Suara Langkah Kaki di Malam Hari

1136 Kata
Malam semakin larut. Aku pejamkan mata meski hati masih terjaga. Mbok Ndiyo terdengar mendengkur halus, sedangkan Rahma dan Murni berpelukan. Mereka mencoba merengkuh tubuhku. Kupegang jari jemari kedua anakku itu. Dingin, dan berkeringat sepertinya mereka menahan sesuatu. Mungkin rasa sedih atau mungkin rasa takut. Malam ini rasanya tidak seperti malam-malam biasanya. Udara yang terlalu dingin seakan sengaja menembus tulang. Bahkan meninggalkan rasa nyeri sampai di sendi-sendi. Aku tarik selimut lebar agar bisa menutupi tubuh kami semua. Tapi saat selimut itu menutupi seluruh tubuh, rasanya di dalam selimut tubuh menjadi pengap. Harusnya selimut itu membuat tubuh kami menghangat, tetapi nyatanya selimut itu tidak bisa menghilangkan udara dingin yang rasanya sudah menembus tulang-tulang. Saat di dalam selimut aku mendengar langkah berulang-ulang. Langkah itu berhenti di dekat kakiku lama, kemudian berjalan kembali menuju ke arah dapur, lalu sesaat kemudian langkah itu terdengar lagi. Kuraba telapak tangan Rahma dan Murni. Tangan kedua bidadariku itu masih berada di atas perutku. Kemudian jariku meraba ke belakang. Mbok Ndiyo juga masih berada di sana. Lalu siapa yang berjalan mondar-mandir di sekitar kami. Jantungku rasanya berdetak tak beraturan. Mungkinkah hantu? Atau mungkin awah Rumi? Kalau memang Rumi sudah meninggal, mungkinkah dia menjadi gentayangan? Kenapa? Selimut tebal ini rasanya makin pengap meski tidak bisa menepis dingin yang kurasakan. Rasanya aku tidak bisa bernapas. Namun, tidak pula memiliki keberanian untuk membuka selimut. Di dalam selimut bola mataku tidak mampu terpejam. Terus saja berputar putar karena mendengarkan langka-langkah kaki. Belum lagi sembuh rasa sedih karena kehilangan, kini harus membayangkan kalau-kalau anak itu arwahnya menjadi gentayangan. Ya Allah ya Tuhanku ... ampunilah Rumi ya Allah. “Bu Lek ... tolong aku, Bu Lek ... huhuhu ....” “Rumi?!” “Bu Lek ... toloooonnnggg ....” “Rumiiii ....” “Hah ... hah ... hah ....” Dengan napas terengah-engah, aku terjaga dari mimpi. Ternyata suara Rumi tadi hanyalah mimpi. Sosok Rumi yang menjauh ke arah kegelapan. Ada beberapa makhluk berwarna hitam yang membawanya dengan paksa. Dia sepertinya menderita sekali. Rumi .... Belum sempat aku kembali merebahkan tubuhku, suara adzan subuh terdengar menggema. Entah berapa jam tadi aku tidur. Rasanya baru sekejap memejamkan mata tapi sudah pagi. Rahma, Murni, dan Mbok Ndiyo masih terlelap. Aku menduga mereka juga terjaga. Aku masih memikirkan mimpi yang baru saja aku alami. Sungguh keterlaluan sekali memang Mbak Yanti. Kenapa dia sama sekali tidak berkirim kabar tentang keadaan Rumi sampai anak itu meninggal dunia. Mbok Ndiyo terbangun. Dia menguap sambil menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan. “Cekruk ....” “Cekruk ....” Bunyi suara yang berasal dari leher Mbok Ndiyo. Sangat pintar sekali beliau menggerakkan tubuhnya hingga menimbulkan bunyi-bunyian. Aku berdiri dan mengumpulkan piring-piring kotor yang tadi malam tergeletak di meja. Aneh! Kenapa nasi jatah buat Mbok Ndiyo sama gorengan yang berada di dekatnya raib. Padahal setahuku Mbok Ndiyo tertidur pulas. Apakah dia terbangun dan makan pada saat aku tidur sebentar tadi? “Mbok ... apakah Mbok Ndiyo tadi terjaga?” tanyaku ragu-ragu. “Tidak. Kenapae, Sur?” “Tidak ada apa-apa, Mbok,” ucapku. Tapi Mbok Ndiyo seakan merasakan ada sesuatu yang hendak ingin aku tanyakan. Dia berdiri dan duduk di bangku panjang ruang depan. Kemudian dia memperhatikan piring yang aku kumpulkan ada yang kosong satu. Kemudian aku mengamati piring yang kosong itu lagi. “Rumi?” Aku melihat dari cara meletakkan sendok sama persis dengan Rumi yaitu tertelungkup. Gadis itu sangat rapi sekali bila makan. Sangat rapi. Nasi yang dia ambil pasti habis semuanya tak tersisa. Menurutnya siapa tahu barokah dari Allah terletak pada nasi sebiji yang terakhir. Berbeda sekali dengan Rahma, Murni, atau pun aku yang sembarangan memperlakukan peralatan makan maupun makanannya. Yang penting cepat selesai lalu bisa melanjutkan aktivitas yang lainnya. Sedangkan Mbok Ndiyo bahkan jarang makan memakai sendok. Dia suka makan memakai tangan. “Rumi?” Tiba-tiba aku dan Mbok Ndiyo menyebutkan satu nama. Hening. Apakah mungkin Rumi? Bukankah dia sudah berada di alam yang lain? Mbok Ndiyo menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Dia tidak melanjutkan ucapannya begitu pun dengan aku. “Aku pulang dulu,” ucapnya. Kuantar Mbok Ndiyo sampai di depan pintu. Saat membuka pintu aku mencium aroma kembang melati dan gading. Kembali lagi bulu kundukku berdiri semua. “Hah ... kenapa pagi-pagi sudah ada horor?” lirihku. “Hai kamu makhluk astral ... bila kamu memang Rumi katakan apa yang kamu inginkan! Tapi jika kamu bukan Rumi, tolong pergilah jangan ganggu kami,” ucapku dengan bibir gemetaran. Apa pun yang terjadi aku adalah kepala keluarga di rumah ini. Aku harus bisa menunjukkan keberanian di depan anak-anakku. Kalau aku lemah mereka akan melemah, jika aku kuat aku yakin anak-anakku pastilah memiliki jiwa yang lebih dari pada yang aku miliki. “Brughttt!!” Tiba-tiba terdengar ada suara benda jatuh dari arah pohon mangga. Karena penasaran aku pun mendekat. Di pagi hari biasanya saat musim penghujan seperti ini ada mangga tua yang jatuh dari pohon. Dan itu terasa manis sekali karena matang di pohon. Dengan perlahan-lahan aku berjalan memeriksa bawah pohon. Ada beberapa buah yang jatuh karena ulat. Buah itu terlihat masih muda-muda. Kemudian aku edarkan pandanganku sekeliling. Aku lihat ada bayangan buah mangga tepat di pohon mangga. Buah itu terlihat lebih besar dari biasanya. Rahma dan Murni sangat menyukai buah yang langsung masak dari pohon. Aku mendekat. Kuteliti buah itu. Kenapa buah ini terlihat berbeda. Aku berjongkok untuk memeriksa buah tersebut. Samar lampu penerangan jalan yang belum di matikan tidak dapat memperlihatkan buah tersebut secara sempurna. Aku pun ambil buah itu. Lumayan berat. Tapi kemudian aku merasa aneh. Aku teliti buah tersebut menuju ke tempat yang lebih terang. Ada rasa yang mengganjal selain rasa halus di tangan. Setelah sampai di tempat yang terang karena terkena cahaya lampu jalan aku memperhatikan buah mangga tersebut dengan seksama. Astaugfirulloh! Rasa aneh yang mengganjal di tanganku ternyata adalah sebuah telinga. Dan saat ini aku sedang memegang kepala manusia. Kepala itu tersenyum kepadaku. Senyum yang menunjukkan gigi-giginya yang mengerikan. Aku kaget bukan kepalang. Kepala manusia itu aku lempar ke arah jalan. “Brugghtt!” Sepertinya kepala itu membentur sesuatu. Aku sudah tidak lagi berucap kata-kata selain pergi berlari masuk ke rumah. Dengan degub jantung yang tak beranturan dan keringat dingin yang berjatuhan, aku kunci pintu rumah kembali kemudian membangunkan Rahma dan Murni. “Rah ... Rahma ... Mur ... Murni ....” aku mengguncang-guncang tubuh ke dua anak tersebut. “Ada apa, Mak?” tanya Rahma kaget. Tidak seperti biasanya aku membiarkan anak-anakku terbangun sendiri. Murni mengucek-ngucek matanya dan memeriksa jam dinding. Kemudian dia berdiri dan berpindah duduk di kursi. Ingin sekali aku bercerita kepada mereka berdua tentang kejadian yang aku alami tapi aku tidak ingin mereka menjadi ketakutan karena ceritaku mengingat Murni kemarin baru saja pingsan. “Ada apa, Mak?” Rahma mengulangi pertanyaannya. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin kalian menemaniku mengambil air wudhu, setelah salat subuh membantuku emak masak,” ucapku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN