%%% Bara menemani Nasya lembur menyelesaikan jahitannya. Lastri sudah pulang menjelang maghrib tadi, atas perintah Nasya. Dan kini, jarum pendek jam sudah menunjuk angka sebelas, namun Nasya masih memaksakan matanya untuk terus fokus pada mesin jahitnya. "Huft... aku ragu ini akan selesai," gumam Nasya. Bara menyodokan secangkir kopi ke hadapan Nasya. Nasya pun sampai terkejut dan sontak menatap Bara. "Mumpung aku baik. Tapi kali ini saja. Dan juga, sambil makan roti biar perutnya keganjel dan nggak perih!" suruh Bara. Nasya tersenyum kemudian meminum kopi buatan Bara. "Makasih, ya," ujar Nasya. Bara beralih ke belakang tubuh Nasya, kemudian membenarkan ikat rambut gadis itu. "Masih lama?" tanya Bara di sela aktivitasnya. "Hmm... kalau kamu ngantuk, tidur duluan aja! Kamu besok k

