Masih edisi rajin update cerita baru...
Happy Reading
Minggu pagi kamarku sudah bergeliat. Memakai bathrobe kemudian memoles make up senatural mungkin untuk acara hari ini.
Pukul delapan mendapat undangan sebagai pagar ayu dipernikahan sahabatku sejak dibangku SMA dan berlanjut kuliah di satu fakultas yang sama.
Entah sudah berapa kali menjadi bridesmaid ditiap undangan pernikahan.
Dan hari ini adalah kali kedua dan belum lagi nantinya di pernikahan sepupu, anak dari saudara tertua Mami.
Ddrrr ddrrr
Calon pengantin meneleponku
"halo calon Nyonya Dimas Aditya"
"aduh Gue deg degan Na" katanya dengan antusias
"iya wajar sih, yang jadi pengantin" jawabku sambil merapikan blush on
"elo udah siap belum? Awas sampai telat"
"iya, ini bentar lagi selesai make up"
"yaudah Gue tunggu Na, semoga nanti ketemu jodoh di acara nikahan Gue"
Tut...
Kam to the Pret! Seenak jidatnya nutup telepon setelah bicara kayak gitu. Mendengus pelan sebelum beranjak untuk memakai kebaya seragam yang beberapa hari yang lalu dikirim dari butik.
Tepat jam delapan sampai di kompleks Masjid Agung Al Akbar Surabaya yang menjadi tempat akad sekaligus resepsi yang berada di Ballroom Masjid.
Memasuki tempat acara di lantai dua dan disambut salah satu kerabat dari empunya acara setelah melihat kebayanya sama dengan yang digunakan.
"mbak Nana ya?" sapanya ramah
"Iya, saya Nana"
"mari saya antar ke ruangan mbak Mala"
Menganggukkan ajakan seorang wanita muda yang ditaksir umurnya masih dibawahku.
Sesampainya di depan pintu bertuliskan 'Ruang Rias Pengantin Wanita'
"Mbak Mala, ini mbak Nana udah datang" katanya setelah membuka pintu bercat putih didepanku
"Nana" panggil Mala, sahabatku yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya
Tema pernikahan Mala yaitu Jawa klasik dengan gaya rias Solo Putri. Pada mempelai wanita memakai tata rias warna hitam pekat pada dahi. Rambut sang mempelai dimodel ukel besar layaknya bokor mengkureh.
Pada rambut, diletakkan sebuah aksesoris yang disebut melati tibo dodo yang dironce dan dilengkapi dengan hiasan cunduk sisir serta cunduk mentul.
Untuk kebaya, kebaya yang dipakai adalah kebaya panjang klasik bahan beludru warna hitam yang dihiasi benang emas bermotif bunga. Kain batik Sidoasih prada digunakan pada bagian bawah.
Penampilan Mala yang sangat berbeda dan 'manglingi' kalau kata orang jawa bilang.
Selanjutnya Calon pengantin wanita di persilakan menuju tempat berlangsungnya akad yang berada di dalam masjid. Aku mengapit lengan Mala sebelah kiri sedangkan sebelah kanan diapit oleh adiknya.
Setelah sampai ditempat akad dan Mala duduk bersanding dengan Dimas yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Peristiwa semacam ini bukan hal yang baru bagiku karena seringnya diminta menjadi pengiring pengantin.
Acara berlangsung hikmat dan akhirnya sahabatku Mala resmi menyandang gelar sebagai istri dari Dimas Aditya.
Rangkaian acara berikutnya ramah tamah dan mengabadikan momen. Setelah mengambil beberapa gambar kemudian baru terasa lapar karena belum menyentuh makanan sejak tadi pagi.
Menu makanan disini jarang kujumpai karena hampir semuanya jajanan khas solo.
Mengambil surabi notosuman ke dalam piring saji kemudian menyendokkan kedalam mulut. Perpaduan antara manis dan gurih, sangat nikmat.
"Nana?" panggil seseorang di belakangku, reflek menoleh menuju sumber suara
Mataku membulat seketika melihat sosok yang kini berhadapan denganku
"ternyata beneran kamu Na?" katanya memastikan dengan mengulum senyum
Sangat manis, masih sama seperti lima tahun yang lalu ketika terakhir kali bertemu dengannya saat mengucapkan kata pisah.
Tck, rasanya hatiku perlu dikondisikan.
Selanjutnya momen awkward di se-persekian detik.
"apa kabar?" katanya membuka obrolan
"baik, kamu?" menjawab seperlunya dan bertanya sewajarnya
"baik juga" jawabnya singkat "kamu datang sama siapa?"
Ini pertanyaan yang malas untuk kujawab, karena secara tidak langsung aku menjawab dengan penekanan bahwa aku masih sendiri.
"sendirian" jawabku singkat
Detik berikutnya aku undur diri karena melihat dari belakang ada seorang perempuan mengapit lengannya seduktif.
Harus banget ketemu mantan di hari pernikahannya Mala?
Gandhi Hadinata, laki laki yang pernah mengisi hatiku selama dua tahun sebelum kata pisah yang ia sampaikan lima tahun yang lalu.
Aku diputuskannya dengan alasan ia akan melanjutkan studi di luar negeri dan tidak siap dengan hubungan jarak jauh.
Klise sekali.
Sejak saat itu kami benar benar berpisah dan memutuskan komunikasi dengan memblokir semua akun media sosialnya.
Aku baru ingat jika Gandhi adalah sepupu dari Dimas, suaminya Mala. Pantas saja kami bertemu dalam acara ini.
Acara akad dan resepsi dijadikan satu hingga siang hari. Sebagai pagar ayu harus senantiasa stand by selama acara dengan menahan rasa capek dan kaki pegal akibat memakai high heels tujuh senti.
Selesai acara, aku mencari keberadaan Mala kemudian memberikan hadiah kepadanya. Setelah itu segera pamit pulang untuk segera beristirahat.
Keesokan paginya ditempat kerja.
"gak bawa bekal mbak?" kata Intan yang masih setia dengan satu botol air mineralnya.
"gak sempat Tan, maaih capek banget." kataku dengan menyenderkan punggung di kursi.
"kemarin ada acara apa mbak? Kelihatan lesu gitu?"
"jadi pagar ayu di nikahannya Mala"
"tetep ya jobnya jadi bridesmaid" sindir Intan dengan diakhiri kekehannya
"iya, laris banget jadi pendamping pernikahan" lanjutku sekalian menekankan
"sabar mbak, habis ini mbak yang ada dipelaminan kok"
"aku sih santai Tan, gak buru buru. Ada Mas Ilham juga belum nikah"
"siap siap aja kalau Mas Ilham sudah nikah. Pasti gantian mbak Nana yang diteror buat nikah"
"sudah Tan, gak usah memprediksi yang enggak enggak" "aku mau pesan go food. Kamu ikutan gak?"
"gak mbak, masih diet aku"
"pacar kamu tega banget ya? Nyiksa kamu kayak gini"
"dijalani aja mbak"
Menggelengkan kepala dengan jawaban yang keluar dari Intan. Segitunya sama pacarnya, ya kali si cowok oversize dan minta ceweknya gak dibolehin gendut. Kalau aku sih mending gak punya kalau dapat model begituan
Pulang kerja dengan merebahkan tubuh di sofa sambil melepaskan sepatu ke sembarang tempat.
Tubuhku benar benar capek luar biasa, mengerjap berkali kali sepanjang mengemudi mobil dengan menahan kantuk hingga membuat mataku berair. Belum lagi tenggorokan kering dengan sedikit pusing.
Benar saja, keningku terasa panas dan bibirku kering.
Fixed, demam.
.
.
.
To be Continued
Ayaya