdulillah juga kalau begitu. Bu Dhemu Santi sudah lama pindah. Kan waktu aku pulang sudah cerita waktu ibumu tanya. Kemarin aku bertemu dia di mall saat aku mengantarkan majikanku berbelanja.” Terdengar ibu Ika menghentikan bicaranya. “Iya. Terus gimana, Bu?” tanya Rahma lagi. “Maaf ya, Nak. Bu Dhemu waktu aku sapa, dia melengos pura-pura tidak mengenal aku jadi gimana ... ya?” “Waktu bertemu dengan sampeyan, di—dia sendirian atau bersama teman, Bu?” “Dia bawa teman perempuan.” “A—pakah itu Rumi? Rumi ikut ibunya, Bu, sekarang.” “Bukan. Tidak mungkinlah Rumi. Aku kan hafal Rumi. Sepertinya teman sosialitanya. Sekarang Bu Dhe mu, kan horang kaya.” “Ibu tahu alamatnya yang sekarang tidak?” “Sebenarnya aku mau tanya tapi nggak berani. Lha aku sapa saja tidak menyahut,” ucap ibu Ika dari kejauhan dengan nada yang entah. Aku meminta Rahma untuk memberikan hpnya kepadaku agar aku bisa berbicara dengan ibu Ika. “Halo Assalamualaikum. Ini ibu Rahma, Bu!” ucapku. “Iya, Bu. Gimana?” “Tolong kalau ada informasi tentang Mbak Santi segera kasih kabar aku, ya, Bu. Soalnya penting,” ucapku. “Baik-baik nanti biar aku tanya-tanya ke teman siapa tahu ada yang tahu informasi tentang mbakmu.” “Terima kasih, Bu Ika,” ucapku sambil mengakhiri telpon. Meski informasi yang kudapatkan dari ibu Ika tidak memuaskan setidaknya dia bersedia menolong mencari tahu tentang keberadaan Mbak Santi. Aku menarik napas panjang, kemudian menghembuskan lewat mulut. Kelirik jam dinding di atas pintu kamar. Ternyata sudah pukul dua lebih lima menit. Dan lagi-lagi aku terlambat untuk pergi ke kebun Bu Tarni semoga saja kali ini aku tidak mendapat masalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN