Rumi Pulang

1130 Kata
Terik matahari masih terasa menyengat. Gendonganku di punggung yang tadinya ringan menjadi terasa berat setelah hampir sampai di rumah. Tiba di halaman. Tepatnya di bawah pohon mangga. Mata yang awalnya silau seketika menjadi gelap. Begitulah yang aku rasakan bila awalnya di bawah sinar matahari kemudian berada di tempat yang teduh. Memasuki teras aku melihat samar bayangan wanita berbaju putih. Aku berhenti sejenak untuk memperjelas penglihatanku yang belum normal kembali. “Kapan pulang, Rum?” tanyaku kepada Rumi setelah mataku bisa melihat dengan sempurna. Rumi diam mematung duduk di bangku teras rumah. Rumi tidak menjawab pertanyaanku. Pandangannya kosong ke arah depan. Aku melihat ada perubahan pada penampilan Rumi. Rambutnya terurai acak-acakan, tubuhnya nampak kurus, dengan wajah yang pucat dan kantung mata yang menghitam. Apakah dia di kota sedang tidak baik-baik saja? “Rum!” Aku mencoba menyapanya lagi, dia menengok ke arahku. Cara dia menengok seperti robot, menoleh kaku. Mirip orang yang sedang sakit lehernya. Bibirnya mangatup pucat. “Rumi ... kamu mendengarku?” Aku mulai mendekat khawatir. Tiba-tiba saja Rumi menangis. Tangisannya semakin lama terdengar pilu dan menyayat hati. “Rum, kamu kenapa, Ndok?” Segera kuletakkan bakul berisi rempuyang yang aku gendong, kemudian memeluk Rumi. Rumi adalah keponakanku. Ayahnya meninggal dunia ketika masih kanak-kanak, sedangkan ibunya pergi ke kota besar untuk mencari nafkah setelah merasa kesulitan membayar biaya sekolah Rumi saat dia mulai sekolah di SMP. Sejak ibunya bekerja di Jakarta Rumi tinggal bersamaku. Rumi adalah anak yang rajin. Dia langsung bisa berbaur dengan Rahma dan Murni anakku yang usianya tidak terpaut jauh dengannya. Mereka seperti saudara kandung kemana-mana selalu bersama. Rumi memiliki cita-cita yang mulia. Untuk menghibur dirinya yang selalu merindukan ibu dan ayahnya dia sering berandai-andai apabila dia kelak menjadi dewasa dan kaya-raya dia akan membuat panti asuhan yang isinya anak-anak yatim lalu mempekerjakan ibunya untuk mengurus anak-anaknya sendiri. Meski aku menganggap cita-citanya itu adalah hal yang mustahil tapi aku selalu mendoakan semoga cita-citanya tersebut suatu saat terlaksana. Demi mencapai cita-citanya, Rumi sangat giat belajar. Hampir tiap ulangan dia mendapatkan nilai seratus. Rumi beranggapan apabila dia pintar pasti kelak akan bisa mencari uang dengan mudah. Pertama kali bekerja di Jakarta, tiap bulan ibunya selalu mengirim uang kepada Rumi dan pulang tiap lebaran. Tapi semenjak kelas 1 SMA, Rumi sudah tidak pernah dikirimi uang lagi, ibunya juga tidak pulang saat lebaran. Setiap kali dihubungi hp nya tidak pernah aktif. Kami semua menjadi khawatir dan Rumi selalu menangis setiap kali mengingat ibunya. Aku selalu berusaha mencari informasi dari tetangga. Tiap orang yang pulang dari Jakarta aku tanya apakah ada yang pernah berjumpa dengan ibunya Rumi? Mereka bilang kalau sudah tidak pernah bertemu lagi dengan ibunya Rumi karena ibunya Rumi sudah pindah majikan. Sampai pada akhirnya ibunya Rumi pulang setelah 3 tahun tidak ada kabar sama sekali. Dia pulang dengan penampilan yang berbeda, dengan cara bicara yang berbeda, berpakaian seperti selebriti dan diantar sopir pribadi. Hilanglah kesan ingatan kami tentang ibu Rumi yang lugu dan sederhana. Semua orang menjadi kagum dengan penampilan barunya. Saat ibunya pulang, Rumi nampak kesal. Gadis itu sudah dewasa, dia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ibunya sudah berubah, dia merasa ibunya sudah bukan ibunya yang dulu. Harusnya tiga tahun tidak berjumpa ibunya mendekap dan memeluknya erat. Tapi tidak. Bahkan sorot mata Santi sekarang sudah berbeda. Sudah tidak terlihat lembut dan penuh kasih sayang. Santi yang sekarang cenderung suka pamer kekayaan. Dan sekarang dia pulang seolah-olah dia hanya sekedar ingin mendapat pujian dari tetangga kalau dia sudah sukses di kota besar tanpa menghiraukan perasaan Rumi. Rumi sakit hati merasa ibunya sudah tidak perduli lagi padanya. Dia sempat menolak saat ibunya ingin membawanya ke Jakarta agar Rumi bisa kuliah di sana. “Tidak. Rumi mau di rumah saja sama bu lek,” ucap Rumi waktu itu. Bu lek adalah panggilan Rumi untukku. Akulah yang menjadi wali Rumi selama ini. Bahkan ketika ibunya sama sekali tidak mengirimi Rumi uang, aku berusaha agar Rumi tidak kekurangan apa pun. Uang SPP dan buku-bukunya selalu aku bayar tepat waktu. Menjadi janda anak dua ditambah satu dengan keponakan adalah hal yang sangat sulit bagiku. Apalagi yang hanya bekerja sebagai buruh tani untuk mencukupi kehidupan kita sehari-hari. Namun, aku punya penghasilan yang lainnya. Di saat buruh tani yang lain pulang ke rumah di siang hari, aku malah pergi ke hutan untuk mencari tambahan penghasilan. Menggali rempuyang, jahe, kunci, atau tanaman obat-obatan sejenisnya untuk kemudian aku jual ke tengkulak. Hasilnya memang tidak seberapa, tapi bila dikumpulkan lumayan buat uang sekolah anak-anak. Syukurlah Rumi dan anak-anakku sangat mandiri, mereka paham kesibukanku sehingga tidak manja bila aku tinggalkan. Rumah selalu tampak bersih dan rapi. Ketika sore aku tidak perlu memikirkan pekerjaan dapur. Mereka bertiga bahu-membahu mengurus pekerjaan rumah. Aku merasa beruntung memiliki anak-anak serajin mereka, saat aku pulang ke rumah di sore hari semua pekerjaan rumah sudah beres semua. Peralatan makan sudah bersih, makanan sudah siap tersedia di meja. Setelah aku bujuk dan aku nasehati akhirnya Rumi bersedia berangkat ke Jakarta bersama ibunya. Tangis haru mengiringi kepergiannya sebulan yang lalu. “Belajarlah yang rajin Rum. Gapai cita-citamu dan buat bu lek bangga,” pesanku saat itu. Setelah pergi selama satu bulan Rumi tidak ada kabar beritanya sama sekali. Nomor yang ibunya berikan kepadaku tidak dapat dihubungi. Meski sedih tapi aku berusaha berpikiran positif. Aku pikir dia sudah bisa menyesuaikan diri dan menikmati kehidupan barunya tapi ternyata semua di luar perkiraanku. Rumi yang sekarang berada di hadapanku seperti orang depresi. Dia terus saja menangis. Bahkan aku tidak pernah melihatnya menangis seperti ini sebelumnya saat tinggal bersamaku. Rumi memang sering menangis bila mengingat ayah dan ibunya, tapi tidak sedepresi ini. “Maafkan aku Rumi,” ucapku sambil terus memeluknya. Tubuhnya kurasakan semakin lama semakin dingin. Tiba-tiba bulu kundukku meremang. Dingin suhu tubuhnya bukan seperti dingin suhu manusia pada umumnya. Aku jadi teringat ketika saat bapaknya anak-anak meninggal dunia. Seperti itulah suhu tubuh Rumi yang aku rasakan sekarang. Rumi masih menangis di pelukanku. Aku pun ikut menangis lalu kupererat pelukanku. “Apa yang terjadi sama kamu, Nduuukkk?” tanyaku sambil terus saja menangis. Nduk adalah panggilan kesayangan untuk perempuan. Anak-anak dan keponakanku kebetulan semuanya perempuan. Aku merasa bersalah karena telah membuat Rumi seperti ini. Andai saja aku tidak membujuknya pergi bersama ibunya, hari ini dia tidak akan seperti ini. “Tolong aku, Bu Lek huhuhu ....” “Iya, Nduk, Iya. Apa yang bisa bu lek lakukan untukmu. Ngomong Ndk ngomong jangan menangis terusss ....” ucapku sambil meraung tidak tahan melihat Rumi yang terus saja seperti ini. “Mak! Emak, kenapa emak menagis?” Tiba-tiba Murni dan Rahma sudah berada di sampingku dan masih memakai seragam sekolah. Aku bahkan sampai tidak tahu kehadiran mereka. Aku lepas pelukanku dari tubuh Rumi. Ku tatap Rahma dan Murni satu per satu. “Rum-” Aku hentikan ucapanku ketika menyadari Rumi sudah tidak ada lagi di sampingku. Kemana dia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN