"Singkirkan apa?" Suara Deva tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.
"Ko kamu di sini?" tanya Justine.
"Nyariin dia tuh ...." Deva menunjuk Dewa.
"Ngapain di cariin, ga bakal mati dia," ucap Justine.
"Siapa yang khawatir sama dia, Wulan yang khawatir takut dia bunuh anak orang." Deva menarik kursi dan duduk.
"Bukannya udah sering kayak gitu?" Tawuran hal yang sudah biasa dilakukan Dewa. Jadi, wajar kalau bikin anak orang terluka bahkan sampai masuk rumah sakit.
"Ini beda, dia lempar cewek yang ngaku hamil anaknya ke sungai, makanya si Wulan marah karena Dewa berlebihan, untung arus sungai enggak deras dan cewek itu bisa berenang sehingga enggak mati, kalau tidak bisa dipenjara dia."
"Lah, bilangnya Wulan ngambek gara-gara cemburu? Ternyata gara-gara Dewa hampir bunuh anak orang! Ya sudah balik sana!" Justine menoleh dan baru mau mengusir tapi Dewa ternyata sudah menghilang duluan.
"Cepet banget," batin Justine.
"Tadi kamu ngomongin apa? Mau singkirkan siapa? Jangan suka ngomong sembarangan soalnya bisa bikin orang salah paham, tahu enggak? Ada yang nguping pembicaraan kalian tadi." Saat Deva datang dia memang melihat Ze dan Shu-Shu yang mengintip Justine dan Dewa.
"Apaan sih, cuma bahas kalau ada cewek ngaku hamil anakku ya aku singkirkan ke alam baka, masa ngomong gitu saja dipercaya enggak ngerti sarkas apa," jawab Justine santai.
"Walau enggak serius, kalau yang dengar Opa Marco, bisa di ruqyah sejuta kali kamu."
"Becanda doang elah, lagian kalau benar-benar ada cewek yang hamil anakku, ya pastinya aku nikahilah mana rela anakku terlantar di luaran sana." Justine mengambil minuman di meja dan menyesapnya.
Sudah merupakan gen Cohza yang memiliki rasa tanggung jawab tinggi. Bahkan, jika hal itu benar-benar terjadi dan dia tidak mencintai wanita yang hamil anaknya, Justine pasti tetap akan menikahi dan memperlakukan dia dengan sangat baik. Selain itu, sudah tertanam dalam jiwa raga bahwa pria Cohza kalau sudah menikah pantang melakukan perselingkuhan.
"Justine, aku cari ke mana-mana ternyata kamu di sini?" Suara Widia membuat dua pria tampan itu menoleh.
"Ada apa?"
"Waktunya tiup lilin dan potong kue, aku menunggumu," ucap Widia dengan senyuman manis, merasa sangat senang karena pujaan hatinya mau datang ke pestanya.
"Oke, ayo masuk." Justine segera menghampiri, meraih pinggang Widia saat jalan bersama.
Bagaimanapun dia belum tidur dengan Widia, jadi masih memiliki minat di sana dan rela datang ke pesta untuk menemani ulang tahunnya karena Justine yakin dengan sedikit usaha dia akan bisa segera mencicipi tubuhnya.
***
Winnie menaruh makanan yang dia pesan di meja makan sembari memegang ponselnya untuk mengetahui keberadaan teman-temannya.
Hari ini dia akhirnya diangkat jadi supervisor, meski untuk itu dia harus sering ke luar kota untuk pameran tapi gajinya juga akan berlipat ganda.
Hal yang sangat pantas untuk disyukuri.
Winnie berniat merayakan bersama ke dua temannya, yaitu dengan mentraktir mereka makan makanan yang biasanya mereka sukai dan memberi hadiah saat gaji supervisor pertamanya nanti turun.
Tapi, sudah dari jam tujuh Winnie menelfon Shu-Shu dan Ze tapi tidak ada satupun tanggapan, bahkan chat darinya juga tidak dibalas, padahal sore tadi mereka bilang ada di kontrakan dan tidak akan pergi ke mana-mana.
Winnie menatap jam sembilan lebih tiga puluh dan makanan di depannya yang sudah dingin sedari tadi, berniat masih menunggu hingga sampai jam sepuluh.
Jika mereka pada akhirnya tidak pulang, dia akan memberikan makanan pada tetangga karena sayang jika sampai basi besok.
Winnie sudah siap membereskan makanan saat mendengar suara mobil berhenti di depan kontrakan, benar saja Ze dan Shu-Shu turun dari sana.
"Kalian dari mana? Kok enggak balas chat dariku?" tanya Winnie sembari membuka pintu rumah.
"Artis Widia ulang tahun dan aku diundang."
"Kayaknya kita lagi dijalan pas kamu chat." Shu-Shu beralasan, padahal dia tahu Winnie menghubunginya. Namun, mereka sudah telanjur ketakutan dan tidak ada mood melakukan apa pun.
"Sudah makan belum? Aku beliin makanan kesukaan kalian lho." Winnie membuka bungkusan di meja makan.
Baru pada saat itulah mereka sadar perut mereka memang keroncongan. Apalagi, Ze yang sejak seminggu ini sudah tidak mengalami morning sickness dan nafsu makannya bertambah, jadi melihat makanan lezat di meja mulutnya terasa akan mengeluarkan air liur.
"Kamu pengertian banget, tahu aja di pesta kita enggak sempat makan." Shu-Shu dan Ze tanpa basa-basi segera duduk dan membuka kotak makanan di meja, di mana berbagai hidangan lezat sudah tersedia.
"Ya sudah makanlah, ini memang buat kalian kok, soalnya mulai sekarang aku sudah diangkat jadi supervisor," Winnie tersenyum senang.
"Serius? Selamat ya." Shu-Shu ikut tersenyum, namun manik matanya menyimpan rasa iri mendalam.
"Winnie memang hebat, baru setahun sudah bisa naik pangkat." Ze sudah lama jadi figuran dan setelah setahun masih jadi figuran tanpa perubahan signifikan.
"Ya karena Winnie rajin dan penjualannya selalu bagus."
"Mungkin karena aku beruntung juga, soalnya yang lebih rajin dan penjualannya lebih banyak dariku juga ada kok." Winnie berusaha merendah. Namun, tetap saja ada rasa bangga karena memiliki pencapaian dalam karier.
"Baiklah karena Winnie sekarang jadi sukses, jangan lupa nanti sering-sering traktir kita ya."
"Yup, aku juga mau ditraktir."
"Oke, nanti pas gajian aku pasti traktir lagi." Winnie tidak keberatan, merasa senang karena ternyata respon teman-temannya juga antusias dengan kenaikan pangkatnya.
Sepertinya kecurigaannya beberapa waktu ini tidak beralasan karena teman-temannya masih sama seperti sebelumnya, baik dan menganggapnya keluarga sendiri.
Setelah mereka selesai makan dan membersihkan sisanya, Winnie, Ze dan Shu-Shu kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Karena Shu-Shu dan Ze berbagi kamar, jadi ketika mandi mereka juga harus bergantian.
"Kamu merasa enggak sih, Winnie tuh makin lama kayaknya makin sombong ya." Shu-Shu yang sudah merebahkan diri di kasur tiba-tiba bicara dengan Ze yang baru selesai mandi.
"Ha? Sombong gimana maksudnya?"
"Iya lho, sejak awal kita ngontrak di sini, mentang-mentang dia gajinya paling besar dan bayarnya paling banyak tanpa basa-basi dia langsung menguasai satu kamar sendirian."
"Lho, bukannya wajar ya? 'Kan memang dia yang bayar banyak." Ze juga setuju dari awal.
"Iya tahu, tapi berasa enggak sih kalau lama-lama dia kayak jadi penguasa rumah ini? Misal nyuci baju, kalau dia pakai mesin cuci bisa kapan saja sedangkan kita harus ngantri setelah dia, padahal mesin cuci kita beli sama-sama, begitu juga dengan makan, tiap masak kita harus ngikutin seleranya."
"Iya juga sih, tapi yang beli bahan 'kan Winnie juga." Ze merasa memang sepertinya begitu.
"Meski dia yang beli bahan, masa enggak ada pengertian sama teman sih, lagian kita juga enggak minta dia traktir terus, kita juga mau lho keluar duit buat beli bahan makanan."
"Bener juga ya." Ze mengangguk.
"Makanya itu, sadar enggak sih kamu, kalau Winnie tuh memandang kita seolah-olah kita itu miskin." Shu-Shu sudah lama iri dengan penghasilan Winnie yang memiliki pekerjaan dengan uang melimpah, dia juga ingin melamar kerja di tempat Winnie karena berharap bisa mendekati orang kaya dan masih muda, bukan om-om yang hampir mati dan butuh asuransi.
Sayang, lamarannya ditolak karena tinggi badan yang kurang. Hal yang membuat Shu-Shu sampai sekarang kesal karena sebagai teman si Winnie tidak bisa membantunya sama sekali, padahal dia termasuk orang dalam, asal Winnie mau merekomendasikan dirinya ke atasan pasti dia akan diterima.
Entah Winnie memang jujur atau takut dia memiliki penghasilan lebih besar darinya, makanya mempersulit lamaran pekerjanya.
"Masa sih?" Ze mulai berpikir, apakah memang Winnie seperti itu.
"Iyalah, lihatlah sekarang, dia tuh lagi pamer di depan kita berdua mentang-mentang naik pangkat sok-sokan traktir kita." Shu-Shu mencibir.
"Aku yakin, pasti di tempat kerja dia pamer sana sini karena sudah kasih kita makanan," lanjutnya.
"Dia itu sok baik tahu, aslinya mah egois, makanya aku larang kamu bilang ke dia soal kehamilan kamu, kalau enggak aku yakin dia bakal sok suci di depan kita dan malah menasehati yang enggak-enggak, tapi dibelakang bakal ember dan bocorin aib kamu ke mana-mana. Bahaya 'kan?" Shu-Shu bicara dengan penuh semangat.
"Iya sih, aku juga enggak berani bilang ke orang lain selain kamu, takut kalau keluargaku sampai tahu."
"Tenang saja, kalau sama aku rahasiamu dijamin aman." Shu-Shu meyakinkan.
"Makasih ya Shu-Shu mau bantuin aku ke sana ke mari dan merahasiakan hal ini." Ze merasa beruntung memiliki teman seperti Shu-Shu yang mau ikut wara-wiri dan menutup mulut agar aibnya tetap terjaga.
Sepertinya di masa depan, hanya Shu-Shu yang bisa dia percaya.