Aku tercekat lama, membaca sebuah kebenaran yang ada dikertas usang. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, air mataku tidak habis – habisnya membasahi pipi. " Mereka tetap orang tua kamu An, saat itu memang keadaan ekonomi keluarga kalian begitu sulit. Mama dan Ayah berkeputusan untuk membawa kamu ke Bandung dan Adik kamu dibawa pengusaha batu bara ke Jakarta." Mama menjelaskan." Apapun yang terjadi, kalian tetap menjadi saudara dan bukan orang lain walau sampai ini terpisah entah di mana." " Aku kenal Ma, bahkan pernah bertemu." Jawabku semakin parah, tidak bisa mengendalikan diri. " Ketemu di mana?" " Di Pekanbaru." Aku mendadak lemah, bingung harus bagaimana menyikapi kebenaran yang sudah terungkap. " Satu kantor? Kalau begitu, kamu coba minta bantuan Arkan untuk bisa berkom

