Posisiku yang berada di pintu gubuk bersama Ijah memudahkan kami untuk berlari. Apesnya Imah masih berada di dalam gubuk membuat ia terjebak di reruntuhan gubuk yang tertimpa pohon.
“Tolong ... tolong ...!”
Aku berteriak panik begitu juga dengan Ijah. Di siang bolong tanpa angin dan hujan mengapa pohon mangga sebesar itu tiba-tiba tumbang begitu saja.
Para tetangga kebun berdatangan. Sementara Imah yang berada di reruntuhan tidak terdengar suaranya sama sekali.
“Kenapa, ada apa?”
“Aku dengar suara brakk, kucari asalnya. Tadi kukira apa, ternyata dari sini?”
“Kenapa pohon ini tiba-tiba tumbang?”
“Siapa yang tertimpa?
Banyak tanya yang mereka lontarkan. Aku tunjukkan kepada para tetangga kebun itu kalau Imah sedang terjebak di dalam.
Para tetangga mengintip di celah-celah gubuk melihat bagaimana keadaan Imah. Sedangkan aku dan Ijah masih syok mengingat apa yang telah terjadi.
“Astaugfirulloh ... Imahhh!”
Salah satu tetangga menceritakan tentang kondisi Imah di dalam gubuk. Wanita yang seumuranku itu menurut tetangga sepertinya pingsan karena tubuhnya tertimpa pohon.
“Astaugfirulloh ... astaugfirulloh Imaahhh ....”
Berulang-ulang aku berucap istigfar. Sementara Ijah berteriak histeris ketakutan.
“Huaaa cepat tolong Imah ....” Ijah melompat-lompat layaknya anak kecil. Aku berusaha menenangkannya meski sebenarnya aku sendiri dalam keadaan yang tidak cukup baik.
Siang hari ini kami lewati di kebun Bu Tarni. Tidak mungkin kami abaikan Imah sendirian. Biarlah yang mengabari keluarga dan kerabatnya orang lain saja.
Para tetangga mengambil peralatan untuk mengevakuasi pohon mangga tersebut. Ada yang mengambil kapak, gergaji, yang terakhir mereka memanggil tukang graji senso untuk mempercepat proses evakuasi.
Aku dan Ijah hanya menontonnya dari kejauhan takut mengganggu berjalannya proses evakuasi. Keluarga Imah dan para penduduk desa berbondong-bondong berdatangan. Entah bagaimana nasib Imah di dalam sana? Yang kami tahu dia dalam keadaan pingsan karena tertimpa gubuk dan pohon.
Rahma dan Murni datang pula ke tempat lokasi bersama dengan rombongan yang lain. Mereka memandangku sayu. Syukurlah emakmu ini dalam keadaan selamat, batinku.
“Emak belum makan?” tanya mereka.
Aku hanya menggeleng. Bagaimana aku bisa makan sementara teman sepekerjaanku sedang berjuang menghadapi maut.
Rahma dan Murni memang peka, mereka tidak melanjutkan pertanyaannya. Mereka menemaniku dengan duduk di sampingku.
“Bagaimana kejadiannya?” tanya Bu Tarni menghampiri aku dan Ijah.
“Saat kami hendak persiapan pulang tiba-tiba pohon mangga itu runtuh begitu saja padahal tidak ada angin sama sekali,” ucap Ijah.
“Bagaimana dengan acara nyiram jagung nanti sore?” lirih ucapan Bu Tarni samar-samar terdengar di telinga. ‘Orang ini,’ batinku. Bagaimana dia masih memikirkan nyiram jagung dalam keadaan seperti ini? Apakah dalam hatinya cuma uang dan kerja? Tak sedikit pun memikirkan nasib karyawannya.
“Kenapa bisa begitu, ya?” tanya ibu-ibu yang bergerombol ikut mendengarkan jawaban dari Ijah tersebut.
“Aku menduga ini ulah Rumi,” jelas Ijah sambil menatapku tajam.
“Kamu jangan mengada-ngada Ijah. Bagaimana orang yang sudah meninggal bisa berbuat seperti itu sedangkan saat masih hidup saja dia tidak bisa mematahkan ranting pohon sekali pun,” ucapku tersulut emosi.
“Tapi kenyataannya nasib kami memang apes berbarengan saat aku ngomongin dia sama kamu,” sanggah Ijah.
“Astaugfirulloh, Jah, Istigfar! Janganlah kamu menebar fitnah,” ucapku. Rasanya emosiku mulai membuncah. Selama ini aku diam saja, tapi tidak bila dia menyalahkan Rumi atas kejadian yang menimpa mereka.
“Kamu tahu nggak siapa yang membuat aku dan Imah kemarin berlari ketakutan? Itu karena tiba-tiba ada sosok wanita berantakan yang mirip Rumi. Itu sebelum kami tahu kabar kalau Rumi meninggal. Setelah aku pikir-pikir bisa jadi orang yang melempar kepalaku pakai tanah waktu itu juga Rumi.”
“Ya Allah, Jah. Tega sekali kau melemparkan tuduhan keji kepada Rumi.”
“Bukan itu saja. Kejadian pohon tumbang tadi kamu lihat sendiri, kan. Robohnya ketika kita sedang membicarakan keponakanmu itu. Kamu bisa menyangkal apa lagi?”
Semua orang memperhatikan aku dan Ijah secara bergantian. Malang sekali nasibmu, Rum. Tega-teganya Ijah berkata seperti itu di depan orang banyak. Selanjutnya mereka pasti akan bercerita kepada orang lain, dan orang yang terhasut pasti akan berpikiran buruk tentangmu.
“Istigfar, Jah. Istigfar! Itu semua karena kuasa Tuhan. Jangan kau lantas berasumsi kepada yang tidak bersalah. Ingat! Tak ada sesuatu pun yang tidak mungkin di dunia ini. Bahkan daun kering yang jatuh pun tidak bisa jatuh tanpa kuasanya. Itu tadi murni karena kejadian alam, apa pun bisa saja terjadi karena keinginan-Nya. Jangankan hanya pohon yang tumbang. Kalau Tuhan inginkan saat ini juga, Dia bisa membuat bencana alam secara tiba-tiba,” ucapku.
“Iya aku tahu itu. Tapi bila aku timbuk kamu bagaimana? Bukankah itu sakit. Apakah saat menimbukmu aku akan membawa nama Tuhan? Kamu merasakan sakit juga, kan.”
“Astaugfirulloh, Jah ....”
“Aku cerita karena faktanya seperti itu, kamu jangan ceramah,” ucap Ijah dengan nada ditinggikan. Aku hanya diam saja. Tak ingin meneruskan perdebatan ini. Dan Rumi? Mana mungkin gadis manisku itu bisa menyelakakan tetangganya sendiri. Aku kira itu sangat tidak adil dan tidak masuk akal meskipun seandainya dia memang menjadi hantu sekali pun.
Pohon besar yang tumbang itu sudah selesai di evakuasi. Selanjutnya mereka menyingkirkan kayu-kayu penyangga gubuk untuk menyelamatkan Imah.
“Innalillahi wa innalillahi rojiun ....”
“Innalillahi wa innalillahi rojiun ....”
Ucapan istirja menggema di tempat kejadian. Imah tidak bisa diselamatkan. Katanya dia kehilangan banyak darah dan tidak bisa bernapas karena tertimpa pohon mangga. Terlihat dari kejauhan pelipisnya mengeluarkan banyak darah.
Keadaan kebun yang dipenuhi tanaman jagung membuat tubuh Imah dipindahkan ke galengan yaitu jalan kecil di antara kebun.
Ibu Imah berteriak histeris. Tangis dan jerit keluarga yang lain terdengar bergemuruh. Mereka mengerubung jenazah Imah untuk memastikan kalau Imah masih bisa diselamatkan. Sayangnya ibu dua anak tersebut memang sudah tidak bernapas. Tubuhnya bermandikan darah yang berasal dari kepala, kelihatannya kepalanya retak karena terkena benturan.
Belum jenazah di bawa pulang orang-orang sudah membicarakan keperluan apa yang mereka persiapkan untuk mengurus jenazah dan yang lainnya. Seketika suasanya di kebun Bu Tarni mendadak rame seperti ada bazar, masih saja banyak orang yang berdatangan untuk melihat keadaan Imah dengan kepala matanya sendiri.
Setelah keluarga agak sedikit lega, akhirnya jenazah dibawa pulang. Para laki-laki bergotong royong bergantian memikul tubuh Imah. Aku pulang dengan Rahma dan Murni di sampingku. Kami mengikuti rombongan yang membawa jenazah Imah pulang. Banyak orang yang menatap ke arah kami aneh. Mungkinkah mereka berpikiran yang sama seperti Ijah? Bahwa semua ini berhubungan dengan Rumi?
Sesampai di rumah aku segera membersihkan diri. Kejadian di kebun Bu Tarni barusan membuatku sangat syock. Dalam waktu sekejap orang yang sehat bisa meninggal dunia tanpa ada firasat apa pun. Siapa yang sangka? Imah yang tadinya berbicara lantang dan suka nyinyirin orang itu tiba-tiba bernapas untuk yang terakhir kali.
Aku guyur tubuhku di kamar mandi yang sempit ini. Segarnya air gentong belum bisa membuat segar pikiranku, begitu pun wangi sabun tak mampu menghapuskan ingatanku tentang kejadian tadi. Semua terngiang-ngiang di depan mata.
Setelah mandi, aku berniat menghilangkan hadas dengan berwudu, aku seperti melihat ada sekelebatan bayang yang lewat di sampingku lalu berhenti dari arah sudut empat puluh lima derajat dari tempat aku berdiri. Bayangan itu seperti sedang memperhatikanku. Tapi setelah aku tengok, bayangan tersebut tidak ada. Tubuhku seketika merinding. Di siang bolong ini mungkinkah engkau datang, Nduk? Rumi?