Bab 3 - Gadis Kesayangan

1090 Kata
*** Bab 3: Gadis Kesayangan✔ *** Kelihaian Emily dalam memainkan karakter game-nya yang membawa mereka pada level berikutnya, serta gaya kalimat Emily selama chatingan sehingga memberi kesan tersendiri, membuat si L tertarik untuk bertemu setelah tahu gadis itu tinggal satu kota dengannya. 'Dunia begitu sempit ternyata.' Emily membalas pesannya. Mereka sama-sama tinggal di kota New York. Tetapi, ada konflik batin dari diri Emily. Dia ragu untuk bertemu orang asing. Mungkin saja setelah ketemu langsung, dia malah jadi canggung. Dan semua keakraban di pesan online akan lenyap seketika saat bertemu nanti. Oh itu wajar, Emily. 'Bagaimana kalau kita bertemu besok? Besok ada perilisan barang original anime dipusat kota. Pasti akan ramai oleh kelompok otaku.' Si L mengusulkan. Waktunya bertepatan sekali dengan niat Emily. Bahkan dia sudah merencakan bolos sehari untuk esok hari. 'Aku tak bisa berjanji apa pun.' Mengakhiri percakapan, Emily offline tiba-tiba. Dia cukup berhati-hati mendapat ajakan temu dengan orang yang tak diketahui rupanya. Bimbang. Di satu sisi dia ingin mengiyakan, di sisi lain dia ragu. Terutama saat mengingat Evaldo selalu melarangnya pergi keluar rumah sendirian. Alasannya klise. Kasus penculikan meningkat. Evaldo khawatir Emily diculik, begitu. Tapi Emily merasa, dia bukan anak kecil yang harus dijaga keluarganya. Maka, Emily menyusun rencana untuk esok pagi tentang cara agar dia bisa keluar rumah sendirian, diizinkan atau tanpa ketahuan sang kakak. *** Hari semakin gelap ketika langit sore digulung awan mendung. Evaldo belum menunjukkan tanda tiba di rumah. Sepi terasa di setiap sudut rumah besar mereka. Penghuninya saat ini hanya satu, Emily. Dia setia menetap di kamarnya. Keluar kamar hanya mengambil makanan dan minum, selebihnya mengurung diri bersama tumpukan komiknya yang sedang dia baca sekarang. Satu jam, dua jam berlalu, Emily sudah keluar masuk kamar sebanyak sembilan kali sambil mengambil minum hanya untuk mengecek apakah kakaknya sudah pulang atau belum. Tapi ternyata mobil pria itu belum terparkir di garasi rumah. Katanya akan pulang cepat, nyatanya dia melanggar ucapannya sendiri. Emily jadi sedih menunggu tanpa kabar di sini. Sadar bahwa dia mengharapkan Evaldo datang. Karenanya, dia kehilangan minat untuk melanjutkan bacaan. Dengan lemas Emily memegangi perut. Tidak ada makanan yang mengenyangkan di dapur. Apalagi camilan. Berapa lama lagi dia menunggu Evaldo? Dia butuh Evaldo untuk memasak atau pun membawa makanan dari luar. Akhirnya, Emily meraih ponsel. Mengetikkan kata-kata sebelum dikirim pada nomor Evaldo. Di saat yang sama, Emily mendengar deru halus mesin mobil di pekarangan rumah. Buru-buru Emily keluar kamar. Mengira Evaldo pulang. Dia menuruni anak tangga dengan cepat. Lalu sedikit berlari membuka pintu utama. Dan perawakan tegap Evaldo terlihat baru saja menutup mobilnya. Evaldo tersenyum lembut ketika berhenti di hadapan Emily. "Menungguku, sayang?" sapa Evaldo. Memegang pipi gadis itu dengan pandangan meneduhkan. Muka Emily langsung muram. "Kakak tidak menepati ucapanmu tadi pagi!" tuding Emily sebal. Mengerucutkan bibir, cemberut. Lalu menyentak tangan Evaldo dari pipinya, dan dia berbalik ke dalam rumah. Berderap menjauhi pria itu. Melihat gadis itu merajuk, Evaldo mengukir senyum maklum sambil menutup pintu. Dia mengendurkan dasi tanpa berpaling dari punggung adiknya, menaruh tas kerja di sofa terdekat sembari melangkah lebar menyusul Emily yang hendak menuju anak tangga. Sesaat Emily merasakan tubuhnya terhuyung mundur, dan dalam satu hentakan, tubuh besar Evaldo mendekapnya erat dari belakang. Emily tertegun. "Jangan marah. Kau jadi terlihat imut," bisik Evaldo. "Kau mengesalkan, kak!" protes Emily sambil berontak dari kekangan tubuh kekar kakaknya. Sia-sia. Evaldo tak berniat melepaskan dekapannya. "Maafkan aku." Dua kata dari bibir pria ini berhasil membuat Emily berhenti memberontak. Emily terdiam. Perlahan-lahan pelukan kedua lengan Evaldo melonggar. Kemudian Emily memutar badan dan menatap tepat ke mata kelam Evaldo. Diamatinya guratan wajah sang kakak yang selalu terlihat tampan meski pulang kerja. Dibalik wajah baik-baik saja itu, pasti menyembunyikan lelah usai bekerja seharian. Emily berpikir, tidak seharusnya dia marah pada kakaknya, mengerti bahwa pria ini telah bekerja keras di luar. "Apa kakak lelah?" tanya Emily melunak. Memandang iba saat telapak tangan itu menyentuh pipi kakaknya. "Ya, aku lelah jika tidak melihatmu." Digenggamnya tangan mulus Emily di pipinya. *** Di luar rumah sedang hujan deras. Beruntung tanpa petir dan guntur menyambar-nyambar. Sehingga pasangan kakak beradik Xander dapat dengan nyaman merapatkan diri di sofa sambil menonton televisi. Satu tangan Evaldo memainkan helai rambut Emily yang terurai panjang, di mana gadis itu tampak setengah berbaring memeluk manja pada tubuh kakaknya. Sebuah drama komedi sedang diputar di layar kaca. Hanya suara televisi dan hujan dari luar, selama beberapa menit tenang hingga dering ponsel mengalihkan perhatian mereka. Ponsel milik Evaldo di meja tampak menyala dengan tampilan pemanggil. Evaldo menggapainya. "Panggilan video call dari ibu," ujar Evaldo membaca kontak. "Benarkah?" Emily bangun dengan antusias. Lantas ikon telepon hijau ditekan Evaldo dan segera wajah wanita paruh baya memenuhi touchscreen. "Halo, bu!" sapa Emily riang. "Emily, sayangku, apa kabar?" sahut ibunya. "Aku rindu ibu! Kapan ibu dan ayah akan pulang?" "Ibu tidak bisa menentukannya. Evaldo, apa kau membuatkan makanan yang bergizi untuk Emily?" alih wanita itu pada putera sulungnya. "Tentu saja, bu. Dia selalu menghabiskan makanannya," jawab Evaldo sambil melirik Emily. Belum puas mengobrol dengan ibu, Emily membawa tangan Evaldo yang menggenggam ponsel ke arahnya. "Ibu, di mana ayah? Aku kangen ayah juga..." rengek Emily. "Ayahmu sedang ada pertemuan. Di sini masih siang menjelang sore. Bagaimana di tempat kalian?" kata ibu. "Di sini pukul sembilan, dan sedang hujan, bu!" Wanita berusia hampir setengah abad di sana melirik ke sekitar lalu kembali menatap layar. "Emily, sudah dulu ya. Ibu harus kembali bekerja," pamitnya. "Yaah, aku masih ingin mengobrol dengan ibu lebih lama lagi," rengek Emily memanyunkan bibir. Ibunya tertawa ringan. "Kita sambung lagi di lain waktu. Kalian jangan bertengkar ya selama ditinggal orang tua." "Iya, bu! Bye-bye!" Panggilan video berakhir. Emily menoleh. "Aku rindu mereka. Bisakah kita menyusul mereka ke sana?" ujarnya memohon. Terhitung enam bulan mereka berpisah dari orang tua. "Mungkin nanti. Aku harus menyelesaikan pekerjaan di sini dulu." Evaldo tidak dapat memberi janji. "Kapan kakak tidak sibuk?" "Mmm, mungkin beberapa minggu lagi begitu produk baru kita dipasarkan," jawab Evaldo setelah berpikir memperkirakan waktu. "Masih lama, ya?" kecewa Emily. Lalu dia beralih kepada layar televisi. Tontonan komedi tidak terasa membosankan ketika lambat laun dia mengantuk. Matanya yang sudah sayu, perlahan tertutup sepenuhnya dan dia tertidur di d**a bidang sang kakak. Untuk beberapa menit menyadari Emily terlalu tenang, Evaldo baru tahu adiknya sudah tertidur. Dengan gerakan hati-hati dia menggendong Emily seperti memeluk bayi. Membuka pintu kamarnya, Evaldo membaringkan adik perempuannya pelan-pelan. Dipandangnya wajah terlelap Emily, tatapan iris gelap itu meneduh penuh makna -yang didominasi sorot kasih sayang tak berdasar. Usai menarik selimut ke tubuh Emily, Evaldo mencium dahi adiknya dengan sayang. "Selamat tidur, sayangku." *** Ig: elgacasteliaderinata
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN