Happy Reading
Hari berjalan kembali pada rutinitasnya. Setiap hari senin sampai jumat harus stand by di kantor sampai sore hari, dan sudah menjadi rutinitasku juga ketika malam hari untuk facetime bersama Gandhi.
Kenapa malam hari? Katanya ia lebih banyak waktu senggang ketika diluar jam kantor.
Ya walaupun terkadang ia menyempatkan menghubungiku cuma sekedar menanyakan kabar dan mendengarkan kegiatanku setiap hari. Namun harus kuakui jika Gandhi sangat menjaga komunikasi kami agar lebih intens.
Kadang obrolan kami sambil menikmati makan malam atau mengerjakan tugas rumah yang lain, seperti yang terjadi malam ini.
"kamu balik kapan Gan?" tanyaku padanya yang masih sibuk di depan laptopnya
"dua minggu lagi Na. Bentar lagi beres, setelah itu tinggal jemput kamu" katanye dengan penekanan
"Tck, baru aja balikan. Udah ngajak LDR aja" protesku padanya
Kulihat ia terkekeh dan mengembalikan fokus padaku.
"ini semua kan buat kamu. Pingen cepet selesai biar langsung balik ke Indonesia terus silaturrahim sama Mami Papi kamu Na" katanya dengan melanjutkan membolak balikkan berkas di tangannya
"kamu serius mau ketemu orang tuaku?" tanyaku hati hati
"sangat serius" jawabnya dengan melihat kearahku
Tidak lama terdengar seseorang memanggil Gandhi.
"itu siapa? Manggil kok pakai teriak teriak?" tanyaku kepo
"teman kerjaku, hari ini mau lembur Na" jawabnya dengan merapikan berkas yang berserakan
Kujawab dengan berohria. Sejak kembalinya ke Jepang, Gandhi sering lembur. Katanya agar semakin cepat pekerjaannya selesai disana.
"yaudah, aku tutup dulu yaa Na... Konbawa Oyasuminasi"
"Hai, konbawa..."
Tut, sambungan facetime terputus.
Kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan pakaian kerjaku untuk besok. Setelahnya bersih bersih dan beristirahat.
Hari ini kegiatanku cukup padat. Menyelesaikan rekapan laporan akhir bulan untuk segera di setorkan kepada manager senior.
Bolak balik dari mesin print fotokopi kemudian kembali menuju kubikelku, jika ada yang salah kembali lagi menuju mesin print fotokopi dan begitu seterusnya. Belum lagi menggunakan high heels tujuh senti sebagai penunjang penampilanku selama bekerja.
Wanita kantoran tanpa heels itu bagai sayur tanpa garam. Begitu kira kira perumpamaannya.
Menginjakkan kaki menuju tangga tiga tingkat dengan membawa berkas yang akhirnya selesai proses rekapan. Namun tiba tiba kehilangan keseimbangan kemudian pergelangan kakiku goyang dan aku jatuh tersungkur dengan posisi kaki kiri menahan tubuh karena kaki kananku menekuk hingga terasa nyeri yang hebat.
"Nana" beberapa rekan kantor memanggilku hampir bersamaan ketika melihatku jatuh.
"aduh..." rintihku sambil memegang pergelangan kaki kananku
"saya bantu buat duduk ya Na" kata Pak Adrian, manager seniorku yang baru saja menerima sebagian laporanku.
Baru saja berusaha berdiri namun aku tidak tahan dengan sakit di kaki kananku. Tidak lama air mataku mulai keluar sambil sesenggukan menahan sakit.
"mbak Nana kenapa?" tanya Intan yang baru saja datang mengampiriku
"kakinya terkilir terus jatuh" jawab Anton-rekan kerja
"sakit banget mbak?" tanya Intan ikut panik karena melihatku merintih sambil menangis.
Lima belas menit kemudian aku sampai di salah satu Rumah Sakit swasta yang jaraknya paling dekat dengan kantorku.
Kali ini ada Anton dan Intan yang mengantarku setelah penuh perjuangan untuk berdiri dan dibopong menuju mobil.
Ketika sampai di IGD Anton memanggil perawat dengan membawa kursi roda. Setelah aku duduk kemudian di dorong masuk IGD.
Diagnosa awal terkena terkilir fase sedang kemudian dirujukkan kepada dokter spesialis tulang.
Sialnya dokter spesialis baru saja selesai praktek dan harus menunggu kedatangan dokter spesialis tulang berikutnya, karena jadwal dokter tersebut akan datang pukul enam. Itu tandanya harus menunggu lima jam lagi?
Apa kabarnya harus menahan sakit yang kualami?
"saya kasih anti nyeri saja ya Bu?" kata salah satu perawat
"atau kita pindah rumah sakit aja Na?" opsi lain yang diberikan Anton.
"nanti malah sakit harus bolak balik diangkat" keluhku
"kami pasang papan buat nahan pergelangan kaki yang keseleo ya Bu?" kata perawat satunya lagi
"kasian mbak Nana Bang, udah kesakitan begini" kata Nana pada Anton sambil iba melihat keadaanku.
Ditengah perdebatan antara Anton dan perawat tiba tiba ada seseorang menegurku dari belakang.
"kamu?" katanya dan membuatku menoleh kearahnya
"dokter Yoga?" kata salah satu perawat "ini dokter spesialis tulang yang saya katakan baru selesai prakteknya"
Speachless, menemukan tetangga baruku dengan berseragam lengkap dokter yang masih melekat di tubuhnya.
"dok, tolong temen saya" kata Anton penuh harap
Aku hanya menunduk masih menahan sakit yang belum kunjung hilang.
"kenapa dengan pasien ini sus?" tanya dia pada dua perawat yang berada di sebelahku
"diagnosa awal keseleo fase sedang sampai berat dok" jawab salah satu perawat
Ia duduk berjongkok sambil memperhatikan pergelangan kakiku dan memegang beberapa sudut yang membuatku berteriak kesakitan.
"coba kamu gerakkan sedikit" pintanya sambil mengarahkan
"gak bisa, sedikit aja digerakkan rasanya sakit banget" kataku terbata bata karena menahan sakit dan butir air mataku lolos begitu saja.
"bawa pasien ini ke bagian Radiologi" pintanya pada dua perawat tersebut
"administrasinya dok?"
"saya yang urus" kata Anton
Kemudian aku didorong menuju ruang Radiologi.
Suasana disana cukup penuh dengan pasien di ruang tunggu, namun dengan mudahnya tetanggaku yang seorang dokter ini melajukan kursi roda yang kududuki menuju kamar Rontgen setelah berbicara kepada salah satu petugas.
"maaf, saya angkat ya" katanya sambil berjongkok meraih punggung dan lutut, reflek melingkarkan tanganku di lehernya.
"rileks ya, saya mau lihat kondisi kamu jadi butuh di rontgen. Semoga tidak terlalu parah, kalau butuh penanganan lebih terpaksa harus MRI" katanya menjelaskan dan kujawab dengan anggukan.
Setelah foto rontgen kemudian aku didorong menuju sebuah ruangan. Seperti tempat praktek dokter di rumah sakit ini dengan sebuah tulisan di pintunya 'dr. Yoga Indra Saputra, Sp. OT'
Apakah itu namanya? Batinku.
Setelah diperiksa secara umum kondisiku dalam keadaan baik, selanjutnya dijelaskan tentang keadaan kakiku.
Keseleo atau terkilir, adalah cedera pada ligamen, jaringan yang menghubungkan dua atau lebih tulang pada sendi.
Setelah itu ia melakukan pemeriksaan berupa hasil foto Rontgen untuk memastikan tidak ada tulang yang retak atau patah. Bila diperlukan, akan melakukan pemeriksaan MRI untuk melihat kondisi sendi secara detail.
Semoga tidak ada hal serius yang terjadi padaku.
"setelah saya lihat hasil foto rontgen kondisi kaki kamu mengalami keseleo fase sedang. Ligamen kamu robek sebagian, kamu merasakan nyeri dan nantinya akan sedikit mempengaruhi kestabilan sendi kamu" jelasnya panjang lebar.
Kemudian ia menjelaskan kembali tentang penanganannya. Apa yang boleh dan tidak diperbolehkan, dan yang terakhir ia membebat kaki kananku untuk mengurangi pergerakan.
Karena tidak ada yang patah maka tidak ada tindakan medis berupa di gips atau operasi.
Alhamdulillah...
"Nanti saya resepkan obat untuk segera diminum" katanya
"Ohya kalau masih menimbulkan nyeri hebat setelah 6 minggu sejak terjadi cedera, saya sarankan menjalani pemeriksaan foto Rontgen lanjutan" jelasnya kembali
"kenapa?" tanyaku
"Kondisi tersebut mungkin disebabkan oleh robekan ligamen atau retakan kecil pada tulang, yang belum muncul saat terjadi cedera. Bisa juga karena sendi sangat bengkak, sehingga ada sebagian area cedera yang sulit terdeteksi" jawabnya
Aku jawab dengan anggukan tanda mengerti.
"sudah percaya kalau saya seorang dokter?" katanya kemudian sambil terkekeh
"ehhh?"
Fix, aku Salting.
"dokter kenal sama mbak Nana?" tanya Intan yang sejak tadi menemaniku
"baru kenal beberapa hari yang lalu" jawabku singkat dan memberikan kode pada Intan agar tidak bertanya macam macam.
Kali ini pulang ke rumah satu mobil dengan tetangga baruku sekaligus dokter yang menanganiku.
Dengan lancangnya Intan mengiyakan ajakan dokter ini ketika menawarkan tumpangan pulang karena kami searah.
Ya iya, orang tetangga sebelah rumah.
"Nama kamu Nana?" katanya disela sela kemacetan Surabaya karena berbarengan dengan jam pulang kantor
"Iya, kamu?"
"Yoga. Padahal kita beberapa kali bertemu namur baru kenalan sekarang" katanya dengan terkekeh
"Iya ya?" tanyaku yang absurd banget pakai menggaruk rambutku yang sama sekali tidak gatal.
"bad rest dulu ya? 2 sampai 3 hari biar kaki kamu cepat pulih"
"iya, nanti aku buat surat izin ke kantor"
"nanti aku buatkan rekom dari rumah sakit"
"oh, oke... Terimakasih"
Sesampainya di rumah, Yoga kembali membantuku dengan membopong menuju kamar. Setelah merebahkan tubuh di sofa kemudian ia pamit untuk pulang terlebih dahulu.
Melihat sesekali perban yang menutupi kaki kananku kemudian menghela nafas panjang.
Sialnya hari ini...
.
.
.
To be Continued
Ayaya