Sesosok tubuh muncul. Aura yang tidak sengaja dipancarkan dari tubuhnya sudah pasti menunjukkan kalau dia seorang vampir master, sama sepertiku. Belum lagi kenyataan kalau vampir yang berdiri di hadapanku saat ini adalah seorang pemimpin klan besar. “Apa yang kau lakukan disini, Hector? Ini wilayahku.”
Hector tersenyum. “Aku hanya sedang jalan-jalan saat kurasakan auramu dari bangunan itu, disusul suara kepuasan yang kau keluarkan. Jadi, apa wanita yang bersamamu itu memuji kemampuanmu bercinta seperti biasanya, teman?”
“Itu bukan urusanmu.”
“Maaf kalau aku mencampuri urusanmu, apalagi masalah yang satu itu.” Ujarnya sambil terkekeh pelan. “Tapi aku ingin mengingatkanmu satu hal, Wren. Cartez sangat berarti bagiku. Kehilangannya membuatku sanggup menantang siapapun yang membunuhnya. Aku tidak biasanya menunggu untuk membalas dendam, Wren. Tapi rasanya ini sebanding mengingat apa yang akan kau korbankan untuk menebusnya.” Lanjut Hector tiba-tiba menjadi serius. “Jaga apapun yang kau miliki, Wren, sebelum kau menyesal. Klanmu dan gadismu.”
Hector terlihat serius dengan ucapannya barusan. Dia menatapku tajam sebelum berbalik dan menghilang ditelan gelapnya malam. Dadu sudah dilempar, tantangan di sampaikan langsung ke hadapanku. Kini aku hanya bisa menjawab tantangan itu karena menolaknya berarti menjadikan diriku, klanku, dan lebih buruk lagi, Lily, menjadi buruan klan Hector, Scorpio. Membunuh Cartez kuakui memang kecerobohanku, seharusnya aku memberikannya pada Zac untuk dikirimkan ke Aleandro. Tapi aku tidak pernah membiarkan orang yang menyiksa orang-orangku melihat bulan dengan selamat. Aku masih memiliki sedikit hak untuk membunuh vampir dengan statusku sebagai Vampir hunter. Seluruh daerah harus mulai meningkatkan kewaspadaannya. Dan aku tidak bisa lagi bersantai seperti dulu. Sudah hampir satu abad aku tidak bertarung dan memilih berbaur dengan manusia. Salah satu dari kami harus memberitahu Aleandro dan aku tidak ingin berurusan dengan Aleandro selama aku bisa menghindarinya.
Aleandro jauh lebih menyebalkan daripada Zac.
Saat aku kembali ke kamar Lily, gadis itu sudah tidak ada di tempat tidur. Rasa panik langsung melandaku. Mungkin saja kehadiran Hector hanya pengalih perhatianku untuk menutupi aura vampir lain yang lebih lemah untuk menculik Lily. Tapi kenyataan kalau aku tidak merasakan kehadiran makhluk lain di rumah Lily sedikit meredakan rasa panik itu. “Lily?” Panggilku sambil melangkah menelusuri rumah Lily yang memang tidak terlalu luas itu.
“Ada apa?” Sahut Lily dari arah dapur.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku saat mendapati Lily sedang berkutat dengan bahan makanan di dapurnya yang mungil dan bernuansa putih.
“Aku tidak tahu apakah selain Darah vampir juga bisa mengkonsumsi makanan lain, tapi yang jelas sebagai manusia aku butuh makan setelah apa yang terjadi.” Ujar Lily kembali ke sifatnya semua, pemberontak.
Sifatnya yang seperti ini membuatku tertantang untuk menaklukannya lagi dibawah tubuhku, tapi aku juga suka dengan sifat manisnya saat di ranjang tadi. “Lily, aku harus kembali.”
“Okay, pulanglah.”
“Lily...”
“Apa?”
“Aku harus pulang.”
Lily membalik tubuhnya, satu tangannya masih menggenggam pisau yang digunakannya untuk memotong sosis. “Dan aku menjawab, okay bukan?”
“Bukan itu masalahnya. Sepertinya ada sedikit masalah. Setelah apa yang terjadi beberapa saat lalu, kau mungkin akan berada dalam bahaya.”
“Apa maksudmu, Wren?”
“Bersamaku saja membuat tubuhmu tercium aroma-ku. Apalagi setelah kita berhubungan seks seperti tadi. Aromaku akan menempel di tubuhmu bahkan setelah kau mandi sekalipun. Kami bisa mencium aroma makhluk lain dengan sangat baik, Lily. Dengan aromaku saja sudah membuat musuh-musuhku mengklaimmu sebagai musuh mereka.”
Lily meletakkan pisau dan berjalan mendekatiku. “Katakan secara singkat, Wren. Apa maksud semua ini. Apa kau memasukkanku ke dalam bahaya?”
“Aku mendapat tantangan perebutan klan, Lily. Dan aku harus menjamin semua milikku akan selamat. Meninggalkanmu dengan tanda kepemilikanku hanya akan membuatku masuk dalam neraka. Kau harus selalu bersamaku, setidaknya sampai pertarungan ini berakhir. Dan aku bersumpah tidak akan membawamu mendekati bahaya apapun selama aku bisa menjauhkanmu dari bahaya itu.”
“Aku bukan milik siapa-siapa, Wren! Seks tadi tidak membuatku menjadi milikmu.” Tukas Lily cepat.
“Lalu kenapa kau membiarkanku menjadi yang pertama, Lily?”
Lily menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Aku hanya ingin kau yang melakukannya. Tapi yang jelas, aku tidak ingin diperintah siapapun!”
“Aku tahu. Tapi aku mohon, bekerja samalah. Tidak ada tempat yang lebih aman dari predator alami seperti kami selain bersama sang predator sendiri, Lily. Setidaknya hanya sampai semua masalah ini selesai. Dan kalau aku memenangkannya, kau tidak perlu lagi berhubungan denganku.”
“Sampai kapan, Wren? Kapan pertarungan itu akan berakhir? Dan bagaimana kalau kau kalah? Bukankah kau terlalu percaya diri dengan mengatakan kemenanganmu?”
“b******k!” Umpatku kesal. “Aku tidak tahu sampai kapan, okay? Dan kalau aku kalah, kau tetap bisa bebas tanpaku. Kau bukan bagian dari klanku, jadi kau tidak harus mengikutiku kalau aku kalah dalam pertarungan itu. Dan untuk tambahan, aku belum pernah kalah dalam pertarungan apapun, sayang. Aku selalu ditantang bukan saja karena aku dekat dengan sang nosferatu tapi karena aku juga adalah seorang vampir hunter sampai saat ini. Dan kau akan ikut denganku, tinggal bersamaku selama yang dibutuhkan. Aku tidak ingin perlawanan, Lily.”
“Aku harus bekerja, Wren. Aku punya kehidupanku sendiri. Aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku tersiksa dengan semua kejadian belakangan ini.” Ujar Lily pelan.
Aku mendekatinya dan memeluknya. Mengusap lembut kepala gadis itu. “Aku tahu. Aku tahu kalau kau orang yang tidak suka perubahan. Tapi ini demi keselamatanmu. Aku tidak ingin kau terluka atau tersakiti. Aku bisa gila kalau memikirkan kau terluka karena aku dan aku tidak bisa melindungimu.”
“Kenapa kau peduli padaku? Kita bahkan belum lama kenal. Kau tiba-tiba masuk dalam hidupku.”
“Entahlah. Aku hanya tidak ingin kau terluka karena aku. Aku tidak ingin ada lagi yang terluka karena ketidakmampuanku melindungi seseorang.” Sahutku cepat. “Jadi, apakah kita sudah sepakat? Kau pindah ke tempatku untuk sementara?”
“Aku menolak seperti apapun kau tetap akan membawaku ke tempatmu, bukan?”
Aku mengangguk pelan. Lily hanya mendesah pasrah. “Asal aku tetap bisa bekerja, Wren.”
“Tentu.”
***
*Lily POV*
Seharusnya aku sudah menduga sejak Wren menjawab dengan sangat cepat itu. Tiga hari yang lalu aku pindah sementara ke rumah Wren di Harrow, Acasa Manor. Tempat yang menurut Wren hanyalah sebuah rumah itu lebih mirip kastil menurutku. Tempat itu sangat luas. Dibangun di atas tanah yang aku rasa lebih luas dari lapangan bola, dengan model bangunan dimana di tengahnya terdapat taman yang sangat luas di dalam kubah kaca (aku yakin kalau kacanya anti peluru). Taman itu dipenuhi bunga-bunga yang aku tidak tahu jenisnya apa, selain mawar. Dan barang-barang yang ada didalamnya aku yakin berumur lebih dari seratus tahun.
Aku tidak yakin aku akan sampai dengan selamat kembali ke kamarku tanpa bantuan Wren setiap kalinya. Di halaman belakang terdapat helipad, yang masih kuragukan apa fungsi sebenarnya karena aku sama sekali tidak melihat ada hanggar pesawat di sekitar Acasa Manor. Dan menurut Wren, hanya aku, Wren, dan Alby yang ada di rumah yang memiliki lebih dari 17 kamar itu. Kemudian baru aku sadar kalau rumah Wren ini memiliki kolam renang indoor maupun outdoor.
Dan kini, setiap kali aku pergi ke toko, aku tidak pernah bisa pergi dengan bus ataupun kereta api. Wren berkeras kalau aku harus diantar oleh supirnya_yang ternyata seorang manusia_dan menunggu hingga shift-ku selesai. Dan kalau aku mendapat shift malam, salah seorang anggota klan Wren datang ke rumah dan mengantarku_yang menurut Wren_demi keselamatanku.
“Siapa mereka, Lily?” Tanya Sara saat suatu malam melihatku turun dari salah satu Mercedes Wren dengan diantar oleh Gavriel, seorang vampir tampan yang kini bertugas menjagaku saat Wren tidak bersamaku.
“Sulit kujelaskan.” Jawabku cepat sambil berjalan menuju ruang ganti.
“Belakangan ini kulihat kau selalu diantar dengan orang yang berbeda. Apakah ada yang tidak kau ceritakan padaku? Apa kau sekarang punya kekasih?” Tanya Sara tidak mau menyerah.
Aku menggeleng pelan. “Aku tidak punya kekasih, Sara.”
“Ayolah, Lily. Kau tahu bisa menceritakannya padaku. Aku tidak akan memberitahukannya pada siapapun. Aku berjanji. Kau tidak sedang terlibat masalah, bukan?”
Dan apakah kalau aku mengatakan mereka vampir dan aku setengah malaikat kau akan percaya? Tanyaku dalam hati.
Aku menggeleng pelan. “Aku tidak punya apapun yang harus kuceritakan, Sara.” Jawabku lalu melemparkan senyum termanis yang bisa kuberikan pada Sara sebelum berjalan menuju meja kasir.
Dan seperti malam sebelumnya, kesalahan terbesar Wren menyuruh Gavriel menjagaku adalah lokasi tokoku sangat strategis di tengah kota London dan cukup dekat dengan Sungai Thames hingga banyak sekali gadis-gadis muda yang sedang berjalan-jalan malam terpesona dengan vampir tampan itu. Oh, jangan salah, aku menyukai Gavriel. Dia tampan, baik, dan terkadang lucu. Kalau wajah Wren sedikit manis, maka wajah Gavriel benar-benar apa yang diinginkan wanita ada pada pria. Tapi ada sesuatu pada diri Wren yang tidak dimiliki Gavriel, dan aku tidak tahu apa itu.
Pengunjung toko cukup ramai malam ini. Sara sibuk melayani beberapa pengunjung yang bertanya ini itu saat aku merasakan kehadiran seseorang yang belakangan ini ada dalam hidupku. Aku memang tidak seperti mereka yang bisa saling mengetahui kehadiran lawan bahkan dalam jarak jauh sekalipun, apa yang aku rasakan lebih ke firasat untuk orang terdekat dalam hidupku, dan entah sejak kapan Wren menjadi salah satu dari sedikit orang itu. Dan untuk masalah Wren, itu selalu tepat. Selalu ada yang berubah saat Wren berada dalam jarak tertentu. Entah rasa nyaman atau malah ketakutan tanpa alasan, tapi aku selalu merasakan sesuatu kalau Wren hadir.
Wren melangkah memasuki toko dengan sangat tenang sambil membawa sebuah bungkusan cukup besar dan berhenti tepat di hadapanku. “Aku tidak mengerti apa yang salah dengan masakan wanita tua itu, tapi kau tidak pernah makan sebelum berangkat kerja.” Ujarnya langsung sambil meletakkan bungkusan yang kuduga berisi makanan. “Aku membelinya di restoran China. Aku harap kau menyuaki, karena kalau kau tetap tidak makan, aku akan menyeretmu keluar dan mengantarmu makan dimanapun yang kau inginkan.” Sambungnya kemudian.
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Memastikan kalau kau memakan semua ini.” Dan dengan santainya dia berjalan ke tempat Sara dan entah apa yang dia katakan pada Sara hingga sesekali Sara melihatku dan mengangguk. Dan aku bisa melihat senyum kemenangan terukir di wajah Wren saat Sara berjalan ke arahku.
Sialan.
Apa yang sudah dikatakannya pada Sara?
“Pantas saja belakangan ini aku pikir kalau kau sedikit kurus.” Ujarnya dengan nada yang sudah sangat kukenal. Sara akan mulai mengomel. ”Kalau kau tidak bisa mengurus tubuhmu sendiri, bagaimana bisa kau bekerja, Lily. Berterima kasihlah padanya karena setidaknya dia masih memperhatikan kondisimu. Dan jangan katakan lagi kalau kau tidak punya kekasih. Sudah jelas apa yang dia lakukan padamu adalah bentuk perhatian seorang kekasih. Sekarang, pergilah makan atau lebih baik toko ditutup saja.”
Aku melotot marah pada Wren dan hanya mendapatkan senyum polos dari vampir itu. “Baiklah, tapi sebentar lagi. Toko sedang ramai dan aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.” Putusku kemudian yang aku yakin dapat di dengar dengan sangat jelas oleh Wren karena kemudian dia memilih untuk duduk di kursi tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
Wren duduk diam sambil mengamatiku. Tidak jarang beberapa pengunjung yang terdiri dari remaja perempuan mencuri lihat dan terkadang ada yang berani menggodanya. Siapa yang tidak tergoda pada pria yang mengenakan sweater abu-abu lembut dengan dalaman kaos putih tanpa lengan berleher rendah, duduk layaknya dewa di dalam toko serba ada. Tapi Wren sama sekali tidak bergeming. Dia hanya duduk diam sambil menyilangkan kaki rampingnya yang selalu menarik perhatianku, dengan tangan menyangga dagu lancipnya.
Setengah jam kemudian aku sudah duduk berdua dengan Wren di dalam ruang ganti. Wren berkeras ingin menemaniku makan walau hanya melihat saja. “Kau sudah sehari tidak muncul, dan sekali muncul kau memaksaku untuk makan?” Tanyaku sambil membuka bungkusan yang dibawa Wren dan mendapati kalau isinya adalah makan yang kusukai.
“Maafkan aku. Tapi ada sedikit masalah di Picasa Co dan aku tidak bisa pulang. Apa ini artinya kau merindukanku?” Tanya Wren lembut sambil menggeser kursinya mendekatiku.
“Aku hanya merasa aneh tinggal di rumah yang aku tahu masih ada penghuni lain tapi tidak pernah muncul.” Jawabku berusaha mengabaikan pertanyaan Wren, “Rumah itu terlalu besar untuk diisi hanya dengan tiga orang. Mungkin akan lebih baik kalau Gavriel juga tinggal di rumah itu.”
“Tenang saja, aku tidak akan bepergian lagi. Aku akan menemanimu bahkan walaupun kau tidak ingin melihatku. Aku juga ingin mengajarkan beberapa hal padamu.” Ujar Wren terdengar serius.
“Apa itu?”
Aku benar-benar tertarik mendengar Wren ingin mengajarkan sesuatu padaku. Apa yang menurutnya harus kupelajari sementara dia selama ini nyaris tidak mengizinkanku melakukan apapun tanpa pengawasan.
“Masih rahasia. Tapi aku akan menceritakan perjalananku kemarin kalau kau menghabiskan itu semua.” Ujarnya seolah sedang berhadapan dengan anak kecil. Tapi jujur saja, aku tidak masalah dengan sikapnya ini. Kalau Wren mengatakan akan menceritakan sesuatu, maka percayalah, cerita itu bukan hanya sekedar cerita biasa. Mungkin apa yang Wren ceritakan akan terdengar seperti dongeng bagi mereka yang tidak mengetahui kenyataannya, tapi bagiku itu semua kenyataan yang sangat menakjubkan.
Aku mulai memotong steak yang dibawa Wren saat dia mulai bercerita. Dan kali ini Wren bercerita kalau kemarin dia pergi menemui salah seorang vampir tua yang bertugas sebagai pengawas saat suatu pertempuran terjadi. Menurut Wren, vampir tua itu bahkan jauh lebih menyebalkan dari Zac karena sifatnya yang suka muncul tiba-tiba, menyamar, dan berbagai hal lainnya. Saat itu aku mengira itulah alasan Wren tidak menyukai vampir tua itu. Karena Wren selalu memanggilnya vampir tua, maka aku membayangkan sosok seorang pria tua. Dan tepat saat aku selesai menghabiskan makanan itu, Wren pun selesai menceritakan perjalanannya.
“Sepertinya menarik. Lain kali bolehkah aku ikut denganmu ke tempat vampir itu?” Tanyaku cepat karena aku benar-benar tertarik dengan cerita Wren.
“Kau tidak suka segala sesuatu yang berbahaya, Lily. Kenapa kau ingin pergi? Rumahnya lebih mirip kastil berhantu daripada sebuah rumah. Dia punya selera yang aneh.”
“Sejak bertemu denganmu, aku sudah belajar kalau segala sesuatu yang aneh tidak semuanya berbahaya_sepertimu_dan aku juga sudah bisa menerima kalau perubahan dalam hidupku itu ternyata memang dibutuhkan. Dan aku ingin bertemu orang yang lebih aneh darimu.”
Wren tergelak dan kemudian menarikku mendekatinya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. “Aku berjanji selama bersamaku kau akan merasakan pengalaman yang tidak pernah dimiliki oleh orang lain seumur hidup mereka, termasuk ini.” Bisik Wren lalu mengecup bibirku lama.
Aku membalas ciumannya, tidak peduli pada kenyataan kalau saat ini kami sedang berada di ruang ganti. Ciuman Wren adalah jenis ciuman yang menuntut keaktifan pasangannya, karena Wren selalu tahu bagaimana menuntut balasan. Dan ciuman Wren adalah ciuman yang lebih memabukkan daripada sebotol Bourbon. Wren mulai memasukkan tangannya ke dalam kaos yang kukenakan, dan saat aku berusaha melarangnya, Wren mengambil kesempatan itu untuk menjelajahi mulutku dengan lidahnya.
“Apa yang kalian lakukan?”