Ghibah di Gubuk

1189 Kata
Hari minggu aku tidak ingin berangkat kerja di kebun. Rencananya ingin menyelesaikan mengiris rempuyang yang masih separuh. Uang hasil penjualannya nanti ingin aku gunakan untuk mendoakan arwah Rumi. Sebenarnya aku ingin menyusulnya ke kota. Rasa kangen dan khawatir karena tidak ada kabar membuatku memecah celengan ayam yang jumlahnya tidak seberapa yang kemungkinan belumlah cukup untuk digunakan beli tiket ke Jakarta. Tapi kabar yang mengejutkan tadi malam membuatku berubah haluan. Uang yang kemarin aku hitung ingin aku gunakan untuk menggelar acara doa sederhana. Tentunya ditambah dengan hasil penjualan rempuyang nanti. “Aku bantu, Mak!” ucap Murni. Aku tidak pernah menyuruh anak-anakku membantu pekerjaanku, apalagi mengiris rempuyang tidaklah semudah yang dilihat. Tanaman jenis jahe-jahenan tersebut sangat ulet bila diiris, butuh tenaga ekstra untuk mengirisnya. Tapi aku juga tidak ingin menolak bila mereka ingin meringankan beban ibunya. “Seperti ini, Mak?” tanya Murni sambil mengiris rempuyang mengikuti caraku. “Itu masih terlalu tebal,” ucapku sambil memberikan contoh untuknya cara mengiris rempuyang yang benar. “Nah ... seperti ini. Kalau terlalu tebal nanti saat dikeringkan yang dalam masih basah, nanti bisa menjamur.” Murni ternyata sangat cepat tanggap. Anak bungsuku tersebut ternyata tangannya sudah memiliki otot hingga bisa mengiris rempuyang yang ulet. Hanya saja hasil irisannya belum bisa tipis, mungkin karena belum terbiasa. Aku menyuruhnya untuk memisahkan hasil kerjanya dengan kerjaku biar nanti aku bisa mengulang mengirisnya. Lumayan bisa membantu tenaga 50%. Hasil kerjanya nanti bisa aku iris jadi dua lagi agar bisa dikeringkan sempurna. Kata Ko An, tengkulak tanaman obat, penjual rempuyang ataupun jenis tanaman obat yang lain kalau mengeringkannya harus benar-benar kering agar nanti saat jadi jamu atau obat tidak berubah menjadi racun. Untuk itu kualitas rempuyangku selalu kujaga. Jangan sampai meracuni orang yang sakit. “Sur!” Terdengar suara Ijah dari luar. “Iya,” jawabku tanpa mengubah posisi dudukku. Biasanya dia juga akan masuk rumah tanpa ditemui. Benar saja. Ijah sudah nongol dari pintu. Aku menyambutnya dengan senyuman ketika dia mendongakkan kepalanya ke dalam rumah. “Ada apa?” tanyaku. “Kamu di suruh Bu Tarni nyiram,” ucapnya. Nyiram yang dalam arti bahasa Indonesia adalah menyiram tapi dalam istilah petani jagung nyiram bukan hanya menyiram tanaman pakai air saja tapi memberikan nutrisi pula untuk tanaman yaitu pemupukan. “Sekarang?” tanyaku kaget mengingat waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sudah sangat terlambat untuk bekerja di kebun. “Iya. Aku di suruh ke rumahmu ini. Di kebun lagi kekurangan orang, kamu harus berangkat biar kelar satu hari,” ucapnya. Sebenarnya agendaku hari ini adalah menyelesaikan mengurus rempuyangku. Tapi karena itu adalah perintah Bu Tarni tidak mungkin aku akan menolaknya kalau sampai ada orang yang datang ke rumah hanya sekedar menyampaikan pesan. Padahal tadi aku sudah bilang kalau hari ini libur dan dia setuju. Tapi biasanya wanita itu memang penuh perhitungan. Nyiram tanaman harus selesai dalam jangka waktu satu hari kalau tidak biayanya akan membengkak terutama biaya konsumsi. “Sur ... kok malah bengong?” “Iya, aku ganti baju dulu,” ucapku sambil bergegas berdiri mencari baju lengan panjang yang biasa aku kenakan ke kebun. Waktu yang semakin siang membuatku tergesa-gesa agar segera sampai di kebunnya Bu Tarni. Tidak aku hiraukan lagi di sepanjang perjalanan. Seperti kemarin banyak orang yang menatapku heran. Apakah benar kata anak kecil kemarin kalau di sampingku ada arwah Rumi? Kembali lagi aku bertemu dengan Ibu Karti yang sedang menggendong Vika. Ibu satu anak tersebut terlihat jelas menghindariku. Aku dengar dari tetangganya samar-samar mereka membicarakanku. “Vika ketakutan bila melihat Surti. Apakah Surti ketemperan jiwanya Rumi, ya?” Kabar tentang Rumi jadi hantu ternyata sudah menyebar. Entah mengapa banyak yang mendengar desas-desus tersebut. Aku ketemperan Rumi? Bukankah aku baik-baik saja? Bekerja memupuk tanaman jagung harus tahu takaran yang pas saat mencampur dosis pupuk. Nutrisi untuk buah harus ditambah bila dibanding saat jagung berusia dini. Itu kenapa Bu Tarni lebih suka mempekerjakan tenaga yang biasa ia pekerjakan. Makanya dia tetap memanggilku meski aku sudah ijin libur. Katanya liburnya diganti esok hari saja. Kalau biasanya petani yang lain memupuk tanamannya dua kali selama tiga puluh lima hari masa tanam, lain halnya dengan Bu Tarni. Dalam jangka waktu tiga puluh lima hari itu, ini ke tiga kalinya jagung diberi pemupukan. Tentu saja hasilnya juga berbeda dengan jagung di sekitarnya. Jagung Bu Tarni biasanya terlihat lebih gemuk dan lebih hijau dibanding dengan tanaman sekitarnya. Kami menyelesaikan pemupukan satu gang kebun sebelum pukul dua belas siang sedangkan satu gang yang satunya kita kerjakan pada waktu sore hari. Lumayan molor dari waktu biasanya soalnya aku berangkat belakangan. Meskipun dibantu oleh pekerja laki-laki untuk mengambil air, karena aku tidak ikut datang pagi hari, waktu pemupukan jadi melambat. "Sur ... kabarnya Rumi meninggal, ya? Kok kamu nggak dikasih tahu," tanya Imah di gubuk saat hendak persiapan pulang. Kami berhenti istirahat sebentar karena habis kelelahan. "Keterlaluan sekali, ya, itu si Santi. Tidak tahu berterima kasih," timpal Ijah. Aku hanya diam saja tidak meladeni ucapan mereka. Kedua orang ini memang suka menghasut. Jangan sampai aku melontarkan ucapan yang menyakitkan hati meski sebenarnya omongan mereka tidak juga salah. Setidaknya kalau terjadi sesuatu sama Rumi, Mbak Yanti harus mengabariku. “Sur ... ditanya kok diam saja,” Hardik Imah. “Jawab apa to, Mah. Suka-suka ibunya kalau memang ibunya tidak ada niat untuk memberitahuku tentang kabar Rumi toh aku bukan ibunya,” ucapku. Meski dalam hati ucapan itu melukai diriku sendiri. “Ya tidak bisa begitu dong, Sur. Itu namanya kakak durhaka, tidak tahu balas budi.” “Mungkin Mbak Santi saat itu sedang panik dan lagi berduka jadi tidak sempat menghubungiku,” ucapku sambil menenangkan diri. “Tapi kalian merasa aneh nggak sih dengan kematian Rumi?” tanya Ijah. “Aneh gimana, Jah?” ucap Imah berbalik bertanya. “Kematian Rumi sangat misterius dan seperti dirahasiakan oleh ibunya. Itu saja Mbak Ana ibu Ina dengarnya dari Sopir bukan dari Si Santi.” “Terus ...,” Imah menatap Ijah serius. Apa pun yang mereka ucapkan, mereka sedang gibah kakak dan keponakanku. Rasanya aku tidak suka tapi tidak bisa berbuat apa-apa. “Kamu tahu sendiri kan Santi sekarang kaya raya. Coba lihat! Kerja apa dia sampai sekaya itu padahal cuma lulusan SD. Paling banter juga babu, kan? Tiba-tiba dia bawa Rumi ke kota, lalu tiba-tiba kita sudah dengar kalau Rumi meninggal. Coba kalau sopirnya bukan orang jujur pasti tidak akan ceritakan perihal kematian Rumi.” “Lalu arah pembicaraanmu ke mana, aku nggak paham,” timpal Imah. “Aku kira Si Santi itu bisa jadi bunuh anaknya lalu jual organnya. Jual organ manusia seperti yang semakin marak diberitakan akhir-akhir ini,” ucap Ijah. “Mana ada orang jual organ tubuh, Jah. Kamu ada-ada saja. Kalau aku pikir mungkin Rumi disuruh jual diri lalu Rumi nggak mau dan memilih bunuh diri kemudian jadi gentayangan. Itu bisa jadi,” ucap Imah. Ingin sekali aku menghentikan ucapan mereka dan menutup mulutnya dengan perban. Rasa sedih karena kehilangan belumlah pulih tapi Imah dan Ijah malah mengucapkan perkataan yang membuat hati semakin tidak tenang. Brakk! Tiba-tiba pohon besar yang berada di samping gubuk tumbang begitu saja menimpa gubuk. Padahal tidak ada angin dan tidak ada hujan. Tentu saja kami panik dan berusaha menyelamatkan diri. Sayang, Imah terjebak di dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN