Sanksi Dari Bu Tarni

1121 Kata
“Kenapa bisa rusak seperti ini, Surti?” teriak Bu Tarni. Semua orang melihat ke arahku. “Maaf, Bu, maaf!” ucapku. “Maaf-maaf. Kalau kamu minta maaf memangnya jagungku kembali ke tempatnya?” Aku diam saja. Ingin membela diri pun percuma. Aku memang bersalah dan harus menerima segala konsekuensinya. “Surti tadi juga datang terlambat, Bu,” ucap Imah tiba-tiba menyela. “Iya, Bu. Kami sudah lama menyiangi rumput, dia belum datang,” ucap Ijah. Aku merasa dikeroyok. Padahal kalau mereka yang terlambat aku selalu diam saja takut mereka terkena masalah. Bu Tarni meletakkan makanan di gubuk lalu menghampiriku. “Kamu istirahat makan sama yang lain. Dan bayaranmu pagi ini aku potong sebagai pengganti tanamanku yang rusak,” ucap Bu Tarni sambil berbisik. “Semua, Bu?” tanyaku kaget. “Cuma upah pagi ini. Kamu maunya gimana? Sama sore?” “Hah!” Mulutku menganga kaget. “Kenapa kamu sebegitu kagetnya. Begini! Kamu tadi datangnya siang, kan? Merusak tanaman pula? Sudah bagus kamu masih aku pakai. Atau kamu sudah tidak mau aku perkerjakan lagi?” ketus Bu Tarni. “Ja—ngan, Bu!” ucapku memohon. Cuma di tempat Bu Tarni aku sering mendapatkan pekerjaan karena kebun dan sawahnya sangat luas sedangkan di tempat lain aku dipanggil hanya sesekali. Lalu bagaimana nasibku dan anak-anak bila tenagaku tidak dipakainya lagi? Dari mana kami dapat makan? “Makanya kamu diam saja bila pagi ini gajimu tidak aku berikan. Kamu harus sadar diri, kalau kamu yang salah karena telah merugikan. Jadi wajar bila aku nuntut ganti rugi. Sekarang kamu boleh ikut makan sama yang lain dan jangan bilang siapa-siapa bila pagi ini gajimu tidak aku berikan. Bila sampai namaku buruk, kamu akan rasakan akibatnya.” Begitulah Bu Tarni. Kalau ada sesuatu dia selalu mengancam. Setelah memberi ceramah kepadaku dengan bisikan, Bu Tarni ikut bergabung ke gubug. Aku mengikutinya dari belakang. Aku harus makan yang banyak agar dapat tambahan energi biar bisa menggali tanaman rempuyang di hutan, itulah yang selalu aku pikirkan bila istirahat saat bekerja di kebun atau pun di sawah. “Enak ya? Datang siang, ngerusakin tanaman, ikut makan, gaji full.” Ijah tiba-tiba memulai percakapan dengan menyindirku. Entah apa yang diceritakan Bu Tarni kepada mereka sebelum aku datang. Mendadak selera makanku menjadi hilang. Aku mengunyah makananku lama sambil mencerna apa yang dikatakan Ijah barusan. “Tumben Sur, makananmu sedikit?” tanya Imah. Aku hanya meliriknya sekilas kemudian melanjutkan makan. “Makan yang banyak Sur! Habiskan! Tidak apa-apa dari pada mubazir. Paling-paling kalau makanan sisa dari kebun nanti aku kasihkan ke ayam,” ucap Bu Tarni. “Biar saja buat ayam, Bu. Surti harusnya sadar kalau hari ini telah berbuat kesalahan fatal. Kalau makannya tetap seperti biasa berarti dia memang tidak punya muka,” ujar Ijah. “Iya. Tapi kasihan dia. Kalau di rumah mana pernah surti menjumpai makanan seperti ini. Makanya dia suka bekerja biar bisa makan enak sedangkan anak-anaknya yang di rumah saja dia ambilkan sayuran ala kadarnya dari kebun belakang rumah. Untung anak-anaknya orangnya nurut coba punya anak seperti anakku yang tiap hari minta makan lauk telur dan ayam. Pasti sudah pusing dia.” Ucapan Imah terasa bagai pedang yang langsung menghujam jantungku. Aku bekerja sebagai buruh tani hanya karena ingin makan enak? Apa dia nggak mikir seorang janda menghidupi 3 orang anak yang semuanya masih sekolah rasanya seperti apa. Dengan upah 20 ribu bekerja sampai pukul sebelas siang, kemudian balik lagi bekerja pukul 14.00 sampai pukul 5 sore dengan upah 15 ribu. Apa otaknya sudah rusak berpikir seperti itu? Kalau aku tidak bekerja lalu dari mana aku dapat uang untuk beli beras? 20 ribu untuk biaya hidup selama 1 hari. Sedangkan 15 ribu untuk uang saku anak-anak. Coba saja apa yang bisa dia lakukan dengan uang 20 ribu selain membeli beras1,5 liter seharga 12 ribu lalu sisanya masih 8 ribu apa cukup bila aku pakai buat beli ayam? Sedangkan kebutuhan setiap harinya bukan hanya makan saja. Aku diam sambil berusaha terus mengunyah makananku pelan-pelan. Tapi rasanya makananku berhenti sampai ke kerongkongan, dan tidak mau lagi turun ke lambung., Ingin rasanya makanan yang ada di mulutku ini aku semburkan ke mukanya. Tapi sabar. Kata orang, orang sabar disayang Tuhan. Aku bungkus makananku yang sudah terlanjur aku ambil. Aku taruh makanan itu ke dalam bakul dan menutupinya dengan selendang yang aku pakai sehari-hari untuk menggendong. Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku menyiangi rumput. Setelah semua orang selesai menyiangi rumput dan pergi meninggalkan kebun. Kegiatanku selanjutnya adalah masuk ke dalam hutan yang jaraknya 1 km dari kebun Bu Tarni. Jarak dari kebun Bu Tarni ke hutan memang cuma 1 km tapi untuk menuju ke tempat tujuanku butuh perjalanan 2 km lagi. Tidak semua orang tahu tempat di dalam hutan bila tidak terbiasa. Apalagi mencari tanaman obat sepertiku. Cukup lama aku mencari titik-titik di dalam hutan yang ada tanaman obatnya. Dan tempat itu kini menjadi langgananku selama bertahun-tahun. Aku keluarkan peralanan menggaliku yaitu linggis kecil dan parit. Dengan sekuat tenaga aku tancapkan linggis itu ke tanah. Aku mencari kira-kira tepat ke pangkal akar, lalu aku mulai mencongkel tanaman. Dan Alhamdulillah. Aku mendapat tanaman rempuyang dengan isi yang banyak. Kemudian aku bersihkan tanaman obat itu dari tanah dan daunnya lalu aku taruh ke dalam bakul. Tanaman obat-obat di hutan ini tidak pernah habis. Setelah digali beberapa hari kemudian akan tumbuh tunas baru. Sehingga apabila aku jauh menggali ke dalam hutan seberang sana, beberapa bulan kemudian akan kembali menggali ke tempat ini lagi. Setelah menggali beberap tanaman, tubuhku aku terasa letih. Aku ambil sisa makananku yang dari kebun Bu Tarni tadi. Kemudian aku makan. Aku kunyah nasi dengan lauk ayam semur yang tinggal tulangnya tersebut. Rasanya sakit sekali mengingat apa yang dikatakan Imah dan kawan-kawan di kebun tadi. Tapi aku tidak boleh cengeng dan menyerah. Apa yang aku lakukan sudah benar. Dan untuk anak-anakku, sabar ya nak suatu saat nanti emak akan berikan kalian lauk ayam. Untuk sementara yang terpenting adalah biaya sekolah kalian tidak terbengkalai. Aku hentikan makanku, lalu aku bungkus kembali sisa makanan tadi. Minum adalah jalan satu-satunya meredam pikiran yang terasa panas. Aku buka air putih yang aku bawa dari rumah. Segera kuteguk dan aku habiskan air dalam botol tadi sampai tak tersisa. Ada rasa lelah yang tak terkira tiba-tiba datang menyerang. Lalu aku putuskan untuk pulang saja meski rempuyang yang aku dapatkan baru dapat separoh. “Dia bekerja karena ingin makan enak!” Masih saja kata-kata itu terngiang di telingaku. Lalu di susul kata-kata yang lain. Semakin lama mengingatnya kepalaku terasa semakin sakit. Aku pijit-pijit kepalaku sembari berjalan, namun ada yang aneh dengan jalan yang aku lewati ini. Aku menatap sekeliling. Masih di dalam hutan tapi sepertinya tempat ini tidak pernah terjamah olehku. “Dimana aku?” Jalan yang aku lalui ini bukanlah jalan yang aku lewati setiap hari. Sepertinya aku tersesat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN