Kerabat perempuan Imah yang pingsan tersebut dipindahkan di dipan ruang tamu. Sebagian besar penduduk Desa Adirejo memiliki dipan di ruang tamu untuk melepas penat saat melakukan aktivitas berkebun atau aktivitas yang lainnya. Ada yang sengaja membeli Dipan dengan bahan kayu jati tua yang harganya mahal, ada yang hanya memiliki dipan ala kadarnya dengan bahan bambu.
Di atas dipan kayu jati tersebut, beberapa orang berkeliling duduk menjaga perempuan itu. Aku pernah ingin memiliki dipan kayu seperti itu ketika suamiku masih ada. Dipan dengan ukuran 200x200 cm tersebut sangat cocok di taruh di depan televisi, sangat muat dipakai untuk berkumpul semua anggota keluarga.
Aku menatap lama kerabat Imah yang berada di depanku tersebut . Wanita itu terlihat kelelahan meski tidak sadarkan diri. Pikiranku kacau memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi pada keponakanku Rumi. Apa yang sedang dialaminya sehingga dia mengganggu penduduk desa. Dia seperti kebingungan hendak memberitahukan apa yang telah dia rasakan. Tidak ada kejadian yang kebetulan terjadi secara berulang-ulang. Pastilah Rumi sedang mengalami kesulitan sehingga arwahnya penasaran.
Hampir tiap hari, bahkan tiap saat aku merasakan kehadiran gadis kecilku itu. Dalam keadaan sadar aku merasakan kehadirannya juga di waktu tidur pun aku selalu memimpikannya.
Salah satu kerabat dekat Imah memberikan tempat untukku agar aku ikut serta duduk di dipan di hadapanku. Sedangkan seseorang yang lain yang tidak aku kenal memberi aba-aba agar sebagian orang menyingkir meninggalkan dipan tersebut. Anehnya mereka manut saja. Padahal mereka keluarganya.
“Mereka tidak harus mengurus orang pingsan saja, kan? Sementara keluarganya yang lain sedang meninggal dan saatnya di salatkan. Selain itu orang pingsan juga butuh udara segar agar bisa bernapas lega,” ucap laki-laki tersebut seakan bisa membaca pertanyaan yang terlontar dari hatiku.
“Oh, iya. Maaf, nyuwun sewu. Aku pun hendak bergabung dengan mereka,” ucapku hampir saja aku melupakan kalau aku datang ke sini dalam rangka melayat jenazahnya Imah.
“Tunggu sebentar!” cegah laki-laki tersebut.
Aku pun urung melangkahkan kakiku dan kembali ke tempat duduk.
“Kamu tidak kasihan dengan keponakanmu?” tanya laki-laki itu.
“Apa maksud anda?” Paham sebenarnya aku dari arah pembicaraan laki-laki yang memakai pakaian serba hitam tersebut tapi aku tidak mengerti apa yang bisa aku lakukan dari jawaban kasihan dengan keponakanku Rumi.
“Arwahnya selalu merintih kesakitan,” lanjut laki-laki itu. Rasanya pedih sekali aku mendengar kalau arwah Rumi sedang merintih kesakitan.
“Dari mana anda bisa menyimpulkan kalau keponakanku sedang kesakitan?” tanyaku.
“Bukankah dia selalu meminta pertolongan kepadamu? Dengan merasuki orang dia ingin menyampaikan apa yang sedang dia rasakan. Hanya saja mungkin pesannya belum sempat dia utarakan karena masih ragu.”
“Lalu ... apa yang bisa aku perbuat untuknya?” tanyaku. Tak terasa air mata sudah membanjiri pipi.
“Kamu harus bisa berkomunikasi dengannya, tanya apa yang dia alami dan apa yang bisa kamu lakukan!”
Aku usap air mataku dengan kerudung hitam yang telah usang beserta ingus yang sedari tadi keluar masuk lubang hidung.
“Bagaimana caraku melakukannya?” tanyaku sambil tak henti mengusap air mata.
“Datanglah ke tempatku, aku akan membantumu!”
Aku menarik napas panjang. Ada nyeri di dadaku karena merasa tidak mampu berbuat apa-apa untuk Rumi. Tapi aku ragu untuk menjawab iya kepada laki-laki tersebut.
“Bagaimana?” tanyanya lagi.
“Baik. Besok aku akan ke tempat sampeyan,” jawabku. (Sampeyan berasal dari bahasa jawa yang artinya anda).
Beberapa saat aku berada di tempat ini, aku mendengar suara Pak Modin sedang menyampaikan pidato untuk mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan. Aku pun pamit kepada orang yang berada di situ agar bisa memberikan penghormatan yang terakhir untuk Imah. Beberapa orang yang berada di situ mengikuti langkahku sedangkan satu atau dua orang masih tinggal untuk menjaga kerabat Imah yang sampai saat ini belum siuman.
