EPISODE 7 - KEBOHONGAN

1108 Kata
Jam istirahat baru saja tiba, Gia masih membereskan semua buku-buku yang tadi dipakainya untuk mengajar sambil memeriksa nilai harian anak-anak. Safira juga masih berkutat dengan layar laptopnya untuk memberikan laporan mingguan pada Kepala Sekolah mengenai perkembangan anak-anak. "Assalamu'alaikum!" Semua mata kini menatap ke arah ambang pintu, di mana suara sosok Sarah berasal. Beberapa orang terlihat terkejut dengan datangnya Sarah ke sekolah hari itu. Gia tak tahu apapun, ia tak mengenalinya sama sekali. "Itu yang namanya Bu Sarah," bisik Safira, sangat pelan. Gia pun kini memperhatikannya, wajah cantik itu tak tertutupi oleh niqob sehingga membuat Gia bisa menatapnya dengan jelas. Kini ia sadar betul mengapa dulu Farid lebih memilih menolaknya, ia sangat tak sepadan dengan sosok Sarah, Wanita yang dicintai oleh Farid. Sarah mendekat ke arah meja Safira dan Gia yang memang berdekatan. "Wah, Bu Fira sekarang sudah punya teman baru ya? Sepertinya kalian berdua cocok, sama-sama alim dan sama-sama kampungan!" sindir Sarah. "Bu Sarah! Jangan keterlaluan!" tegas Fakhrul, tak terima. "Biarkan saja Akh Fakhrul, Iblis memang ditakdirkan oleh Allah agar tidak bisa menutupi kejahatannya. Jadi manusia yang memiliki hati dan kelakuan seperti Iblis, tentu saja akan segera terlihat dengan jelas di mata manusia lain!" Safira balik menyindir. Sarah tersenyum mengejek seakan merasa tak bersalah sama sekali terhadap Safira. Gia hanya diam sambil mengawasi. Gerakan tangan Sarah kini terarah pada gelas teh yang masih panas karena Safira baru saja membuatnya. Sarah benar-benar meraihnya untuk menyiram wajah Safira, namun Gia lebih cepat memeluk tubuh Safira hingga teh panas itu mengenai wajah Gia yang terbalut niqob. ARRRGGGHHHH!!! "Ya Allah!!! Ukhti Gia!!!" Safira panik. Fakhrul dan Farid menarik Sarah dan mendorongnya agar menjauh dari meja milik Safira. "Astaghfirullah..., Astaghfirullah...," Gia terus beristighfar untuk menahan rasa panas di wajahnya. Kepala sekolah turun dari kantornya di atas ketika mendengar laporan dari salah satu Guru. Ia melihat Safira memeluk Gia yang sedang kesakitan, erat-erat. "Bu Sarah!!! Apa-apaan ini???" bentak Mila. Sarah menatap Mila dengan tatapan tak percaya. "Bukah salah saya kalau teh panas itu mengenai wajah Guru baru yang menggantikan saya!!! Dia yang ikut campur masalah saya dengan Bu Fira!!!" Sarah mencoba membela diri. "Bu Gia ikut campur ataupun tidak, perbuatan Bu Sarah terhadap Bu Fira tetap tidak bisa dibenarkan!!! Bu Sarah salah, dan Bu Gia melakukan hal yang memang sudah seharusnya dia lakukan yaitu melindungi Bu Fira dari kelakuan zhalim Bu Sarah!!!" Mila murka luar biasa. Sarah merasa tak terima, ia sangat merasa dipermalukan saat itu dan Gia lah yang dibangga-banggakan oleh semua orang. Ia benar-benar tak terima, sehingga melangkah maju dan menarik niqob yang menutupi wajah Gia dengan rapat selama ini. SREEETTT!!! Niqob itu robek akibat tangan Sarah yang merenggutnya dengan cepat dan kasar. Semua terpaku di tempatnya atas kejadian yang sama sekali tak terduga itu. "Astaghfirullahal 'adzhim!!!" Fakrul dan Farid langsung memalingkan wajah mereka berserta Guru-guru lainnya agar tak melihat wajah Gia yang kini terlihat dengan jelas. "ASTAGHFIRULLAH!!! BU SARAH!!!" teriak Safira, naik pitam. Ia segera menutupi wajah Gia dengan jilbab besarnya. Mila pun segera menyeret Sarah agar keluar dari Kantor Guru. Gia merasa sangat shock saat itu, ia menangis dalam pelukan Safira yang berupaya menyembunyikan wajah Gia dengan jilbabnya. "Akh Farid, tolong ambilkan tas saya," pinta Safira yang begitu panik. "Iya, tunggu sebentar Ukhti," ujar Farid. Farid berjalan mundur untuk meraih tas milik Safira lalu memberikannya pada Wanita itu tanpa berbalik agar Gia tetap aman. Safira mengambil niqob cadangannya dari dalam tas dan memakaikannya pada wajah Gia dengan cepat. "Sudah Ukhti, sudah aman. Wajah Ukhti sudah tak terlihat lagi," ujar Safira berusaha menenangkan Gia yang masih menangis. Fakhrul meraih niqob berwarna cokelat muda yang telah koyak akibat perbuatan Sarah. Ia menggeram di tempatnya berdiri saat itu, kekesalan akan kelakuan Sarah membuat dadanya terasa panas. "Ukhti Gia tenang saja, kami tidak ada yang melihat wajah Ukhti Gia tadi," ujar Fakhrul, berusaha membantu Safira. Gia menyeka airmatanya, ia berusaha menenangkan hatinya yang entah kenapa bisa terasa sakit saat niqob-nya direnggut paksa seperti tadi oleh Sarah. "Sa..., saya ta..., hu..., Akh. Hanya..., saja..., saya merasa marah atas apa yang Bu Sarah lakukan," Gia mengakuinya dengan jujur. Farid ikut merasa sangat bersalah terhadap Gia. Ia juga benar-benar tak menduga kalau Sarah akan berbuat segila itu pada orang lain yang bahkan belum dia kenal sama sekali. "Tenangkanlah hati Ukhti, jangan sampai Ukhti menaruh dendam tanpa Ukhti sadari. Istighfar Ukhti Gia," saran Farid. "Astaghfirullahal 'adzhim..., Ya Allah...," Gia kembali menangis dalam pelukan Safira. Mila masuk ke dalam Kantor Guru setelah mengusir Sarah. "Bu Gia, jika Bu Gia mau istirahat untuk menenangkan diri, Ibu bisa pulang dulu hari ini," saran Mila yang merasa tak enak hati melihat kondisi Gia. "Tidak Bu Mila, biar saya tetap mengajar sampai selesai hari ini. Kasihan anak-anak, mereka akan ketinggalan pelajaran jika saya absen," tolak Gia yang selalu ingat dengan tanggung jawabnya. "Baiklah kalau begitu, saya akan kembali ke atas untuk menyelesaikan pekerjaan," pamit Mila. Safira segera merangkul Gia sambil membantunya berdiri. "Ukhti, ini semua gara-gara saya. Ukhti bisa marah pada saya jika mau," sesal Safira. "Tidak Ukhti Fira. Ini bukan kesalahan Ukhti. Ini murni kesalahan Bu Sarah. Saya yang memilih melindungi Ukhti, jadi saya memang harus siap menerima konsekuensinya jika Bu Sarah akhirnya ikut marah terhadap saya," Gia meyakinkan Safira agar tak merasa bersalah. Fakhrul mendekat sambil menyerahkan niqob milik Gia yang telah koyak tadi. "Ini milik Ukhti. Afwan karena saya tidak bisa membantu memperbaikinya," ujar Fakhrul. Gia menundukkan kepalanya. "Syukron Akh Fakhrul, tidak masalah jika memang sudah rusak. Itu bukan salah Akh Fakhrul," balas Gia, pelan. Semua kembali pada kegiatan masing-masing namun dengan pikiran yang masih begitu mengingat kejadian tadi. 'Bagaimana bisa kau tetap menjadi setabah itu dalam menghadapi kemarahan di dalam hatimu sendiri?' * * * Farid berjalan di samping Fakhrul saat menuju ke tempat parkir motor di belakang sekolah. Mereka sudah berdiam diri sejak tadi karena masalah Sarah. "Saya berbohong tadi," ujar Fakhrul. Farid menatapnya. "Saya melihat wajah Ukhti Gia, tapi berbohong dengan mengatakan bahwa saya tak melihatnya karena ingin dia segera tenang," Fakhrul mengakui. "Saya tahu. Saya juga melihat wajahnya. Apa yang kamu lakukan adalah ketidak sengajaan Akh Fakhrul, Allah pasti akan lebih mengerti mengenai hal itu. Juga mengenai kebohongan yang kamu lakukan, itu bukan hal yang salah. Kamu ingin menjaga kehormatan seorang Akhwat sehingga tanpa berpikir panjang kamu melakukan kebohongan untuk membuatnya terhindar dari rasa malu," nilai Farid. "Lalu apakah sekarang saya akan berdosa?" tanya Fakhrul. Farid kembali menatap ke arah Fakhrul, kali ini dengan kening berkerut seakan sedang berpikir keras. "Saya tidak bisa melupakan wajah Ukhti Gia yang saya lihat tadi Akh Farid, apakah saya akan berdosa sekarang?" tanya Fakhrul sekali lagi. 'Aku pun begitu. Aku tak bisa melupakan wajah yang tadi kulihat!' * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN