%%% Tangan dan kakiku bergetar. Tidak. Sepertinya bahkan seluruh tubuhku ikut bergetar. Bara semakin dekat, dan entah kenapa aku merasa semakin takut. Bara menghampiri meja dimana masakanku berada. Oh.. ternyata bahkan ia membawa sendoknya. Aku menatap was-was ke arah Bara. Entah apa yang akan pria itu lakukan. Tampak Bara mulai mengambil sesendok timlo bekas wanita yang sedang memarahiku itu, lalu mencicipinya. Ini benar-benar memalukan. Bagaimana bisa ia melakukan itu di depan banyak orang? Mana masakanku memang tidak enak lagi. "Chef, saya izin ke dapur saja, ya!" bisikku. Chef Citra berdecak marah. "Saya dipecat tidak apa-apa. Tidak usah dikasih pesangon juga. Asal saya boleh pergi sek-" "Anda lebay sekali. Masakan ini baik-baik saja. Tapi Anda mencaci koki itu seperti dia s