Kami para pelayat berbaris di tepi kiri dan kanan jalan yang hendak dilewati jenazah Imah untuk mengantarkan kepergiannya. Setelah Pak Modin selesai berpidato yang isinya meminta segenap sanak saudara dan handai taulan baik yang berada di situ atau pun yang berada di tempat lain agar segera menyelesaikan urusannya dengan Imah semasa di dunia baik berupa hutang piutang atau pun urusan yang lainnya, juga bersedia memaafkan segala kesalahan yang pernah dilakukan selama hidup wanita tersebut, Pak Modin mempersilahkan agar keluarga dan kerabat melakukan ritual adat brobosan. Setelah keluarga melakukan ritual brobosan, jenazah Imah pun segera diberangkatkan ke liang lahat.
Baru beberapa langkah jenazah diberangkatkan, ibu Imah yang tidak ikut serta ke kuburan kembali menangis histeris. Anak-anak Imah Dafa dan Cinta pun ikut menangis. Kondisi rumah Imah kembali gempar ketika banyak orang tidak mampu meredam ibu Imah yang selalu meraung-raung meratapi kepergian anaknya.
“Ingat Dafa dan Cinta, Mbah!” ucap salah seorang kerabat sambil berusaha menenangkan ibu Imah.
“Anakku cuma satu-satunya Imah. Setelah ini aku ikut siapa hu hu hu ....”
“Kamu masih punya Dafa dan Cinta, Mbah,” ucap kerabat yang lain berusaha menghibur.
“Dafa dan Cinta masih kecil. Siapa yang aku mintai makan bila aku pikun hu hu hu ....”
“Masih ada kami para tetangga, Mbah. Makanlah di rumahku bila tidak punya nasi.”
“Huhuhu ... Imaaahhhh hu hu hu ... sepuluh tahun berumah tangga baru punya anak, sekarang anaknya saat sekolah siapa yang hendak mengurusi semua keperluannya hu hu hu ... Imaahhh ....”
“Sama bapaknya, kan, Mbah,” ucap Bu Kartini yang ternyata masih berada di sini juga.
Aku mendekati ibu Imah. Aku genggam telapak tangannya, berusaha menguatkan wanita yang berusia tujuh puluh tahunan tersebut agar tegar. Tapi saat wanita tua itu tahu kalau yang menggenggam tangannya adalah aku, dia menepisnya. Wajahnya yang semula sedih menatapku tajam.
“Gara-gara kamu!” ucap perempuan tua itu terlihat marah.
Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapannya.
“Gara-gara kamu anakku mati!”
Astaugfirulloh ....
Kenapa ibu Imah berbicara seperti itu?
“Gara-gara kamu Imah mati!” jerit ibu Imah mengulangi ucapannya. Suaranya melengking memekakkan telinga.
Aku menatap sekeliling, berusaha membaca isi hati semua orang yang ada di rumah ini apakah semua punya pemikiran yang sama?
Anak-anak Imah menangis sambil menatapku. Astaugfirulloh! Anak-anak itu sudah ditanam pemikiran yang tidak benar kalau aku turut andil dalam kematian ibunya. Lagi-lagi mataku berembun. Setetes air terasa hangat mengalir di keningku.
“Puas kau!” ratap perempuan tua itu lagi sambil menunjuk ke arahku.
“Apa salahku, Mbah?” tanyaku kepadanya yang sama sekali tidak mengerti atas dasar apa wanita tua itu berucap seperti itu.
“Imah bercerita. Setiap kali dia membicarakanmu, dia selalu ketiban sial. Kemarin dia waktu membicarakanmu waktu makan, tiba-tiba piringnya kejatuhan cicak, dan dia pernah bercerita saat membicarakanmu dia didatangi arwah Rumi di gubuk. Dan tadi kata Ijah, mereka sedang keponakanmu sebelum kejadian tragis itu terjadi hu hu hu ....” Wanita tua itu berbicara lantang seakan-akan aku memang sumber kematian anaknya.
“Lalu apa hubungannya dengan aku, Mbah? Kalau dia yang membicarakanku kenapa aku yang salah?” tanyaku berusaha membela diri.
“Iya. Gara-gara kamu keponakanmu itu pasti dendam dengan Imah, dan pastilah dia yang mencelakakan Imah.”
“Astaugfirulloh, Mbahhhh ... istigfar! Jodoh, maut, dan rizki itu ada yang mengatur, jangan berasumsi yang bukan-bukan. Kasihan Surti. Kasihan juga Rumi!” ucap Bu Kasmini.
Wanita tua itu tidak menjawab. Terus saja dia meraung. Dan aku yakin ibu Imah masih tidak terima kalau anaknya meninggal karena takdir, dan masih menganggap aku sebagai penyebab kematian anaknya.
Bu Kasmini menepuk pundakku dan mengajakku untuk pamit. Setelah pamit kepada ibu Imah yang menjawabku dengan melengos, kami pun pulang. Meskipun masih ada yang mengganjal di hati karena tidak puas dengan tuduhan ibu Imah, aku berusaha untuk tegar. Ternyata hidup tidak semudah yang kita inginkan. Ada saja masalah yang datang. Permasalahan yang satu baru selesai, permasalahan yang baru timbul lagi, bahkan terkadang masalah timbul sebelum menyelesaikan masalah yang sebelumnya.
Ya Tuhan kenapa aku merasakan kalau permasalahku baru saja dimulai dari detik ini.