Chapter 10

2351 Kata
Aku langsung meletakkan tanganku di d**a Wren dan mendorongnya menjauh walaupun aku enggan. Dan pastinya butuh tekad baja menjauhkan tubuh Wren yang menolak bergeser dari tempatnya dan terus mengecup bibirku. Di pintu Tim berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Ini pertama kalinya raut wajah itu ada disana. Tim yang selalu tersenyum manis kini tanpa ekspresi menatapku. “Apa yang sebenarnya kalian lakukan?” Tanya Tim lagi, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri. “Berciuman, tentu saja. Memangnya apa yang kau lihat?” Tanya Wren ringan lalu berusaha menciumku kembali tapi hanya mengenai pipiku karena aku menghindarinya. “Wren!” Tegurku sambil memukul tangannya yang masih dipinggangku. “Kalau aku tidak datang apa kalian akan berhubungan seks disini?” Tanya Tim dingin, ada rasa jijik tercermin dalam ucapannya. “Kau salah paham, Tim!” Seruku sebelum Wren sempat mengatakan apapun yang hanya akan memperburuk keadaan. “Wren hanya menemaniku makan.” “Beserta dessert ciuman?” Tanya Tim lagi. “Jangan berkata seperti itu di depan seorang perempuan, Tim. Kau terdengar kasar.” Tukas Wren yang entah sejak kapan sudah berdiri dan hanya berjarak satu lengan dari Tim. “Apapun yang Lily lakukan, dan bersama siapa, aku pikir itu bukan urusanmu. Seingatku Lily bukan kekasihmu. Jadi kau tidak berhak bicara seperti itu padanya. Dan jelas sekarang bukan abad ke-18 dimana setiap wanita harus memiliki pendamping.” “Dan kau pikir kau berhak?” Balas Tim tidak kalah dingin. Wren maju selangkah, kini mereka berdiri berhadapan. Secara fisik, Tim mungkin lebih tinggi dan sedikit lebih besar dari Wren. Tapi bukan berarti Wren-lah pihak yang akan terintimidasi, mengingat siapa Wren sebenarnya. Dan tiba-tiba aku menyadari apa yang bisa dilakukan Wren pada Tim. Secepat yang aku bisa, aku bergegas menghampiri Wren dan menggenggam tangannya. “Jangan, Wren.” Ujarku pelan. Tim menyadari genggaman tanganku pada Wren. “Aku sudah memperingatkanmu, Lily. Wren memiliki banyak kekasih. Dan kalau kau memilihnya, suatu saat nanti kau yang akan terluka, dia akan meninggalkanmu tanpa sekalipun melihat padamu seperti yang selalu dilakukannya pada kekasihnya yang lain selama ini. Pikirkan kembali itu.” Ujarnya kering lalu pergi begitu saja. “Dia gila?” Tanya Wren begitu saja saat Tim sudah tidak terlihat. “Berapa kali aku harus mengatakan kalau aku tidak punya kekasih?” Tanya Wren terdengar frustasi. “Siapa yang tahu. Dengan apa yang kau miliki, bukan tidak mungkin kalau ternyata ada antrian panjang dalam daftar kekasihmu.” Balasku sengaja membuat Wren semakin kesal. “Kalau kau teruskan itu, Lily, aku bersumpah akan menidurimu disini sekarang juga.” Geram Wren sedikit menunjukkan taringnya. “Jangan coba-coba, Wren.” Ucapku cepat lalu bergegas keluar dari ruang ganti dan kembali ke meja kasir. Wren berjalan santai di belakangku sambil terkekeh pelan_yang aku tahu karena dia memang suka mengerjaiku. Tapi tiba-tiba raut wajahnya yang sedetik lalu penuh senyum kini tanpa ekspresi. Dengan cepat Wren menarikku dari meja kasir dan keluar dari toko. Wren langsung mendorongku ke arah Gavriel_yang dengan sigap_langsung memelukku. “Bawa dia pergi dari sini. Sekarang!” “Tidak! Wren! Lepaskan aku!” Teriakku sambil memberontak, menggapai, berusaha untuk lepas dari pelukan Gavriel, tapi semuanya hanya sia-sia. Gavriel langsung mendorongku dengan kuat masuk ke dalam mobil dan sebelum aku sempat meraih gagang pintu, Gavriel sudah duduk di belakang kemudi dan mengunci pintu. “Wren!” Teriakku lagi tanpa hasil pada Wren yang kini sudah berlari dengan sangat cepat ke mobilnya dan menjauh dari kami. Gavriel langsung menyalakan mesin dan pergi dari toko ke arah berlawanan dengan kepergian Wren. “Ada apa, Gavriel? Apa yang terjadi?” “Tidak ada. Kenakan saja sabuk pengamanmu.” Jawabnya datar, dan ini pertama kalinya Gavriel menjawab sesingkat ini. “Jangan bohong padaku! Wren tidak akan mungkin meninggalkanku begitu saja padamu kalau tidak ada masalah! Katakan padaku!” “Aku benar-benar tidak tahu, Lily. Wren memiliki indera yang jauh lebih peka dari kami. Wren bahkan bisa merasakan kehadiran makhluk abadi lainnya dalam jarak beberapa kilometer saat yang lain belum menyadarinya.” Jelas Gavriel sambil terus mengemudikan mobil menuju rumah. “Karena itu tidak semua orang berani berhadapan satu lawan satu dengan Wren. Dia hunter, dan seluruh inderanya sudah terlatih untuk mengetahui keberadaan musuh.” Saat mobil memasuki Acasa Manor aku mendengar suara helikopter diatas rumah dan menghilang di balik rumah Wren. Jadi itu gunanya helipad disana. Tapi siapa yang datang dengan helikopter itu? Begitu mobil berhenti, aku langsung keluar dan berlari ke dalam rumah untuk melihat siapa yang datang. Di pintu belakang menuju helipad, Alby sedang bersama seorang wanita mungil yang sangat cantik menurutku. Tidak jauh dari wanita itu berdiri seseorang dengan wajah paling manis yang pernah kulihat, sesaat aku yakin kalau dia seorang perempuan, tapi setelah kuperhatikan ternyata dia seorang laki-laki. Dan sepertinya wanita itu menyadari kehadiranku karena dia langsung berjalan melewati Alby dan menghampiriku. Menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Lily Russell.” Ucapnya pelan dengan intonasi yang khas. “Kau mengenalku?” Tanyaku spontan. Aku sama sekali tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Wanita itu sedikit lebih tinggi dariku, tapi dia memiliki wajah yang sangat menawan. Dengan rambut pirangnya yang dipotong pendek, membuat wajahnya jauh dari kata dewasa. Sebagai sesama wanita saja aku mengakui kalau wanita di depanku saat ini sangat cantik. Hidungnya mancung, pipinya penuh tanpa kesan gemuk sedikitpun. “Dimana Wren? Wren tidak pernah sekalipun membiarkan orangnya atau siapapun menjemputku. Selalu dia yang menyambutku.” Tanya wanita itu dalam jarak yang lebih dekat, dan aku bisa melihat kalau iris matanya sama dengan Wren. Hijau zamrud. Jadi dia juga vampir? Dan sialnya, sepertinya dia punya hubungan dekat dengan Wren. “Wren pergi. Aku tidak tahu dia kemana. Dia hanya melemparku pada Gavriel dan pergi begitu saja. Dan tidak ada seorangpun yang ingin bersusah payah memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya.” Gerutuku kesal dengan apa yang terjadi. Wanita itu berbalik cepat dan menghampiri Alby hanya dalam beberapa langkah cepat. “Dimana Wren?” Serunya. Dan jelas ada nada tidak suka dalam setiap kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu. Alby hanya diam, vampir tampan dengan senyum mematikan  itu hanya memandang ke arah tempatku muncul tadi. “Dia sedang dalam perjalanan kesini. Kurang dari lima menit dia akan sampai mengingat kecepatan mobilnya lebih dari 100 km/jam.” Ujar Alby ringan, tapi beberapa detik kemudian wajahnya berubah. “Jemput Wren sekarang juga! Dia diserang!” Seru Alby kuat dan langsung melesat pergi entah kemana begitu juga bersama wanita pria manis itu. Sedangkan Gavriel hanya berdiri diam tidak jauh dariku. “Kenapa kau tidak pergi? Wren dalam bahaya.” “Aku diperintahkan untuk menjagamu. Wren akan memenggalku kalau aku meninggalkanmu sendirian.” Ujar Gavriel santai. “Apa rumah ini aman?” “Sangat aman.” “Lalu apa yang kau takutkan? Pergi bantu Wren atau aku yang pergi kesana?” Gavriel terlihat berpikir sejenak, “Berjanjilah kau tidak keluar selangkahpun dari rumah ini.” Aku mengangguk setuju. Gavriel-pun mengangguk pasrah dan kemudian melesat keluar rumah.   *Wren POV* Aku benar-benar tidak menyangka kalau Hector memulai teror dengan mengirimkan rombongan kecil vampir baru di tengah kota London! Bagaimana bisa dia melakukan itu! Vampir baru memiliki kekuatan yang tidak bisa diperkirakan dan rasa haus mereka sangat mengerikan! Untung ada Geofrey di dekat sana sedang patroli_yang membantuku membereskan sampah-sampah itu. Kalau tidak entah berapa lama aku baru bisa kembali ke rumah untuk menemui Lily. Dia pasti kaget karena kulemparkan begitu saja pada Gavriel. Perjalanan ke Harrow yang biasanya 20 menit, kini hanya 10 menit waktu yang kubutuhkan untuk sampai di jalan masuk menuju rumahku. Tapi lagi-lagi gangguan itu muncul. Terkutuklah mereka karena mengikutiku sampai kesini. Aku merasakan sekelompok vampir baru datang dari kedua sisi jalan. Kalau aku terus melaju ke Acasa Manor, maka mereka akan menemukan rumahku. Apalagi 100m dari sini adalah segel rumahku, kalau mereka masuk bersamaan denganku, segel itu akan menerima mereka, menganggap mereka bagian dari rumahku. Aku tidak bisa mengambil risiko itu, tidak selama Lily ada di rumah. Mereka sampai disini saja sudah membuatku cukup takjub. Aku menghentikan mobil di tengah jalan. Tidak akan ada pengendara lain pada jam seperti ini di sini. Ini jalan satu-satunya menuju Acasa Manor. Aku menyelipkan dua bilah belati di sepatu bootku sebelum keluar dari mobil. Sejak Hector mengajukan tantangan itu, aku selalu membawa beberapa senjata kemanapun aku pergi. Oh, jangan salah! Aku sangat percaya dengan kecepatan dan kekuatanku. Hanya saja, tidak ada salahnya berjaga-jaga karena aku tidak ingin mati sebelum pertarungan. Gerakan-gerakan cepat di kedua sisi jalan semakin dekat. Secara kasar aku kira mereka lebih dari 20 vampir baru. Aku sudah siap melawan vampir pertama yang muncul saat aku merasakan kehadiran seseorang yang sangat kukenali auranya. Elysia sudah datang, dia sedang mendekat. Pertarungan malam ini akan semakin seru karena Elysia sangat suka bermain dengan vampir baru dan Elysia membawa seseorang yang tidak bisa diremehkan sama sekali mengingat wajah dan tubuhnya yang sangat tidak sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Aku melempar belati pada vampir pertama yang mendekatiku dan tepat mengenai jantungnya. Aku melompat ke atas vampir itu untuk memutar belati sebelum mencabutnya dan melakukan hal yang sama ke vampir lainnya. Untuk kecepatan, aku selalu unggul dibanding vampir manapun yang pernah kutemui, apalagi untuk vampir baru seperti mereka. Aku sudah menghabisi tiga vampir saat jumlah kelompok vampir dari seberang sisi jalan semakin berkurang dengan cepat. “Jangan terlalu bersemangat, Elysia.” Teriakku yang langsung dijawab dengan gelak tawa renyah seorang wanita. Kali ini aku bertarung benar-benar hanya menggunakan fisik dan kecepatanku. Aku tidak ingin menggunakan kekuatan telekinetisku karena itu menguras banyak tenaga sementara aku sama sekali belum berburu sejak dari toko Lily. Aku baru akan menghabisi vampir ke-7 saat Gavriel muncul dan membantuku. Dia tersenyum dan kemudian mulai menghabisi vampir baru itu satu persatu dengan belati perak. Aku bersyukur mereka datang membantuku, tapi tiba-tiba kesadaran itu menghantam kepalaku. Kalau Gavriel disini, lalu siapa yang menjaga Lily? “Dimana Lily, Gavriel?” Seruku sambil terus menghindari serangan dari vampir-vampir yang tersisa. Gavriel terkejut dengan pertanyaanku hingga dia nyaris terkena serangan kalau saja belati perakku tidak lebih dulu menancap di jantung vampir itu. “Dia di rumah!” Sahutnya cepat lalu memutar belati itu sebelum melemparkannya kembali padaku. “Kau meninggalkannya sendirian?” Tanyaku lagi. “Ya. Dia aman disana!” Sialan! Kita sama sekali tidak tahu musuh apa lagi yang datang malam ini! Meninggalkan Lily sendirian di rumah? Jelas bukan pilihan yang akan aku ambil. Segel itu hanya untuk menghalangi vampir lain masuk ke dalam wilayah pribadiku, tapi tidak dengan malaikat! Kalau dari tadi aku hanya menggunakan satu belati, maka sekarang aku menggunakan dua belati. Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini dan memastikan Lily selamat di rumah. Perhatianku yang sempat teralihkan oleh keinginan kembali ke rumah secepat mungkin membuatku tidak memperhatikan musuh yang bergerak dengan cepat. Auranya tertutupi oleh para vampir baru itu. Dan dia berhasil melesat ke arahku dan menancapkan belati perak di sisi kiri perutku. Cukup jauh dari jantung karena sepertinya dia salah mengincar jantungku. Sialan! Perak cair! Dia tidak peduli terkena bagian mana karena belatinya dilumuri perak cair. Darah mengucur deras dari tempat belati perak itu tertanam. Gerakanku terhenti. Penyerangku sudah lari dan semakin jauh. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku memaksa mengumpulkan tenaga yang tersisa untuk menggunakan kekuatan telekinetisku dan melemparkan belati perak milikku ke arah si penyerang. Belati itu berhasil tertancap di punggungnya. Kekuatan telekinetisku melemah, tidak berhasil menjangkau vampir itu untuk memutar belati di punggungnya. Tapi dalam sekejap, teriakan-teriakan kesakitan mulai memenuhi malam. Aku memperhatikan vampir yang baru saja roboh di dekatku. Sehelai bulu putih menancap di jantungnya. Aku langsung menatap langit gelap diatasku. Sesosok tubuh turun dengan sangat anggun. Kedua sayap putihnya terbentang lebar. Hanya malaikat yang membunuh vampir dengan menggunakan bulu mereka yang sama mematikannya dengan perak. Navaro berlutut disebelahku. “Aku sudah memperingatkanmu.” Ucapnya dingin lalu dengan kekuatannya, dia menahan agar Darah tidak lagi keluar dari tubuhku saat dia menarik belati itu. “Dan aku memilih menghadapi masa depanku.” Balasku ringan. “Terima kasih teman.” Ucapku tulus sambil memegangi sisi kiri tubuhku dan berdiri. “Aku akan membawamu ke Dragoste Hall.” Putusnya begitu saja, dan bahkan sebelum aku sempat menjawab apapun, dia sudah memegang lenganku dan membawaku terbang bersamanya. “Acasa Manor. Dan jangan memprotes.” Bisikku pelan. Malaikat itu menatapku kesal. Tapi dia sama sekali tidak memprotesku. Navaro baru melepaskanku begitu kami menginjakkan kaki di halaman tengah. Saat terbang bersama Navaro akan selalu terkesan dramatis karena pada akhirnya, dia adalah sang malaikat. Efek tusukan belati itu akhirnya muncul. Aku berani bersumpah demi seluruh keabadianku kalau belati itu sudah dilumuri perak cair sebelum ditusukkan padaku. Terkutuklah mereka menggunakan cara licik seperti itu. Perak cair bahkan lebih mematikan daripada sekedar senjata perak. Luka yang seharusnya sudah tertutup berkat kekuatan Navaro itu tetap terbuka dan masih mengeluarkan darah. Tapi bukan itu yang harus kupikirkan. Yang harus kupikirkan saat ini adalah Lily. Dimana dia? Aku berjalan terhuyung memasuki rumah saat sebuah tangan menahan lenganku. Aku menatap orang itu. Wajah pucat Lily-lah yang ada disana. “Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka?” Tanya gadis itu terdengar cemas. “Sedikit terluka karena aku tahu kalau kau sendirian di rumah ini.” Jawabku berusaha tersenyum walau sisi kiri tubuhnya sangat sakit. “Bisakah kau memperdulikan keadaanmu sedikit saja, Wren? Karena lukamu sama sekali tidak mau menutup, aku pikir belati itu dilumuri perak cair.” Ujar Navaro dingin. “Dan kalau kau memang mencemaskannya bawa dia ke kamarnya sekarang agar aku bisa mengeluarkan perak cair itu dari dalam tubuhnya.” Sambung Navaro yang kali ini ditujukan pada Lily.   Setengah jam kemudian aku sudah berbaring di ranjangku dengan perut diperban keliling oleh Lily. Hanya tiga orang di dunia ini yang bisa membantuku mengeluarkan perak cair dalam tubuhku, pertama masterku, kedua grandmaster-ku, dan Navaro. Pilihan pertama dan pilihan kedua tidak ada disini saat ini. Jadi hanya Navaro yang bisa membantuku mengeluarkan barang sialan itu dari dalam tubuhku. “Kau sudah baikan?” Tanya Lily yang hanya kepalanya saja terlihat dari balik pintu, sepertinya dia takut mengganggu istirahat-ku. Aku mengangguk pelan lalu tersenyum pada wanita mungil itu. “Masuklah. Aku lebih suka kau berada disini bersamaku daripada kau berdiri disana.” Ujarku sambil menepuk tempat kosong di sebelahku. Lily kemudian melangkah masuk ke kamarku dan duduk di pinggir ranjang di dekat kakiku. “Apa yang terjadi?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN