Happy Reading
Dua hari disibukkan dengan pekerjaan rumah dan acara pernikahan sahabatku Mala, kini akumulasi dari rasa capek dan pegal semakin terasa.
Sejak pulang dari kantor merebahkan tubuh di sofa hingga tertidur tiga puluh menit dengan tubuh tidak berada pada posisi tidur, hingga menyebabkan leher dan punggungku terasa semakin nyeri.
Berjalan dengan sedikit tertatih menuju kamar untuk berganti baju tidur agar lebih nyaman.
Tok tok tok
Suara dari pintu depan terdengar nyaring dalam tempo yang singkat.
Mengerjapkan mataku dengan berat kemudian melihat jam dinding yang terletak di atas LCD tepat di depan kasur.
"sudah pagi ternyata" lirihku ketika melihat jam menunjukkan pukul lima pagi
Ketukan pintu kembali terdengar. Menyibakkan selimut dan berjalan keluar kamar untuk melihat siapa tamu yang datang pagi pagi sekali.
Baru dua langkah dari kamar, tiba tiba kepalaku terasa berputar hebat. Memaksa berjalan untuk membukakan pintu namun semakin terasa berdenyut di kepala bagian belakang.
Ketika membuka kunci pintu kemudian memegang handle pintu yang terasa dingin tiba tiba pandanganku kabur dan gelap.
Sinar matahari mulai masuk melalui jendela dengan tirai yang tersibak. Tubuhku menggeliat pelan dengan kening terasa basah dan dingin.
Ada sebuah handuk berada diatas keningku. Mencoba mengingat apa yang sudah terjadi kepadaku hingga sekarang berada di kamar.
Sebentar, kayaknya tadi aku keluar kamar mau bukain pintu dan tiba tiba penglihatanku kabur dan... Pingsan...
Mataku terbelalak melihat posisiku saat ini. Berada di dalam kamar tidurku dengan posisi tubuh tertutup selimut.
Deg...
Dengan sigap membuka selimut walaupun kondisi tubuh masih lemas, dan... Patut bersyukur dengan kondisiku masih menggunakan baju terakhir yang kupakai. Jangan sampai kejadian seperti novel w*****d yang bergenre mature konten yang full adegan iya iya dengan orang yang tak dikenal.
Kan horor...
Mencoba duduk dengan bersender pada kepala ranjang. Netraku terfokus pada sebuah catatan kecil dan sebuah gelas berisi air putih serta beberapa obat di atas side table.
Meraih stik note dan terdapat beberapa kalimat disana.
Tulisannya tidak begitu rapi dengan model huruf tegak bersambung.
Begini kira kira isinya
'kalau sudah bangun, kamu bisa sarapan dan segera minum obat. Sarapannya saya taruh dimeja makan. Nanti jam makan siang saya jenguk kamu kembali'
Firasatku menerka, orang yang meninggalkan tulisan dengan orang yang menolongku ketika pingsan adalah satu orang sama.
Setelah meminum sedikit air putih kemudian berjalan menuju meja makan.
Saat tudung saji kubuka, diatas meja tersedia sebuah mangkuk tertutup dengan isi bubur dengan suwiran ayam dan bawang bawangan sedangkan mangkuk satunya lagi berisi kuah kuning.
Kelihatan menggiurkan ingin segera kusantap setelah semalam perut tidak terisi.
Menghabiskan sarapan bubur ayam kurang dari lima menit dari Mr./Mrs. X yang belum kuketahui identitasnya hingga kini.
Tidak lama terdengar suara mesin bor dari rumah sebelah yang sepertinya sedang direnovasi.
Menghembuskan nafas karena istirahatku akan terganggu dengan suara bising dari tetangga sebelah.
Kembali menuju kamar dengan duduk di sofa panjang untuk meminum obat. Walaupun selama kuliah bukan dari jurusan yang berbau kesehatan atau kedokteran tapi aku bisa menerka dua obat kaplet yang berbeda ini merupakan parasetamol dan antibiotik.
Meraih sebuah gelas berisi air putih dengan sebelumnya mengambil masing masing satu obat yang berbeda kemudian meminumnya.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan. Rasanya tidak mungkin jika memaksakan untuk berangkat ke kantor dengan kondisi seperti ini. Belum lagi sekarang jam kantoran, pasti macet dimana mana.
Tanpa pikir panjang segera menghubungi Manager kantor untuk meminta izin sakit. Setelahnya kembali membaringkan tubuh dengan menyetel tv dan disuguhkan acara gosip happening artis yang menikah di Jepang.
"highest budget weddingnya tuh mbak Rini" kataku sambil mengganti saluran chanel yang lain.
Baru teringat seharusnya kemarin mbak Laras akan menginap di rumahku namun hingga kini Mas Ilham ataupun mbak Laras belum menghubungiku.
Kembali meraih ponsel androidku dan mendial nomor Mas Ilham. Tanpa menunggu lama teleponku diangkat.
"Iya dek?" sapanya
"katanya kemarin Mbak Laras mau nginep Mas?" tanyaku
"oh itu... Laras gak jadi kesini dek. Oh iya minggu depan ada Lamaran"
Lamaran?
"hah? Lamaran? Siapa yang mau dilamar?" kaget mendengar berita yang baru kuterima
"kamu mau?" tanya Mas Ilham dengan terkekeh
"aku tanya serius ini"
"kemarin ada utusan keluarganya Laras ke rumah. Bicarain hubungan Mas sama Laras, terus minggu depan kita sekeluarga ke Malang buat acara Lamaran" Mas Ilham menjelaskan
"kok cepet banget?" dengan tidak percaya
"ya... Kata kamu pacarannya Mas uda kelamaan ngalahin kredit perumahan" jelas Mas Ilham mengingatkan sindiranku beberapa waktu yang lalu.
"hehehe... Tapi gak secepat ini juga, tiba tiba minggu depan udah lamaran aja"
"bukan tiba tiba. Cuma kamu aja yang gak update info"
"berarti udah direncanain jauh jauh hari dong?"
"hmm" jawab Mas Ilham singkat
Dari pagi hingga beranjak siang menghabiskan waktu dengan rebahan di kamar tidur.
Memegang pelipisku yang sudah kembali pada suhu normal, Alhamdulillah. Rasanya harus berterimakasih kepada orang yang sudah menolongku tadi pagi, entah siapa dia.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar.
Menyibakkan selimut dan beranjak dari luar kamar, seperti dejavu pada pagi tadi.
Pandanganku menangkap sosok pria tinggi dengan memakai baju slimfit lengan panjang berwarna dasar putih dengan garis biru muda dipadankan celana bahan warna navy blue..
Siang siang dapat tamu model begini banget Tuhan...
"kamu sudah baikan?" katanya membuyarkan lamunanku
Mengerjap berkali kali untuk mengilangkan halu-ku yang datang disiang begini.
"maaf, kamu siapa?" tanyaku sopan. Karena tidak mengenalnya dan tiba tiba menanyakan keadaanku.
Ia tersenyum simpul "saya yang tolongin kamu ketika pingsan tadi pagi"
Ya Ampun, sang penolongku ternyata seorang laki laki perawakan model begini.
Eh bentar, dia siapa? Belum jelas kok aku main seneng aja.
"kamu yang bawa saya ke kamar?" tanyaku dengan sarkastik
"Iya, mana tega melihat kamu jatuh pingsan begitu" katanya menjelaskan "saya gak dipersilakan masuk nih?" tambahnya
Tersadar dengan perlakuanku untuk tidak mempersilakan tamu yang sudah menolongku tadi pagi. Membuka pintu lebih lebar untuk memberikannya akses masuk.
Laki laki tadi melepaskan sepatu pantofelnya hingga tersisa menggunakan kaus kaki untuk alasnya dan mengambil slipper yang tersedia di sebuah rak yang terletak dibelakang pintu utama.
"Saya bawa makan siang untuk berdua, ohya obatnya sudah diminum?" katanya sambil berjalan ke dapur
'ini tamu sok banget lho masuk seenaknya ke rumah orang' bathinku
"sudah kok. Kamu cari apa sih?" tanyaku saat melihat ia membuka satu persatu lemari di kitchen set seperti mencari sesuatu.
"kamu duduk aja di meja makan, saya akan siapkan makan siang" jelasnya tanpa menoleh pada lawan bicara.
"perlengkapan makan ada di lemari bawah semua" kataku kemudian duduk di meja makan dengan membuka pintu kaca agar udara dari taman belakang bisa masuk.
Melihat gerak geriknya dari mengambil dua mangkuk dengan dua piring kemudian mengambil dua cup dengan menyeduh teh dan diberikan irisan lemon diatasnya.
Sepertinya ia sudah mengetahui banyak tentang letak barang dirumahku.
Kami duduk berhadapan dengan menu soto banjar diatas meja.
"Kamu mau nasi atau lontong?" ia menawarkan
"nasi aja, tadi pagi udah makan bubur"
Dengan telaten ia meletakkan mangkuk berisi soto banjar lengkap dengan taburan bawang goreng, satu piring berisi nasi dengan perkedel disampingnya.
"baca doa dulu" katanya mengingatkan
Dan aku menurutinya, mengangkat tangan dan berdoa dalam hati.
"Selamat Makan" katanya
Kami makan dalam diam dan hanya terdengar suara sendok beradu dengan mangkuk keramik.
"gimana ceritanya sih tadi pagi kamu ke rumahku?" tanyaku penasaran.
Pria di depanku membereskan mangkuk dan peralatan makan lainnya menuju wastafel kemudian mencucinya.
"tadi pagi aku mau bilang kalau beberapa hari ini akan ada suara bising dari rumahku, karena sedang merapikan beberapa furnitur rumah"
"kamu pemilik rumah sebelah?" kataku tekejut karena ia ternyata pemilik baru rumah disampingku dan itu pertanda kami akan menjadi tetangga.
"Iya. Tadi pagi mengetuk rumah kamu, tidak berapa lama suara kunci terbuka dan terdengar seperti ada yang jatuh. Dan benar saja saat membuka pintu, kamu sudah jatuh tersungkur dilantai"
"ah Iya" menyimak penjelasannya
"tensi darah kamu rendah, faktor kecapekan ya?"
Ini tebakan kok bener semua
"kok bisa tau?"
"kebetulan saya dokter" jelasnya membuatku terbelalak
Kok aku seneng kalau yang nolong aku itu dia, dokter pula...
.
.
.
To be Continued
Ayaya