"Sayang, kamu apa kabar? Kok enggak angkat telefon dariku?"
"Kamu enggak kangen aku 'kah?"
"Ini sudah sebulan sejak terakhir kali kamu chat."
"Kamu masih marah?"
"Aku beneran cuma temenan sama dia, enggak lebih, lagian sejak itu dia juga enggak pernah nebeng aku lagi."
"Sayang ... balas dong!"
Ze menatap chat dari Ibra dengan perasaan campur aduk, dia sudah tidur dengan Justine gara-gara dia mengira Ibra ada main dengan teman kerjanya. Terbukti setelah itu hubungan mereka dingin, tidak ada chat, tidak ada telfon sebulan penuh, seolah-olah hubungan mereka sudah kandas dan terlupakan begitu saja.
Tapi, entah kenapa sejak kemarin, pacarnya tiba-tiba rajin menghubungi dia lagi, di saat itu jugalah dia mengetahui bahwa dirinya hamil. Hal yang membuat Ze sudah pusing memikirkan nasib kehamilannya hingga merasa semakin tertekan dan tidak tenang.
Ze merasa sangat menyesal karena mengkhianati Ibra, meskipun pacarnya mungkin ada main dengan teman kantornya, tapi mereka hanya berboncengan, sedangkan dirinya jelas sudah selingkuh sampai hamil.
Mau dilihat dari sudut mana saja, dialah yang salah dan pantas diputusin sama pacarnya, tapi sejak Ibra menghubungi dirinya kemarin otak jahatnya memikirkan sesuatu yang sangat tidak baik, yaitu ingin pergi ke Bogor, tidur dengan pacarnya dan mengaku hamil anaknya. Dengan begitu, dia tidak akan khawatir bagaimana menghadapi kehamilan ini karena yakin Ibra pasti akan segera menikahinya.
Tapi, sedikit akal sehatnya masih ada dan akhirnya menahan diri untuk tidak melakukan itu. Selain hati nuraninya akan semakin merasa bersalah karena mengakui anak yang bukan milik suaminya, dia juga takut jika anak yang dia lahirkan tidak mirip dengan pacarnya, hal itu pasti akan menimbulkan kecurigaan.
Ze tidak ada pikiran sedikitpun untuk aborsi. Selain karena tidak mengenal siapa pun yang bisa membantu menggugurkan kandungannya, Ze juga tahu bahaya aborsi untuk tubuh, dia takut karma akan jatuh padanya jika berani menghilangkan nyawa.
Bagaimana kalau setelah aborsi rahimnya rusak dan tidak bisa hamil lagi? bukankah itu sangat merugikan.
Ze menatap chat dari Ibra tanpa ekspresi, pikirannya kalut dan dia butuh seseorang berbagi keluh kesah, tapi siapa? siapa yang bisa dipercaya dengan rahasianya saat ini.
Seolah-olah mendapatkan jawaban tiba-tiba ada suara menyapanya.
"Ze, kamu ngapain bengong di kamar?" Shu-Shu yang baru pulang kerja melihat temannya terdiam seperti orang linglung. Sudah dari kemarin sebenarnya dia curiga dengan keadaan temannya itu karena wajahnya selalu terlihat sedih dan bingung, seolah-olah ada masalah yang sangat berat sedang dia hadapi.
"Oh, kamu sudah balik." Ze mematikan ponselnya, tidak berniat membalas chat dari pacarnya karena masih tidak tahu apa yang harus dia katakan.
Apakah dia harus jujur dan mengaku kalau dia selingkuh?
Membayangkan reaksi pacarnya saja sudah membuat Ze ketakutan.
"Kamu kenapa sih? Kayaknya dari kemarin enggak semangat? Kamu lagi sakit?" tanya Shu-Shu sambil meletakkan tangan ke dahi Ze.
"Enggak panas kok," lanjutnya.
Melihat Shu-Shu yang perhatian, Ze semakin galau dan seketika ingin menangis, "Aku ... aku ... enggak sakit, tapi ... aku, aku ...." Ze tidak tahu harus bagaimana, beban yang dia bawa terasa sangat berat dan keberadaan Shu-Shu seperti memanggil dirinya untuk percaya pada temannya itu.
"Ada apa Ze? Cerita lah kalau ada masalah, jangan di pendam sendiri. Kamu kenapa? Berantem sama pacarmu lagi kah?" Shu-Shu duduk di sebelah Ze.
Saat Ze berantem sama pacarnya, biasanya memang Ze suka cerita, jadi Shu-Shu pikir kali ini masalahnya juga pasti sama.
"Shu-Shu ... aku takut, aku enggak tahu harus bagaimana ...." Tiba-tiba air mata berlinang.
"Ze! kamu kenapa sih? Jangan bikin aku jadi panik deh, kenapa malah nangis? Ada yang bully kamu kah? Cerita dulu jangan nagis dulu." Shu-Shu seketika khawatir saat melihat Ze tiba-tiba menangis sesenggukan.
"Shu-Shu ... Aku, aku, aku hamil!" ucap Ze akhirnya memberitahu temanya sembari mencengkram tangan Shu-Shu dengan erat, seperti berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Ha! serius?" tanya Shu-Shu terkejut.
Ze mengangguk. "Sudah sebulan," jawabnya masih dengan air mata berlinang.
"Trus kenapa kamu sedih? Pacarmu enggak mau tanggung jawab apa gimana?" tanya Shu-Shu lagi.
"Dia enggak tahu kalau aku hamil."
"Ya sudah kamu kasih taulah, kenapa malah disembunyikan? Yang ada dia enggak bakal tanggung jawab kalau sampai tahu. Atau, jangan-jangan ... kalian putus makanya kamu galau?" Shu-Shu menebak sumber kesedihan temannya.
"Bukan enggak mau kasih tahu, tapi masalahnya adalah bayi ini bukan anak pacarku," ucap Ze dengan jujur.
"What!!! Kok bisa? Anak siapa?" Shu-Shu kali ini benar-benar terperangah.
"Anaknya Justine."
"Justine? Justine yang mana?" Shu-Shu berpikir, lalu matanya tiba-tiba melebar seolah-olah telah menebak sesuatu.
"Ini bukan Justin yang aku pikirkan 'kan?" Shu-Shu sendiri merasa tidak mungkin.
"Iya, ini Justin yang itu."
"Astaga ... beneran? Lok bisa sih?"
"Bisalah, 'kan kamu juga pasti masih inget sebulan lalu kamu dan Winnie pernah aku ajak ke party."
"Yang sama kru film itu kan? Beneran Justine yang tuan muda dari keluarga Cohza?"
Ze lagi-lagi mengangguk.
"Ya ampun Ze! Kamu kok hoki banget sih bisa hamil anak orang kaya! Kalau kejadiannya seperti itu ngapain kamu sedih? Justine selain cucu pemilik JJ Entertainment dia juga pangeran lho, meskipun bukan pewaris tahta tapi kalau kamu bisa nikah sama dia, alhasil kamu pasti juga bakal ikutan kaya raya apalagi kalau berhasil melahirkan bayi ini, sumpah hidupmu pasti terjamin." Shu-Shu tidak menyangka temannya akan seberuntung ini.
Saat Ze diminati oleh Justine saja dia sudah iri, sekarang dia malah hamil anak Justine, bisa dibayangkan semakmur apa masa depan temannya itu, pasti anaknya akan memiliki warisan ratusan milyar.
"Tapi bagaimana kalau Justine enggak mau tanggung jawab?" Setelah menidurinya Justine bahkan memberikan dia uang 200 juta, bukankah ini sudah merupakan bayaran untuknya.
"Enggak mungkin! Aku dengar keluarga Cohza itu sangat menghargai keluarga, jadi kalau tahu kamu hamil, pasti kamu akan segera di nikahkan dengan Justine." Shu-Shu ikut bersemangat.
"Benarkah? Tapi ... bagaimana caranya aku bertemu Justine? Aku bahkan tidak tahu di mana rumahnya." Biasanya orang kaya tinggal di komplek perumahan dengan penjagaan ketat, bahkan jika dia tahu alamat Justine, akankah dia bisa masuk ke komplek rumahnya?
"Kalau begitu mari kita cari tahu." Dengan semangat 45, Shu-shu membuka laptop milik Ze dan segera menyalakannya untuk mencari tahu semua tentang Justine.
Merasa bahwa dia tidak boleh melepaskan kesempatan ini.
Meskipun dia tidak bisa mendapatkan Justine, tapi menurut berita Justine juga punya beberapa sepupu yang seumuran dengan mereka. Siapa tahu dia bisa mendapatkan salah satunya karena jika Ze menikah dengan Justine maka sebagai teman secara otomatis sangat wajar jika dia menjadi sering bertamu ke rumah mereka dan mungkin mengenal orang-orang kalangan atas yang bisa dia jadikan target untuk dijadikan pasangannya kelak.
Bagaimanapun, cita-cita Shu-Shu adalah menikah dengan orang kaya agar tidak perlu lagi bekerja dan pusing memikirkan kebutuhan hidupnya.