bc

CEO TAMPAN DAN TUKANG KAYU CANTIK

book_age18+
3.6K
IKUTI
22.7K
BACA
family
brave
CEO
drama
sweet
bxg
office/work place
first love
Writing Academy
affair
like
intro-logo
Uraian

Harris Chandra Khan adalah seorang CEO sebuah grup perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, properti dan ritel furnitur terbesar di Asia. Selain kekayaan dan kepiawaiannya dalam berbisnis, sosoknya yang tampan, tinggi, dan tubuh yang kekar sudah pasti mampu memikat lawan jenis. Tapi sifatnya yang dingin dan selalu memasang wajah tanpa ekspresi memancarkan aura mengintimidasi yang membuat para wanita harus berpikir berulangkali ketika mendekatinya.

Tak ada yang tahu seperti apa kepribadian sesungguhnya yang ia sembunyikan di balik kedinginannya, juga rahasia besar yang selalu menghantuinya. Tapi yang jelas, ia sangat menyayangi sang nenek, satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.

Ia lalu dipertemukan dengan Renjana Saga, seorang gadis yang berprofesi sebagai tukang kayu dalam kontes design yang diadakan perusahaannya. Gadis muda berpotongan rambut pixie cut dengan otot-otot yang kencang, terbentuk karena kesehariannya dan latihan taekwondo selama berada di sekolah menengah kejuruan.

Akankah gadis itu dapat membangkitkan gejolak yang terpendam dalam jiwa Harris? Jalan cinta seperti apakah yang harus mereka lalui?

chap-preview
Pratinjau gratis
Prologue
Lelaki berpostur tinggi dengan setelan jas dark navy dari Gildo Zegna itu keluar dari limousine dengan tergesa. Ia tak cukup sabar untuk menunggu supir ataupun asistennya untuk membukakan pintu. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi memendam kekesalan membuat orang-orang di sekitarnya tak berani berbicara atau bergerak, bahkan mereka mungkin menahan nafasnya. Sisa-sisa salju yang belum mencair dan udara sore itu yang masih terasa sangat dingin meski Jepang di awal Februari ini telah memasuki musim semi seakan menambah suasana jadi semakin mencekam. Lelaki yang tak peduli lagi dengan sekitarnya itu menaiki tangga menuju jet pribadinya yang tak sampai sepuluh menit lagi akan segera take off. Sang asisten mengikutinya di belakang sambil mempersiapkan diri untuk apa yang akan ia terima sesaat lagi. "Sudah kubilang, Raffi, aku ingin segala sesuatu yang efektif dan efesien. Ada apa dengan orang-orang kita di sini? Apa mereka tak belajar bagaimana orang Jepang bekerja? Dan limousine itu sungguh membuatku semakin kesal." Sesuai dugaan sang asisten, Raffi, bosnya itu langsung meluapkan apa saja yang ia tahan beberapa saat lalu selama di perjalanan begitu duduk di kursinya. Bahkan kenyamanan kursi jet mewah itu tak dapat membuatnya lupa dengan kekesalannya. Harris Chandra Khan, CEO dari Chandra Khan Group yang menaungi beberapa perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, properti dan peritel furnitur terbesar di Asia yang hari demi hari semakin kuat menancapkan cakarnya di dunia bisnis. Hari itu adalah hari ketiganya di Jepang untuk meninjau salah satu cabang perusahaannya yang terletak di Sapporo dan menghadiri peresmian pembukaan satu ritel furniturnya yang baru di Tokyo. Tiga hari yang melelahkan dengan jadwal padat tanpa sempat bersantai sedikitpun. Ditambah sedikit masalah dengan salah satu tim perencanaannya yang ia nilai terlalu lamban, tidak efektif dan efisien seperti yang ia keluhkan pada asistennya, tentu sudah ditegaskannya satu hal itu secara langsung pada mereka dalam meeting kemarin. Tapi kekesalannya kembali ke permukaan lantaran mobil yang disediakan untuk membawanya ke bandara justru hampir membuatnya terlambat. Bagaimana tidak, meski telah memasuki musim semi, salju masih belum benar-benar mencair seluruhnya. Jalanan masih cukup licin dan limousine itu adalah pilihan yang buruk. Mobil itu tak dapat mencapai kecepatan maksimal dan harus ekstra hati-hati sehingga membuatnya menghabiskan jauh lebih banyak waktu untuk sampai ke tujuan. Sementara sepanjang perjalanan itu ia harus menenangkan sang nenek yang terus-menerus menghubunginya karena mengira sang cucu tidak bisa pulang tepat waktu untuk menghadiri satu acara penting yang telah mereka rencanakan jauh-jauh hari. Satu acara yang tanpa ia tahu akan mengubah pola pikirnya, bahkan mengubah seluruh sendi-sendi kehidupannya. ** Seorang gadis berkulit sawo matang dengan t-shirt putih tanpa lengan dan celana jeans overall nampak tengah sibuk di sebuah ruangan yang cukup luas yang dipenuhi berbagai macam mesin dan papan kayu berbagai ukuran. Rambut pixie cut super pendeknya itu tetap tak mampu memudarkan pesonanya sebagai seorang gadis yang mulai menginjak dewasa. Pun otot lengannya yang nampak kencang, yang tentu saja terbentuk oleh latihan rutin bukan satu dua hari saja. Andai dadanya tak cukup montok dan pantatnya tak bulat padat, mungkin orang yang tak mengenalnya akan mengira ia seorang laki-laki. Apalagi ia memang dikelilingi oleh teman-temannya yang mayoritas laki-laki. Ditambah para pekerja di pabrik sang ayah, yang juga cukup dekat dengannya, semuanya laki-laki. Gadis yang mungkin akan mengingatkan orang pada sosok Halle Berry itu tampak begitu cekatan memotong sebuah papan kayu setebal satu sentimeter dengan gerakan berkelok-kelok dan presisi tinggi, sesuai pola dan ukuran yang ada dalam design. Wajahnya nampak sangat serius dengan mulut yang terus mengunyah permen karet. Setelah selesai memotong sesuai yang diinginkan, ia mematikan mesin jig saw yang sudah sangat akrab baginya itu. Sekali lagi ia menatap hasil kerjanya dan mengangguk puas pada dirinya sendiri. "Sudah ayah katakan berapa kali, gunakan masker dan pelindung mata juga." Seorang lelaki paruh baya dengan rambut hampir memutih seluruhnya melepaskan penutup telinga yang dipakai si gadis dari arah belakang membuatnya sedikit terkejut. Lelaki itu langsung saja mengomelinya tak henti-henti. Itu bukan kali pertama. Hal itu terjadi hampir setiap harinya. "Maaf. Aku lupa Ayah." Bela gadis itu dengan senyuman khasnya membuat sang ayah hanya bisa geleng-geleng kepala. Setelah menepuk-nepuk pakaiannya untuk merontokkan sejumlah debu yang menempel, ia bergegas mengekori ayahnya keluar dari ruangan itu yang merupakan salah satu bengkel dari pabrik furnitur menuju bangunan di seberangnya. Beberapa pekerja juga tengah berjalan ke arah yang sama. Saat ini memang jam istirahat untuk makan siang. Saat tengah asyik menyantap makan siangnya di sudut ruangan, suara berita di televisi yang menempel di dinding di tengah ruang makan itu menarik perhatiannya. Ia segera bangkit dari kursinya dan setengah berlari untuk meraih remote di dekat meja prasmanan. Ia mengeraskan volume televisi sambil berteriak meminta semua yang ada di dalam sana untuk diam hingga ia kini jadi pusat perhatian. Harris Chandra Khan, CEO dari Chandra Khan Group baru saja mengadakan konferensi pers di akhir acara ulang tahun perusahaannya. Ia mengumumkan dibukanya kontes design yang diadakan guna mengenang sang kakek, Malik Chandra Khan, sosok yang ia nilai membawa Chandra Khan Group pada kejayaannya. Ini merupakan kontes design pertama yang diadakannya dan dibuka untuk semua kalangan. Ia pun akan menilai sendiri semua design yang didaftarkan bersama sang nenek membuat kontes ini terasa sangat sentimentil. Tapi ia menegaskan bahwa penilaian tetap didasarkan pada prinsip-prinsip design pada umumnya, bukan sekedar pilihan subjektif semata. Jika anda ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kontes ini, silakan kunjungi website resmi Chandra Khan Group. Gadis itu tak lagi mendengar suara apapun setelah itu. Pandangannya masih tertuju ke arah televisi tapi pikirannya entah melayang kemana kini. Ekspresi wajahnya masih sama, tak berubah sedikitpun. Dari sekian banyak orang yang ada di sekelilingnya saat itu, hanya satu orang saja yang mungkin bisa membaca apa yang ada dalam pikiran gadis itu. Seseorang yang tanpa sepengetahuan gadis itu, tengah menyimpan sebuah rahasia besar yang suatu hari nanti akan mengubah kehidupannya. Gadis itu, Renjana Saga. Siapa sangka ia adalah seorang lulusan sekolah menengah kejuruan dulunya, dengan jurusan teknik furnitur. Di saat teman-teman dengan jenis kelamin yang sama dengannya cenderung memilih jurusan akuntansi, sekretaris, perhotelan atau tata boga serta jurusan lain yang lebih feminim. Alhasil, jadilah ia satu-satunya lulusan berjenis kelamin perempuan dari jurusannya, sepanjang sejarah sekolah itu berdiri hingga saat ini. **

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.0K
bc

Daddy Bumi, I Love You

read
36.0K
bc

Daddy Next Door

read
232.4K
bc

Stuck With You

read
75.9K
bc

Accidentally Married

read
110.2K
bc

Aira

read
93.1K
bc

ISTRI SATU JUTA DOLAR

read
438.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook