Wono Singit

2117 Kata
  Seperti rencana sebelumnya. Hari ini aku berniat mendatangi orang pintar untuk menanyakan perihal tentang Rumi. Tapi sebelum menanyakan informasi tentang orang yang berpakaian hitam-hitam kemarin, aku harus menyelesaikan urusanku dengan Bu Tarni terlebih dahulu, minimal beliau harus mengizinkan aku libur selama setengah hari. Pagi-pagi sekali aku pergi ke rumah Bu Tarni ijin kalau hari ini tidak bisa bekerja di kebunnya. Dia mengizinkan dengan catatan sore hari saya harus masuk kerja. Aku pun menyetujuinya. Sampai di gang jalan menuju ke rumah Imah, aku berhenti. Sebenarnya sempat ragu apakah aku akan terus berjalan atau balik ke rumah saja. Tapi karena niat dari rumah sudah bulat, langkah aku teruskan. Terserah di rumah ibu Imah perlakuan apa yang akan aku dapatkan, pasti semua akan aku terima. Karena aku agak sedikit percaya bisa jadi kematian Imah memang ada hubungannya denganku dan Rumi meskipun itu tidak disengaja. Aku melangkahkan kakiku dari jalan ke halaman rumah Imah. Di teras rumah seorang anak kecil menatapku tajam. Dia adalah Dafa, putra pertama Imah. “Mbahhh ....” Dafa berteriak-teriak memanggil neneknya. “Simbaaahhh ....” Kembali lagi Dafa berteriak-teriak karena panggilannya tidak tidak ada yang menyahut. Karena tidak mendapat jawaban dari orang yang dipanggil, Dafa berlari ke dalam rumah. Aku merasa anak itu sudah terhasut dengan neneknya kemarin. Tidak biasanya Dafa bersikap seperti itu kepadaku. Di tengah rasa keherananku tiba-tiba dari samping ada suara yang menyapa. “Ada apa, Sur?” Suara seorang laki-laki mengalihkan pandanganku dari tubuh Dafa yang sudah masuk ke dalam rumah ke arah laki-laki berbadan tegap tersebut. “Em, anu, Pak. Aku mau tanya kemarin pria yang memakai pakaian hitam-hitam yang ada di rumah Pak Pur itu lho, Pak,” ucapku kepada laki-laki yang biasa dipanggil Pak Pur tersebut. “Oh, iya. Kenapa?” tanyanya. “Aku ingin tahu di mana alamatnya?” ucapku. “Dia rumahnya di Wono Singit. Ada perlu apa kamu dengan dia?” Kemudian aku menjelaskan kejadian kemarin yang terjadi di rumah Pak Pur. Saat orang yang berpakaian hitam-hitam kemarin berbicara padaku, Pak Pur sepertinya sedang ikut menyalatkan jenazah jadi dia tidak tahu pesan yang disampaikan orang yang berpakaian hitam-hitam kemarin kepadaku. “Cari apa kamu, Surti?” Suara ibu Imah mengagetkanku. Berhadapan dengan ibu Imah membuatku gemetaran. “Sedang apa kamu datang ke rumahku?” tanya wanita tua itu lagi. Bu Pur tampak keluar rumah dari pintu samping bergabung dengan Pak Pur yang berada di samping rumah. Dia memperhatikan apa yang dipegang oleh ibu Imah. “Anaknya meninggal bisa-bisanya kamu mengambil daun pisang, Mbah? Padahal tadi aku ke rumahmu. Kamu sudah tak ambilin daun pisang dua glondong aku taruh di meja. Kamu nggak ada ternyata melanggar pantangan dari orang tua,” ucap Bu Pur kepada ibu Imah agak sedikit kesal. Menurut tradisi kampung kami, bila keluarganya ada yang meninggal, anggota keluarganya tidak diperbolehkan menjamah pohon pisang atau pun pohon bambu sebelum berganti tahun baru. Pergantian tahun baru yang dimaksud kali ini adalah pada tanggal satu bulan Muharam atau tanggal satu bulan Suro. Tapi ibu Imah sepertinya ngeyel padahal dia termasuk orang yang sudah sepuh, harusnya lebih tahu dan menjadi panutan bagi orang yang berusia di bawahnya. Ketika ibu Imah sibuk berbicara dengan Bu Pur, aku langsung saja menanyakan perihal yang kami bicarakan tadi dengan Pak Pur. ‘Seharusnya tadi aku langsung ke rumah Pak Pur saja,’ batinku. “Namanya siapa, Pak?” tanyaku mengalihkan perhatian Pak Pur kepada ibu Imah dan istrinya yang terlihat langsung ribut karena bersilang pendapat. “Oh ... orang yang pintar yang tadi, ya? Itu namanya Mbah Wiro Kliwon,” ucap Pak Pur. “Terima kasih ya, Pak, atas informasinya,” ucapku sembari pamit untuk meneruskan perjalanan langsung ke rumah Mbah Wiro Kliwon di Wono Singit. Kalau kulihat dari usianya Mbah Wiro Kliwon terlihat masih muda. Mungkin seusia suamiku, tapi kenapa dia dipanggil dengan sebutan mbah? Apakah karena dia dukun? Baru beberapa langkah, ibu Imah berteriak-teriak. “Woi ... kamu Surti! Mau ke mana, kamu? Urusan kita belum selesai!” “Maaf, ya, Mbah! Aku ada urusan sebentar,” ucapku sambil terus berjalan. Kuabaikan ibu Imah yang masih terdengar merancau dari kejauhan. Aku merasa baru kali ini aku mendengar nama Desa Wono Singit. Bodoh sekali aku. Kenapa tadi tidak tanya sekalian kepada Pak Pur di mana Desa Wono singit berada. Sampai di ujung kampung aku bingung menentukan arah tujuan. Apakah berjalan ke kiri menuju ke Desa Siturejo atau ke kanan menuju ke Desa Gempolharjo karena jarak menuju Desa Siturejo atau pun Desa Gempolharjo kalau dari Desa Adirejo sangatlah jauh. Baik berjalan ke kiri atau pun ke kanan masing-masing 3 km. Jadi apabila seandainya aku salah jalan aku harus balik dengan jarak tempuh dua kali lipat. Kuputuskan untuk berhenti di tepi jalan. Sebaiknya aku bertanya kepada orang yang lewat saja. Beberapa saat menunggu ada sepeda motor lewat. Aku mencoba menghentikannya. “Maaf, Pak. Mau tanya. Jalan menuju Desa Wono Singit ke mana, ya?” Terlihat orang yang aku tanyai tampak kebingungan. Dia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu sebelum menjawab, “Aku belum pernah mendengar nama Desa Wono Singit,” ucapnya sambil menungguku bertanya lebih lanjut. Karena tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan, aku pun hanya mengucapkan terima kasih, orang itu pun melanjutkan perjalanan. Kembali lagi ada orang yang lewat. Kali ini wanita yang sedang naik sepeda. Aku pun menghentikannya. Pertanyaan yang sama aku lontarkan padanya tentang Desa Wono Singit. Orang tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Barulah ketika ada orang jalan kaki yang hendak ke sawah, sepertinya dia mengetahui tentang Desa Wono Singit. “Desa Wono Singit? Kalau Wono Singit aku tahu tempatnya.” “Iya, Pak. Wono singit,” ucapku sambil mencerna sebenarnya tempat apa yang hendak dia tunjukkan kenapa aku salah telah menyebutnya dengan sebuah Desa. “Ini kamu berjalan saja terus ke arah kiri. Terus saja jangan sampai belok-belok.  Nanti lewat Desa Siturejo, Klopo duwur, Nggeneng, kira-kira dari Desa Nggeneng ada pertigaan baru belok ke arah kiri. Setelah kurang lebih 2 km kamu akan memasuki hutan. Nanti tanya saja sama bapa-bapak yang jaga di Brak Perhutani, Wono Singit sebelah mana. Kamu mau ke rumah Mbah Wiro Kliwon ya?” “Iya, Pak. Saya mau ke rumah Mbah Wiro Kliwon. Terima kasih atas informasinya, ya, Pak,” ujarku. “Sama-sama. Tapi ada keperluan apa ke sana? Mau cari pesugihan atau penglarisan?” Astaugfirulloh. Baru sadar kalau aku hendak pergi ke rumah dukun.  Apakah ini aku akan menanggung dosa? Sedangkan agamaku melarangku pergi ke rumah dukun. Tapi bukankah semua demi kebaikan? Semua aku lakukan demi untuk menolong arwah Rumi yang penasaran agar dia kembali ke alamnya dengan tenang. “Ti—tidak, Pak. Aku ada keperluan sedikit,” ucapku. “Kenapa nggak ngojek saja, Bu? Jauh lho lebih dari 10 kilo,” ucap laki-laki yang berada di depanku tersebut. “Saya sudah terbiasa jalan kaki, Pak,” ucapku. “Ya sudah, monggo, Bu!” ucap laki-laki bercaping hijau itu sambil berjalan terburu-buru. Aku pun mengikutinya dari belakang karena arah perjalanan kami satu arah. Bedanya dia berbelok pergi ke arah persawahan sedangkan aku berjalan lurus menuju ke arah Desa Siturejo. Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh saat merambah hutan. Jalan sejauh 10 km bagiku bukanlah hal yang luar biasa. Sampai di desa Nggeneng aku berjalan ke arah kiri. Aku usap keringat yang ada di dahi. Tidak pernah aku mendapati aroma harum dari tubuhku sendiri, selalu saja berbau asam dan menyengat seperti halnya saat aku bekerja baik di kebun ataupun kerja di sawah. Aku memasuki area hutan yang belum aku jamah sebelumnya. Hutan ini dikelilingi kayu jati menjulang tinggi dan masih perawan.  Belum ada bekas penebangan di hutan ini. ‘Brak Perhutani? Masih jauhkah?’ gumanku dalam hati. Suasana hutan ini berbeda dengan hutan yang aku datangi tiap hari saat mencari rempuyang. Sepertinya hutan ini jarang terjamah oleh manusia. Buktinya ranting-ranting kering di sepanjang jalan terlihat berserakan di kiri dan kanan pohon tanpa satu orang pun yang menyentuhnya. Andai saja ranting-ranting itu berada di hutan dekat tempat tinggalku pastilah sudah bersih dibawa oleh pencari kayu bakar. Aku terus saja berjalan memasuki dalam hutan. Suasana semakin lama terlihat semakin gelap. Bukan karena hari berganti malam tapi karena begitu rimbunnya pepohonan yang dikelilingi semak dan perdu yang sama sekali seperti tak terjamah manusia. Suara burung berkicau berisik dari atas dahan pohon. Mungkin karena terlalu rimbun burung itu pun tidak terlihat fisiknya hanya suaranya saja yang memecah keheningan. Dari kejauhan aku mendengar ada suara orang yang tertawa. Itu pertanda ada aktivitas manusia di sekitar tempatku berjalan. Alhamdulillah. Mungkin suara-suara tersebut berasal dari Brak Perhutani. Berarti tempat tujuanku semakin dekat. Sebagai perempuan yang terbiasa berjalan di dalam hutan sendirian seharusnya aku tidak takut dengan perjalanan ini, tapi hatiku mengatakan kalau aku harus lebih waspada dari biasanya karena hutan ini bukanlah wilayahku. Bayangkan saja bila sampai tersesat di tempat ini, siapa yang akan menemukanku sementara sejak tadi tidak aku jumpai seorang manusia sekalipun. Aku berbelok ke arah bangunan rumah panggung yang seukuran 4x4 m. Itulah yang dinamakan penduduk setempat dengan sebutan brak, bangunan sederhana khusus untuk pegawai perhutani di tengah hutan. Bangunan brak tersebut separuh terlihat terbuka. Di situ ada lima orang pria dewasa sedang bermain domino. Dua di antaranya memakai pakaian seragam perhutani sedangkan tiga di antaranya berpakaian biasa. Mungkin yang ketiga orang itu adalah blandong para penebang kayu. Aku mendekati para pria tersebut yang sepertinya tidak terusik dengan kehadiranku sama sekali. “Permisi, Pak,” sapaku. Kelima laki-laki itu menoleh ke arahku. Dua di antara laki-laki yang tidak mengenakan seragam perhutani matanya menatap liar ke tubuhku hingga aku merasa risi dibuatnya. “Ada apa, Mbak?” tanya mereka. “Hutan Wono Singit masih jauh nggak, Pak?” tanyaku. “Woalah cari hutan Wono Singit? Masih lumayan jauh, Mbak. Ini belok kiri lurus terus nanti ada jembatan bubrah belok kanan kurang lebih 1 km ada kayu waru yang besar, itu sudah memasuki Wono Singit. Kamu mau ke rumah Mbah Wiro Kliwon, kan?” ucap salah satu laki-laki yang tidak pakai seragam. “Iya, Pak,” ucapku. “Kok sendirian? Apa tidak takut ketemu buaya?” tanyanya. “Hahaha ....” tawa teman-teman yang berada di samping laki-laki itu. Seketika aku merasa tidak nyaman dengan sikap para laki-laki tersebut. “Terima kasih, ya, Pak,” ucapku tanpa memperdulikan pertanyaan mereka yang tidak perlu aku jawab. Seorang laki-laki berperawakan gendut mengejarku. Sambil menstater motor trailnya dia menawarkanku bantuan. “Biar aku antar, Mbak!” serunya. “Terima kasih, Pak. Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri,” ucapku sambil mempercepat langkah kakiku. Terlihat raut kecewa terpancar dari wajah laki-laki tersebut ketika aku menolak tawarannya. Sebenarnya dalam hati merasa takut kalau laki-laki berperawakan gendut itu mengikutiku lalu melakukan hal yang nekat dan tidak senonoh. Kulihat tadi tatapan mereka begitu liar seakan mau menelanjangi tubuhku. Apakah laki-laki memang seperti itu bila melihat seorang wanita? Di luar dugaan ternyata laki-laki bertubuh gendut tersebut turun dari motor trailnya. Dalam hati aku mengucapkan syukur alhamdulillah ternyata dia bukan orang menyeramkan seperti yang aku kira. Aku berjalan menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh orang yang di brak tadi. Kondisi hutan yang sepi dengan angin yang lumayan kencang membuatku semakin lama semakin merinding. Burung-burung sedari tadi tiada henti berkicau. Sempat aku berpikir, kenapa aku bisa berjalan sejauh ini? Apakah langkah yang aku ambil ini apakah benar ataukah salah? Bagaimana bila tiba-tiba aku mati? Berbagai pikiran buruk memenuhi pikiranku di dalam perjalanan menuju ke Wono Singit. Kalau di lihat dari namanya Wono Singit artinya adalah hutan keramat. Apakah tempat itu dikeramatkan atau hanya sekedar nama aku pun tak tahu. Yang jelas tempat itu adalah tujuanku saat ini. Lumayan lama aku sampai ke jembatan bubrah. Jembatan itu mungkin dikatakan bubrah karena ada bekas jembatan lama yang rusak kemudian ditimbuni jembatan baru yang terbuat dari dua biji batang kayu jati yang panjang. Panjang jembatan ini sepertinya lebih dari tujuh meter membuat nyali siapa saja yang melewatinya menciut karena tidak ada pegangan apa pun saat melewatinya. Harus perlahan-lahan saat melewati jembatan tersebut. Tidak mungkin aku tidak melihat ke arah bawah karena aku harus menata kakiku agar tidak meleset. Sungai tadah hujan di bawah kakiku terlihat curam. Hati-hati sekali aku berjalan melewati jembatan tersebut agar tidak terjatuh. Baru kali ini aku berjalan melalui jembatan yang modelnya seperti ini. Kayu yang masih berbentuk bulat, pastilah sangat licin bila waktu hujan. Jangankan waktu hujan, saat ini pun aku merasa sangat tegang untuk sampai ke ujung jembatan harus penuh dengan perjuangan. Lega itu yang aku rasakan setelah melewati jembatan bubrah ini. Setelah menata jantung yang tadi deg-degan selanjutnya aku berjalan ke arah kiri memasuki area Wono singit. Tiba di pohon waru raksasa sekitar 1 km dari jembatan bubrah, aku dikagetkan oleh gongongan anjing bulldog hitam. Bagaimana bisa ada anjing bulldog di sini? Segera aku mengambil ranting kayu untuk mengusirnya. Sial! Anjing itu tidak takut sama sekali ketika aku usir dengan ranting kayu. Seperti ditantang, ia malah mendekatiku dengan gonggongannya yang menakutkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN