Aku pucat pasi, baru kemarin tiba di Jakarta sudah diminta bertemu orang tua Arkan. Sepertinya kepergian kami ke Amsterdam menjadi sorotan keluarganya. Aku berkali – kali meremas jemari Arkan, panas – dingin disidak keluarga berada. " Siapa dia Ar?" suara Dewa boss menjadi yag pertama terdengar digendang telinga, wajahnya tidak tersenyum walau gigiku kering berusaha ramah pada mereka. " Calon istri Arkan Pa, namanya Andini Sahara." " Karyawan kamu di kantor kan?" Imbuh Maminya, menilai dari sudut demi sudut tubuhku yang tidak ideal. Aku biasa saja, kalau tidak dapat restu ya sudah pulang saja. Arkan mengangguk." Aku pernah bawa Andini juga ke Papi kan?" " Urusan kerja, yang lain tidak pernah." " Aku pernah bilang ke Papi, ada perempuan yang sedang aku taksir dan bukan Lena. Ya dia

