"Jadi, ada keluhan apa?" tanya Mahesa dengan tatapan santai, tapi entah mengapa membuat Shu-Shu dan Ze merasa merinding, padahal, wajah dokter di depannya sangat tampan dan masih menyambut dengan senyuman. Namun, mereka berdua merasa bahwa semuanya terlihat tidak benar.
"Di mana dokter Rizwan?" Shu-Shu masih ingat wajah dokter Rizwan, beliau udah berusia sekitar 45 tahun, sedangkan pria di depannya jelas masih muda dan mungkin baru berusia 23 atau 24 tahun.
"Dokter Rizwan sedang tidak bisa ditemui karena pergi ke luar kota, saya dokter yang akan menggantikan sementara. Tenang saja, saya juga dokter kandungan bersertifikat, jadi tidak perlu khawatir saya meresepkan obat yang salah." Kapan mahesa memperlakukan pasien sesabar ini.
"Tapi kami datang bukan untuk memeriksa kandungan, sebenarnya teman saya ini ingin menggugurkan kandungannya, apakah bisa?" Sejak datang, Ze tidak mengucapkan sepatah katapun dan hanya menunduk diam seolah-olah berada di dalam dunianya sendiri, hanya Shu-Shu yang aktif bicara.
"Tenang saja, uangnya sudah kami siapkan, 25 juta kan?" Shu-Shu khawatir dokter di depannya tidak mengerti dan segera menyebutkan nominal uangnya agar lebih jelas.
Mata Mahesa terlihat semakin dingin, tangan di atas pahanya mengepal hingga uratnya terlihat karena berusaha menahan diri, 25 juta untuk nyawa 1 bayi! Rizwan benar-benar berani bermain dengan nyawa. Sepertinya Mahesa harus memindahkan Rizwan, bukan ke penjara pemerintah tetapi ke tangan paman buyutnya Pete agar dicincang, digoreng dan ditumis sesuka hati.
Meski hatinya bergejolak wajah Mahesa tetap tersenyum lembut seolah perkataan Shu-Shu hanya percakapan biasa yang sering dia dengar.
"Itu mudah, silahkan masuk ke ruangan itu untuk pemeriksaan dahulu." Mahesa berdiri dan menyuruh Ze masuk, tapi saat Shu-Shu hendak ikut masuk dia segera mencegahnya.
"Kenapa aku enggak boleh ikut masuk?" tanya Shu-shu heran, dulu saat dia menggugurkan kandungannya, Omnya bisa ikut masuk karena ingin memastikan bahwa anaknya benar-benar di aborsi. Saat itu dokter Rizwan tidak melarangnya, kenapa sekarang berbeda?
"Sangat tidak nyaman untuk ibu hamil saat mengaborsi jika ada orang lain di sekitar yang mengganggu." Mahesa berbohong dengan alami.
"Oh, oke." Shu-Shu hanya bisa mengangguk dan mundur saat ruang di depannya tertutup rapat.
Mahesa sendiri langsung menyalakan peralatan USG dengan penuh pengalaman, "Silahkan berbaring di sana dulu, saya harus memeriksa kondisi dan lokasi janinnya." Mahesa beralasan.
Ze dengan ragu merebahkan diri dengan jantungnya berdebar kencang saat menatap langit-langit, merasa takut, resah dan panik.
Apakah dia akan benar-benar membunuh anaknya? Ze merasa sangat tidak nyaman.
"Siapa namamu?" tanya Mahesa.
"Zeline."
"Usia."
"22 tahun."
"Kehamilan pertama ya?" tanya Mahesa.
"Ya."
"Kenapa digugurkan? Bapaknya enggak mau tanggung jawab?" Biasanya kasus wanita memilih aborsi kebanyakan seperti itu.
Kali ini Ze tidak menjawab. Namun, Mahesa menyimpulkan sepertinya memang karena ayah bayinya menolak atau mungkin bayi yang dikandung adalah hasil perselingkuhan dengan suami orang.
"Maaf ya." Izin Mahesa ketika membuka pakaian pada bagian pinggang Ze, sehingga perutnya yang sudah mulai menonjol terlihat jelas. Mahesa memberikan jel pada perut itu lalu meletakkan sebuah alat di sana.
"Usianya kandungannya sudah 14 minggu, sangat sehat dan bersemangat." Mahesa memberikan tahu.
"Dengar, ini detak jantungnya, sangat kuat, apakah kamu bisa mendengar?" tanya Mahesa.
Ze hanya mengangguk, bukan hanya detak jantung, namun matanya juga melihat ke arah monitor, di mana terlihat sesuatu yang masih kecil bergerak di sana, itu sepertinya adalah anaknya.
"Meski masih kecil, namun semua organ tubuhnya berkembang dengan sempurna, lihatlah ... ini tangannya, bahkan sudah bisa mengepalkan tinju dan ini ... kakinya, terlihat mungil, tapi saat lahir pasti akan menjadi orang yang sangat tinggi seperti ibunya."
"Ini bibirnya, imut kan? Hidung, mata, semuanya tumbuh dengan sempurna." Mahesa terus memberitahu detailnya.
Sedangkan Ze, melihat gambar yang semakin jelas malah membuatnya semakin tidak tenang dan kembali ragu-ragu.
"Apakah kamu ingin tahu jenis kelaminnya?" tanya Mahesa. Namun, tidak membutuhkan jawaban dari Ze karena sedetik kemudian dia mengucapkan sendiri.
"Dia bayi laki-laki yang sangat tampan," ucap Mahesa dengan senyuman sambil melirik ekspresi Ze yang memucat dan terlihat panik.
"Baiklah, itu sudah cukup, karena kamu ingin membunuh bayimu maka aku akan menyiapkan alatnya dulu." Mahesa menjauhkan alat di perutnya, menutup kembali baju itu dan berbalik mengambil berbagai barang, seperti, sendok kuret, Forsep DeBakey, Retraktor v****a, Dilator uterus Hegar, Tenakulum, Spekulum v****a Collin, Sonde uterus, Forsep Cheron, tidak lupa dia menambahkan pisau bedah dan gunting yang terlihat mengkilap.
"Apakah kamu ingin melihat prosesnya?" tanya Mahesa masih dengan wajah lembut dan senyum ramah.
"Jika iya, lihat saja ke monitor ini karena akan tetap aku nyalakan. Jadi, kamu bisa melihat dengan jelas saat aku membunuh bayi mu." Mahesa meletakkan alat itu lagi di perutnya.
"Lihat benda ini, dia yang akan melakukan tugas paling banyak, ini sangat kecil tapi tajam. Bisa mencabik-cabik daging hingga menjadi bubur." Mahesa memakai baju oprasi, sarung tangan steril dan masker serta penutup kepala layaknya dokter yang benar-benar akan melakukan operasi.
"Perhatian monitornya, aku akan memberimu obat bius agar kamu tidak merasa sakit, tapi setelah bayimu keluar rasa sakit pasti tetap ada dan sangat menyiksa dan mungkin rahimmu akan bermasalah bahkan rusak, sayang sekali jika di masa depan kamu tidak bisa hamil lagi."
"Ap-apa? Aku tidak bisa hamil lagi?" tanya Ze seketika panik.
"Jangan khawatir, aku sangat hebat! Aku akan tetap berusaha agar kamu tetap bisa hamil lagi meski akan lebih sulit, sekarang fokus saja pada orasinya."
"Tidak! Tunggu dulu!" Ze semakin khawatir.
"Jangan panik, waktuku tidak banyak dan ini harus segera di lakukan." Mahesa mengeluarkan alatnya lagi.
"Tolong bantu lihat ke monitor agar aku tidak salah potong." Mahesa menyuruh Ze melihat ke monitor di mana gambar bayi bergerak-gerak terlihat jelas.
"Menurutmu, mana yang harus aku potong dulu? Tangan yang mungil atau kakinya yang kecil? Sepertinya lucu melihat bayi dalam kandungan dengan tangan dan kaki terpotong, atau ... kita potong jari-jarinya dulu."
Setiap kata yang diucapkan Mahesa sangat tenang. Namun, ekspresi Ze menjadi semakin ketakutan.
"Atau ... Aku bisa menghancurkan kepalanya dulu? Mungkin dicincang hingga halus agar menjadi bubur otak." Mahesa tertawa dan bicara semakin semangat.
Namun kini tubuh Ze malah gemetar ketakutan.
"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak mau menggugurkan kandungan, aku tidak mau membunuh anakku." Ze yang ketakutan dan panik langsung duduk dan mendorong Mahesa menjauh.
"Ibu mau ke mana? Jangan bergerak sembarangan." Mahesa berusaha mendorong Ze lagi tapi dia semakin panik dan langsung menghindar jauh begitu Mahesa Ingin mendekat.
"Aku berubah pikiran, aku tidak mau aborsi," ucap Ze dengan air mata berlinang.
"Kenapa berubah pikiran? Ayo tidak usah takut, ini hanya sebentar, kita harus segera mulai." Mahesa membujuk tapi Ze menggeleng dengan takut.
"Aku tidak mau, tidak mau!" Sekejap kemudian dia berlari ke arah pintu dan keluar dengan panik seolah-olah ada setan yang mengejarnya.
Begitu Ze pergi, senyum di wajah Mahesa langsung menghilang digantikan wajah dingin, dia melempar peralatan dengan sembarangan lalu duduk di kursi putar, memanggil pekerja di sana yang segera datang ke ruangannya.
"Aku berubah pikiran, jangan tutup klinik ini dan pertahankan semua alat serta berita penangkapan dokter Rizwan harus ditutupi serapat mungkin, jangan sampai masyarakat tahu dan tidak berani ke sini."
Mahesa bukan pahlawan, tapi jika keberadaan klinik ini membuatnya bisa menyelamatkan beberapa nyawa bayi, maka Mahesa tidak keberatan melakukan itu.