Chapter 11

1901 Kata
“Sedikit serangan dan sedikit perbuatan licik.” Jawabku cepat. “Jangan tanyakan itu sekarang, sayang. Aku merindukanmu. Tidak bisakah kau memberikanku ciuman setelah apa yang terjadi hari ini?” Tanyaku sambil berusaha duduk dan bersandar di kepala tempat tidur. Wanita itu terlihat ragu sejenak sebelum dia bergeser dan mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mengecup bibirku sekilas. “Itu bukan ciuman, Lily.” Tegurku cepat. “Itu ciuman!” Balas Lily keras kepala. Aku menggeleng pelan, “Itu bukan ciuman antara pria dan wanita. Yang dinamakan ciuman adalah seperti ini.” Bisikku pelan lalu menyelipkan tanganku ke belakang lehernya dan mengecup bibirnya lama. Menggoda sudut-sudut bibirnya dengan lidahku. Lily terlihat akan memprotes tindakanku, dan aku mengambil kesempatan itu untuk menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya. Menggoda lidahnya hingga membuat Lily kehabisan napas. “Itu baru ciuman, sayang.” Ujarku begitu aku menghentikan ciuman kami dan menggenggam tangannya. Napas Lily masih tidak beraturan saat pintu kamarku menjeblak terbuka dan Elysia menghambur masuk dan langsung memeluk dan mencium bibirku. “Sialan, Gavriel. Dia mengatakan kalau kau sedang istirahat. Kalau aku tahu kau sudah bangun, aku sudah dari tadi disini bersamamu.” Sembur Elysia yang sepertinya tidak berniat melepaskan pelukannya padaku. “Aku senang kau memperhatikanku, Elysia. Tapi tolong lepaskan aku. Sepertinya kondisiku tidak terlalu baik untuk kau peluk terus seperti ini.” Bisikku pelan dan saat itu kusadari kalau Lily berusaha melepas genggaman tanganku, tapi tidak akan kubiarkan itu terjadi. Elysia akhirnya melepas pelukannya walaupun enggan, protes terpancar jelas dimatanya saat menatapku. “Aku rasa kalian sudah berkenalan, bukan?” Tanyaku sambil menatap Lily dan Elysia bergantian. Lily menggeleng, sedangkan Elysia sama sekali tidak ada reaksi. “Dia Elysia, partnerku. Sikapnya terkadang menyebalkan, tapi dia baik.” Ujarku sesaat kemudian. “Aku ingin bicara denganmu, Wren.” Sela Elysia. “Nanti Elysia. Ada hal yang ingin kubicarakan berdua dengan Lily. Dan jangan mencoba mencuri dengar karena kau akan membencinya.” Dan aku langsung bisa merasakan aura permusuhan yang dipancarkan oleh Elysia pada Lily saat itu juga. Setelah membereskan beberapa hal dengan Lily, aku memang harus bicara dengan Elysia. Dia harus tahu apa posisinya. Dia tidak bisa bersikap seperti ini terus hanya karena dia adalah vampir pertama milikku. “Kenapa dia yang kau suruh pergi? Padahal aku yang sebenarnya ingin pergi.” Aku menggeleng cepat. “Kita bahkan belum selesai bicara. Bagaimana bisa kau pergi?” “Memangnya apa yang kita bicarakan?” Aku tersenyum dan langsung menciumnya dengan kerakusan yang bahkan tidak pernah kusadari ada pada diriku. Aku menarik Lily agar berbaring di ranjang dan menghimpit sebelah tubuhnya dengan tubuhku sendiri. Kami terus berciuman hingga Lily memaksa menghentikan ciumanku hanya untuk mengambil nafas. Aku mulai menciumi lehernya hingga ke pangkal lehernya yang terbuka. Jemariku sibuk membuka bajunya lalu menyentuh payudaranya yang penuh. Entah sejak kapan aku jadi pemuja p******a wanita. Tapi yang jelas aku memuja p******a Lily. Lily hanya mendesah pelan setiap kali aku menyentuh p******a dengan ujung lidahku. Kedua tangan Lily mengelus punggung dan sesekali mencengkram rambutku. Aku kembali mencium Lily saat tangannya meluncur ke bagian bawah tubuhku. Berusaha membuka kancing celanaku. Kalau terakhir kali aku menahannya, maka kali ini aku membiarkannya menyentuh tubuhku dimanapun yang dia inginkan. Aku terkesiap saat Lily berhasil membuka celana dan menyentuhkan tangannya ke bukti gairahku. “Kau bisa membunuhku, sayang.” Geramku berusaha mengumpulkan akal sehatku setiap kali dia menyentuhku. Aku tidak pernah menyangka kalau aku sangat mudah terangsang hanya saat bersama dengan Lily. Aku menggeram dan menggigit bahu Lily saat gadis itu memainkan jemarinya disana agar aku tidak langsung menyatukan tubuh kami. Kalau semua musuhku baru bisa membunuhku dengan perak, maka Lily hanya membutuhkan tangannya di tempat yang tepat untuk membuatku mati menanti kenikmatan itu. “Lily... Kalau kau ingin membunuhku, maka lakukan sekarang. Aku benar-benar tidak tahan lagi.” Geramku di leher Lily. “Lakukan sekarang, Wren. Aku menginginkanmu.” Bisik Lily lembut dan aku sama sekali tidak menundanya lagi. Sudah cukup aku menahannya dari tadi. Aku menyelimuti Lily dengan tubuhku dan mengambil posisi diantara kedua kakinya sebelum aku menghujamkan diriku ke dalam tubuhnya. Kali pertama aku masih menahan diri karena dia begitu halus dan sangat rentan. Rasanya menahan diri saat kau berada diambang kenikmatan benar-benar bisa membunuh. Dan kali inipun aku ingin melakukannya dengan lembut, tapi apa yang Lily lakukan sedetik berikutnya berhasil melenyapkan akal sehatku. Kedua kakinya dilingkarkan di pinggulku, menarikku agar semakin dekat dan semakin dalam. Sesaat kudengar suara Lily terkesiap tapi wanita itu malah mengetatkan pelukan kakinya di pinggangku. “Kau menghancurkanku, cinta.” Bisikku serak lalu mulai bergerak perlahan. Lily menyentuhkan tangannya dimanapun yang dia inginkan dan membuatku benar-benar gila. Sentuhannya tidak terlalu berani, hanya sentuhan coba-coba yang begitu singkat tapi sanggup meninggalkan panas membara dikulitku. Dan aksinya itu membuatku semakin mempercepat gerakanku, melupakan kalau kekuatanku sangat berbeda dengan Lily yang seorang manusia. Dan dalam dua jam kemudian aku tidak tahu ada tempat lain di kamar ini yang belum kami coba untuk melakukannya dalam berbagai posisi.   Lily menyentuh perban di perutku dan menatapku ingin tahu. “Apakah ini tidak sakit? Kau bergerak begitu banyak tadi.” Tanya Lily lembut. Aku menarik tangannya dan mengecup telapak tangan itu. “Vampir punya kekuatan yang tidak bisa kau bayangkan, sayang. Dan untukmu, apalagi demi semua kenikmatan itu, aku tidak peduli kalau aku harus mati sekalipun.” “Kau terlalu berlebihan.” Ujarnya dengan wajah merona malu. Aku tidak bisa menahan tawaku lalu menariknya ke atas tubuhku agar aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. “Kau terlalu meremehkan dirimu sayang.” Bisikku pelan lalu mengecup bibirnya. “Aku ingin sekali menikmati ranjang ini sekali lagi bersamamu, tapi aku sudah berjanji untuk mengajarkanmu sesuatu. Jadi kita tidak bisa menundanya lagi apalagi setelah semua kejadian hari ini.” Dengan satu gerakan ringan aku mengangkat Lily hingga kedua kakinya menapak ke lantai sebelum aku ikut berdiri. “Walau aku memuja tubuhmu, Lily, tapi aku tidak ingin ada orang lain yang melihatnya, jadi kenakan kembali pakaianmu sebelum kita turun untuk melihat seperti apa pelajaran barumu.” Ujarku saat menyadari kalau Lily berdiri telanjang dihadapanku saat ini dan aku hampir tidak sempat menyembunyikan betapa aku kembali b*******h hanya dengan melihat Lily seperti itu. Lagi-lagi wajah Lily memerah. Aku kembali tertawa melihatnya. Bagaimana mungkin seorang wanita yang beberapa menit lalu bercinta dengan panas bersamaku di ranjang masih bisa tersipu malu saat aku menggodanya seperti itu? Tapi itulah yang kusuka darinya. Yang kusuka? Benarkah aku menyukai Lily? Bukan hanya obsesiku semata untuk melindunginya atau penasaran dengan jati dirinya???? Aku tidak berani memikirkannya. Dengan enggan aku berjalan ke ruang ganti dan mengambil pakaianku. Aku sempat bercermin sebelum mengenakan baju. Dan ada sesuatu yang membuatku sangat amat terkejut. Aku melihat diriku sendiri di cermin, tapi aku tahu kalau aku yang sekarang bukan lagi aku yang dulu. Saat itulah aku tahu masa depanku sudah berubah.   Satu jam kemudian Lily sudah basah oleh keringat. Tapi walaupun begitu dia murid yang jenius. Aku hanya mengajarkannya menembak sekali dan dia sudah bisa membidik sasaran dengan tepat dalam waktu satu jam. “Aku tidak percaya aku bisa melakukannya.” Bisik Lily sambil menatap revolver di tangannya. “Aku juga tidak menyangka kau bisa belajar dengan cepat.” Balasku. “Tapi masih ada yang ingin kuajarkan padamu, Lily. Makhluk abadi, khususnya vampir bergerak lebih cepat dari manusia. Revolver ini tidak selamanya berguna, setidaknya kau juga harus bisa menggunakan belati saat penyerangmu berada dalam jarak serang.” Lily meletakkan revolver yang sudah kuganti pelurunya dengan peluru biasa di atas meja nakas kecil disebelahnya. “Kenapa kau mengajarkan semua ini padaku, Wren? Apa hidupku benar-benar akan berubah setelah ini?” “Aku tidak tahu, Lily. Vampir tidak memiliki kemampuan meramal masa depan, walau beberapa vampir tua memilikinya. Yang aku tahu adalah kau harus bisa melindungi dirimu sendiri saat aku tidak ada_walau sejujurnya aku tidak ingin jauh darimu.” “Bukankah semua akan selesai setelah kau dan Hector bertarung?” “Tidak semudah itu, Lily. Kau lihat apa yang terjadi kemarin malam? Aku tidak peduli kalau aku yang mereka serang, aku lebih dari mampu melindungi diriku sendiri. Tapi kau?” “Aku memiliki setengah darah malaikat, dan itu melindungiku.” “Tidak lagi, Lily. Segel perlindunganmu yang satu itu menghilang setelah memastikan penghisap darah yang menyentuhmu pertama kali tewas. Tidakkah kau merasakannya setiap kali kita bercinta? Aku menggigitmu tapi aku baik-baik saja. Segel itu sudah tidak melindungimu lagi. Hanya dirimu sendirilah kini yang bisa melindungimu.” “Dia tidak harus belajar semua ini kalau segel lainnya dilepas, Wren.” Ujar Navaro yang entah sejak kapan sudah bersandar dipintu ruang tembakku. “Segel lain?” Tanya Lily bingung. “Kekuatanmu tersegel di dalam darahmu, perempuan. Dan hanya darah makhluk abadi yang bisa melepas segel itu.” Jelas Navaro datar sambil menatap Lily dan aku bergantian. “Semua ini harus kau hentikan dulu, Wren. Vampirmu sepertinya sedang berada dalam suasana hati yang buruk dan aku benci harus berada dalam satu tempat dengan vampir yang sedang kesal.” Sambung Navaro. “Bagaimana caranya supaya segel itu terlepas?” Tanya Lily cepat bahkan sebelum aku sempat mengatakan apapun. “Kau benar-benar ingin melepas segel itu walau kemungkinan kau diburu oleh Angels Hunter sangat besar?” Tanya Navaro datar.             “Lily.” Panggilku berusaha mengingatkan apa kemungkinan kalau Lily tetap memaksa ingin melepas segel kekuatannya.             “Aku hanya ingin tahu bagaimana caranya. Aku juga tidak berniat mempertaruhkan hidupku untuk hal-hal yang berbahaya.” Balas Lily datar.             “Segelmu dibuat untuk melindungimu setidaknya dari penghisap darah karena merekalah makhluk abadi yang sanggup melepas segel itu. Kalau darahmu awalnya bisa membunuh mereka maka darah merekalah yang bisa melepas segel itu saat bercampur dengan darahmu.” Ujar Navaro datar.             Lily menggeleng pelan. “Bisakah kau menjelaskannya dengan lebih jelas?”             “Lucifer memberikan segel kedua pada darahmu dengan harapan saat penghisap darah menghisap darahmu dan berniat menjadikanmu salah satu dari mereka, maka vampire itu akan tewas. Tapi ada keadaan khusus dimana kau harus menghisap Darah vampire yang menggigitmu untuk dapat berubah menjadi vampire. Pada saat itulah segelmu akan terlepas.”             “Oke!” Tukasku sebelum Lily sempat bertanya apapun lagi. “Sudah cukup sampai disini. Kita akan kembali ke atas. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan Elysia denganku.” Lanjutku sambil menarik tangan Lily pergi menjauhi Navaro. Untuk pertama kalinya, aku merasa cemburu melihat Lily menanggapi Navaro dengan antusias. Dan saat itulah aku sadar kalau rasa terbakar yang kurasakan di bahu kiriku sejak turun dari ranjang semakin jelas. Tanpa melihatnya pun aku sudah tahu. Aku tidak lagi sendiri saat ini dan seterusnya. Apa yang muncul di bahu kiriku saat ini adalah bukti kalau apa yang selama ini selalu kuhindari tak lagi bisa kuhindari.             “Apa Angels Hunter itu berbahaya, Wren?” Tanya Lily saat kami menyusuri koridor menuju ruang duduk.             “Bahkan vampire hunter yang seorang manusia saja cukup berbahaya apalagi seorang malaikat.” Jawabku sebisa mungkin menyembunyikan kekesalan dalam suaraku.             “Aku tidak peduli apa yang kalian lakukan tapi jangan pernah mengacuhkanku karena manusia ini.” Sembur Elysia bahkan saat aku baru saja membuka pintu. “Dan kau! Jangan pernah merasa bangga karena Wren tidur denganmu! Dia hanya suka bersenang-senang dan kau hanyalah hiburan untuknya. Sebentar lagi kau juga akan dibuang olehnya. Wren tidak akan pernah bisa bersama seseorang, dia hanya bisa bersamaku. Dan kau hanya hiburan!” Sembur Elysia yang kali ini ditujukan pada Lily.             Dan aku sudah memutuskan kalau Elysia sudah berbuat terlalu berlebihan. Dengan sengaja_walaupun aku tahu itu akan membebani tubuhku_aku melepas kekuatan telekinetisku dan melemparkan Elysia ke dinding hingga menghancurkan lukisan-lukisan kuno yang terpajang di dinding.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN