Dia Lagi

787 Kata
Happy Reading Sudah dua hari sejak kejadian pingsan dan ditolong oleh seorang laki laki yang katanya seorang dokter. Kalian pikir aku mempercayainya? Tidak sepenuhnya, sebelum melihatnya secara langsung dengan pakaian kerjanya. Anehnya hingga kini belum mengetahui identitasnya, padahal kami sudah saling mengobrol saat terakhir kali bertemu ketika ia datang membawa makan siang bersama. Jam menunjukkan pukul sepuluh dan masih disibukkan dengan kegiatan untuk merekap data nasabah dikubikelku. "mbak, minta tolong jaga meja teller sebentar dong. Mules nih perutku" tiba tiba Amel-rekan kerja yang menjadi teller bersama Intan meminta tolong untuk menggantikannya karena dapat panggilan alam. Antrian meja teller lumayan ramai, begitu juga antrian customer service. Beginilah keramaian kantor cabang jika mendekati weekend. "Nana?" suara berat seseorang di depanku ketika baru saja memanggil antrian nomor selanjutnya Netra kami bertemu setelah beberapa hari yang lalu dipertemukan kembali setelah sekian lama kami berpisah. "Selamat Siang Bapak, Teller dua dengan Nana. Ada yang dapat kami bantu?" sapaku dengan bahasa formal yang digunakan untuk menyapa Nasabah. Kulihat ia tersenyum dengan tetap fokus memandangiku... Dan itu membuat momen awkward terjadi diantara kami "tidak usah se formal itu Na" katanya kemudian "mohon maaf Bapak, saya sedang dalam jam kantor. Jadi ada yang dapat saya bantu?" tanyaku kembali untuk menetralisir degub jantungku yang masih belum bisa menerima kehadirannya. Gandhi, sang mantan yang membuatku gagal move kini berada di depanku. Entah mengapa seminggu ini kami sudah bertemu dua kali setelah kemarin di pernikahan Mala. "oke, saya mau deposito" katanya kemudian "Untuk deposito Bapak bisa mengambil antrian di customer service. Ada lagi informasi yang Bapak butuhkan?" tanyaku yang masih menggunakan bahasa formal untuk Nasabah. "saya maunya kamu yang melayani" pintanya dengan tegas "mohon maaf Pak, untuk teller tidak melayani deposito" pungkasku "kamu yakin? Saya Nasabah level platinum" Dan perbincangan kami semakin memanas karena ia tetap kekeh memintaku untuk melayaninya. "berikut informasi untuk depo-" kataku tertahan pada laki laki yang kini sedang duduk di depan meja di sebuah ruangan untuk Nasabah khusus seperti modelan Gandhi. "kamu apa kabar Na?" sahutnya "persyaratan untuk deposito yaitu silahkan menyiapkan Fotokopi KTP, paspor dan NPWP untuk minimal deposito 100juta" tanpa menjawab pertanyaannya kemudian berusaha untuk menjelaskan "jadi kamu benar benar tidak mau menjawab pertanyaanku Na?" katanya dengan nada sedikit meninggi "saya sedang dalam jam kantor" "berarti kita bisa mengobrol diluar jam kantor?" katanya dengan tersenyum menyimpulkan Oh Lord, kenapa takdir harus mempertemukan kembali. Sesuai dengan yang dikatakan Gandhi, tepat jam empat sore mobilnya sudah berada di depan kantorku. Ia keluar dari fortuner hitamnya ketika melihat kedatanganku. "Hai Nana?" sapanya ketika mendekatiku. "kamu ya?" benar benar kehabisan kata kata untuknya "aku antar pulang ya?" "gak usah, aku bawa kendaraan sendiri" Tidak lama Intan datang dari belakang dan mengajakku pulang bersama karena tadi sempat mengatakan padanya jika mobilku kutinggalkan di bengkel untuk di servis. "mbak, jadi bareng? Tapi aku cuma bawa helm satu" tanya Intan Mengerutuki kebodohanku karena ketahuan membohongi Gandhi. Kulihat ia tersenyum sambil memberikan tatapan yang-tidak biasa. "Nana pulang bareng saya saja" katanya pada Intan "Iya. Eh, ini siapa mbak?" tanya Intan sambil menyenggol lenganku "Gandhi, teman dekatnya Nana" katanya dengan jumawa. Teman dekat dari Hongkong? Kulihat Intan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Gandhi. Nih cewek agresif amat, bathinku. "bukannya ini Nasabah tadi mbak, yang katanya mbak Nana Nyeb-" buru buru menutup mulutnya Intan yang mulai tidak terkondisikan "kamu pulang duluan aja deh" kataku pada Intan "Iya mbak, kayaknya aku ganggu banget nih?" pungkasnya sebelum mendapat delikan tajam dariku dan segera berlalu meninggalkanku dengan Gandhi. "kamu bisa pulang Gan, aku naik taksi aja" "kenapa harus naik taksi kalau ada aku yang bisa nganterin kamu pulang?" "gak usah, ngerepotin!" tolakku "aku gak merasa direpotkan kok. Kamu masih tinggal sama orang tua kamu kan?" katanya memastikan "jadi nganterin gak nih?" segera kupotong "sure" katanya kemudian membukakan pintu samping kemudi untukku "silahkan" Tanpa kujawab kemudian melipir menuju kursi depan penumpang. Tidak menyangka Gandhi banyak berubah, lebih aktif berbicara dengan selera humor yang tinggi. Sepanjang perjalanan Gandhi mengeluarkan joke lucunya namun aku hanya diam tanpa meresponnya. Dua puluh menit berlalu aku mengarahkannya pada bengkel servis mobil. "kok berhenti disini?" tanya Gandhi "mau ambil mobilku" sambil menunjukkan sebuah honda jazz putih sudah terparkir di depan bengkel "makasih untuk tumpangannya" Tanpa menunggu responnya kemudian keluar dari mobil menuju bengkel untuk membayar ongkos servis dan mengambil kunci. Ketika keluar dari bengkel sudah tidak menemukan keberadaan mobilnya Gandhi. Menghembuskan nafas panjang kemudian bersiap untuk pulang. Tok tok tok... Terdengar pintuku diketuk dari luar. "ini siapa sih? Malam malam bertamu?" tanyaku berjalan ke arah pintu sambil melihat jam dinding yang menempel diatas LED Tv. Ketika membuka kunci pintu dan menarik handle tiba tiba sosoknya mengagetkanku dengan berdiri di depan rumah sambil memberikan senyuman yang membuatku menghembuskan nafas kesal. Ya Tuhan... Bencana apa lagi ini? . . . To be Continued Ayaya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN