Laki-laki itu segera menuruti perintah Mbah Wiro Kliwon. Dia berusaha memaksaku untuk meminum air kencing sapi tersebut. “Biadapp!” Aku melontarkan makian ketika laki-laki yang masih tetangga satu desa denganku tersebut, tangan kirinya dalam keadaan memaksaku untuk membuka mulutku yang tertutup rapat. Air kencing sapi itu pun sedikit tumpah ketika aku melontarkan makian itu sambil menggerakkan kepalaku untuk menghindar. Merasa terkena tumpahan air kencing sapi, laki-laki itu terlihat marah. Tangannya yang semula menjepit rahangku berpindah tempat dengan menjambak rambut sekeras-kerasnya agar aku mendongakkan kepala dan mulutku bisa terbuka. Segera ketika mulutku terbuka laki-laki tersebut melancarkan aksinya. Dengan segara ia memasukkan air kencing sapi tersebut ke mulutku. Klotak!

