“Rum, Rumi!” Aku berteriak memanggil Rumi tapi tak ada jawaban.
“Rum ....” Aku berdiri menengok ke samping kanan dan ke samping kiri rumah seperti orang kebingungan.
“Mbak Rumi pulang, Mak?” tanya Murni.
“Kalian tadi melihat dia di sini, kan?” tanyaku sambil menunjuk bangku yang habis dia pakai duduk.
“Tidak, Mak! Dari tadi aku lihat emak sendirian,” ucap Rahma.
“Tadi waktu kalian pulang, mbak kalian masih berada di sini!” tunjukku lagi untuk mempertegas apa yang di ucapkan Rahma salah.
“Emak berhalusinasi,” ucap Murni.
“Tidak Murni!”
“Emak kangen sama Rumi, ya?” tanya Rahma.
“Tidak, Nduk. Tadi mbak sepupu kalian Rumi memang ada di sini sama emak.”
“Emak pasti capek ya, Mak, dari hutan?” ucap Rahma anak sulungku yang saat ini kelas 3 SMA.
“Kamu ngomong apa to Rahma? Tidak, Nduk, tidak! Ini bukan masalah capek. Tadi Rumi memang benar-benar ada di sini dan emak tidak berhalusinasi!” tegasku.
Aku beranjak masuk ke dalam rumah. Ku periksa tidap sudut rumah dari kamar satu ke kamar yang lainnya. Dapur, belakang almari, kolong meja sampai kolong tempat tidur semuanya aku periksa.
Rahma dan Murni mengikutiku dari belakang. Mereka ikut mencari keberadaan Rumi. Tapi nihil. Rumi tidak ada. Apakah aku tadi memang sedang berhalusinasi?
“Duduk dulu, Mak!” seru Rahma menuntunku untuk duduk. Sedangkan Murni tiba-tiba sudah berganti pakaian entah sejak kapan dan dengan cepat ke luar rumah membawa bakulku yang penuh dengan rempuyang masuk ke dalam rumah.
“Apa yang terjadi, Mak?” tanya Rahma sambil memegang kedua tanganku. Kalau sudah seperti ini Rahma tidak akan berganti pakaian sebelum melihat emaknya tenang.
“Tadi Rumi benar-benar pulang, Ma,” kataku kepada Rahma.
“Kalau memang pulang di mana sekarang dia, Mak?” tanya Rahma.
Murni kemudian berjalan mengelilingi rumah memeriksa kembali apakah Rumi benar-benar pulang ke rumah atau tidak.
“Nggak ada siapa-siapa,” ucap Murni.
“Rumi-Rumi ada apa dengan kamu, Nduk? Kenapa perasaanku tidak enak,” lirihku.
***
Pagi hari seperti biasa. Aku menyiapkan sarapan untuk anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Dini hari sarapanku sudah harus matang. Nasi liwet sama sambal teri kesukaan anak-anak aku siapkan di meja dapur.
Aku bukanlah janda kaya, tidak punya tempat terpisah hanya sekedar untuk makan. Semuanya menjadi satu di dapur. Bila tidak nyaman di dapur, anak-anak suka berpindah dengan makan di ruang tamu, bahkan terkadang makan di teras, yang penting mereka bisa menikmati makanannya.
Selesai menyiapkan sarapan, aku segera memetik sayur yang ada di belakang rumah. Ada beberapa sayuran yang aku tanam di belakang. Kacang panjang, ubi jalar, singkong dan kecipir. Daun ubi jalar adalah kesukaan anak-anak. Rasanya mirip dengan kangkung bila ditumis. Daun itu selalu cepat tumbuh bila aku memetiknya. Kalau daun singkong agak lama tunasnya, harus menunggu lebih dari seminggu bila ingin memetiknya.
Aku petik pucuk demi pucuk daun ubi jalar. Seperti biasa Rumi selalu membantuku memetik sambil menunggu adik-adik sepupunya selesai mandi.
“Segar-segar, ya Bu Lek, daunnya,” ucapnya sambil memetik daun di sebelah kakiku.
“Tentu saja. Nanti aku taruh di dalam plastik untuk kalian masak nanti sore, ya!” ucapku.
“Baik, Bu Lek,” jawab Rumi.
Aku segera membawa sayuran ke dalam rumah. Kemudian aku pindah daun ubi jalar tadi ke dalam plastik transparan biar mudah dicari. Rumi mengambil piring dan segera sarapan bersamaku.
Selesai sarapan aku pindahkan tumpukan piring kotor ke dalam bak cucian piring. Aku rendam dengan air. Seperti biasa anak-anak akan mencucinya nanti sepulang dari sekolah.
“Kalian sudah mau berangkat?” tanyaku sama Rahma dan Murni.
“Sudah, Mak,” jawab mereka.
“Ini nanti uang saku untuk kalian bertiga hari ini. Jangan lupa jangan di habiskan biar nanti sore kita bisa makan lauk,” ucapku kepada mereka bertiga sambil menyodorkan 3 lembar uang lima ribuan. Biasanya mereka hanya menggunakan uang tersebut 2 ribu untuk jajan, 1 ribu untuk di tabung, yang 2 ribu buat beli gorengan saat pulang sekolah. Bila mereka menghabiskan uangnya, maka mereka akan makan nasi sama sayur saja.
“Bertiga, Mak?” tanya Rahma kaget.
“Iya bertiga, masa berlima,” ucapku sambil tertawa.
Rahma dan Murni saling berpandangan satu sama lain. Mereka terlihat kebingungan.
“Apa ada yang kurang?” tanyaku. Rahma dan Murni masih terdiam tidak menjawab pertanyaanku.
“Emak mau berangkat ke kebun sekarang. Kali ini emak disuruh menyiangi rumput di kebun jagungnya Bu Tarni. Kalau butuh apa-apa ngomong sekarang mumpung emak masih di rumah,” ucapku.
“Tidak, Mak. Sudah cukup uang sakunya. Tapi ini berlebihan. Kita cuma berdua. Mbak Rumi sudah tidak sama kita lagi, Mak, dia juga sudah lulus sekolah,” ucap Rahma.
Seketika tubuhku terasa lemas. Lututku bergetar. Rasanya kakiku tidak mampu menopang tubuhku lagi. Aku hampir roboh.
“Mak ....”
Teriakan Rahma dan Murni menyadarkanku yang hampir saja pingsan. Kemudian mereka memapahku ke kursi yang ada di dapur. Rahma menuangkan air ke dalam gelas dan memberiku minum air putih. Aku segera menenguk air dalam gelas tersebut sampai habis.
“Lagi, Mak?” tanya Rahma sambil mengangkat teko bersiap menungkan air.
Aku menggeleng. “Sudah, cukup!” ujarku.
“Kami akan mencari informasi keberadaan Mbak Rumi, Mak. Emak pasti sangat merindukannya,” ucap Rahma sembari menangis disusul adiknya Murni.
Rahma adalah anak sulungku. Meski dia terlihat dewasa tetapi dia selalu cengeng apabila terjadi apa-apa denganku. Apabila aku sakit dia selalu memijitku setiap ada waktu.
“Iya, Nduk, iya! Cari berita tentang Rumi. Firasatku mengatakan kalau saat ini kakak sepupu kalian itu sedang dalam kesulitan,” ucapku sambil menata napas yang sedari tadi terengah-engah. Hatiku tidak tenang bila belum mendapat berita sama sekali tentang keadaan Rumi.
“Emak sudah tidak apa-apa kan, Mak? Soalnya kami mau berangkat sekolah,” ujar Murni sambil mengusap air matanya. Sedangkan Rahma masih saja bergeming, dia tidak akan berangkat sebelum aku mengatakan iya.
“Iya, Nduk. Sana berangkat sekolah. Nanti terlambat,” ucapku.
Aku hanya menatap keberangkatan kedua anakku itu dengan pandangan nanar. Mereka selalu berboncengan dengan sepeda bila berangkat dan pulang sekolah selama setahun ini karena sekolah di tempat yang sama. Sekolah yang sama pula dengan sekolahnya Rumi. Waktu Murni SMP, Murni selalu memakai sepedanya Rumi, dan Rumi selalu mengalah dengan berboncengan dengan Rahma.
Apalah daya aku yang hanya bisa membelikan Rahma dan Murni 1 sepeda saja hingga mereka harus berpikir sendiri bagaimana caranya bila mereka melakukan perjalanan yang berbeda arah. Untung ada Rumi juga. Jadi mereka merasa punya teman berbagi.
Cukup lama aku merenung memikirkan Rumi dan anak-anakku hingga tidak terasa pagi berubah siang. Aku bergegas menuang rempuyang yang berada di bakul ke pojokan rumah karena bakulnya akan aku pakai sebagai wadah kembali setelah selesai menyiangi rumput di kebun jagung milik Bu Tarni nanti.
Sesampai di kebun Bu Tarni, kondisi kebun sudah rame. Ada 5 pekerja yang sudah menyiangi kebun. Mereka melirikku sekilas yang baru datang. Lirikan mereka menunjukkan ketidak-sukaan bila temannya datang terlambat.
Aku segera menyiangi rumput yang berada di guludan ke 6. Tanaman jagung yang masih kecil membuatku sangat mudah menyiangi rumputnya.
Ketika sedang sibuk menyiangi rumput, tiba-tiba aku dikejutkan dengan sosok Rumi.
“Tolong aku, Bu Lek!” Suara Rumi terdengar lirih dan memilukan. Tanpa sadar aku mencabut tanaman jagung milik Bu Tarni.
“Hai Surti, apa yang kamu lakukan?” Bu Tarni tiba-tiba datang ke kebun dan marah-marah karena tanaman jagungnya aku rusak.