Bab 9. Takut

1168 Kata
"Kamu yakin dia bakal datang ke pesta ini?" Ze bertanya pada Shu-Shu. Sudah hampir dua bulan Ze dan Shu-Shu berusaha menemui Justine, tapi telah gagal berkali-kali. Mereka awalnya datang ke komplek perumahan keluarga Cohza, sayangnya di sana terlalu ketat, jadi tamu yang tidak memiliki janji tidak akan pernah bisa masuk ke wilayah itu, sedangkan dia juga bukan orang tak tahu malu yang akan berteriak-teriak di depan gerbang orang lain untuk minta tanggung jawab, bisa-bisa dia dikira orang gila. Lalu, Ze mendapatkan kabar bahwa Justine akan datang ke JJ entertainment. Namun, setelah seharian menunggu di kantor pusat, jangankan bertemu bahkan bayangannya pun Ze tidak berhasil melihatnya. Setelah itu, Ze dengan bantuan Shu-Shu mendatangi berbagai tempat yang menurut informasi akan di datangi Justine. Namun, lagi dan lagi semuanya gagal dan tidak ada jejak Justine sama sekali. Hari ini, Shu-Shu mengajaknya ke sebuah pesta, di mana menurut teman Shu-Shu kemungkin Justine muncul sangatlah besar. Ze sebenarnya sangat bingung, kenapa Shu-Shu sepertinya lebih tahu banyak tentang pergaulan orang-orang di kalangan selebritis, padahal dia yang sebagai artis malah tidak terlalu tahu karena memiliki perbedaan circle. Dia masuk kalangan artis kelas teri, sedangkan kenalan Shu-Shu malah kebanyakan artis papan atas. Ze tidak tahu bahwa salah satu nasabah Shu-Shu yang sekaligus jadi Om-Om g***n yang menjadikan dirinya simpanan bekerja di salah satu perusahaan film dan televisi sehingga tidak heran jika Shu-Shu banyak mengetahui informasi tentang artis-artis yang pernah bekerja sama dengan perusahaan Omnya itu. "Aku enggak tahu dia bakalan datang atau tidak, tapi kata teman aku ini adalah pesta ulang tahun Widia, artis yang sedang dekat dengan Justine saat ini. Jadi, harusnya sih dia bakal datang, masa teman kencannya ulang tahun dia enggak kasih hadiah," ucap Shu-Shu dengan yakin. "Semoga aja sih." Ze benar-benar berharap akan segera bertemu Justine, bagaimanapun kandungannya sudah berusia 3 bulan dan sebentar lagi perutnya akan mulai membesar dan tidak mungkin di tutupi ke orang sekitar. Di tambah hubungan dengan pacarnya kali ini benar-benar berakhir karena seperti dugaan Ze kekasihnya itu memang selingkuh dengan teman kerjanya, hal yang membuat Ze akhirnya tidak perlu merasa bersalah karena selingkuh juga. Saat ini Ze hanya berpikir bahwa jika Justine mau menikahinya, bukankah dia akan menjadi wanita kaya raya? membayangkan apa yang bisa dia dapatkan jika bisa berhubung dengan Justine membuat Ze melupakan rasa lelahnya karena berlari ke sana kemari dengan Shu-Shu. Malam semakin larut, suasana pesta yang awalnya bernuansa lembut semakin lama terasa semakin ramai karena banyak tamu yang mulai berdatangan. Ze dan Shu-Shu duduk di sudut ruangan, yang tidak terlihat dari luar, namun memiliki sudut pandang terbaik sehingga bisa melihat dengan jelas orang yang masuk ke ruang pesta. Mereka berdua merasa tegang tapi juga penuh harapan bahwa kali ini mereka akan berhasil menemui Justine. Ze melihat seorang wanita dengan gaun sangat elegan memasuki ruangan bersama pria yang memiliki postur tinggi dan keren, Ze dan Shu-Shu sudah menahan napas mengira itu Justine, tetapi begitu wajahnya terlihat mereka kecewa karena ternyata itu bukan yang mereka cari. "Apa dia enggak datang ya?" Shu-Shu mulai skeptis, hari sudah semakin malam dan para tamu juga sudah mulai bercengkrama dengan kenalan masing-masing. "Teman kamu gimana sih? Infonya enggak akurat." Mereka menyusuri ruangan penuh cahaya sorot lampu yang berkilauan, mencoba mencari tanda-tanda kehadiran Justine. "Enggak mungkin! Seharusnya benar, pasti dia akan datang." Shu-Shu mengambil ponselnya ingin menghubungi Omnya untuk bertanya lagi, tapi sebelum dia melakukannya .... "Tunggu, itu-itu ... Justine kan?" Tiba-tiba bahunya di tepuk oleh Ze yang menunjuk ke suatu tempat, karena ruangan agak remang-remang jadi tidak terlalu terlihat jelas. "Ayo samperin, kayaknya iya." Meski berkata begitu Shu-Shu memberi isyarat pada Ze agar menghampiri dengan pelan. Ze mendekat namun berhenti di balik dinding kaca dengan penutup vas bunga yang besar sehingga dia bisa mendengar percakapan Justine dengan jelas. Namun, Justine dan orang di sana tidak akan curiga dia menguping, bahkan jika mereka tahu ada orang di sana paling-paling dikira tamu yang juga bercengkrama dengan temannya. Jantung Ze berdebar kencang, dia sangat berharap kali ini akan bisa mendapatkan keinginannya. "Kamu tumben mau datang ke pesta?" tanya Justine sama sepupunya Dewa, di mana jarang sekali dia datang tanpa istrinya Wulan. "Dia marah," ucap Dewa. "Lah, tumben." Dari semua sepupunya, biasanya Dewa dan Wulan yang paling adem ayem karena Dewa meski beringas kaya preman pasar malam. Namun, dia juga paling nurut sama istri, jadi dia belum pernah melihat Dewa dan Wulan memiliki konflik selain rebutan cireng. "Ada cewek tiba-tiba datang ngaku hamil anakku." Dewa menjawab dengan cemberut, dia bahkan tidak Ingat cewek itu siapa tapi tiba-tiba nongol minta tanggung jawab, tentu saja membuat istrinya langsung marah-marah karena dikira dia selingkuh. "Anakmu bukan?" tanya Justine mulai kepo. "Enggak mungkinlah, aku saja 1x24 jam selalu sama Wulan, mana ada waktu selingkuh, lagian aku juga enggak ada selera sama cewek lain selain istriku sendiri." Dewa sudah terlalu tergila-gila dengan istrinya. Jadi, bahkan jika ada model telanjang di depannya, paling akan dia perlakukan seperti makanan basi, yaitu dibuang ke tempat sampah. "Ya sudah, kalau bukan anakmu, ngapain musti berantem." "Wulan ngambek gara-gara aku terlalu ganteng, katanya semua salahku, kalau aku tidak ganteng pasti enggak bakalan ada cewek ganjen yang dekat-dekat dan kegatelan sama aku." Dewa memberitahu. "Apa aku oprasi plastik aja ya biar lebih jelek." Dewa berpikir dengan serius. Mendengar itu Justine malah tertawa. "Kalau kamu jelek yang ada Wulan ikutan kabur, lihat kamu ganteng saja dia sudah gemetar apalagi kalau kamu jelek." Jika tidak dia cegah, Justine curiga Dewa benar-benar akan melakukannya. "Oh lalu, kamu sendiri juga ganteng kenapa enggak ada yang ngaku hamil anakmu?" tanya Dewa bingung. "Aku selalu pakai kondom ya, jadi enggak mungkin hamilin cewek, kalaupun ada yang ngaku-ngaku hamil ya tinggal singkirkan saja." Justine bicara asal. "Kamu kill orangnya?" tanya Dewa. "Tergantung, kalau enggak sengaja hamil mungkin cukup singkirkan ke luar negri, tapi kalau sengaja hamil supaya bisa jebak aku agar menikahinya maka aku tidak keberatan menyingkirkan dia dari dunia ini, toh kita punya Lucky yang bisa melakukan hal-hal itu," jawab Justine setengah bercanda. Merasa hal itu tidak mungkin terjadi karena dia selalu menggunakan pengaman saat berhubungan intim. "Iya, sebagai mafia tugas ngilangin orang memang Lucky yang bisa melakukannya dengan bersih." Dewa setuju, biar kalau tertangkap cukup lucky saja yang dipenjara. Ze dan Shu-Shu yang mendengar seketika berdiri dengan kaki gemetar. Singkirkan? Awalnya mereka berpikir bahwa Justine akan menggugurkan kandungannya jika dia tidak mau bertanggung jawab, tetapi mereka tidak menyangka bahwa orang kaya sangat kejam, bahkan mereka membicarakan pembunuhan tanpa rasa takut. Apakah hukum di negara ini benar-benar tidak membuat mereka takut karena memiliki uang? Ze tidak tahu. Namun, dia mengerti, orang yang berkuasa dan kaya akan lebih mudah melakukan segalanya, sedangkan dia orang biasa akan gampang ditindas jika membuat masalah dengan mereka. "Shu-Shu ayo pergi." Ze tidak berani mendengarkan lagi, dia segera menarik tangan Shu-Shu untuk pergi dari tempat itu. Pikiran untuk minta tanggung jawab pada Justine menghilang dalam sekejap karena yang ada di otaknya sekarang adalah menyelamatkan nyawanya sendiri dulu. Mereka berdua berjalan sangat cepat dan segera meninggalkan rumah itu karena ketakutan, seolah-olah jika mereka tidak segera pergi Justine akan benar-benar membunuh Ze karena diam-diam berani hamil anak Justine.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN