Ucapan Anak Kecil

1231 Kata
Kami yang berada di sini kebingungan dengan pernyataan anak perempuan tersebut. Siapa orang yang dia tunjuk. Aku apakah ada orang lain. “Mungkin dia melihat sesuatu yang tidak kita lihat,” ucap penjual es krim keliling sambil gemetaran. “Anakku memang bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang normal,” ucap Lek Diyah. “Apa yang kamu lihat, Nduk?” tanya Lek Diyah kepada anaknya. ”Orang gila itu seperti Mbak Rumi,” ucap anak itu yang seketika membuat kami semua merasa kaget. “Sebenarnya Rumi kenapa Sur,” tanya Lek Diyah. “Aku tidak tahu, Lek. Sampai sekarang belum ada kabarnya, ibunya tidak bisa dihubungi.” Beberapa saat suasana menjadi hening. Anak Lek Diyah mengajak ibunya agar pergi dari tempatnya berdiri. “Sebaiknya kamu pergi ke orang pintar untuk bertanya tentang apa yang terjadi kepada keponakanmu itu, Sur,” ucap Bu Sri yang sedari tadi ikut memperhatikan apa yang aku bicarakan dengan Lek Diyah. “Baik, Bu. Nanti biar saya pertimbangkan,” ucapku sambil berlalu. Terlalu lama di perjalanan sampai di rumah hari sudah petang. Aku meletakkan gorengan yang aku bawa dari kebun Bu Tarni tadi di atas meja. Sekali lagi aku mengingat Rumi. Dia orang yang paling dahulu menyambutku dari kebun dan memakan jajanan yang aku bawa pulang. Sepupu dari Rahma dan Murni tersebut memang suka sekali dengan gorengan, itu kenapa aku selalu menyisakan jatah jajanku untuknya. Sedangkan Rahma dan Murni? Jangan ditanya dua anak gadis tersebut. Kedua anak gadisku itu sudah terbiasa makan apa adanya. Mereka jangan menuntut, kalau ada sambal ya langsung dimakan sama nasi saja. Mereka tidak pernah tanya lauk atau pun yang lain bila aku tidak menyediakannya. Kadang sesekali aku merasa kasihan. Cukuplah telur yang aku iris tipis menjadi lauknya. Kalau pun mereka ingin makan gorengan biasanya selalu beli sendiri dari uang sakunya yang tersisa. Setelah meletakkan anting dan parit, aku bermaksud ingin membersihkan diri. Jam segini biasanya Rahma dan Murni berada di kamarku untuk menjalankan salat maghrib. Tanpa menghampiri mereka, aku bergegas berjalan ke belakang. Kamar mandiku terletak di belakang rumah. Kamar mandi tersebut sangat sederhana terbuat dari seng melingkar tanpa atap. Tempat airnya masih berupa gentong. Ada dua buah gentong di dalamnya agar mampu menampung air yang agak banyak. Tiba di belakang rumah kamar mandi dalam keadaan tertutup. “Byyuuurrr ....” Suara guyuran gayung terdengar dari dalam. Aku pun menunggu orang yang berada di dalam sambil duduk di kursi bekas yang sudah tidak layak diduduki. Cukup lama menunggu, akhirnya aku tidak sabar juga. “Murr ... Murni ... Ma ... Rahma ....” Aku panggil Murni dan Rahma sekaligus karena pastilah hanya salah satu dari mereka yang mandi di dalam. Hening. Mendadak sepi. Suara guyuran air dari gayung sudah tidak kedengaran lagi. Biarlah aku tunggu sebentar lagi, mungkin Rahma atau murni sedang memakai handuk, pikirku. Setelah lumayan lama menunggu aku beranjak juga dari tempat dudukku. “Pakai handuk saja lama sekali anak itu,” gumanku sambil mengetuk pintu kamar mandi yang terbuat dari seng juga. “Mur ... Ma ....” Aku panggil-panggil tak sedikit pun ada suara jawaban. “Cepetan sudah maghrib!” seruku tapi tetap saja tidak ada sahutan. Aku mulai was-was. Jangan-jangan terjadi sesuatu di dalam sana. Aku buka pintu kamar mandi sedikit demi sedikit. Pintu kamar mandi yang dikaitkan dengan kalar untuk menguncinya tersebut ternyata bisa di buka. “Mur ....” “Ma ....” Entah mengapa perasaanku mulai tidak tenang. Rasa cemas, khawatir dan takut bercampur menjadi satu. Aku buka lebar pintu kamar mandi. Sama sekali tidak ada seorang pun di dalam sana. Bahkan kedua gentong yang digunakan untuk mandi airnya masih penuh dengan gayung yang berada di permukaan, menandakan kalau air dalam gentong tersebut masih penuh semua. Gayung itu tak sedikit pun bergoyang. Lantai kamar mandi pun terlihat kering. Aku terbengong dengan mulut menganga sempurna. Tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Bagaimana bisa? Lalu suara yang aku dengar sedang mandi tadi siapa? Dengan gemetaran aku masuk ke dalam kamar mandi. Sementara suara adzan mulai menggema. Aku memulai melakukan aktivitas mandi meskipun tubuh dalam keadaan gemetaran. ‘Hantu,’ teringat kembali teriakan Imah dan Ijah di gubuknya Bu Tarni tadi membuat bulu kundukku terasa berdiri semua. Tiba-tiba tercium olehku aroma kembang. Makin lama aroma itu makin menyengat. Aku ketakutan. Kupercepat aktivitas mandiku tanpa mengelap tubuhku pakai handuk, pakaianku aku kenakan begitu saja. Kemudian bergegas berlari ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah pintu belakang aku kunci. Dapur dalam keadaan gelap karena lampu belum dinyalakan. Saat berbalik aku malihat makhluk berwarna putih semua. Dengan spontan aku berteriak, “Po ... poconggg ....” Lampu dapur seketika ada yang menyalakan. Pocong yang aku lihat tadi ternyata Rahma yang sedang memakai mukena. “Pocong?” tanya Rahma. “Kamu bikin kaget emak saja,” ucapku sambil menata kembali jantung yang hendak copot. “Hahaha ... jadi emak tadi mengira kalau Rahma adalah pocong? Hahaha ....” Rahma tertawa terpingkal-pingkal. Suara tertawanya membuat keadaan yang sebelumnya tegang menjadi cair kembali. “Ma ....” “Iya, Mak.” “Anterin emak ambil air wudhu, yuk! Emak lupa.” Setelah beberapa saat baru aku ingat kalau aku belum mengambil air wudhu. Dan baru kali ini aku wudhu minta diantar oleh anak sulungku. “Baik, Mak,” ucapnya tanpa membantah. Dengan menjinjing rok mukena, Rahma mengantarku ke belakang untuk mengambil air wudhu. Air wudhu ini aku letakkah di tepi kamar mandi. Karena tadi dalam keadaan ketakutan, aku sampai melupakan untuk bersuci. Suasana belakang rumah masih seseram tadi. Hanya saja sekarang di sampingku ada Rahma, aku jadi merasa tenang. Selesai bersuci, kami kembali ke dalam rumah. Saat berada di rumah, Murni menatap kami dengan pandangan heran. Lalu dia menyibak tirai kamar seperti kebingungan. “Kamu kenapa Mur?” tanyaku kepada gadis kecilku itu. “Kak Rahma tadi dari mana?” tanyanya. “Dia tadi dari belakang mengantar emak ambil air wudhu,” ucapku. “La—lalu yang tadi ....” “Yang tadi apa?” tanya Rahma. “Aku tadi mau sholat. Kak Rahma kan Sholat duluan, jadi aku tungguin,” ucap Murni. “Lha wong aku tadi belum shalat, kok. Tadi kan aku nyalain lampu dapur lalu disuruh antar emak wudhu. Kapan aku shalat?” Murni terlihat pucat mendengar jawaban Rahma. Seketika tubuhnya terkulai lemas, tak sadarkan diri. “Murniiii ...!” Aku dan Rahma panik. Kita berdua langsung menggotong Murni ke kamar. Tubuh Murni yang gemuk membuat kami kwalahan. Hampir saja dia terjatuh. Tapi ketika ada udara dingin lewat, udara itu seakan memberi kekuatan kepada kami. Tubuh bongsor Murni yang awalnya berat berubah menjadi ringan. Aku menyuruh Rahma untuk menjalankan ibadah shalat maghrib terlebih dahulu dan bergantian menjaga Murni. Aku perhatikan sajadah yang tergelar dilantai, sajadah itu memang terlihat habis dipakai. Kubuka kancing baju Murni dan memberikan aroma minyak kayu putih pada indra penciumannya. Kupijit-pijit jempol jarinya agar lekas sadar. Saat mengakhiri salat, aku mendengar Murni merintih. Aku bergegas membantu menyadarkan anak ragilku tersebut. Setelah sadar barulah aku bertanya pelan-pelan apa yang sedang terjadi. “Sebenarnya aku sudah tahu kalau Kak Rahma berjalan ke arah belakang. Tapi saat aku memakai mukena, tiba-tiba ada yang shalat di tempat itu,” ucap Murni sambil menunjukkan tempat salat yang berada di pojok kamarku. “Aku kira Kak Rahma kok kilat sekali jalannya. Terus aku menunggunya agar menyelesaikan salat. Tapi saat aku menengok ke luar kamar tiba-tiba Mbak Rahma masuk bersama Emak. Tentu saja aku kaget. Lalu siapa yang sedari tadi salat?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN