Aku berlari mengikuti Rahma. Sampai di jalan aku menjadi kebingungan, aku berhenti dan membiarkan Rahma yang sudah jauh sampai ke depan rumah. Aku berpikir bukankah tadi niatku pergi ke rumah Mbak Santi memang untuk berinteraksi dengannya, bila makhluk tersebut sekiranya memang Rumi?
Aku berhenti menghadap kembali ke arah rumah kakakku tersebut. Aura mistis terasa dari tempatku berdiri. Ingin rasanya kembali ke tempat itu, tapi rasa takut masih menjalar ke seluruh tubuh.
Seharusnya seandainya lelembut tadi memang Rumi apa yang aku takutkan? Bukankah aku merindukannya? Bukankah aku harus mendengarkan cerita darinya, bagaimana dia bisa seperti ini? Bagaimana dia menjalani kehidupannya yang sekarang? Apakah sebaiknya aku kembali ke rumah Mbak Santi saja?
Ketika aku melangkahkan kaki hendak kembali ke rumah Mbak Santi, tiba-tiba terasa ada tangan dingin yang menyentuh lenganku.
“Mak!” ucapnya. Ternyata Rahma balik menyusulku. Raut mukanya terlihat dipenuhi kecemasan dan ketakutan. Wajah itu berharap agar aku ikut serta pulang.
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, aku pun ikut serta pulang. Aku tidak ingin anak sulungku itu khawatir. Melihat dia ketakutan seperti itu sudah membuatku merasa cemas.
Ketika sampai di teras rumah, aku berpaling ke belakang menatap rumah Mbak Santi. Sosok perempuan itu ternyata berada di sana. Di depan pintu menatap ke arahku. Tapi perasaanku mengatakan kalau dia bukanlah Rumi. Perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi. ‘Mungkin kamu adalah jin yang pura-pura menjadi Rumi,’ gumanku dalam hati.
Aku memasuki rumah. Kemudian menutup pintu. Saat menutup pintu kulihat makhluk yang berada di depan rumah Mbak Santi tadi sudah tidak ada. Meski sedikit kaget aku berusaha untuk terbiasa menata hati apalagi akhir-akhir ini makhluk astral seperti itu selalu saja menghantuiku. Walaupun hanya sekedar bayangan, suara, atau bahkan berupa kepala manusia seperti saat menjelang subuh tadi pagi, makhluk-makhluk tadi selalu saja hadir menampakkan diri. Aku sendiri merasa heran kenapa tiba-tiba hidupku akhir-akhir ini dikelilingi oleh kejadian-kejadian yang tidak masuk di akal.
Menjelang mangrib, seperti biasa kami salat secara bergantian. Tentunya aku dan anak-anak berkumpul di dalam kamarku. Aku memang tidak punya tempat yang luas untuk berjamaah. Sebenarnya dalam hati ada niat untuk membangun kamar khusus untuk beribadah biar bisa khusuk, juga satu kamar lagi untuk anak gadisku biar mereka memiliki kamar sendiri-sendiri, tapi karena keterbatasan biaya niat itu pun aku urungkan.
Setelah melaksanakan salat wajib kami makan bersama. Kali ini Rahma memasak tumis kacang panjang. Ternyata kacang panjang yang aku tanam sebulan setengah yang lalu sudah berbuah dan bisa dipakai untuk menemani makan si nasi putih.
Setelah makan malam Rahma bertanya, “Mak! Apakah benar Mbak Rumi jadi hantu?”
“Kamu kata siapa, Ndok, Rahma?”
“Bukan kata siapa-siapa, Mak. Tapi akhir-akhir ini Rahma melihat emak semakin aneh. Sering bicara sendiri seakan-akan ada Mbak Rumi di samping emak. Dan sosok wanita tadi bukankah tadi mirip Mbak Rumi?”
“Bukan, Ndok. Tadi bukan Rumi,” ucapku yakin.
“Iya, Mak. Mungkin saja yang aku lihat waktu itu adalah Mbak Rumi yang sedang lagi salat, yang waktu aku kira Mbak Rah—,” Murni menghentikan ucapannya karena tiba-tiba listrik padam.
“Mak ... Mak ....”
Rahma dan Murni menjerit-jerit ketakutan. Mereka berdua memegang bahuku kiri dan kanan. Keadaan rumah gelap gulita. Sangat gelap seperti orang yang sedang memejamkan mata.
“Kalau kalian seperti ini bagaimana emak mencari lilin,” ucapku sambil berusaha melepaskan tangan Rahma dan Murni yang sedang memegang tanganku kencang.
Aku berdiri dan meraba-raba meja. Gelap sekali. Mereka berdua masih memegangiku. Kali ini Rahma dan Murni berpindah memegang ujung baju sambil mengikutiku berjalan.
Setelah berada di tepi meja, kakiku pelan-pelan merayap.
“Aduh ...,” teriak Murni dari arah belakangku, sepertinya dia sedang menabrak sesuatu. Mungkin kaki meja.
“Makanya diam di tempat dari pada kalian berdesak-desakan seperti ini,” ucapku.
“Serem, Mak, Horror,” jawab Murni.
“Iya, Mak,” ucap Rahma lirih.
Setelah merayap beberapa langkah aku menemukan tempat yang aku cari. Meja televisi. Di bawahnya terdapat laci yang ada lilin dan korek apinya.
Aku meraba-raba meja tersebut. Masih merasa risi karena Rahma dan Murni terus saja memegang ujung bajuku. Setelah mendapati laci, tanganku merayap ke dalamnya. Ternyata di sana tidak aku dapatkan lilin, tinggal bungkusnya saja. Kemudian tanganku meraba lebih ke dalam lagi, kudapatkan sebuah korek api. Langsung kunyalakan korek api itu, tiba-tiba di depan nyala api korek yang kecil sepertinya muncul sebuah wajah yang tidak asing.
“Mbak ... Rumiiii!”
Rahma dan Murni berteriak histeris. Korek api yang ada di tanganku terlempar entah ke mana. Suasana kembali gelap. Tegang. Rasanya jantungku berdetak tak karuan, entah ke mana Rahma dan Murni tadi. Apakah benar tadi Rumi atau cuma bayanganku saja? Tapi kenapa Rahma dan Murni berteriak ketakutan?
“Mak ... kamu di mana?” Suara Rahma terdengar dari arah kursi tamu.
“Iya, Ndok. Emak di sini,” ucapku.
“Mak ... Mbak Rahma ... aku takut ....” Suara Murni terdengar dari pojok rumah.
“Jangan takut, Ndok, Murni, emak ada di sini,” jawabku meski keringat rasanya sudah sebesar biji jagung. Terkadang anak-anak bersikap seperti anak kecil, mereka terkesan manja. Tapi melihat kondisi seperti ini tentunya semua orang ingin merasakan hal yang sama. Perhatian dari ibunya di saat mereka merasa ingin dilindungi.
Aku jongkok untuk mencari korek api yang terlempar tadi. Sepertinya korek api tersebut masih di sekitar sini. Tiba-tiba aku memegang sesuatu. Kaki?
“Ndok, Murni?” Aku kira orang yang terdekatku adalah Murni karena dia berada di pojok rumah. Ini pastilah kaki Murni, sedangkan Rahma berada di kursi tamu.
“Aku di sini, Mak!” jawab Murni terdengar dari arah pojok rumah.
“Rahma?!”
“Dalem, Mak,” ucap Rahma dari arah kursi tamu. Lalu siapa orang yang kakinya aku sentuh ini?
“Rumi?” tanyaku.
Sosok tersebut memegang tanganku.
“Rumi?” tanyaku lagi sambil terisak tidak percaya. Aku merasakan kalau yang ada di hadapanku benar-benar Rumi.
“Iya ... Bu ... Lek ...,” jawab gadis kecilku itu parau.
Aku meraba tangannya. Dingin sedingin es. Kemudian tanganku bergerak cepat menyentuh lengannya, kemudian ke atas untuk mencari mukanya.
“Ru—rumi?!”
Tiba-tiba lampu menyala. Rumi menghilang dari pandanganku. Meski kaget, aku harus sadar Rumi yang aku hadapi bukanlah Rumi dalam wujud manusia. Kita sudah berbeda alam. Kalau tiba-tiba dia menghilang aku harus terima dengan lapang d**a.
“Alhamdulillah,” ucap Rahma setelah listrik nyala.
“Alhamdulillah,” teriak Murni juga.
Hanya aku yang masih bengong karena masih bingung menghadapi ini semua. Bersentuhan dengan arwah yang sudah mati yang seharusnya telah menemui Tuhannya. Ataukah mungkin benar bila kematian Rumi tidak pada saatnya sehingga dia menjadi arwah penasaran.
“Mak!” Suara Murni mengagetkanku. Aku kembali duduk bersama mereka. Aku rapikan piring-piring kotor yang terlihat berserakan. Kemudian membawanya ke dapur untuk di rendam ke tempat pencucian piring.
Masih aku rasakan kehadiran Rumi di sekitarku. Udara yang berhembus dingin sekarang tidak lagi aku takutkan. Hanya sedikit rasa jleg. Selanjutnya ada rasa tenang karena masih bisa menjumpainya. Bukan tenang tapi lebih ke rasa terobati rasa rinduku kepada keponakan satu-satunya tersebut.
“Kalau kamu kangen Bu Lek, datanglah Ndok! Ini rumahmu juga,” ucapku. Berbicara dengan angin yang berhembus.
Tiba-tiba udara yang tadinya aku rasakan dingin tiba-tiba menghangat. Tidak dapat aku mengerti apakah hantu memang kehadirannya seperti itu? Datang hanya sekejab, lalu pergi secara tiba-tiba.
Aku kembali ke ruang depan saat suara Mbok Ndiyo memanggil-manggil namaku agar dibukakan pintu.
Kemudian aku membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk.
“Aku dengar kalian tadi berteriak?” tanya perempuan tua itu.
“Iya, Mbok. Tadi aku melihat Mbak Rumi,” jawab Murni.
“Kapan?” tanyaku.
“Tadi, Mak, saat emak menyalakan korek. Wajahnya terlihat pucat,” ucap Murni seperti tidak ada beban.
“Ini serius, Sur. Rumi menjadi arwah gentayangan? Tadi aku mendengar cerita kalau orang yang kesurupan di rumah Pak Pur sedang dirasuki arwahnya Rumi.” Mbok Ndiyo menatapku lekat-lekat, ingin segera mendapat respon dariku atas pernyataannya.
Aku diam saja. Kulihat Rahma dan Murni saling pandang kemudian mereka berdua melihat kepadaku, terlihat serius juga, ingin tahu jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan oleh Mbok Ndiyo.
“Jadi orang yang kata Ina kesurupan tadi sedang dirasuki Mbak Rumi, Mak? Makanya emak waktu aku tanya tadi diam saja,” ucap Murni.
Aku masih saja diam. Bingung kata apa yang pas untuk menerangkan kepada mereka tentang kehadiran Rumi akhir-akhir ini. Aku takut Rahma dan Murni semakin takut bila aku menceritakan semuanya.
“Kamu harus berbuat sesuatu, Sur!” ucap Mbok Ndiyo memecah keheningan.
“Maksud Mbok Ndiyo apa?”
“Kalau Rumi arwahnya penasaran tentu ada yang membuatnya menjadi penasaran. Dan apakah kamu tidak kasihan melihat Rumi seperti itu?”
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Mbok?” tanyaku serius. “Sebenarnya hari ini aku berencana mengirimi dia doa. Tapi banyak kejadian yang membuatku kemudian menundanya.”
“Kamu cobalah pergi ke dukun atau orang pintar tanya-tanya tentang kasus Rumi, biasanya mereka bisa membantu!”
“Baik, Mbok,” ucapku sambil memikirkan orang yang berpakaian hitam tadi sore.
“Kamu punya kenalan dukun?”
“Tidak, Mbok.”
“Kok kamu cuma bilang baik, nggak nanya-nanya gimana-gimana? Jangan-jangan kamu cuma bilang baik saja, tapi tidak ada niatan berbuat apa-apa.”
Mbok Ndiyo memang sangat perhatian dengan Rumi oleh karena itu bila terjadi sesuatu dengan Rumi dia selalu berembuk bicara. Bahkan sering kali Mbok Ndiyo menawarkan bantuan keuangan bila Rumi membutuhkan. Tapi Rumi selalu menolak karena kebutuhannya selalu aku cukupi meski terkesan pas-pasan. Rumi tidak ingin memanfaatkan perhatian orang lain kepadanya meski Mbok Ndiyo sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.
“Bukan begitu, Mbok. Aku sudah ada pandangan. Nggak tahu apakah dia dukun atau orang pintar, aku tidak bisa membedakan. Tadi waktu di rumah Pak Pur dia yang bantu saudaranya Imah yang pingsan. Kemudian dia menawariku solusi soal Rumi bila aku bersedia datang ke rumahnya,” ucapku.
Rahma dan Murni memperhatikan aku bicara dengan serius. Mungkin mereka berpikir kenapa aku tidak mau bercerita kepada mereka. ‘Ah ... ini hanyalah soal waktu, Ndok. Bukan hanya kalian saja yang syok, emak juga,’ ucapku di dalam hati.
“Lha rumahnya, mana?”
“Itulah Mbok, aku tidak tahu, tadi lupa bertanya.”
“Namanya siapa?”
“Aku juga nggak tahu, Mbok?”
“Lha gimana to Sur Sur? Orang mau datang ke rumahnya, namanya tidak tahu, alamatnya juga nggak paham, lalu gimana caramu pergi ke rumahnya?”
“Nanti saya biar tanya sama ibu Imah, Mbok,” ucapku. Tapi sebenarnya aku ragu bila berhadapan lagi dengan ibu Imah. Apakah nantinya dia beritikad baik bersedia memberi informasi kepadaku atau aku akan diperlakukan seperti kemarin.