Come Back?

1128 Kata
Happy Reading "Gandhi?" panggilku dengan kaget ketika menemukannya di depan pintu rumahku. "Hai?" sapanya tanpa permisi ia langsung memasuki rumahku tanpa menghiraukanku masih terkejut dengan kedatangannya. Bagaimana bisa ia mengetahui alamat rumahku? "kamu tinggal sendiri, right?" tanya Gandhi setelah memasuki ruang tamuku sambil melihat sekeliling. "kamu juga pasti belum makan, nih aku bawakan makanan kesukaan kamu" katanya sambil memperlihatkan sebuah kantong plastik berwarna putih. "tau dari mana alamat rumahku?" tanyaku kemudian sambil memyilangkan kedua tangan di d**a, sedangkan ia duduk bersila di sofa sambil merentangkan tangan. "aku tamu lho Na, gak ditawarin minuman nih? Aku haus" katanya dengan berlagak kehausan yang dibuat buat. Tck, "kamu itu tamu yang gak punya sopan santun. Buruan pergi deh" sambil mengarahkan kepalaku menuju pintu agar Gandhi segera pergi. "perasaan kita pacaran dulu kamu gak gini amat Na" "itu dulu. Catet! Beda sama realitanya" "apa nggak bisa kita seperi dulu Na?" "apa kamu bilang? Setelah lima tahun kamu mutusin aku tanpa kabar, sekarang minta balikan?" "kamu sehat Gan?" "kamu yang ngeblok komunikasiku Na" "kalau kamu niat, pasti ada cara lainnya. Tapi apa? No sence?" "mending kamu pergi, aku udah males bahas beginian. Aku udah move on! Gak lagi buat kamu ganggu kehidupan aku" "oke, aku paham kalau kamu masih sakit hati karena keputusan sepihak dariku. Tapi berikan aku kesempatan Na, kasih celah sedikit untukku buat masuk dikehidupan kamu" "memang perlu?" "sangat, karena aku masih sayang sama kamu hingga detik ini" Deg... No! Harus kuputuskan mulai sekarang. "mending kamu pergi sekarang Gan, atau aku benar benar gak mau ketemu kamu" "baik, aku pergi Na. Please buka blokiran nomorku" Gandhi semakin mendekatiku, kemudian... Cup! Mataku membulat ketika satu kecupan darinya menyentuh pipi kananku "sepertinya tubuh kamu tidak menolak saat kita berdekatan, good night" pungkasnya sambil tersenyum meninggalkanku dan menutup pintu. Tubuhku yang sejak tadi membatu kini mulai lemas terduduk di lantai. Ya tuhan... Apa ini? Kenapa pertahanan yang sudah kubangun selama ini menjadi rapuh. Walaupun fikiran menolak tentang kehadirannya namun ternyata hati dan tubuhku tidak demikian. Sejak semalam, entah ada kenapa aku membuka blokiran nomornya di ponselku yang ternyata masih menyimpan nomornya. Sh*t, ingin mengerutuki kelemahan hatiku yang kini berbuntut panjang. Ya, komunikasiku dengan Gandhi mulai lebih intens. Tidak jarang ia menjemputku dengan sebelumnya berangkat ke kantor menggunakan taksi online. "kita cari makan dulu ya" pintanya dan kujawab dengan anggukan Kami sedang dalam perjalanan dari kantor tempatku bekerja kemudian berhenti di salah satu restoran jepang. Selera kami masih sama seperti lima tahun yang lalu, yaitu penikmat makanan jepang. "Itadakimasu" "Hai, itadakimasu" Kami mulai menyantap makanan yang telah kami pesan. Diantara menu makanannya yaitu norimaki dan oshizushi pesanan milik Gandhi, tidak lupa dengan soyu dan wasabi. Sedangkan aku memesan soba dan takoyaki. Setelah menghabiskan makanan kemudian Gandhi mengantarkan pulang. "Na..." panggil Gandhi "Hm?" Kami sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati sebuah film yang diputar melalui LED tv "lusa aku balik ke Jepang" katanya membuatku menghentikan fokusku pada film "gak bisa ya kamu ambil kerja disini aja?" pintaku. Kemarin Gandhi menjelaskan tujuan kepulangannya ke Indonesia untuk mencariku. Ia cuti dari pekerjaannya demi ingin mengetahui perasaanku padanya. "kerjaanku disana Na. Aku harap nanti jika kita menikah, kamu dapat mengikutiku kesana" "terlalu cepat untuk menyimpulkan itu Gan. Sampai saat ini saja aku gak habis pikir dapat menerima kamu kembali, setelah sem-" kataku terpotong "cukup Na, gak usah dilanjutkan karena hanya akan membuka memori lama" "cukup kamu buka kembali hati kamu buat aku" "kapan kamu kembali kesini?" "biarkan aku menyelesaikan tugasku disana, secepatnya aku kembali meminta kepada kedua orang tua kamu untuk jenjang lebih serius" "kamu gak lagi bercanda kan Gan?" "aku serius Na" "dulu kamu ninggalin aku karena tidak menginginkan hubungan jarak jauh. Remember?" "konteksnya sekarang beda Na. Ketakutanku dulu tidak memberikan kenyamanan, karena justru aku selalu memikirkan kamu. Dan sekarang lebih dari serius untuk memulainya kembali sama kamu" Tanpa menjawabnya kami tenggelam dalam fikiran masing masing. Terbesit keraguan untuk melanjutkan hubungan ini karena perpisahan lima tahun yang lalu masih membayangi. Pagi kembali menyapa, mentari dengan terik panasnya mengenai pori kulitku yang kini berjalan setengah berlari menuju tempat parkiran di Terminal dua Bandar Udara Juanda Surabaya. Beberapa menit yang lalu mengucapkan salam perpisahan kepada Gandhi yang akan kembali ke Jepang untuk mengurusi pekerjaannya disana. Ya, walaupun masih terbesit keraguan namun aku mencoba untuk membangun kembali hubunganku dengannya. Setelah meninggalkan area Bandara kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Mami, karena nanti malam akan ada acara lamaran di kediaman keluarga Mbak Laras yang berada di Malang. Empat puluh menit perjalanan yang kuhabiskan untuk sampai di sebuah kompleks perumahan di daerah Surabaya pusat. "Mami, I'm home" melenggang memasuki rumah yang ternyata sudah ramai. Disana ada Bude dan Pakde saudara tertua dari Mami. "kok kamu baru kesini Na?" tanya Mami ketika baru saja duduk di atas karpet ruang keluarga. "habis nganterin temen dari Bandara Mih" "temen apa temen?" goda Buda sedang duduk di sofa panjang "temen Bude. Bude apa kabar?" alibiku dengan menanyakan kabar "Alhamdulillah sehat" jawabnya "ohya, Mas-mu bentar lagi nikah. Habis ini kamu lho Na, udah ada calon belum?" Tuh kan, gini nih pembahasan kalau ketemu saudaranya Mami atau Papi. Pembahasannya gak jauh dari Bab menikah. "doain aja Bude, sebulan lagi ada kejelasan" kataku santai kemudian diamini Bude, namun ditanggapi serius oleh Mami "kamu sudah punya pacar Na?" tanya Mami antusias Kujawab dengan anggukan sambil tersenyum. Kedekatanku beberapa hari ini dengan Gandhi serta pernyataannya kemarin bisa diartikan keseriusan hubungan kami bukan? "wuih... Akhirnya Mbak Nana pecah telor juga" tiba tiba Salma datang "Salma, mulut kamu itu ya" sepertinya harus bersorak karena Mami kini lebih membelaku "berarti nanti diacara nikahannya Mas Ilham sudah dapat gandengan dong?" tuh kan mulut adikku memang bener bener yaaa "doain aja dek" pungkasku Ketika menjelang sore kami sudah bersiap untuk melakukan perjalanan menuju Malang dengan rombongan keluarga besar dari  Mami dan Papi, tentu dengan beberapa seserahan yang sudah disiapkan jauh hari oleh keluargaku. "kata Salma, kamu sudah punya gandengan Dek?" tanya Mas Ilham, kami sekeluarga dalam satu mobil Melirik Salma yang duduk disampingku dengan senyum jahilnya. "Iya Mas" jawabku singkat "syukur deh, padahal baru saja mau ngenalin kamu sama temen kerjanya Mas" "ya ampun, gak segitunya juga Mas" "namanya juga ikhtiar Dek" "Iya makasih Mas. Nana masih bisa nyari sendiri" pungkasku kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela. Acara berlangsung cukup hikmat, pembicaraan antar kedua keluarga yang diwakilkan oleh saudara tertua dan menyepakati tanggal pernikahan Mas Ilham dan Mbak Laras akan berlangsung tiga bulan lagi. Setelah penyematan cincin sebagai simbol terikatnya hubungan mereka kemudian acara terakhir ramah tamah. Perjalanan yang cukup melelahkan dari Malang. Mami menginginkanku untuk tidur di rumah karena sampai di Surabaya lewat tengah malam. Menyanggupi keinginan Mami untuk tidur di kamarku yang entah sejak kapan terakhir kali kutempati. Hari yang melelahkan dengan harapan baru untuk masa depan. Semoga pilihanku kali ini menjadi keputusanku yang tepat. Semoga saja . . . To be Continued Ayaya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN