|| Chapter-05 ||

1166 Kata
“Sialan!!” Umpatan khas orang laki-laki bertato membuat semua orang yang ada di ruangannya menoleh, termasuk Elang. Dia pun menatap Bara Cavero yang katanya membeli makan, malah pulang tanpa membawa makanan apapun. “Kenapa lo?” pertanyaan itu mewakili tiga orang yang saat ini menatap Bara bingung. Siapa juga yang tidak bingung jika tiba-tiba saja datang dan langsung marah. "Iya kenapa sih lo. Ada masalah?" sahut Arkana meletakkan ponselnya. Bara menggeleng kecil dan memilih pergi dari hadapan mereka semua. Jangan sampai karena umpatan Bara, Jason managernya tahu apa jika Bara baru saja kabur dari dorm. Ya selama ini Bara suka sekali kabur dari dorm, hanya untuk mengusir rasa bosannya. Entah minum kopi di kedai, atau mungkin makan ice cream coklat kesukaan perempuan yang dia cintai. Tak lupa juga jika membelinya Bara harus mengosongkan kedai itu untuk satu hari penuh. Sedangkan hari ini, dengan sengaja Bara ingin sekali beradaptasi dengan kota kelahirannya. Dia ingin tahu seperti apa kota yang dia tinggal lebih dari empat tahun ini. Decitan pintu membuat Bara menoleh. Dia pun melihat Elang yang masuk ke dalam kamarnya, dan mengunci pintu kamar ini. "Kenapa sih lo? Ada masalah?" Elang duduk di sofa bed gelap di dalam kamar ini. Tentu saja hal itu langsung membuat Bara duduk di samping Elang. "Sejak kapan hidup gue nggak ada masalah? Lo tau sendiri paparazi murahan itu suka banget bikin heboh." Elang cekikikan. Tangannya meraih minuman kaleng, dan dia lempar pada Bara. "Bro…, sejak lo ke Amerika buat debut, banyak banget perubahan dalam diri lo. Gue kadang ngerasa nggak kenal sama lo." Bara tersenyum miring, sejak awal hanya Elang yang dia kenal. Hanya Elang yang dekat dengan dia. Dan hanya Elang yang tahu tentang hubungannya dengan perempuan yang selama ini menyandang status sebagai kekasihnya. Gavin dan Arkana, mereka hanya tahu skandal Bara dengan banyak model papan atas dan juga artis selama ini. "Lo kan tau sendiri, gue kayak gini kenapa!! Dan lo tau, gue lihat dia di cafe yang sama gue kunjungi. Dan dia sama laki-laki lain." Elang menoleh kaget, "Lo yakin?" Bara mengangguk, dia memang mengambil tempat duduk yang tak jauh dari meja perempuan itu. Dia bisa melihat begitu jelas wajah dan juga postur tubuhnya. Banyak sekali berubah dari dirinya kecuali tinggi badan. San nyatanya, sore tadi dia malah melihat perempuan itu bersama dengan laki-laki lain. Bagian laki-laki itu sampai berani menyentuh milik Bara sedikitpun. "Jangan kepancing emosi deh. Mungkin saja kan teman doang." "Temen nggak perlu pegang-pegang sama usap kepala bisa?" Jika dulu Elang tidak pernah melihat Bara marah dan secemburu ini. Nyatanya hanya karena perempuan yang bernama Tiffany, Bara bahkan bisa segila ini. Katanya, hubungan itu berjalan dari mereka masih sekolah menengah keatas hingga saat ini. Hingga Bara go internasional sampai dia sepopuler ini, Bara sama sekali tidak meninggalkan Tiffany sedikitpun. Walaupun Elang tahu, Bara banyak sekali mempermainkan banyak perempuan hanya karena tidak bisa bersama dengan Tiffany. Kontrak mereka yang melarang untuk pacaran atau menikah, masih melekat dalam diri Jason. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, Jason menikah dan sekarang sudah memiliki satu anak. "Gue juga heran deh sama lo. Kita udah satu minggu disini. Lo malah nggak bilang apa-apa sama dia, giliran dia sama laki-laki lain lonya marah. Mau lo apa sih?" "Mau gue ya dia doang!! Cuma milik gue bukan yang lain!!" ucap Bara. Elang hanya mampu menggelengkan kepalanya kecil. Mengambil ponsel Bara dan melemparkannya pada pemiliknya. Lalu meminta laki-laki itu untuk mengirim pesan pada Tiffany, jik hari ini Bara telah kembali. Dan mau tidak mau Bara pun mengirim pesan pada Tiffany. Hanya dia kalimat.., tapi semoga saja Tiffany suka mendengarkan kabar ini. Aku pulang. **** Mendengar notif ponselnya yang cukup nyaring, Tiffany membuka kedua bola matanya. Setelah pulang dari cafe dengan Jessica dan juga Mikhael. Tiffany yang merasa kelelahan langsung memejamkan matanya dan mengganti bajunya lebih dulu. Dia sudah terlalu capek dengan keadaan apalagi hidupnya, yang hanya habis untuk menunggu satu orang saja. "Siapa sih yang kirim pesan!! Nggak tau apa ini masih ngantuk banget!!" dumel Tiffany. Cahaya ponsel yang langsung menyapa kedua bola matanya, langsung membuat Tiffany mengerjapkan matanya berkali-kali. Apalagi pesan masuk yang saat ini sangat langka dan perlu dimuseumkan. Siapa lagi jika bukan Bara!! Ya!! Itu adalah Bara yang mengirim pesan pada Tiffany, jika dia akan pulang. Dua kata yang mampu membuat Tiffany langsung bangkit dari tidurnya. Rasa kantungnya bahkan hilang entah kemana. Biasanya juga Tiffany mengirim pesan laki-laki itu jarang membalasnya. Dan sekalinya Bara kirim pesan, yang ada bikin jantung Tiffany berdebar kencang. "Ini serius nggak sih?" Masih belum percaya dengan apa yang dia baca. Tiffany mencubit, menampar bahkan sampai menarik rambutnya hingga ada yang patah. Dan rasanya sangat sakit. Itu tandanya jika apa yang dia baca itu adalah kenyataan? Bara akan pulang beneran kan? Terlalu bahagia dengan kabar yang diberikan Bara. Tiffany sampai melompat-lompat di atas tempat tidurnya, dan terus berteriak dengan kencang. Sehingga Mbak Asih dan juga Leon datang ke kamar Tiffany. "Tif kamu nggak papa? Kenapa teriak?" kata Leon panik. "Iya Non. Ada apa? Suaranya kenceng loh sampai ke dapur." sahut Mbak Asih. Tiffany meringis, dengan ala Putri raja perempuan itu turun dari tempat tidurnya. Tak lupa juga sedikit menari sprei tempat tidurnya yang berantakan. "Hmm, tadi ada kecoa Pa, makanya teriak." kilah Tiffany. Alis Leon dan juga Mbak Asih pun saling bertautan. Mereka pun menunjuk melihat kemana perginya kecoa dalam kamar Tiffany. Jika memang benar ada kecoa, pastinya hewan menjijikkan itu masih berkeliarannya kemana-mana. "Kecoanya besar apa kecil Non?" Mbak Asih bahkan sampai mengambil semprotan pembunuh hewan. Tapi namanya Tiffany berbohong, sampai dia keliling kamar ini tujuh kali pun juga tidak akan ketemu sama kecoanya. "Ilang deh kayaknya Mbak. Kecoanya takut lihat Mbak Asih sama Papa masuk ke kamar Tif.." perempuan itu meremas kedua tangannya. Dia tidak begitu pandai berbohong, tapi jika itu demi Bara. Jangankan berbohong, dia melompat dari atas tebing ketujuh sampai ke tanah pun Jessica siap. Leon menegakkan tubuhnya segera, menatap anak perempuannya dengan kepala miring. Ekspresinya sangat lucu menurut Tiffany, antara bingung dan tidak percaya menjadi satu. Dan Leon baru sadar jika kamar ini terbilang tertutup. Jendela pun sama Tiffany juga tidak dibuka, tidak ada celah sedikitpun untuk kecoa atau nyamuk untuk masuk ke kamar ini. Sedangkan Mbak Asih yang merasa aneh pun langsung mengusap dagunya. Setiap hari masalah menyapu dan mengepel bagian Mbak Asih. Sedangkan masalah peralatan, atau apapun itu bagian Tiffany. Tadi, Tiffany bilang jika ada kecoa masuk? "Non yakin?" kata Asih tidak pernah. Tiffany mengangguk cepat agar dua orang itu percaya. Kalau bisa sih mereka cepat keluar dari kamar Tiffany, agar perempuan itu bisa menghubungi Jessica. Dan memberitahu pada Jessica jika Bara akan pulang. Leon yang menyadari keberadaan kecoa yang memungkinkan tidak akan masuk ke kamar ini. Langsung mengajak Asih untuk segera pergi dari kamar ini. Lagian, mau mencari sampai kiamat tujuh kali pun itu kecoa juga nggak bakalan ketemu! Memastikan dua orang itu sudah pergi. Tiffany langsung mengunci kamarnya dan kembali berteriak. Mengabaikan teriakan dari Leon dan juga Asih yang ternyata masih mendengarkannya. Langsung saja perempuan itu mengambil ponselnya dan menelpon Jessica. "Jessicaaaaaa…, dia pulang!!" To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN