Penuturan Murni membuat hatiku trenyuh. Memang aku merasa akhir-akhir ini ada yang aneh dengan sekelilingku.
“Rumi!” Lagi-lagi aku mengingat anak itu. Sudah berapa kali nama itu diucapkan orang pada hari ini.
“Assalamualaikum ....” Terdengar seseorang mengucapkan salam dari arah luar.
“Waalaikumsalam,” ucapku sembari melepaskan mukena yang masih menempel di badan.
Aku membuka kancing pintu yang terbuat dari kayu. Ternyata Mbak Ani saudara kembarnya ibu Ina yang datang. Wajah cantik itu muncul menunjukkan kecemasan. Dia langsung datang memegang tanganku dan memapahku menuju ke tempat duduk. Sungguh sikapnya yang begitu tiba-tiba membuatku merasa tegang. Ada apa ini?
“Sur ... yang sabar ya Sur!” ucap wanita berhidung mancung tersebut.
“Ada apa, Mbak?” tanyaku khawatir.
“Rumi meninggal dunia.”
“Apa? Tidak mungkin, Mbak? Tidak mungkin. Mbak Ani pasti salah dengar,” ucapku tidak percaya.
“Mbak Ana bertanya pada supinya Mbak Yanti saat bertemu di swalayan tentang keberadaan Rumi. Supirnya bercerita kalau setelah beberapa hari Rumi berada di rumah ibunya, dia meninggal dunia. Mbak Ana sudah memastikan apakah dia benar-benar Rumi atau tidak, sopirnya bilang kalau yang meninggal itu benar-benar Rumi yang datang dari desa.”
Aku menangis histeris. Tidak ... tidak mungkin keponakanku itu meninggal begitu saja. Dia ke sana ingin menggapai cita-cita, kenapa begitu cepat Tuhan memanggilnya.
“Huhuhu ... Rumiii ... malang sekali nasibmu, Nak!
Air mata sudah tidak bisa kubendung. Kenapa juga Mbak Santi tidak memberikan kabar yang sepenting ini? Bukankah aku juga ibunya? Yang mengurus dia selama beberapa tahun ini.
“Huhuhu ....”
Bahkan aku tidak bisa menahan voleme suara tangisku yang terdengar nyaring.
“Yang sabar, ya, Mbak!” Sekali lagi Mbak Ani Mengelus bahuku, dia berusaha menenangkanku.
Rahma memapah Murni yang baru saja sadar, menengok apa yang terjadi. Kedua anakku itu kaget melihat aku yang sedang menangis. Dalam keadaan lemas Murni terlebih dahulu berlari ke arahku, kemudian di ikuti kakaknya.
“Ada apa, Mak?” tanya kedua kakak beradik tersebut.
“Rumi ... Nduk. Huhuhu ....”
Aku memeluk Rahma dan Murni erat. Tidak sampai hati mengucapkan apa yang telah menimpa kakak sepupunya tersebut.
“Mbk Rumi kenapa, Mak?”
“Dia pergi meninggalkan kita. Huhuhu ....”
Aku biarkan air mataku meleleh. Begitu juga dengan Rahma dan Murni. Mereka berdua menangis tersedu-sedu.
Beberapa saat kemudian banyak tetangga berdatangan.
“Ada apa, Sur?” tanya Mbok Ndiyo, wanita tua berusia tujuh puluh tahun yang tinggal di samping rumahku diikuti tetangga yang lain.
Aku tidak bisa menjelaskan kepada mereka tentang hal yang menimpa Rumi. Tapi Mbak Ani sudah menjelaskan dan memberikan pengertian kepada mereka kalau Rumi sudah meninggal dunia. Banyak tanya jawab di antara Mbak Ani dan para tetangga tentang kejadiannya. Tidak banyak informasi yang aku dengar lebih dari yang disampaikan Mbak Ani kepadaku kalau Mbak Ana, saudara kembarnya mengetahui informasi tersebut dari sopir Mbak Santi.
Mbok Ndiyo meletakkan p****t di sampingku, menggantikan Mbak Ani yang pamit pulang karena balitanya sudah ditinggal lama.
Wanita tua itu sangat dekat dengan keluargaku terutama Rumi. Dia sering meminta tolong kepada Rumi untuk membuatkan bubur saat beliau sakit.
“Oalah Rum ... Rum ... malang sekali nasibmu, Nduk. Huhuhu ....”
Tiba-tiba Mbok Ndiyo ikut menangis. Begitu pula para tetangga. Mereka layaknya suara lebah yang ikut menyumbang air mata.
Malam semakin larut. Para tetangga sudah meninggalkan rumahku satu demi satu. Tinggal Mbok Ndiyo. Wanita tua itu berencana menginap di rumahku malam ini.
Mbok Ndiyo adalah janda tua tanpa anak. Dia tinggal sendirian di rumah. Kalau dia sakit, dia sering minta ditemani Rumi saat keponakanku itu tinggal di rumahku. Katanya kalau seandainya dia mati mayatnya ada yang tahu. Namun, siapa yang sangka kalau Rumi berpulang kepada-Nya terlebih dahulu. Tanpa ada yang tahu penyebab kematiannya.
“Kalian nggak makan, Ma? Mur?” Baru aku mengingat kalau anak-anakku malam ini belum menyentuh nasi sama sekali.
Rahma dan Murni menggeleng. Kami menggelar tikar di ruangan depan agar malam ini bisa tidur bersama-sama di bawah bersama Mbok Ndiyo juga.
“Makanlah, Nduk! Nanti kalian sakit,” ucapku lagi. “Makan, Mbok! Tadi Rahma sama Murni masak sayur ubi,” lanjutku sambil menatap Mbok Ndiyo yang sedari tadi tidur, meringkuk di samping kananku.
Mbok Ndiyo tidak menjawab. Wanita tua itu memejamkan matanya. Kulihat ujung matanya masih deras mengeluarkan air mata. Tentulah dia masih terjaga dan merasakan kepedihan seperti yang kami rasakan.
“Emak juga belum makan, kan?” tanya Rahma.
“Kalian makanlah nanti emak menyusul,” ucapku kepada si sulung.
“Kami tidak akan makan kalau emak juga tidak makan.” Murni tiba-tiba menyahut. Demi anak-anakku akhirnya aku mengajak mereka untuk mengambil makanan. Sepertinya mereka juga terpakasa berangkat makan karena tidak ingin emaknya kelaparan.
Aku membagi nasi yang tinggal sedikit menjadi empat piring. Tiga piring untuk aku dan anak-anakku sedangkan yang satu piring untuk Mbok Ndiyo. Masing-masing piring hanya mendapat jatah sepucuk centong. Itu pun kalau kemakan sudah bagus dalam suasana yang sesedih ini.
Kami memutuskan makan di ruang depan. Aku mengguncang-guncang tubuh Mbok Ndiyo untuk memberi kode agar dia bersedia makan bersama. Aku letakkan nasi yang sudah aku siram dengan air ubi do depannya.
“Taruh di meja,” katanya.
Aku paksa Mbok Ndiyo agar bersedia makan, tapi wanita tua itu benar-benar menolaknya.
“Taruh saja di meja, nanti biar saya makan.”
Tak ingin memaksa lagi akhirnya aku taruh nasi itu di meja. Aku menatap bungkusan daun jati yang ada di atas meja. Bungkusan itu berupa gorengan. Aku bawa dari kebun Bu Tarni jatah jajan tadi sore yang ditinggalkan Imah dan Ijah. Aku menawarkan gorengan tersebut untuk Rahma dan Murni, tapi mereka menolak. Aku pun menyentuh piringku dan bergabung dengan mereka.
Suap demi suapan nasi dingin itu aku telan. Banyak kenangan yang tiba-tiba hadir di depan mata. Saat kami sedang berkumpul bersama dalam suasana makan malam seperti ini. Itu adalah hal yang hampir setiap hari kami lakukan.
Lagi-lagi air mataku menetes. Aku menghapusnya dengan ujung pakaianku. Tapi bukannya kering justru air mata itu semakin deras mengalir.
“Hik ... hik ....” Rahma dan Murni kembali menangis. Ternyata kedua anak gadisku itu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.
“Huaaa ....” Rahma dan Murni memperkeras volume tangisnya. Mereka berhambur kembali berpelukan satu sama lain.
Aku taruh nasi di piring yang baru berkurang tiga sendok. Kuhampiri kedua anakku itu. Aku taruh piring mereka yang isinya masih penuh di atas meja agar tidak terlepas dari genggaman mereka. Kemudian aku berusaha mengusap bahu kedua anakku tersebut dan berusaha menenangkan.
Kami kembali ke atas tikar dan merebahkan diri. Aroma dingin tiba-tiba terasa menjalar ke seluruh tubuh. Tiba-tiba bulu kundukku merinding. Mungkin Rahma dan Murni merasakan hal yang sama. Mereka berdua tidurnya terlihat tidak tenang.