Part 4

1796 Kata
Hari ini adalah hari terakhir batas waktu pengajuan design untuk kontes yang diadakan Chandra Khan Group. Mereka akan mengadakan sebuah acara penutupan pukul sebelas siang. Suasana di salah satu ruang pameran yang ada di gedung empat puluh tiga lantai itu nampak ramai. Beberapa orang sibuk kesana kemari melakukan berbagai hal mulai dari menata kudapan dan minuman di meja panjang, merapikan kursi-kursi, mengecek sound system dan lain sebagainya. Dua jam lagi acara akan dimulai dan mereka tidak ingin ada kesalahan karena tentu akan fatal akibatnya. Sementara itu sebuah mobil mewah baru saja berhenti di depan lobi gedung itu. Harris Chandra Khan keluar setelah pintu dibukakan oleh seorang pengawal. Lelaki berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam itu menunduk hormat pada sang atasan yang memancarkan aura dan kharisma yang mampu membuat orang-orang otomatis patuh. Saat baru saja melewati meja resepsionis, terdengar suara derap langkah sepatu yang menggema di telinganya. Ia berusaha mengabaikan suara yang terasa mengganggu pendengarannya itu dan terus melangkah menuju lift. Tapi ia tiba-tiba berhenti sambil memejamkan mata berusaha mengendalikan dirinya. Raffi yang menyadari hal itu segera berbalik untuk mencari tahu siapa gerangan yang melupakan salah satu aturan penting di gedung ini. "Ma..maaf, saya.. saya mau menyerahkan design untuk.. kontes.. yang diadakan perusahaan.. ini. Masih bisa kan?" Suara seorang perempuan yang terdengar tersengal-sengal itu membuat Harris mengernyitkan kening. Ia membuka matanya dan membalikkan badan. Ia melihat di depan meja resepsionis ada seseorang dengan rambut pendek pixie cut mengenakan kemeja flannel merah dan celana kargo khaki serta sneaker merah. Sejenak Harris terdiam mengamati. Hanya ada dua orang perempuan di sana, resepsionis dan orang yang berdiri di depannya membawa sebuah tabung gambar. Ia tahu persis suara resepsionisnya. Tapi ia ragu untuk menyimpulkan bahwa suara yang baru saja ia dengar itu adalah milik orang berkemeja flannel merah. Apakah dia sungguh seorang perempuan, batin Harris. Sementara Raffi yang sudah sampai di depan meja resepsionis juga mengernyitkan kening menatap seseorang yang bisa ia pastikan bukanlah salah satu karyawan di perusahaan itu. Seorang security yang tadi mengejar dan menegur pun menunduk dan diam. "Ada apa ini?" Tanya Raffi sambil menatap sang resepsionis. Belum sempat wanita yang rambutnya digelung rapi itu menjawab, si tersangka yang menimbulkan keributan terlebih dulu angkat suara. "Maaf. Saya terburu-buru hendak menyerahkan design saya untuk kontes yang diadakan perusahaan ini. Saya sungguh takut jika sampai terlambat. Karena itulah saya berlari. Sekali lagi saya minta maaf. Saya belum terlambat bukan?" Sejenak Raffi terpaku menatap sosok di hadapannya itu. Cukup manis, batin Raffi. Tapi ia sempat sedikit terkecoh karena sekilas sosok itu terlihat seperti seorang laki-laki karena potongan rambut dan penampilannya. Andai ia tadi tak sedikit melirik ke bawah, mungkin ia tak akan tahu kalau orang itu adalah seorang perempuan. "Berikan formulirnya dan beri tahu peraturan yang harus dipatuhi jika ia ingin menginjakkan kakinya lagi di gedung ini." Raffi agak terkejut mendengar suara itu dari arah belakangnya. Ia pikir atasannya itu sudah naik ke ruangannya terlebih dahulu. Begitu pula dengan gadis berkemeja flannel itu, ia cukup terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari seorang laki-laki yang ia nilai dari penampilannya bisa dipastikan adalah orang yang cukup berpengaruh di sini. Maka ia pun berusaha menunjukkan rasa terima kasihnya dengan sebuah senyum setulus mungkin. "Ba..baik Tuan." Jawab sang resepsionis gugup. "Kontes design apa yang Anda ingin ikuti, Nona?" "Dua-duanya. Tolong beri saya dua macam formulir." Jawab gadis itu penuh keyakinan. "Apa? Anda serius?" "Ya. Tentu saja." "Baiklah Nona. Ini untuk kontes design furnitur dan lembar ini untuk kontes rancang bangun cottage-nya. Anda bisa mengisinya di kursi sebelah sana setelah itu berikan pada saya lagi beserta gambar designnya." "Terima kasih." Pembicaraan resepsionis dan gadis itu ternyata masih dapat terdengar oleh Harris dan Raffi sesaat sebelum mereka memasuki lift. Hingga sampai di ruangannya, Harris masih bertanya-tanya. Apakah gadis yang ia lihat tadi akan mengikuti dua kontes atas namanya sendiri ataukah salah satunya atas nama orang lain. Karena peraturannya memang peserta tidak wajib mendaftar sendiri secara langsung. Bahkan peserta atas nama korporasi pun diperkenankan. Tapi andai dua kontes itu atas namanya sendiri, maka bisa jadi gadis itu adalah seorang multitalenta yang berbakat. Harris menjadi semakin penasaran ingin segera melihat seperti apa karya gadis itu. "Raffi, turun dan lihatlah apakah gadis itu masih di lobi. Aku ingin dia ikut menghadiri acara penutupan nanti." "Baik, Tuan." Jawab Raffi singkat meski sebenarnya ia tak tahu apa alasan bosnya menginginkan gadis itu ikut acara penutupan yang sebenarnya hanya akan dihadiri kalangan intern perusahaan, itu pun para petinggi saja, dan beberapa wartawan. Ia pikir suasana hati pria dingin itu masih buruk karena kejadian di lobi beberapa saat lalu. Tapi siapa sangka, sang bos justru seakan tertarik dan ingin segera bertemu lagi dengan gadis urakan itu. Raffi merasa lemas seketika mendapati gadis itu tak ada lagi di lobi. Resepsionis mengatakan bahwa setelah mengisi formulir dengan cepat dan menyerahkan gambar designnya, gadis itu menanyakan dimana dia bisa mendapatkan makanan enak di sekitar gedung Chandra Khan Group. "Lalu, tempat apa yang kau rekomendasikan? Di sekitar sini banyak sekali restoran dan cafe." Raffi bertanya dengan tak sabar. "Saya merekomendasikan La Chapelle, Tuan. Itu yang pertama kali terpikirkan karena Tuan Harris sering booking tempat dan memesan makanan dari sana." "Baiklah. Apa formulir dan gambarnya sudah kau serahkan pada tim kurasi?" "Belum Tuan. Saya baru saja akan ke sana ketika Tuan datang." "Serahkan padaku. Biar aku yang membawanya." Raffi segera bergegas kembali ke ruangan Harris. Sebelumnya, ia memerintahkan seorang pengawal bawahannya untuk memastikan keberadaan gadis yang telah ia ketahui bernama Renjana Saga itu di La Chapelle dan beberapa restoran serta cafe terdekat. Ia tentu tidak ingin mendapatkan masalah dengan tidak memperoleh informasi apapun mengenai gadis itu. "Bagaimana?" "Maaf, Tuan. Gadis itu telah pergi ketika saya sampai di lobi. Tapi saya sudah memerintahkan beberapa orang untuk memastikan keberadaannya di sekitar sini. Ini formulir pendaftarannya? Apa saya perlu menyelidiki gadis itu lebih lanjut?" Harris membaca salinan formulir yang diserahkan asistennya itu. "Renjana Saga? Nama yang bagus." Tak lama kemudian ponsel Raffi bergetar. Diangkatnya segera setelah melihat siapa yang menghubunginya. Seorang anak buahnya menginformasikan bahwa gadis yang ia maksud benar sedang berada di restoran La Chapelle. "Gadis itu saat ini sedang berada di La Chapelle, Tuan." "La Chapelle?" "Benar, Tuan. Setelah menyerahkan formulir dan gambar designnya, gadis itu menanyakan pada resepsionis dimana ia bisa mendapatkan makanan enak di sekitar sini. Resepsionis itu merekomendasikan La Chapelle. Apa Anda benar ingin gadis itu hadir di acara penutupan nanti, Tuan? Maaf, tapi bukankah acara nanti hanya untuk intern perusahaan?" Harris nampak termenung sesaat. Entah bagaimana bisa ia melupakan satu hal itu. Sepertinya pikirannya kurang fokus pagi ini, batinnya. "Kau benar. Lupakan saja. Kau bisa pergi sekarang." Setelah Raffi pergi, pikiran Harris masih dipenuhi bayangan gadis itu. Renjana Saga, nama itu ia ucapkan berulang-kali dalam hati. Suaranya terus menggema dalam kepalanya. Ia tak tahu mengapa, tapi gadis itu seakan memiliki daya tarik tersendiri yang berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini selalu berusaha mendekatinya. Ditambah lagi, ia merasa cukup familiar dengan suara itu. Entah bagaimana bisa. Ia mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah mendengarnya. Apakah ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya tapi melupakan wajahnya dan hanya mengingat suaranya, ataukah itu hanya perasaannya saja. Bisa jadi bahwa suara itu hanya mirip dengan suara seseorang yang ia kenal bukan, Harris terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sungguh tak seperti biasanya ia merasa cukup terganggu dengan hal sepele semacam ini, apalagi berkaitan dengan perempuan. Selama ini ia tak acuh pada apapun yang berkaitan dengan makhluk yang satu itu. Yang ada di pikirannya hanyalah bisnis dan bisnis. Sekalipun ada wanita yang masuk dalam pikirannya, itu hanyalah neneknya seorang dan almarhum sang ibu, tak ada yang lain. Bahkan seorang Adelia Williams, si model cantik dan artis yang tengah melejit kariernya itu pun tak mampu mengusik Harris sedikit pun meski telah berbagai upaya dilakukannya. Bagaimana mungkin gadis dengan penampilan biasa dan tomboy itu justru membuat Harris terus memikirkannya. Harris benar-benar tidak mengerti. Sekali lagi ia membaca salinan formulir gadis itu. Renjana Saga. Harris menatap foto di sudut kiri atas lembaran itu. Wajah gadis itu sebenarnya cukup manis. Bentuk wajahnya oval dengan dagu runcing, matanya lebar, alis melengkung seperti bulan sabit dan jelas asli, hidung runcing dan perbandingan bibir atas dan bawah yang pas, 2:3, bentuk yang ideal menurut Harris. Oh, s**t! Kenapa melihat bibir itu membuatku ingin merasakannya. Harris mengumpat dalam hati. Ia berdiri dari kursi kebesarannya. Ia lalu melepas jas dan melonggarkan dasinya. Tiba-tiba ia merasa seolah tercekik dan sangat gerah meski air conditioner sudah diatur ke suhu terendah. Lelaki yang memiliki darah campuran India dari kakeknya itu sebenarnya harus bekerja sekarang. Ada beberapa proposal yang harus ia pelajari secepatnya tapi ia merasa enggan. Seorang Harris Chandra Khan yang workaholic pertama kali dalam hidupnya mengalami hal itu. Entah berapa lama ia telah berdiri menatap keluar jendela hingga tak sadar seseorang telah masuk ke ruangannya. Raganya ada di sana tapi entah kemana jiwanya. "Harris!" Sebuah suara disertai tepukan di bahunya membuatnya terperanjat dan seketika menoleh ke belakang. "Nenek?" "Ada apa, Sayang? Apa yang begitu menganggu pikiranmu sampai berkali-kali nenek panggil kau tak dengar?" "Ah, benarkah? Maaf. Bukan apa-apa. Mari kita duduk dan minum teh." Mereka pun lalu duduk berdampingan di sofa. "Kenapa Nenek datang lebih awal?" "Nenek hanya kesepian. Apalagi Nenek tidak bisa melupakan hari ini adalah tepat tujuh tahun kepergian ayah dan ibumu. Berada di rumah hanya membuat nenek semakin merindukan mereka." Latifa menunduk menyembunyikan raut kesedihan yang sebenarnya akan tetap terlihat di mata Harris. Tangan yang telah keriput dan lemah itu menggenggam erat jari-jemari sang cucu satu-satunya itu. "Kau adalah satu-satunya yang nenek miliki sekarang, Harris. Andai kau tak disibukkan dengan urusan perusahaan, tentu nenek hanya ingin menghabiskan waktu denganmu sampai nenek menutup mata. Tapi nenek sadar, meneruskan bisnis ini adalah impianmu. Jadi, tidakkah kau berpikir untuk segera memberi nenek cucu supaya nenek tidak lagi merasa kesepian di usia senja ini?" Lagi-lagi hal itu. Satu pembahasan yang ingin selalu dihindari oleh Harris. Bagaimana ia akan memberi neneknya seorang cucu jika tak ada wanita yang bisa menarik perhatiannya. Kecuali gadis itu tentunya, Renjana Saga. Tapi gila rasanya jika ia memutuskan perasaan aneh yang muncul ketika ia melihat gadis itu adalah sebuah ketertarikan dalam arti laki-laki terhadap perempuan. Bukankah ia baru melihatnya satu kali, rasanya kesimpulan itu terlalu cepat, pikir Harris. Tapi sisi lain dirinya mengatakan untuk mencari tahu lebih mendalam perihal gadis itu. Entah mengapa. Mungkin ia akan meminta Raffi untuk melakukannya nanti. Atau ia cukup berharap saja bahwa karya gadis itu cukup bagus untuk bisa menang kontes sehingga ia tak perlu repot-repot mencari alasan untuk bertemu kembali dengannya dan memastikan perasaan aneh yang muncul ketika melihatnya. Harris yang biasanya begitu cepat dan cermat menilai serta memutuskan sesuatu tanpa ragu, kali ini seolah menjadi lamban dan kebingungan. Hanya karena seorang gadis bernama Renjana Saga. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN