BAB 11 – PRIA YANG TIDAK BISA DIKENDALIKAN
Setelah kepergian Liam, Grayson masih belum melepaskan Exelina. Cengkeramannya di pinggangnya begitu erat, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak akan ke mana-mana.
"Aku tidak suka ini, Exelina."
Suara Grayson dalam dan penuh kendali, tapi Exelina bisa merasakan emosi yang ia tahan.
"Apa yang tidak kau suka?" tanya Exelina, menatapnya dengan dagu terangkat.
Grayson mempersempit jarak mereka, membuat napasnya menghangatkan kulitnya. "Aku tidak suka pria lain menatapmu seolah mereka bisa memiliki sesuatu yang sudah menjadi milikku."
Exelina mengangkat alisnya. "Aku bukan barang, Tuan Walker."
Grayson menyeringai tipis, tapi matanya masih dipenuhi dengan bahaya. "Aku tahu. Tapi aku juga tahu bagaimana cara pria seperti Liam berpikir. Dan aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu."
Exelina ingin berdebat, ingin mengatakan bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri, tapi sesuatu dalam tatapan Grayson membuatnya diam.
"Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian berdua?" akhirnya Exelina bertanya. "Kenapa kau begitu membenci Liam?"
Grayson mengamati wajahnya, seolah menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya.
Setelah beberapa detik hening, ia akhirnya berbicara. "Dia bukan hanya pesaing bisnis, Nonaku. Dia pria yang tidak mengenal batas. Sekali dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkannya—dengan cara apa pun."
Exelina merinding mendengar nada suaranya.
"Dan kau pikir dia menginginkanku?"
Grayson menatapnya dalam. "Aku tidak berpikir, aku tahu."
Keheningan menyelimuti mereka, tapi tidak ada yang melepaskan tatapan mereka.
Akhirnya, Grayson melepaskan cengkeramannya, tapi tetap menjaga posisinya dekat dengan Exelina.
"Mulai sekarang, aku tidak ingin kau sendirian di luar. Jika kau perlu ke mana pun, kau pergi dengan bodyguard."
Exelina mendengus. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Grayson."
Grayson hanya tersenyum dingin. "Kau pikir kau bisa melawan pria sepertinya sendirian?"
Exelina terdiam.
Grayson mendekat lagi, suaranya menjadi lebih lembut, tapi tetap mengandung ancaman yang tak terselubung.
"Kumohon, Nonaku. Jangan buat aku kehilangan kendali."
Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Exelina tahu—Grayson bukan hanya sekadar melindunginya. Ini lebih dari itu. Ini adalah obsesi.
Dan dia tidak yakin apakah dia harus takut… atau menikmatinya.
---
Malam Itu
Exelina berbaring di tempat tidur, tapi pikirannya tidak bisa tenang.
Bayangan Liam dan Grayson terus berputar di kepalanya. Dua pria dominan, dua sosok yang saling berlawanan, tapi sama-sama berbahaya.
Liam penuh dengan pesona mematikan, seperti racun yang manis. Sedangkan Grayson... dia seperti badai yang bisa menghancurkan segalanya, tapi juga memberi perlindungan yang tidak tergantikan.
Exelina menghela napas.
Dia tahu bahwa pertunangannya dengan Grayson bukan hanya tentang pernikahan. Ini adalah bagian dari permainan kekuasaan, permainan yang bisa berakhir dengan luka… atau dengan kemenangan mutlak.
Dan satu hal yang pasti—
Liam Devereaux belum selesai dengannya.
---
TO BE CONTINUED…