Chapter 8

2197 Kata
*Lily POV* Terbangun setelah tidur panjang dan mendapati ada pria tampan di ranjangmu seharusnya membuatmu shock. Tapi bukan itu yang terjadi padaku. Entah kenapa aku malah merasa nyaman dengan kehadiran Wren disisiku. Bahkan setelah meyakinkan kalau dia tidak pergi, aku bisa kembali tidur nyenyak, kali ini dengan memeluk tubuh Wren. Dingin memang, tapi aku nyaman dengan memeluknya seperti ini. Entah sudah berapa jam aku tertidur lagi, tapi yang jelas saat aku bangun, Wren masih tetap disisiku tanpa mengubah posisinya sedikitpun. Dengan otomatis aku menggeser kepalaku ke dadanya dan memeluk pinggangnya. Tubuhnya yang dingin seharusnya menjadi gangguan bagiku, tapi itu bukan masalah bagiku. Yang penting saat ini aku butuh kenyamanan saat bersamanya. “Lily...” Panggil Wren pelan, suaranya yang lembut dan sangat indah menembus alam bawah sadarku. Aku mendongak untuk melihat wajahnya, dan tiba-tiba saja Wren sudah merendahkan kepalanya untuk menciumku. Bibirnya terasa dingin di bibirku. Lembut dan dingin. Tapi, bibir itu menciumku dengan sangat lembut dengan kelaparan tertahan. Kedua tangan Wren meraih pinggangku dan menarikku ke atas tubuhnya. Ini kedua kalinya Wren menciumku dan ciumannya kini berbeda dengan yang dulu. Kali ini bukan ciuman cepat yang menggoda tapi campuran anatara ciuman lembut dan lapar yang memabukkan. Hampir tidak ada kendali diri Wren yang kurasakan dalam ciumannya. Kami terus berciuman hingga akhirnya aku mendorong Wren menjauh untuk mengambil nafas. Kulihat Wren tersenyum dan membuat dekik kecil di pipi kanannya muncul. Tanpa sengaja aku menahan nafasku begitu saja. Dulu dalam hidupku ada seseorang dengan dekik kecil dalam di pipi kirinya yang selalu mengacaukan duniaku dan akhirnya meninggalkanku dalam keadaan hancur. Orang yang membuatku enggan menjalin hubungan dengan pria manapun. Orang yang dulu memiliki arti lebih dari sekedar belahan jiwaku. Ingatan itu membuatku memejamkan mata dan membuat Wren kembali menciumku. Dalam hati aku tahu kalau ciuman ini akan berakhir dengan sesuatu yang lebih intim. Tapi aku tidak peduli, aku membutuhkan Wren saat ini apapun risiko yang nanti akan kuterima tidak lagi kupikirkan. Tangan Wren membelai sekujur tubuhku, membuatku merasakan sensasi aneh berputar di perutku. Dengan perlahan aku bisa merasakan bibir Wren menyusuri leherku dan berhenti cukup lama untuk mengecup lekuk tulang selangka-ku. Dengan tangannya yang profesional, dia mulai membuka baju yang kukenakan tanpa menjauhkan bibirnya dari kulit di pangkal leherku. Dalam sekejap bajuku sudah terbuka, dan saat itulah aku sadar kalau Wren memperhatikan tubuhku dengan gairah membara. “Wren...” Bisikku pelan. Tangan Wren menangkup wajahku, matanya menusuk jiwaku. “Jangan bicara, sayang. Aku ingin menikmatimu. Kau begitu indah.” “Cium aku.” Bisikku entah mendapatkan keberanian darimana. Dan tanpa diminta dua kali, Wren mencium bibirku tanpa terkendali. Bibirnya melumat bibirku dengan kelaparan, lidahnya menyusuri bibir bawahku, menggodaku untuk memberikan jalan lebih jauh. Dan dia mendapatkannya.   *Author POV* Wren sudah berusaha menahan apa yang dia rasakan sejak Lily tidur di pangkuannya. Dan saat Lily bangun dan menatapnya sayu, Wren benar-benar tidak bisa menahan apapun yang dia rasakan. Merasakan Lily adalah satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan saat ini. Dengan kelaparan yang sangat jelas, Wren mulai mencium Lily. Seakan takut gadis itu akan terluka, Wren mulai mengendalikan setiap emosi dan gairahnya. Karena saat emosi menguasai dirinya, taring Wren selalu muncul begitu saja. “Lily...” Panggil Wren lembut di sela-sela ciumannya. Lily sama sekali tidak berusaha menjawab. Baginya ciuman Wren lebih penting daripada sekedar jawaban. Bibir Wren mulai menuruni leher Lily hingga sampai di kerah kemeja linen Lily. Dan dengan cekatan jemari Wren membuka kancing kemeja Lily satu persatu hingga memperlihatkan apa yang selama ini hanya bisa dibayangkan oleh Wren. Seakan menyadari apa yang akan dilakukan Wren, Lily meraih tangan Wren saat vampir tampan itu berhasil membuka kancing terakhir kemejanya. “Wren?” “Jangan bicara, sayang. Aku ingin menikmatimu. Kau begitu indah.” Bisik Wren lembut. “Cium aku.” Bisik Lily pelan. Dan Wren melakukan apa yang diminta oleh Lily. Kecupan ringan di bibir itu berubah menjadi ciuman lapar. Lidah Wren menggoda bibir Lily untuk membuka dan langsung menyusuri rongga mulut Lily dengan lidahnya begitu Lily menyerah dengan godaan kenikmatan itu. Dengan perlahan tapi pasti, Wren membuka kemeja Lily dan melemparkannya begitu saja ke seberang ruangan. Bra dan celana dalam Lily menyusul tidak lama kemudian. Lily tidak tahu bagaimana caranya, yang jelas beberapa menit kemudian dia sudah berbaring dibawah tubuh Wren tanpa sehelai pakaianpun. “Kau cantik, sayang. Kau sangat indah.” Ujar Wren lalu mulai menciumi tubuh Lily dimanapun yang dia inginkan hingga membuat gadis itu berkali-kali mengerang nikmat. Jemari Wren juga ikut menjelajahi tubuh Lily mulai dari leher, p******a gadis itu, membelai setiap lekuk tubuhnya hingga menemukan area paling tersembunyi milik Lily. Wren mengusap daerah itu lembut hingga membuat Lily menahan napasnya. Wren memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali mencium Lily sebelum menjauh dan membuka pakaiannya sendiri hingga kini mereka berdua sama-sama tidak mengenakan pakaian apapun. Lily menatap makhluk lawan jenis di hadapannya. Dalam 24 tahun usianya, Lily baru sekali ini melihat pria dengan tubuh sempurna ada dihadapannya tanpa sehelai pakaianpun, Wrenaknya dewa Yunani. Seakan tubuh Wren adalah permata paling berharga, Lily menyentuh d**a Wren perlahan. “Kau sangat indah.” Bisik Lily tanpa bisa berhenti mengelus tubuh Wren yang telanjang. Menelusuri setiap inchi tubuh vampir itu. Wren membenamkan wajahnya ke rambut Lily yang lebat dan berbisik pelan. “Aku akan membuat ini menjadi lebih panas, sayang.” Dan tanpa mengucapkan apapun lagi Wren menancapkan taringnya di leher Lily. Dia tidak menghisap Darah Lily, hanya membiarkan cairan taringnya masuk ke pembuluh darah Lily dan membuatnya mengerang. Semakin lama Lily dapat merasakan kalau suhu tubuhnya semakin panas dan keinginan untuk bersatu dan merasakan tubuh Wren benar-benar tidak bisa ditahannya lagi. Lily meluncurkan tangannya kebawah hingga menyentuh pangkal paha Wren saat tangan Wren menahan tangannya. “Belum sayang.” Bisik Wren lalu mencium bibir Lily dengan kerakusan yang selama ini selalu ditahannya. Wren memeluk Lily sangat erat, mendekatkan pinggulnya pada pinggul Lily. Membuat Lily terkesiap saat merasakan bukti gairah Wren menyentuhnya. Lily menangkup kepala Wren, dan menahan Wren agar tidak melepaskan ciuman mereka. Lily merasa takjub dengan keberanian yang dia miliki walau belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dengan sangat tiba-tiba Wren menghentikan ciuman mereka dan tersenyum pada Lily, kali ini Wren sama sekali tidak menyembunyikan taringnya. Diraihnya pergelangan tangan Lily dan kembali menggigit Lily. Wren melakukan itu di beberapa tempat lainnya hingga membuat Lily mengerang nikmat hingga berkali-kali. Wren tahu kalau sebagai vampir, dia memiliki kekuatan, kecepatan, bahkan nafsu yang besar. Dan dia benar-benar ingin meraih puncak kenikmatan itu bersama Lily. “Kau siap, sayang?” Tanya Wren lembut. “Sekarang, Wren. Sekarang. Panas ini benar-benar membunuhku.” Desak Lily sambil menarik kepala Wren agar menciumnya. Wren mencium Lily penuh hasrat sebelum merenggangkan kedua paha Lily dengan pahanya dan menyatukan tubuh mereka dalam sekali hujaman, berharap rasa sakit yang timbul pengalaman pertama itu lebih cepat hilang. Lily berteriak kesakitan. Wren terkesiap dengan sensasi yang dia rasakan. Dia tahu kalau Lily masih perawan, tapi Wren tidak pernah menyangka kalau sensasinya benar-benar menakjubkan. Teman tidurnya selama ini tidak pernah seorang gadis perawan, mereka semua gadis-gadis vampir yang menganggap seks hanyalah sekedar pemuas nafsu, sama seperti yang Wren pikirkan. Bahkan Lily adalah manusia pertama yang berhubungan seks dengan Wren. “Tidak akan lama.” Bisik Wren seakan berjanji rasa sakit itu akan segera hilang. Dengan lembut Wren mengecup bibir Lily dan kemudian menyusuri leher Lily dengan lidahnya hingga menemukan puncak tegang di p******a Lily. Lily sendiri tidak pernah menduga kalau sakit akibat hilangnya keperawanan itu bisa dengan sangat cepat digantikan dengan kenikmatan tiada tara seperti yang dia rasakan saat ini. Lily membuka matanya, menatap Wren penuh damba, berharap pria itu segera membawanya kepuncak kenikmatan. Wren mencium Lily lama, sama sekali tidak berniat menggerakkan bagian bawah tubuhnya. Yang Wren pikirkan sekarang hanyalah menghilangkan sakit yang Lily rasakan. “Aku bisa saja memberikan darahku agar sakit itu hilang, Lily. Tapi aku tidak ingin kau melupakannya... Aku ingin kau mengingat saat ini selamanya.” Bisik Wren diantara ciumannya. Lily menahan wajah Wren dan menatap bola mata hijau zamrud itu. “Jangan berhenti.” Ucapnya yakin. Dan seakan memang menunggu perintah itu, Wren mulai bergerak perlahan di dalam tubuh Lily. Membuat mereka berdua sama-sama melupakan perbedaan yang ada diantara mereka. Sama-sama saling menggoda dalam lautan kenikmatan yang mereka ciptakan bersama. Setiap gerakan Wren membawa Lily mendaki hingga ke puncak kenikmatan itu. Dan Lily sudah tidak tahan lagi untuk merasakan kenikmatan itu saat Wren berbisik pelan. “Keluarkan saja, Cherry. Aku ingin melihat wajahmu.” Bisik Wren semakin mempercepat gerakannya dan benar-benar membuat Lily terengah dan berteriak pelan.   *Wren POV* Pertama kalinya aku berhubungan seks dengan manusia, aku benar-benar tidak menduga kalau aku sangat menyukainya seperti ini. Biasanya aku selalu mementingkan kepuasan tubuhku tanpa memperdulikan apakah partner seks-ku juga merasakannya atau malau terlalu lelah melayaniku. Tapi kali ini, melihat wajah Lily saat dia o*****e membuatku tidak memperdulikan diriku. Yang kupikirkan saat itu hanyalah membuat wajah itu semakin b*******h. Lily berbaring miring di sebelahku dengan tangan masih mengelus dadaku. Tangan dan jemarinya yang hangat membuatku benar-benar menyukai sentuhannya. “Wren?” Aku menunduk menatap wajahnya. “Ada apa?” “Ada yang ingin kutanyakan.” “Katakan saja.” “Benarkah kau seorang vampir?” Untuk ketiga kalinya, Lily masih meragukan siapa aku setelah apa yang kulakukan padanya. “Demi keabadianku, Lily. Sulitkah menerima kenyataan kalau aku berbeda? Kalau aku vampir?” “Bukan begitu. Setelah apa yang kita lakukan, kau benar-benar tidak terlihat seperti vampir bagiku.” Tukas Lily dengan wajah sedikit merona. “Apa yang selama ini kupikir hanyalah cerita mistik tiba-tiba menjadi kenyataan. Kau dan teman-temanmu yang vampir. Malaikat... Lalu aku yang kalian bilang setengah malaikat... Semuanya seperti dongeng, Wren.” “Dongeng ataupun legenda itu ada karena ada fakta, Lily. Hanya saja karena mereka tidak pernah melihatnya lagi, mereka menjadikannya sebuah cerita untuk diteruskan dari masa ke masa. Sejak manusia ada, sejak saat itu juga ada yang namanya vampir.”jelasku pelan. “Dan kalau maksudmu adalah berhubungan seks, seluruh kaum kami bahkan sang malaikatpun bisa melakukannya. Aku tidak tahu siapa yang memberikan kami anugrah untuk tetap merasakan kenikmatan itu disepanjang keabadian kami, tapi aku bersyukur karenanya.” Lily menggeleng pelan. “Tetap sulit bagiku. Hidupku yang normal, tenang, dan tanpa adrenalin kini berubah. Dan apakah yang menembak mobil Tim dan mengejar kita itu juga vampir?” “Betul.” “Kenapa mereka mengincar Tim?” Aku mengecup puncak kepala Lily dan memainkan rambut hitamnya di jariku. “Bukan Tim yang mereka incar, Lily. Tapi kau. Kalau kau ingat lagi, malam itu kau dan Tim berada dalam satu garis lurus dari arah si penembak. Salahku karena membuat mereka menyadari kalau kau adalah seseorang yang berarti untukku hingga mereka mengincarmu. Dan sialnya adalah, orang yang diutus adalah vampir dengan kemampuan menembak tepat. Tapi yang tidak mereka perkirakan adalah aku ada disana.” “Vampir juga menggunakan senjata api?” “Apapun yang bisa kami gunakan, akan kami gunakan, sayang. Walau sesungguhnya senjata bagi kaum kami adalah kecepatan, taring, dan kekuatan kami, khususnya aku. Aku sangat menghargai kekuatan alami yang ada pada diriku tanpa harus direpotkan dengan senjata-senjata fisik lainnya. Vampir bukan makhluk yang mudah dilukai atau dibunuh. Senjata apapun yang kami gunakan pasti menggunakan perak. Hanya perak yang bisa memberikan luka berarti untuk kami.” “Tapi malam itu kau hanya menggunakan tangan kosong. Dan kau juga bisa menghentikan peluru-peluru itu seperti film.” Aku hanya tersenyum. Sekali lagi, Lily membandingkan apa yang dilihatnya dengan adegan dalam film. Bagaimana bisa dia hidup seperti ini selama 24 tahun usia manusianya? “Dalam jenis kami, dikenal istilah vampir master, Lily. Semakin tua dan semakin banyak klan yang kami miliki, maka kekuatan kami juga semakin bertambah. Dan aku memang tidak membawa senjata apapun kalau tidak ada ancaman. Akan terlihat aneh kalau aku membawa belati ataupun Beretta saat sedang bekerja, bukan?” “Vampir juga bekerja?” “Tentu saja. Kau kira darimana aku mendapatkan mobil, pakaian dan rumahku?” Lily mengangguk pelan. Seakan mulai memilih untuk mempercayai semua ini. “Lalu kalau memang benar aku memiliki setengah darah malaikat, apa yang akan terjadi padaku?” “Aku ingin sekali berbohong padamu, tapi itu tidak adil untukmu. Semua makhluk yang berdarah campuran manusia akan diburu, Lily. Karena darahmu adalah darah malaikat, maka yang akan memburumu adalah Angels Hunter. Tapi selama segel itu masih utuh, kau akan aman. Bahkan malaikat sekalipun tidak bisa membedakan rasa darah. Kecuali kau terus terluka dan darah mengalir tanpa henti hingga saat tanpa sengaja sang hunter bertemu denganmu, dia bisa mengambil darahmu seperti Navaro dan melihat segel siapa yang ada di dalam darah.” Aku ingin sekali terus bercerita dengan Lily di atas ranjang sambil saling menyentuh seperti ini kalau saja aku tidak merasakan kehadiran makhluk abadi lainnya di sekitar rumah Lily. Sebenarnya itu bisa saja seseorang yang kebetulan lewat, tapi mengingat situasi belakangan ini, aku memutuskan untuk menghentikan aksi saling menyentuh_yang sangat memabukkan_ini dan memeriksa keadaan. “Ada apa?” Tanya Lily begitu aku bangkit dari ranjangnya secepat yang aku bisa dan memakai celana jeansku dengan cepat. “Tidak ada, hanya ingin memeriksa sesuatu.” Jawabku sebelum melesat keluar dari kamar Lily dan beberapa detik kemudian berdiri di jalanan hanya dengan mengenakan celana panjang dan bertelanjang d**a. “Seperti biasa, kau memiliki kemampuan merasakan kehadiran lawan dengan sangat peka, Wren.” Ujar sebuah suara dari balik bayangan pohon di dekat apartemen Lily.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN