Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Imah. Tangis pilu masih menggema di segala penjuru. Di antara semua yang berduka, terlihat pemandangan yang sangat memilukan ketika Dafa dan Cinta berusaha lepas dari pelukan bapaknya ingin melihat mayat ibunya.
Karena kuatnya tenaga sang anak, akhirnya kedua anak itu terlepas dari cengkeraman sang ayah dan berlari ke jenazah Imah. Kakak dan adik yang berusia enam dan empat tahun tersebut berusaha membangunkan ibunya dengan menggoyang-goyang tubuh sang ibu agar bersedia bangun.
Beberapa orang berlarian menghentikan aksi kedua anak itu. Dalam keadaan masih ngamuk, Dafa dan Cinta diamankan di dalam kamar lalu di kunci dari dalam dan ditemani beberapa orang kerabat yang menjaganya.
Suami Imah kembali berderai air matanya. Dia tak kuasa melihat buah hatinya dalam keadaan seperti itu. Laki-laki yang berpacaran dengan Imah sejak SD tersebut menyandarkan kepalanya di dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Matanya terlihat masih merah dan bengkak akibat lama menangis.
Aku berpindah dari dalam rumah keluar lalu duduk di kursi plastik yang terletak di halaman bersama para tetanga yang lain. Sementara itu para pelayat masih saja berdatangan memenuhi halaman rumah bahkan sampai ke teras tetangga. Para pelayat yang mendominasi kaum hawa tersebut tak ubahnya suara tawon di mana pun mereka berada. Selalu saja bergunjing meskipun berada di rumah duka sekali pun.
“Uhuk ... uhuk ....”
Tidak ada apa-apa tenggorokanku tiba-tiba tersedak. Aku menahan untuk tidak mencari air. Tidak mungkin aku merepotkan keluarga yang berduka ini. Bu Kasmini yang sedari tadi diam berusaha mengelus punggungku agar aku merasa baikan.
“Biar aku mintakan minum di sebelah,” ucapnya.
“Ti—tidak usah, Bu. Terima kasih.”
Aku menolak kebaikan Bu Kasmini. Bukan apa-apa aku merasa kalau aku sudah menjadi pusat perhatian. Dan mungkin kejadian kesedak tiba-tiba itu bisa jadi ada sesuatu yang membuat jiwaku tidak tenang. Berkedut, kesedak kata orang jaman dulu biasanya kalau itu terjadi tiba-tiba kemungkinan besar ada orang yang membicarakan kita di belakang.
Prosesi memandikan jenazah berlangsung pukul setengah tiga sore. Aku berdiri ketika jenazah itu digotong ke tempat yang disediakan khusus untuk memandikan mayat.
Saat aku berdiri aku melihat banyak orang menatap ke arahku. Entah perasaanku saja atau bagaimana yang jelas aku merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka.
Di tengah ritual memandikan jenazah ada kejadian yang menggemparkan warga. Salah satu kerabat Imah ada yang kesurupan.
“Ada orang kesurupan ...!”
“Ada orang kesurupan ...!”
Suasana seketika menjadi tegang. Pak Modin memberi aba-aba agar para pelayat bisa tenang agar tidak mengganggu ritual memandikan jenazah.
Tetap saja. Sebagian tidak mengindahkan aba-aba yang disampaikan oleh Pak Modin. Separuh lebih pelayat berbondong-bondong ke rumah tetangga yang dipakai untuk mengamankan kerabat Imah yang sedang kesurupan tersebut.
Seketika tempat dudukku menjadi legang. Orang-orang seketika melupakan untuk apa mereka berada di sini. Mereka lebih tertarik dengan kesurupan di banding duduk anteng di rumah duka. Aku menatap banyaknya kursi kosong di sekitarku, hanya beberapa orang saja yang tersisa. Mereka sama saja terlihat keheranan sepertiku dan menggelengkan kepala atas kejadian yang meresahkan tersebut.
“Sur ... Surti ... sini!” Bu Kasmini yang berada di kerumunan rumah tetangga melambaikan tangannya ke arahku. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Buat apa dia dia memanggilku? Diajak nonton orang kesurupankah?
“Surti! Sur ... Surti!”
Astaugfirulloh wanita itu benar-benar meresahkan. Aku sudah berupaya mengalihkan pandangan ke tempat lain, dia masih saja memanggil-manggil namaku.
Ibu-ibu yang bertahan duduk di sekitarku saling berpandangan. Suara Bu Kasmini sangat lantang bahkan mungkin kedengaran sampai ke dalam rumah Imah.
“Mbak Surti, itu ada yang manggil.”
Ucap seseorang yang duduk di belakangku.
“Sur ... Surti ....” Mau tidak mau aku datang ke tempat Bu Kasmini berada. Ternyata bukan hanya Bu Kasmini saja, orang lain yang berada di dalam rumah juga ikut memanggilku.
“Ada apa, bu,” tanyaku seketika panik melihat semua orang menatapku layaknya seorang artis yang hendak naik panggung. Bahkan mereka memberikan jalan agar aku bisa lewat dengan leluasa.
“Ada apa ini?” Aku kebingungan menatap semua orang.
“Sana!” ucap Bu Kasmini menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah aku sudah di nanti beberapa orang. Sebagian orang memegangi salah satu kerabat perempuan Imah yang sedang kesurupan tadi.
Aku menatap sekeliling. Ada perlunya apa mereka memanggilku.
“Bu Leeekkk huhuhu ....”
Itu adalah logat suara Rumi. Orang yang sedang kesurupan itu dan tatapan itu. Ya Allah gusti Ndukkk!
“Bu Leekkk ... tolong aku huhuhu ....”
Seketika air mataku tumpah. Benarkah itu kamu, Nduk? Rumi?
Terlihat beberapa orang masih memegangi orang yang kesurupan tersebut. Sedangkan beberapa orang yang lain sedang membaca doa-doa, sepertinya orang yang kesurupan itu hendak di rukiyah.
“Bu Lek, tolong aku huhuhu ....”
Kembali lagi suara itu menghancurkan hatiku. Aku hanya bisa menangis pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa. Apakah kamu benar-benar tersiksa, Nduk?
“Huhuhu ....”
Tanpa sadar aku pun ikut menangis. Sesedih tangisan itu sepilu juga rasa yang ada di hatiku. Bahkan rasanya jauh lebih sakit dari yang pernah aku alami ketika pernah kehilangan orang yang aku cintai. Aku pernah sedih, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ketika ditinggalkan suami tercinta, tapi kali ini rasa sedih itu melampaui apa yang pernah aku rasakan selama ini. Di tinggalkan oleh orang yang sudah aku anggap sebagai anak sendiri dalam keadaan baik-baik saja kemudian dia menghilang tanpa berita, lalu datang berita duka bersamaan dengan kehadiran arwahnya yang tidak tenang. Rasanya jiwaku seperti tercabik-cabik, sakit sekali. Aku tidak menampik kalau arwah itu pastilah benar-benar Rumi yang lagi tersesat dan membutuhkan pertolonganku.
Lalu bagaimana caraku agar bisa menolongnya?
“Huaaa ... Bu lek ... Bu lek ....” Kerabat Imah itu berusaha menggapaiku. Dia seperti pesakitan yang meminta pertolongan saat tengkuknya di tekan seseorang dari belakang. Beberapa orang yang lain sedang memeganginya, sedangkan orang yang lainnya lagi sibuk memijit-mijit telapak dan jempol kaki kanannya.
Aku hanya mampu menatap perempuan itu tanpa berbuat apa-apa. Sedih rasanya melihat arwah Rumi yang kesakitan di dalam sana meminta pertolongan.
“Bu Lekkk ... Bu lek ....”
Perempuan itu memberontak hampir saja dia mampu melawan laki-laki yang jumlahnya lebih banyak darinya sambil terus saja berupaya menggapaiku. Kulihat salah satu dari para laki-laki itu berdiam diri sejenak kemudian memberi tepukan tiga kali pada tangan kanan kerabat Imah tersebut, seketika perempuan itu terjatuh.
“Bb—bu Leeekkk ... tolonggg!” Perempuan itu menyebutkan kalimat yang terakhir sambil menatapku sendu sebelum dia terkulai lemas tak sadarkan diri.