Bab 4: Pertemuan Tak Terduga✔
***
Pagi-pagi sekali Emily sudah bangun karena teringat tentang hari ini. Ya, hari di mana perilisan kartun favorit secara official. Pukul setengah tujuh, keadaan rumah masih sangat sepi. Bahkan dia tidak menemukan kakaknya di dapur. Pasti masih tidur, pikirnya.
Mendadak Emily bimbang. Pertama, kalau dia nekat pergi tanpa pamit, kemungkinan besar akan dimarahi oleh Evaldo. Kedua, dia tidak tega membangunkan pria itu. Pasti butuh istirahat cukup setelah seharian bekerja kemarin. Jadi, apa yang harus dia lakukan?
Emily putuskan menuju dapur. Menuliskan catatan di secarik kertas, lalu ditempelkan pada pintu kulkas. Emily terdiam sebentar. Berpikir tidak sebaiknya ditempel di kulkas, bagaimana kalau diletakkan di nakas kamar? Emily menyabut memo itu. Meremasnya dan dilempar ke tong sampah.
Masih pagi sudah dibuat bingung, Emily berkacak pinggang. "Ya ampun. Hal seperti ini saja membuatku pusing." Butuh segelas air mineral, dia berjinjit membuka kabinet di atas kepalanya dengan satu tangan menggapai-gapai gelas di sana. Untuk kali ini dia mengeluhkan posisi kabinet yang terlalu tinggi baginya. Sehingga dia harus mengerahkan sedikit tenaga, lumayan merepotkan. Ketika itu tangan yang lebih besar terjulur mengambil gelas dengan mudah. Emily terpaku. Lalu berbalik. Tepat seperti yang dia harapkan, Evaldo bangun dengan sendirinya tanpa harus dia usik.
"Tumben sekali bangun sepagi ini," komentar Evaldo. Pria itu mengenakan kaos putih polos dengan celana pendek hitam selutut. Menuangkan air mineral ke gelas untuk kemudian disodorkan pada Emily.
Gadis itu menerima gelasnya. Meneguk airnya hingga setengah habis. Evaldo melihat wajah yang terbebani. Merasa heran, pria ini bertanya. "Sepertinya ada yang ingin kau katakan." Emily belum menjawab. Dia sedang berpikir. "Mm, begini, ini tentang hari ini," ucap Emily. Kesulitan menjelaskan.
Evaldo mengangkat tubuh Emily dengan begitu ringan, lalu mendudukkannya ke meja dapur sementara dia berdiri di hadapan. "Apakah tentang bolos sekolah untuk pergi ke toko kartun hari ini?" tebak Evaldo. Dia masih ingat dengan jelas pembahasan rencana Emily kemarin pagi.
Emily mengangguk. "Ya..." Ragu. Sebenarnya mau bertemu dengan si L itu. Setelah bergelut dengan pikirannya, Emily menjawab mantap. "Aku ingin pergi ke pusat kota hari ini. Tapi, aku tak mau mengganggu kakak bekerja. Jadi, biarkan aku sendiri mencari barang yang ingin kubeli sementara kakak kembali ke kantor."
"Tidak boleh, sayang." Mutlak. Evaldo mendekat saat menumpukan kedua telapak tangannya di kedua sisi lutut Emily. "Kau tidak pernah mengganggu pekerjaanku. Pergi bersamaku atau tidak sama sekali." Hanya sejengkal lima jari jarak wajahnya dari Emily. Gadis itu terpaku. Merasakan tatapan dalam Evaldo. Seolah-olah dirinya tenggelam di mata itu dan lupa akan dunia di sekitar.
Lain hal bila Evaldo yang kini sedang berusaha keras menahan kegilaan sisi lainnya agar tidak mengalami kejadian seperti kemarin pagi. Berada di dekat Emily merupakan godaan terbesar yang akan membangkitkan gairah seksualnya kapan saja. Evaldo masih waras dan berakal terhadap gejolak perasaan panas ini. Sampai-sampai harus bergulat melawan konflik batin serta akal sehatnya. Antara mewujudkan dorongan napsu atau menahan siksaan diri sendiri. Namun, Evaldo tetap memajukan wajahnya perlahan-lahan. Dan sentuhan ringan menekan bibir Emily singkat. Berbahaya andaikata dia menciumnya terlalu lama.
Gadis itu sedikit tersentak. Matanya mengerjap cepat. Lalu menatap kakaknya. "Apa yang kau lamunkan? Aku menunggu jawabanmu, sayang," kata Evaldo menempelkan dahi mereka.
"Baiklah, aku akan pergi dengan kakak," pungkas Emily melebarkan senyum. Jika tidak dibeli hari ini, maka besok dia sudah kehabisan barang official.
"Kita akan pergi jam sembilan," tandas Evaldo seraya menarik diri dan beralih membuka kulkas. Mengeluarkan bahan makanan dari dalam.
"Okey!" Waktu yang pas saat pertokoan buka.
***
Seperti yang sudah diduga, pusat pertokoan kartun dijejali banyak orang dari beragam ras. Panggilan telepon membuat Evaldo berhenti sejenak untuk mengeceknya, sementara Emily terus berjalan perlahan memasuki rak berisi deretan miniatur tokoh anime. Mata Emily berbinar-binar. Ingin rasanya dia memborong semua isi rak di sini.
Merasakan ponselnya bergetar, Emily mengeluarkan benda mahal itu dari saku mantel. Sebuah pesan masuk dari L terpampang. Pesan itu berisi: aku berharap dapat bertemu denganmu. Kini aku berada di pertokoan anime.
Emily mengetik balasan. Kedua ibu jarinya bergerak lincah dan cepat. Dia membalas: aku berada di dalam toko anime.
'Benarkah? Kau memakai baju apa?'
'Mantel krem, dan berada di rak 1 miniatur anime.'
"Emily?"
Seseorang memanggil. Emily menoleh ke asal suara. Tepat di depannya seorang pemuda berdiri menyapanya. Emily sangat mengenali wajah rupawan pemuda itu. Bahkan namanya. Teman sekelas. Bertemu dengannya di tempat ini merupakan pertemuan tak terduga. Itu artinya mereka sama-sama sedang absen sekolah.
"Kau ada di sini juga?" Nada setengah tidak percaya terlontar dari suaranya. Seakan melihat Emily absen sekolah adalah hal yang mengherankan. Emily jadi malu sendiri. Dirinya merasa tertangkap basah bagaikan dipergoki guru saat bolos sekolah.
"Yah, kurasa. Apa yang kau lakukan di sini?" Emily kikuk sebenarnya. Tapi dia berusaha untuk terlihat luwes dan bersikap normal.
"Aku ingin bertemu dengan teman online-ku. Apa kau melihat seorang perempuan memakai mantel krem di sekitar rak ini?" Pandangan pemuda itu berpendar mencari ke depan di mana didominasi oleh pengunjung laki-laki.
Emily merasa janggal. Dia berpikir dan merangkai semuanya di otak. Hingga menemukan suatu kesimpulan, mereka tertegun. Lalu dengan perlahan mengarahkan tatapan pada satu orang di depan. Baik Emily maupun pemuda itu saling menatap dengan perkiraan yang tak pasti dipikiran mereka.
"Hanya kau gadis yang memiliki ciri-ciri mirip dengan teman online-ku. Apa kau adalah pemilik nama Alexis?" tebak pemuda itu.
"Dan, kau, L?" balas Emily ragu-ragu.
Mereka tercengang. Pemuda itu terbahak. "Aku tak menyangka bahwa yang chatingan denganku adalah dirimu," ucapnya masih tak percaya.
Berbeda dengan Emily yang justru termenung sedih. "Kau pasti kecewa---" Dia berkata dengan pelan, tapi langsung dipotong oleh respon cepat pemuda di depannya.
"Aku senang akhirnya dapat kesempatan berbicara denganmu dan bertemu dengan tak dikira seperti ini." Dia bersemringah. Wajahnya kian tampak ceria. Tanpa menyadari telah memotong kalimat Emily tadi.
"Emily, apa kau sudah memilih mana yang ingin kau beli?" Suara Evaldo menengahi pertemuan kedua anak muda itu. Evaldo telah kembali pada Emily usai menutup teleponnya. Sedetik bertanya, Evaldo sadar akan kehadiran orang lain di hadapan gadis itu. Atensinya bergeser ke sisi kanan dan menemukan seorang pemuda berambut blonde. Seketika benak Evaldo terganggu. Dia kesal tiba-tiba.
"Kalian saling kenal?" tanya Evaldo. Mengerutkan dahi. Dalam sekejap ekspresinya berubah tak menyenangkan. Entah mengapa perasaan Emily jadi tidak enak sekarang.
***