“Jelaskan, Mak! Kenapa pakaian emak bisa bersama laki-laki itu? Lalu kenapa kemarin emak bilang kalau emak jatuh di parit dan ditolong oleh pegawai Perhutani?” Seketika tubuhku terasa lemas. Aku harus menjelaskan apa yang terjadi kepada Rahma dan juga Murni. Dengan hati yang remuk, aku mulai membuka mulutku, “Dukun itu hampir memperdaya emak, Nduk. Hampir saja dia melecehkan emak huhuhu ....” Tiba-tiba aku menangis tersedu. Tak kuasa mengingat kejadian mengerikan yang menimpaku kemarin. “Untung emakmu ini bisa melarikan diri kalau tidak emak akan membawa aib saat pulang karena tidak bisa menjaga diri.” Rahma terlihat lunglai. Dia menjatuhkan pantatnya ke kursi tamu. “Dan emak kenapa tidak menceritakan apa-apa kepada kami? Kenapa emak selalu berusaha baik-baik saja?” sahut Murni.

