"Ze, jangan keras kepala lah, ini itu jalan yang paling baik."
"Tapi-tapi aku takut, katanya kalau gugurin kandungan bikin tidak bisa punya anak lagi, trus katanya sakit banget." Sejak kecil Ze tidak pernah menderita dan paling takut sakit. Jadi, membayangkan menggugurkan kandungan dengan mengeluarkan banyak darah membuat Ze sangat ketakutan.
Meskipun keluarga Ze bukan keluarga kaya, tapi tidak kekurangan jika hanya untuk membesarkan anak-anaknya dan Ze sebagai anak yang cantik, tentu memiliki keuntungan tersendiri, di mana orang-orang di sekitarnya memperlakukan dia dengan lebih baik karena kecantikannya.
"Itu kalau kamu datang ke klinik murah dan dokter enggak berpengalaman, sedangkan dokter yang diberitahu teman aku ini adalah dokter terkenal bahkan dia salah satu dokter di rumah sakit Cavendish, tahu 'kan rumah sakit nomor satu di negara ini? Di mana dokter yang bisa bekerja di sana masuk jajaran dokter top dunia." Sebenarnya shu-shu sendiri dulu pernah hamil dan menggugurkan kandungannya, hal itu terjadi saat dia baru bekerja sebagai marketing asuransi yang memiliki banyak tekanan sebagai pegawai baru.
Waktu itu ada om-om yang mau menambahkan beberapa anggota keluarganya ke asuransi yang dia tangani, tapi dengan syarat Shu-shu harus mau check in dengannya.
Sebagai karyawan baru yang ingin menonjol, tentu Shu-Shu segera menyetujui persyaratan om itu, apalagi dia sudah lama tidak perawan sehingga menurutnya itu bukan masalah besar. Hanya saja, Shu-Shu belum terlalu pengalaman dan akhirnya malah hamil anak om itu.
Karena tidak mungkin om itu mau menikahinya, Shu-Shu mendatangi om itu untuk meminta solusi, di mana pada akhirnya Shu-Shu malah di bawa untuk menggugurkan anaknya.
Saat itu Shu-Shu juga ketakutan seperti Ze. Namun, karena tahu bahwa jika dia hamil maka masa depannya akan lebih hancur Shu-Shu akhirnya tetap menggugurkannya, apalagi om itu membayar semua biaya dan bahkan memberinya kompensasi tambahan yang lumayan besar yang bisa dia gunakan berfoya-foya selama beberapa bulan.
Ze masih gelisah dan tidak berani, tapi Shu-Shu terus mendesaknya.
"Kenapa? Kamu enggak punya uang? Nanti aku pinjemin dulu, ini hanya 25 juta." Dulu saat Shu-Shu menggugurkan bayinya, biayanya hanya 15 juta dan dalam satu tahun ternyata sudah naik sepuluh juta, sepertinya banyak orang yang datang ke dokter itu sehingga biayanya melambung tinggi.
"Ini bukan masalah uang, tapi ... aku merasa enggak tega." Walau bayinya baru tiga bulan, entah kenapa Ze mulai merasa sayang.
Lagipula uang yang diberikan Justine masih ada 100 juta, selain untuk belanja banyak hal dia juga hanya berani mengirimkan 30 juta ke orang tuanya dengan alasan dia mendapatkan pekerjaan bagus.
"Ya ampun Ze, Justine jelas-jelas engak mau tanggung jawab! Keluarganya juga ada yang jadi mafia, kalau kamu mempertahankan bayi ini nyawamu juga dalam bahaya! Selain itu, kamu itu calon artis terkenal kalau sampai ada yang tahu kamu hamil di luar nikah semua usahamu sia-sia karena reputasimu akan rusak dan kariermu akan langsung jatuh bahkan sebelum di mulai." Shu-shu makin geregetan, dia sudah capek ikut wara wiri demi Ze kerena berharap temannya akan menikah dengan Justine dan dia ikut kecipratan untung dengan berkenalan cowok-cowok dari kalangan atas.
Ternyata, semua usahanya terbuang percuma karena keluarga kaya lebih mengerikan dari penjahat di penjara, alhasil Shu-Shu jadi malas bersikap baik dengan Ze lagi karena membuatnya rugi.
Ze yang mendengar perkataan Shu-Shu hanya diam, dia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan temannya memang benar, tapi tetap saja dia merasa bersalah jika sampai membunuh anaknya sendiri.
"Ze, bukankah beberapa waktu lalu kamu dapat tawaran pekerjaan yang bagus? Kalau mereka tahu kamu hamil mereka akan langsung menendang mu keluar dari kru." Tambah Shu-Shu.
Ze ingat, dia memang mendapatkan tawaran dari sutradara yang dulu memberikan kunci kamar untuknya bersama Justine, pekerjaan itu lumayan menjanjikan karena dia bukan hanya figuran. Meskipun peran yang dia dapatkan bukan yang utama tetapi memiliki banyak adegan yang mengekspos wajah sehingga kemungkinan dia akan lebih dikenal masyarakat luas semakin tinggi.
"Ya, kamu benar! Aku tidak bisa mempertahankan anak ini." Dia sudah gagal dalam cinta, dia tidak bisa gagal dalam karier.
Jadi, dengan bujukan Shu-Shu akhirnya sore itu mereka berdua berangkat ke tempat di mana rumah dokter yang katanya bisa melakukan aborsi dilakukan.
***
Mahesa menatap banyak instrumen di ruangan dengan sorot mata dingin.
Seumur hidup, dia tidak pernah semarah ini.
Ruangan yang jika dilihat akan sama seperti ruangan dokter kandungan yang profesional. Namun, di ruangan inilah ratusan bahkan mungkin ribuan nyawa bayi telah dihilangkan.
"Dokter Mahesa, semua sudah diamankan, lalu apa yang harus kita lakukan dengan barang-barang di dalamnya." Rumah ini bukan rumah mewah, namun alat kedokteran di dalamnya berkualitas tinggi dan sangat komplit. Jika dibuang akan sayang, namun jika dipakai Mahesa merasa jijik hanya untuk membayangkannya saja.
Sebagai pemilik selanjutnya rumah sakit Cavendis, Mahesa juga seperti ayahnya yang membebaskan dokter yang bekerja di sana untuk membuka klinik pribadi asal tidak mempengaruhi jam kerja di rumah sakit mereka.
Siapa sangka, salah satu dari mereka memanfaatkan pengetahuan dari rumah sakitnya untuk membangun klinik aborsi ilegal. Hal, yang membuat Mahesa sangat marah hingga tidak mengizinkan Dava membereskannya dan langsung menanganinya sendiri.
Klinik ini ternyata sudah beroperasi satu tahun empat bulan, di dalam catatan umum ada ribuan pasien datang, meski tidak semuanya datang untuk aborsi. Namun, Mahesa juga yakin bahwa korbannya juga tidak sedikit.
Sekarang dokter itu sudah ditangkap dan Mahesa akan memastikan dia akan di penjara seumur hidup serta semua asetnya juga dibekukan dan untuk klinik ini, Mahesa sebenarnya ingin meruntuhkannya hingga rata dengan tanah, hanya saja setelah berpikir ulang alat-alat ini mungkin sedikit berguna meski dia tidak sudi menggunakan alat ini untuk rumah sakitnya. Namun, di pelosok desa mungkin ini merupakan harta karun untuk sebuah puskesmas. Jadi, Mahesa akan menyumbangkan semua alat-alat ini secara terpisah.
Sayangnya untuk membawa alat-alat ini juga tidak bisa dilakukan oleh sembarang pengangkut barang. Jadi, Mahesa harus menghubungi tenaga yang lebih berpengalaman mengurus barang-barang ini.
"Permisi, apakah ini klinik dokter Rizwan." Tiba-tiba ada suara wanita terdengar, karena membersihkan barang di dalam klinik pintu terbuka lebar sehingga orang yang datang akan bisa langsung melihat ke dalam.
"Apa yang kalian lakukan di sini, cepat keluar!" Salah satu pekerja segera menegur, merasa malu dengan Mahesa karena ada orang yang tiba-tiba masuk padahal ini lokasi kriminal.
"Tidak perlu, masuk saja." Mahesa melambaikan tangan sehingga pekerja itu tidak membantah dan membiarkan Shu-Shu dan Ze masuk, lalu menutup pintu.
Mahesa mengangguk pada mereka berdua, meski dia tidak menggunakan pakaian dokter saat ini baik Shu-Shu maupun Ze sama sekali tidak curiga karena penampilan Mahesa terlihat sangat berkharisma dan percaya diri.
"Silahkan duduk." Mahesa mempersilahkan seperti yang dia lakukan saat menerima pasien.
Melihat penampilan ke dua wanita muda itu entah kenapa Mahesa memiliki firasat bahwa mereka datang untuk sesuatu yang sangat dia benci.
Yaitu menggugurkan kandungan.