Cerita Penampakan

1201 Kata
Pelan-pelan Aku berjalan menuju ke arah gubuk. Aku melihat kue basah yang tadi dibawa Imah dan Ijah berserakan. Sedangkan gorengannya masih utuh dua biji, mereka taruh di atas daun jati. Aku ambil gorengan itu, aku bungkus pakai daun jati yang digunakan sebagai alas tersebut lalu menaruhnya ke dalam antingku. Aku periksa keadaan gubuk. Tak ada sesuatu pun yang mencurigakan, tapi kenapa mereka berdua lari seakan-akan telah melihat setan. Aku pun kembali ke kebun untuk melanjutkan aktivitasku yang telah tertunda. Bekerja sendiri di kebun membuatku merasa tak tenang. Aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasiku, sebentar-sebentar aku menoleh. Tapi tidak ada siapa-siapa. Hening. Suasana terasa sangat sepi. Entah perasaanku saja atau bagaimana keadaan kebun menjadi terasa horor. Waktu rasanya berjalan melambat. Sore yang aku tunggu-tunggu tidak kunjung datang. Mungkin butuh waktu satu jam lagi agar aku bisa pulang. Tiba-tiba angin berhembus pelan. Ujung-ujung daun jagung terlihat bergoyang-goyang dan tengkukku mulai merinding. Apakah mungkin ini hanya karena efek dari kepergian Imah dan Ijah pulang di waktu jam kerja, suasana di sekitar kebun menjadi terasa berbeda. Kucabut lagi rumput satu demi satu, hingga tak terasa sudah pindah guludan berikutnya dan berikutnya. Aku merasa heran, kenapa pekerjaanku sore hari ini terasa cepat sekali, hingga menjelang pulang aku hampir menyelesaikan menyiangi rumput hampir satu petak tentunya sisa yang dikerjakan oleh Imah dan Ijah tadi. “Tinggal sedikit lagi,” gumanku. Kalau biasanya aku pulang menunggu yang lainnya selesai tapi kali ini aku pulang dengan menyelesaikan guludan terakhir. “Sedikit lagi ....” Lagi-lagi aku berbicara sendiri sambil mengusap peluh yang sudah membasahi kening tanpa mempedulikan bulu punukku yang sedari tadi berdiri. ‘Apakah benar tadi ada hantu?’ Deg. Tiba-tiba saja aku mengingat saat Imah dan Ijah berlarian. Aku menatap sekeliling. Sore yang cerah tiba-tiba menjadi seram. Sial! Rasa takut tiba-tiba datang dan memaksaku untuk lekas berdiri tanpa menyelesaikan pekerjaanku yang terakhir. Aku ambil anting yang berada di guludan pertama, sedikit kulirik hasil pekerjaanku. Luar biasa. Sore hari ini aku mendapatkan hasil empat guludan lebih jagung yang terbebas dari rumput padahal biasanya cuma memperoleh hasil dua atau paling banyak tiga gulud. Tatapanku terhenti ketika melihat pada hasil akhir pekerjaanku. Rasanya aku tak percaya kalau sisa guludan yang tadi aku tinggalkan karena tidak selesai, sekarang kelihatan bersih. “Bagaimana bisa?” ucapku sambil mengusap-usap mata, tak mengerti apakah benar apa yang telah aku lihat? Aku pun kembali ke sana untuk memastikan kalau ujung guludan yang tadi aku tinggalkan masih ada rumputnya. Benar saja. sekarang kelihatan bersih. “Ayo, Sur, pulang!” ajak Bu Kasmini pemilik kebun dekat hutan beserta tiga orang pekerjanya. “I—iya, Bu,” ucapku sembari memikirkan kejadian tidak masuk akal yang baru saja aku alami. “Tumben sendirian?” tanya Bu Kasmini. “Imah sama Ijah sudah pulang duluan,” ucapku. “Memangnya kenapa?” tanyanya lagi. “Tidak tahu, Bu. Tadi waktu mereka makan jatah jajan sore hari, tiba-tiba mereka lari begitu saja sambil teriak hantu.” Bu Kasmini dan yang lain kaget mendengar penuturanku. “Hantu apa? Kamu enggak melihatnya?” tanya Bu Kasmini. “Nggak tahu, saat kejadian aku kembali bekerja. Saat itu mereka masih berada di gubuk menghabiskan makanannya, lalu tiba-tiba pada lari begitu saja kayak orang kesurupan. Sebenarnya tadi juga sudah aku cek ke gubuk, tapi setelah aku lihat di sana tidak ada apa-apa,” ucapku. Saat tadi pergi ke gubuk, sebenarnya aku memang merasa merinding, tapi tidak aku ceritakan kepada Bu Kasmini. “Kemarin suamiku melihat sosok wanita pakai baju putih di depan rumahmu, Sur, dia kira Rumi pulang. Tapi setelah didekati, wanita itu menghilang,” ucap Bu Sulasih kepadaku. “Iya, aku dengar kemarin siang-siang ada yang melihat Rumi berada duduk di teras rumah kamu, apa dia memang pulang?” tanya Lastri juga, mengagetkanku. Aku menarik napas panjang. Sulit aku jawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Lastri. Berarti yang aku lihat kemarin bukan hanya halusinasi semata. Rumi benar-benar pulang. Mungkinkah jiwanya? “Sur ....” Tangan lastri digerak-gerakkan di depan mataku. “Kamu mikir apa? Benar Rumi pulang?” tanyanya. “Benar eh ... belum. Belum pulang,” ucapku. Setelah memikirkannya, sepertinya memang terjadi sesuatu dengan Rumi. Aku harus segera menyusulnya ke kota untuk mencari tahu. Sampai di desa, kami berjalan ke arah rumah sendiri-sendiri. Cuma rumah Bu Kasmini saja yang satu arah dengan rumahku. Sampai di tengah desa aku ketemu dengan Bu Karti dan anaknya. “Vika ...,” sapaku kepada balita itu yang sedang memainkan kerah Bu Karti yang ada hiasan rendanya. Vika menoleh ke arahku. Dia kaget. Seperti saat kami bertemu tadi, dia menangis histeris. “Huuuaaa ....” Balita itu tak henti-hentinya menangis. Telunjuknya menunjuk ke arahku. Aku mencoba memetik bunga dan aku kasihkan kepadanya untuk menghiburnya. Tapi Vika malah bertambah histeris. Bu Kasmini kebingungan. Kini dia yang berusaha menenangkan Vika. Dia menggendongnya. Di ajaknya anak perempuan Mbak Karti tersebut untuk mengyingkir menuju ke bawah pohon mahoni, kemudian Bu Kasmini berusaha menengankannya. Dan ternyata sepertinya usaha Bu Kasmini berhasil untuk membuat Vika berhenti menangis. Bu Karti menghampiri Bu Kasmini. Diambil alih balitanya dari gendongan ibu dari empat anak tersebut. Bu Karti melirik ke arahku lalu berjalan melingkar seakan sengaja menghindariku. “Itu anak tadi kenapa ya?” tanya Bu Kasmini. Aku sedari tadi diam saja. Memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Tentang kejadian-kejadian janggal yang aku alami dari hari kemarin. Benar kata Bu Karti tadi. Vika sepertinya sedang takut kepadaku. Sampai di dekat perempatan jalan rumahnya Pak RT. Aku bertemu dengan anak kecil yang tadi saat berangkat mengatakan kalau aku orang gila. Anak itu berlari mengejar es krim bersama teman-temannya. Dengan samar aku mendengar dia berbicara lirih kepada temannya, “Ada orang gila.” “Mana,” tanya anak yang berrambut dikepang. “Itu dekat Bu Lek Surti,” jawab anak itu. Langkahku terhenti karena penasaran. Aku tatap anak kecil berambut sebahu tersebut. Dia menyembunyikan wajahnya di samping penjual es krim. Dia bilang ada orang gila di dekatku? Sedangkan aku sedari tadi berjalan sendirian setelah berpisah dengan Bu Kasmini. “Sini, Nak!” seruku. Anak kecil tersebut terlihat ketakutan. “Tidak apa-apa. Sini!” ucapku lagi. Karena dia tidak bersedia mendekat, aku pun menghampirinya. Di luar dugaan, anak itu menjerit histeris saat aku dekati. Kehebohan pun terjadi. Para tetangga pada berlarian keluar rumah ingin melihat apa yang terjadi. Apa yang akan aku jelaskan kepada mereka? Tanyaku pada diri sendiri. Ku lihat Lek Diyah, Ibu dari anak tersebut datang. Dia langsung menggendong anak itu sambil bertanya apa yang sudah terjadi. Samar-samar aku mendengar penjual es krim menjelaskan kalau anak itu takut kepadaku. “Apa yang kamu lakukan pada anakku, Surti?” tanyanya melotot. “Aku hanya memanggilnya,” ucapku pada Lek Diyah. “Iya. Apa yang kamu katakan?” tanyanya lagi tidak puas dengan jawabanku. “Tadi aku mendengar dia mengatakan kalau di dekatku ada orang gila. Aku hanya ingin bertanya kebenaran tentang hal tersebut,” ucapku. “Nih. Tadi waktu kamu berangkat, kami memang melihatmu diikuti seseorang,” ucap Lek Diyah. “Maksud kamu? Tadi aku berangkat sendirian,” ucapku kebingungan. “Ada orang yang rambutnya berantakan. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, dia mirip sekali dengan Rumi,” ucapnya sambil terus saja mengelus-elus anaknya agar tenang. “Dia masih di sana,” ucap anak itu sambil menunjuk ke arahku. Seketika bulu kundukku meremang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN