Happy Reading
Jam melewati pukul tujuh. Mengendarai mobil meninggalkan kompleks perumahan orang tuaku dengan suasana hati penuh suka cita setelah semalam sebelum tidur facetime dengan Gandhi untuk bertukar kabar.
Sempat menceritakan obrolan tentang janjinya yang akan menemui keluargaku untuk membahas kelanjutam hubungan kami dan ia menyanggupinya.
Apa dikata harus balikan sama Sang mantan, karena ternyata persaan kami masih sama seperti lima tahun yang lalu.
Sepertinya aku harus bersorak meninggalkan status single yang melekat padaku selama lima tahun.
Tck, terlalu lama sendiri berakibat senyum gak jelas sepanjang perjalanan.
Mengendarai mobil dengan kecepatan rata rata dengan suasana jalanan yang cukup lengang karena kebanyakan mengikuti car free day yang terpusat dibeberapa tempat.
Walaupun tadi sempat mendapatkan penolakan dari Mami untuk pulang karena dengan alasan harus membersihkan rumah sebelum besok kembali pada rutinitas bekerja. Belum lagi ada beberapa keperluan rumah yang harus restok.
Setelah memarkirkan mobil kemudian melihat suasana di luar yang cukup ramai, tepatnya di samping kiri rumahku yang yang ternyata sudah ditempati oleh penghuni baru.
Terdengar suara ketukan pintu ketika baru saja memasuki dapur untuk mengambil air minum di dispenser.
Setelah menghabiskan setengah gelas kemudian mendekati pintu dan membukanya.
"maaf mengganggu. Saya dari rumah yang baru saja pindah" kata seorang wanita yang seusia Mamiku
"Iya Bu, silahkan masuk" jawabku sopan
Memintanya duduk kemudian menyuguhkan satu gelas fresh orange dan satu toples berisi keripik kentang pedas favoritku.
"silahkan diminum dan diicipi Bu"
"terimakasih" "dengan siapa kalau saya boleh kenal?"
"Ibu bisa panggil saya Nana"
"kemarin sore saya mau datang bertamu tapi sedang tidak di rumah"
"Kemarin ada acara di rumah orang tua saya Bu. Sekalian menginap jadi sejak kemarin pagi tidak ada ditempat"
"tinggal sendirian disini?"
"Iya benar"
"sudah lama?"
"hampir tiga tahun, bersyukur disini sangat aman dan nyaman"
"pantas saja anak Ibu kekeh ingin pindah kesini selain jarak dengan tempat kerjanya lebih dekat"
"anak Ibu?" kataku tertahan
"Iya, sama seperti kamu. Nanti yang tinggal disini anak Ibu sendirian, dari semalam acara pindahan tapi yang punya rumah gak ada" jelasnya dengan sedikit sebal
"memangnya kemana Bu?"
"semalam ada jadwal operasi mendadak. Kecelakaan beruntun yang ada diberita kemarin sore itu, kebanyakan korbannya patah tulang. Jadinya panggilan darurat untuk operasi" dengan menggebu menjelaskan detailnya dan ku jawab dengan anggukan mengerti.
Kali ini sepertinya aku harus percaya kalau tetangga baruku seorang dokter.
"oh Iya, ini Ibu bawakan makanan buat kamu sarapan. Baru saja dimasak" mendekatkan sebuah kotak makanan bertingkat tiga kearahku
"terimakasih Bu. Malah merepotkan"
"sama sekali enggak Na. Ibu harap nanti sama sama jadi tetangga yang baik"
Kujawab dengan senyuman. Harus kuakui wanita yang duduk bersamaku saat ini orang yang sangat ramah, terlihat dari bahasa dan logat bicaranya.
"maaf, Nana sudah berkeluarga?" tanya-Ibu dengan hati hati
"belum Bu, saya belum menikah"
"oh... Gitu... Ya sudah, Ibu pamit dulu"
"eh, Iya... Terimakasih untuk sarapannya ya Bu"
"Iya, sama sama. Jangan lupa dimakan" pungkasnya kemudian berlalu.
Membawa kotak makanan menuju meja makan. Membukanya dan rasa laparku muncul setelah melihat menu yang ada.
Merapikannya kembali kemudian segera mandi sebelum sarapan dan siap siap berbelanja.
Setelah berbelanja list kebutuhan kemudian menaruhnya sementara di pantry sebelum kurapikan.
Mengambil salah satu paper bag berwarna cokelat.
Ketika di pusat perbelanjaan membeli dua buah lilin aroma terapi untuk di letakkan di kamar tidurku dan satunya sudah terbungkus rapi yang akan kuberikan sebagai buah tangan untuk tetangga baru.
Melihat jam yang menunjukkan pukul empat sore. Sepetinya tidak akan mengganggu jika bertamu sekarang.
Berjalan menuju rumah disampingku yang terlihat cenderung sepi, berbeda dengan yang kutemui tadi pagi.
Kali ini hanya terparkir pajero berwarna putih dengan gerbang masih terbuka.
Tok tok tok
Mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.
Setelah percobaan ketiga baru muncul suara dari dalam dan detik berikutnya pintu terbuka.
Menampilkan seorang laki laki yang beberapa waktu lalu kutemui dengan kondisi yang cukup lusuh namun tidak mengurangi pesonanya.
"kamu?" katanya menebak dengan mengerjapkan matanya.
Sepertinya ia baru bangun tidur.
"maaf, mengganggu ya? Kalau gitu lain kali saja berkunjungnya"
"oh, enggak. Silahkan masuk" katanya kemudian membuka akses pintu lebih lebar.
Sedikit kaget ketika memasuki rumah berukuran 45 seperti milikku.
Bagaimana tidak, hampir keseluruhan interiornya dirubah dengan perabotan kelas satu.
Rumah yang terkesan Manly didominasi warna Abu abu dan hitam sangat menandakan kepemilikannya seorang laki laki.
Setelah dipersilakan duduk kemudian ia berlalu dan tidak lama kembali dengan sebuah nampan berisi dua cup cappucino.
"suka kopi?" katanya disela menyuguhkan satu cup cappucino kepadaku.
"lumayan" kataku "terimakasih" setelah menerima satu cup yang diarahkan kepadaku
"silahkan diminum" katanya
"Ibu yang tadi pagi-?"
"oh, itu Mamaku. Tadi pagi sudah bertemu ya?"
Kujawab dengan anggukan
"pindahan rumah tapi Si empunya malah gak ada" kataku dengan sedikit menyindir kearahnya
"oh itu... Namanya juga panggilan darurat demi menyelamatkan nyawa" jelasnya dengan terkekeh
"emm... Kamu beneran seorang dokter?" tanyaku dan laki laki di depanku membulatkan matanya
"kamu tidak percaya kalau saya dokter? Perlu saya kasih lihat id dokter tempat saya bekerja?"
"enggak usah, bercanda aja kali. Serius amat"
"saya baru bangun tidur, belum bisa diajak bercanda. Duh, kok jadi migrain gini" katanya sambil memegang salah satu sisi kepalanya
"aduh maaf, ganggu istirahat kamu. Aku pamit balik aja ya? Terimakasih untuk makanannya tadi pagi"
"Iya sama sama, kamu bawa apa itu?" tanya-nya dengan melirik paper bag yang berada disampingku
"oh ini" meletakkan paper bag dengan mendekatkan kearahnya "hadiah kecil, bisa buat teman istirahat biar rileks"
Ia mengerutkan kening dan kuberikan tatapan agar ia membukanya.
"bau lavender?" katanya dengan menenteng sebuah lilin aroma terapi dalam sebuah wadah kaca dengan kubungkus sebuah kotak plastik bening.
"pas belanja tadi sekalian beli dua. Gak tau kamu suka wangi apa, jadinya disamakan aja" pungkasku kemudian benar benar pamit pulang. Padahal jarak rumah kami hanya beberapa langkah saja.
Weekendku selalu melelahkan dan bersiap dengan esok kembali bekerja menyambut hari senin.
Badan masih terasa pegal dan rasanya malam ini ingin tidur lebih cepat.
.
.
.
To be Continued
Ayaya