Aku pulang dengan perasaan nyeri di dalam d**a. Belum lagi sembuh rasa kehilangan Rumi, kini ditambah kenyataan kalau gadis itu menjadi arwah penasaran. Kata-kata orang yang berpakaian hitam tadi masih terngiang-ngiang di telingaku. Belum lagi tuduhan miring dari ibu Imah yang menyatakan kalau kami penyebab utama Imah meninggal dunia.
Di sepanjang jalan, semua orang menatapku aneh. Memang dari kemarin setiap aku lewat, aku selalu jadi pusat perhatian. Tapi kali ini aku merasa tatapan mereka layaknya orang yang ingin menghakimi orang yang berdosa. Tampak sinis dan terlihat geram. Apa dosa aku pada mereka ya Tuhan?
“Sabar ya, Sur!” ucap Bu Kasmini. Seakan tahu apa yang sedang aku rasakan.
“Terima kasih ya, Bu,” jawabku. Sepatah kata dari Bu Kasmini mampu menguatkan kakiku yang sedari tadi terasa kehilangan tulang. Aku jadi merasa punya kekuatan agar bisa berjalan sampai ke rumah. Setelah satu ucapan itu kami tidak ada percakapan sama sekali, kami sibuk dengan pikiran masing-masing sampai Bu Kasmini mengucapkan salam perpisahan di persimpangan jalan rumah Pak RT.
Selanjutnya, aku berjalan sendiri menuju ke rumah. Kalau biasanya aku bergabung dengan ibu-ibu yang berjalan di belakangku atau kadang juga ditunggu ibu-ibu yang berjalan di depanku bila mereka sedang takziah, kini aku merasa takut. Aku sama sekali tidak berani bergabung dengan mereka. Aku lebih baik menghindar dari pada mereka bertanya hal yang tidak bisa aku jawab.
Kaum emak-emak itu bila bertanya, kecerdasannya melebihi seorang wartawan yang sedang bertugas. Apalagi dalam penyampaiannya ke orang banyak. Kenapa? Karena mereka main keroyok. Ditambah lagi apabila mereka mendapat satu saja informasi, maka informasi tersebut bisa menjadi beberapa informasi yang sudah dibumbui.
Ibu-ibu yang berjalan di depanku menoleh ke arahku. Mereka menungguku, aku pun berjalan pelan-pelan agar tidak segera bertemu dengan mereka. Melihat aku berjalan melambat, mereka saling berbisik. Pastilah membicarakanku karena aku pernah berada di posisi mereka.
Aku sengaja pura-pura tidak melihat ke arah mereka untuk menutupi hatiku yang sakit. Aku menatap ke samping kiri dan ke samping kanan untuk mengalihkan perhatian. Entah tema apa yang mereka bicarakan tentangku yang jelas pastilah bukan sesuatu yang baik untukku saat ini, tapi sangat menarik untuk mereka bicarakan.
Aku terus berjalan seperti biasa ketika mereka melanjutkan perjalanan. Aku tahan air mata yang hendak meleleh. Ya Tuhan kenapa aku merasa seperti orang terhina? Apa salahku ya Tuhan? Kenapa aku tidak bisa berpikiran positif lagi bila ada orang yang membicarakanku?
Sampai di rumah aku lampiaskan rasa sedihku di dalam kamar. Tidak mungkin aku menceritakan kejadian tadi kepada anak-anakku. Berita tentang Rumi, tentang tuduhan ibu Imah, maupun tentang orang-orang yang menatap sinis kepadaku. Meskipun aku sangat takut kejadian yang sama dialami oleh anak-anakku.
“Mak ...!” Terdengar suara Murni mencariku. Aku langsung usap air mataku menggunakan kerudung yang aku pakai tadi.
Belum aku jawab Rahma dan Murni sudah masuk ke kamar.
“Mak ... belum ganti baju?” tanya Rahma.
“Belum. Sekalian nanti habis mandi,” ucapku.
“Tadi kata Ina ada orang kesurupan di rumah orang meninggal, ya, Mak?”
“Emak mau mandi dulu, ya! Gerah,” ucapku tanpa menjawab pertanyaan Murni. Semoga saja Rahma dan Murni tidak tahu kalau yang merasuki orang kesurupan yang dia bicarakan adalah kakaknya Rumi.
“Lah ... Emak ditanya malah pergi.”
Rahma menyentuh tangan adiknya. Dia sepertinya tahu kalau aku tidak ingin membicarakan kejadian kesurupan yang terjadi di rumah Imah. Kalau aku lihat dari seriusnya mereka bertanya sepertinya mereka belum tahu kalau ada nama Rumi dalam peristiwa kejadian kesurupan tersebut.
Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore ketika aku selesai mandi. Ini adalah waktu yang paling awal aku mandi dibanding dengan waktu-waktu sebelumnya. Maklum biasanya aku dari kebun pulang pukul lima sore lebih bahkan terkadang sampai rumah menjelang magrib. Mandi agak siang rasanya sedikit berbeda. Aku bingung hendak melakukan aktivitas apa sementara dapur sudah ada Rahma dan Murni yang mengurusnya.
Sekilas aku melirik rempuyang yang ada di pojok rumah. Ternyata semuanya sudah diiris olah Murni. Aku memeriksanya sebentar. Ada perubahan sedikit dari hasil mengirisnya. Lebih tipis dari pada saat pertama kali dia mencoba mengiris tanaman jenis jahe-jahean tersebut.
Setelah memeriksa irisan rempuyang hasil kerja Murni aku berjalan ke teras rumah. Sekali-kali menyempatkan diri untuk istirahat mungkin akan membuat otak yang panas menjadi agak segar.
“Mak ... emak tadi memeriksa irisan rempuyang hasilnya Rahma, ya?” tanya Rahma yang tiba-tiba muncul dari dalam pintu.
“Oalah itu tadi hasil dari irisanmu, to, Ndok? Aku kita hasil kerjanya Murni.”
“Iya, Mak. Murni tadi cuma sebentar katanya capek jadi Rahma yang lanjutkan,” ucap anak gadisku itu. “Gimana, Mak? Lebih bagus dari pada hasil kerjanya Murni, kan?”
“Iya iya, Nduk. Kamu sudah bisa membedakan sendiri, kan? Mana irisan yang bagus dan mana yang tidak?” tanyaku.
“Iya, Mak. Rahma sudah tahu. Makanya Rahma berusaha sebaik mungkin saat mengiris, sebenarnya agak susah, mak. Tapi Rahma berusaha biar bisa bantu-bantu emak lagi,” ucap Rahma. Seketika hatiku merasa bahagia. Perhatian anak-anakku cukup membuat rasa sedihku seketika berkurang. Apalagi Rahma mulai bercerita tentang kejadian-kejadian di sekolah yang lucu-lucu yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal tentunya rasa sedih di hatiku seketika bertamasya entah ke mana.
Saat kami sedang asik ngobrol, aku melihat samar-samar ada bayangan gadis kecil yang berperawakan mirip Rumi berjalan di depan halaman rumah Mbak Santi. Gadis itu mengenakan pakaian dres warna putih seperti yang Rumi kenakan setiap saat.
“Ada apa, Mak?” tanya Rahma saat melihatku tak berkedip menatap rumah Mbak Santi.
“Aku mau ke rumah Bu Dhe mu sebentar, ya, Ndok,” ucapku sambil beranjak dari tempat dudukku.
“Aku ikut, Mak!”
“Emak cuma sebentar, kok, kami di rumah saja.”
Aku mendatangi rumah yang letaknya sekitar 300 m dari rumahku. Rumah ini terlihat agak angker karena ditinggal lama oleh penghuninya. Waktu Rumi di rumah sesekali anak itu datang bersama Rahma dan Murni untuk membersihkan rumah ini tapi ketika Rumi pergi tidak ada lagi orang yang merawatnya. Aku terlalu sibuk di kebun orang sementara Rahma sibuk persiapan untuk ujian. Jangan tanyakan Murni! Murni hanya bersedia membantu kalau suasana hatinya sedang lagi menginginkan saja.
Kieettt!
Bunyi derit pintu terdengar ketika aku membuka pintu rumah yang sudah lama tidak di huni tersebut.
Sebenarnya hari masih sangatlah terang, tapi kondisi dalam rumah yang pengap membuatku mencari saklar lampu untuk menyalakannya.
‘Aku harus bicara dengannya sekarang kalau seandainya sosok tadi memang benar-benar Rumi,’ pikirku.
Aku mulai berjalan ke dalam untuk mencari keberadaan wanita yang aku lihat tadi. Belum sempat jauh melangkah. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara seperti bisikan.
“zzzzsssaaaahhh ....”
Jantungku rasanya berpacu tak karuan, tiba-tiba bulu kundukku meremang. Aku harus memantapkan hati agar aku tidak berlari dan kembali pulang.
Namun, kakiku gemetaran. Bagaimana bila aku benar-benar menghadapinya bila belum apa-apa aku sudah seperti ini?
“Huhuhu ....”
Suara bisikan tadi sekarang berganti menjadi suara tangisan.
“Huhuhu ... huhuhu ....”
Semakin lama suara tangisan itu terdengar semakin pilu dan semakin menyayat hati. Tapi aku belum menjumpai keberadaan sosok yang sedang menangis tersebut.
Bagaimana kalau sosok tadi bukanlah Rumi? Atau aku pulang saja sekarang?
Aku berpaling hendak pulang antara rasa takut dengan tubuh yang mulai bergetar hebat. Rasanya tak percaya kalau ini benar-benar kualami. Berinteraksi dengan makhluk yang tak kasat mata. Rasanya sungguh luar biasa. Keringat dingin mengucur deras seperti orang yang sedang lari marathon.
“Huhuhu ...!”
Baru beberapa langkah tiba-tiba aku mendengar tangisan tadi berada dekat di belakangku. Segera kupalingkan wajahku ke belakang.
“Buuu ... Lek ... Bu ... Lekkk ....”
Sesosok wanita yang berpenampilan menyerupai Rumi terus saja menangis dengan mulut yang tiada henti memanggil-manggil namaku. Wajahnya sebagian tertutup rambut menyisakan mata yang menatap kepadaku penuh harap.
"Bu Lek," panggilnya lirih.
Dengan degub jantung yang tak beraturan aku memberanikan diri untuk mendekat. Kalau benar sosok ini adalah Rumi apa yang ingin ia sampaikan kepadaku?
"Ru—ru Ru—mi?" tanyaku dengan mulut terbata dan tubuh bergetar hebat.
Tanganku maju ke depan dan berusaha menyibak rambutnya yang menutupi muka. Aku hanya ingin memastikan kalau makhluk ini adalah benar-benar Rumi.
Tiba-tiba, “Mak!” Terdengar suara Rahma sedang mencariku. Tapi baru membuka pintu dia berbalik 180 derajat setelah melihat Rumi.
“Han—hantu ….”
Entah terpengaruh dengan Rahma yang sedang berlari ketakutan atau bagaimana aku tidak jadi melihat sosok wajah itu, tapi malah berbalik panik dan lari sekencang-kencangnya mengikuti Rahma.
“Han—hantu ....” Spontan aku meneriakkan kata yang sama seperti yang di ucapkan Rahma.