EPISODE 6 - MENCOBA SADAR

1030 Kata
Safira merangkul lengan Gia saat mereka berjalan bersama menuju sekolah pagi-pagi sekali. Keadaan Kantor Guru belum sepenuhnya ramai, namun sudah ada beberapa orang yang tiba lebih awal seperti mereka berdua. "Assalamu'alaikum," ujar Gia dan Safira bersamaan. "Wa'alaikumsalam," balas Guru-guru lain di ruangan itu. "Ukhti Gia, ada dua orang siswi kelas 10 yang sudah menunggu sejak tadi," ujar Fakhrul menyampaikan. "Oh, iya Akh Fakhrul, Syukron," balas Gia sambil bergegas meminta kedua siswi itu untuk masuk ke dalam Kantor Guru. Gia duduk di kursinya setelah mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di kursi kosong yang ada di depan mejanya. "Jadi, kalian mau menyetor pagi ini?" tanya Gia. "Iya Bu Gia, kami mau menyetor mulai hari ini," jawab Siwi - salah satu siswi kelas 10-3. "Baiklah, siapa yang mau memulai duluan?" Gia menatap mereka berdua. "Mirna Bu," tunjuk Siwi. Gia menatap Mirna seraya tersenyum dari balik niqob-nya. "Baik Mirna, kita akan mulai penyetorannya dari surat Al-Fatihah. Semuanya harus lengkap, jadi dimulai dari Al-Fatihah," ujar Gia. Safira menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah kedua siswi yang tengah menghadap pada Gia. Guru-guru lain pun begitu, mereka terlihat ingin tahu mengenai apa yang dibahas oleh Gia dan kedua siswi itu karena sejak tadi mereka hanya mengatakan mengenai 'penyetoran'. Mirna bersiap-siap. "A'uudzu billaahi minas syaitaanirrajiim. Bismillahirrahmannirrahim. Al-ḥamdu lillaahi rabbil-'aalamiin. Ar-raḥmaanir-raḥiim. Maaliki yaumid-diin. Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Ihdinashshiraathal mustaqiim. Shiraathalladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihim wa ladhdhaalliin." Mirna menarik nafas selama beberapa saat. Gia memperhatikan bacaannya dan mendengarkan dengan seksama agar tak ada yang salah. "Bismillahirrahmannirrahim. Alif laaam miiim. Dzaalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lil muttaqiin. Alladziina yu'minuuna bil ghaibi wa yuqiimuunashshalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquun. Walladziina yu'minuina bimaaa ungzila ilaika wa maaa ungzila ming qablik, wa bil aakhirati hum yuuqinuun. Ulaaa'ika 'alaa hudam mir rabbihim wa ulaaa'ika humul mufliḥuun. Innalladziina kafaruu sawaa'un 'alaihim a angdzartahum am lam tungdzirhum laa yu'minuun. Khatamallaahu 'alaa quluubihim wa 'alaa sam'ihim, wa 'alaa abshaarihim gisyaawatuw wa lahum 'adzaabun 'adziim. Wa minannaasi may yaquulu aamannaa billaahi wa bil yaumil aakhiri wa maa hum bimu'miniin. Yukhaadi'uunallaaha walladziina aamanuu, wa maa yakhda'uuna illaa anfusahum wa maa yasy'uruun. fii quluubihim maradhun fa zaadahumullaahu maradhaa, wa lahum 'adzaabun aliimum bimaa kaanuu yakdzibuun. Shadaqallahul 'adzhim." "Alhamdulillah, sudah bagus dalam pelafalan, juga sudah bagus dalam penempatan harakatnya. Tajwid juga sangat kamu perhatikan sehingga semuanya tepat. Pertahankan ya," saran Gia pada Mirna. "Baik Bu Gia," balas Mirna, lega. Fakhrul menatap ke arah Farid setelah memperhatikan semua kegiatan Gia pagi itu. Ia membentang sebuah kertas HVS yang sudah ia beri tulisan menggunakan spidol. ORANG YANG KAMU TOLAK? Farid membacanya lalu melihat Fakhrul yang mengacungkan jempolnya sebagai tanda ejekan secara tak langsung. Ia hanya mampu beristighfar dan cepat-cepat berpaling sebelum Fakhrul semakin menjadi-jadi. "Shadaqallahul 'adzhim," Siwi terdengar mengakhiri hafalannya. "Alhamdulillah, sudah bagus, hanya saja perlu diperbaiki tajwidnya ya. Jangan menyerah, kamu pasti bisa," dukung Gia. "Insya Allah Bu, amiin," balas Siwi. "Kalau begitu kami permisi dulu Bu, Assalamu'alaikum," pamit Mirna. "Wa'alaikumsalam," balas Gia. Safira tersenyum dari balik niqob-nya ke arah Gia yang sedang mencatat di dalam buku nilai. "Masya Allah, baru satu hari Ukhti mengajar di sini tapi sudah banyak perkembangan dari anak-anak yang begitu signifikan. Luar biasa karena Ukhti bisa menarik keinginan mereka untuk menghafalkan Al-Qur'an," ujar Safira. "Alhamdulillah Ukhti, saya hanya berusaha memberikan sugesti yang baik untuk mereka semua agar mereka menyadari bahwa menghafalkan Al-Qur'an sangat penting untuk bekal kehidupan mereka di masa depan," jelas Gia. "Wah, mendengar apa yang Ukhti katakan saya menjadi teringat bagaimana dulu kerja keras dalam menghafalkan Al-Qur'an. Dan Ukhti benar, bahwa usaha yang kita lakukan dulu berbuah manis sekarang di masa depan," kenang Safira. "Itulah yang saya coba tanamkan pada mereka semua. Insya Allah perlahan-lahan mereka akan berkembang dengan sendirinya." Mereka pun bangkit dari kursi masing-masing untuk pergi ke kelas yang akan mereka ajar hari itu. Fakhrul kembali menatap ke arah Farid. "Akh, kamu yakin nggak mau mengkhitbah Ukhti Gia untuk yang kedua kalinya?" tanya Fakhrul. "Entahlah Akh, aku tidak yakin," jawab Farid. "Kalau kamu nggak mau, aku boleh kan mengajukan khitbah untuk Ukhti Gia?" Farid pun terdiam seketika. * * * "Baiklah, sampai di sini penjelasan dari Bapak. Apakah ada yang kalian belum pahami?" tanya Farid sambil menatap pada semua siswa dan siswi di kelas 11 IPS 2. "Insya Allah paham Pak," jawab semuanya serempak. Tok..., tok..., tok...!!! "Assalamu'alaikum," ujar Gia setelah mengetuk pintu kelas. "Wa'alaikumsalam." Farid menatapnya sambil mengerenyitkan kening selama beberapa saat, namun Gia tetap menundukan kepala. "Afwan Pak Farid, jam pelajaran Bapak sudah selesai dua puluh menit yang lalu. Sekarang jam pelajaran saya hanya tersisa empat puluh menit. Bisakah saya mulai mengajar sekarang?" tanya Gia. Farid segera menatap jam tangannya yang ternyata mati karena kehabisan baterai. Ia bahkan tak melihat ponselnya sejak tadi karena terlalu fokus mengajar hingga tak bisa melihat jam berapa saat ini. "Afwan Bu Gia, saya tidak menyadari kalau waktu mengajar saya sudah habis. Silahkan masuk Bu, saya akan keluar sekarang," jawab Farid, panik. "Silahkan ditutup dulu saja Pak Farid, saya akan menunggu," ujar Gia yang kembali duduk di luar kelas. Farid pun menatap ke arah siswa dan siswinya hari itu. "Baiklah, sampai di sini dulu materi hari ini dari Bapak. Insya Allah kita akan bertemu lagi dipertemuan selanjutnya, Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," tutup Farid. "Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh." Farid pun berjalan keluar kelas, Gia segera mengambil tumpukan bukunya untuk beranjak masuk ke dalam kelas itu. "Ukhti Gia," cegah Farid. Gia pun berhenti di tempatnya. "Maaf kalau saya tidak sopan, seharusnya saya mungkin tidak menanyakan ini di sini. Tapi... ." "Silahkan tanyakan saja Akh Farid, anak-anak sudah menunggu di dalam," potong Gia yang memang sedang terburu-buru. Farid pun semakin merasa tak enak untuk menyampaikannya. "Lain kali saja Ukhti, saya rasa waktunya tidak tepat sekarang," ujar Farid. "Waktu tidak pernah bisa tepat seperti yang kita inginkan Akh Farid. Karena waktu terus berjalan dan kita yang mengikuti, bukan waktu yang berhenti lalu mengikuti jalannya kita. Itulah kenapa masa lalu tak pernah bisa diulang," ujar Gia. Wanita itu pun berlalu meninggalkan Farid yang masih mematung di tempatnya berdiri. Pria itu terdiam, seakan baru saja terperosok ke dalam sebuah lubang sempit yang dalam. Lubang yang ia buat sendiri di masa lalu bernama sesal. * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN